mengapa kita tidak seperti lebah madu? yang diam, namun memberikan banyak manfaat kepada manusia dan selalu bekerja sama dengan sesamanya…yang marah, bila diganggu namun berbuah manis…yang sengatnya tajam dan mematikan namun mampu menolong yang sakit….
Serat Kalatidha adalah sebuah karya sastra Jawa karangan Rangga Warsita, yang ditulis sekitar tahun 1860 Masehi. Rangga Warsita adalah pujangga terakhir dari kasunanan/kerajaan Surakarta.
Serat Kalatidha ini disampaikan kembali oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, dalam sambutan Acara Calon Wisudawan dan Wisudawati di Universitas Gajah Mada.
Serat yang sudah ditulis lebih dari 150 tahun lalu dan masih berlaku hingga saat ini terutama dengan situasi dan kondisi bangsa, bukan hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Betapa pentingnya untuk tetap menjaga iman dengan eling lan waspada. Kiranya Allah selalu menguatkan kita di tengah apapun hal yang kita hadapi bersama. Aamiin….
Terbit. Proyek sat set, ditutup di satu pintu, coba buka pintu yang lain. Dengan sedikit perubahan, format fiksi mini diubah ke heksagraf berkat informasi dari Mbak Rurisa Hartomo masih tidak sekali jadi, perlu revisi untuk bisa lolos kurasi heksagraf, akhirnya berhasil naskah berjudul Alunan Nada yang Tertinggal, diterima dalam antologi heksagraf yang diterbitkan Penerbit J Maestro.
Penulis: Ais Syah, Srikandhi Lembahwilis, Himawari, Riami, Lyn, Sunardi, Neena274, Ismi Maghfiroh M., Imma Soekoto, Endang Ary Hs, Lisnanurhilaliah, JsNoer, Lentera Patra, Iman Nurahman, Uuk Koes Na Dee, Bulanbintang, Nurul Cancerbluesky A., Nur Mohamad Basyir, Risnawati Mardiyyah, Tari Pearl, Fatimah, Rahma Malangi, Japuni, Bunga tanjung, Marfia Aphro, Listia Puspa, Nita F., Rina Arlianti, Harni Jo, RienZ, Rurisa Hartomo, Arie Tata Fidya, Hati Meidina, de Laras
Hidup selalu menyimpan pertanyaan sederhana namun penuh rahasia, *SIAPA* yang sebenarnya kita cari, siapa yang benar-benar setia, siapa yang harus kita lepaskan, dan siapa yang mampu bertahan di tengah badai takdir. Dan…siapa sebenarnya pelaku pengkhianatan, dalam PlotTwist nya kebenaran yang kita terima.
Lolos Kurasi dalam Lomba Menulis Festival Cerita Nusantara bersama SIP Publishing. Sudah bisa dipesan ya, satu naskahku ada di buku ini berjudul “Apem Buatan Nenek : Kisah Maaf dan Nyadran”
Naskahku berjudul “Apem Buatan Nenek : Kisah Maaf dan Nyadran”, menceritakan tiga hal yang penting disampaikan pada anak-anak yaitu permintaan Maaf, pengenalan kue tradisional Apem dan tradisi Nyadran, yang masih dilakukan di Jawa dan banyak daerah di Indonesia.
Semoga cerita ini menambah kaya khazanah literasi nusantara anak
Selama dua hari, dari tanggal 9 sampai dengan 10 Oktober 2025, kami, pejabat fungsional jenjang Ahli Madya dan Ahli Utama sebanyak 122 orang di lingkungan Sekretariat Utama BRIN memperoleh kesempatan mengikuti Workshop Penyusunan Kebijakan Publik untuk Indonesia, yang diselenggarakan di Auditorium Gedung BJ Habibie.
Dr. Riant Nugroho, Ketua Masyarakat Kebijakan Publik Indonesia (MAKPI) hadir sebagai Narasumber. Beliau, lulusan S3 Kebijakan Publik dari Universitas Gajah Mada, selain menyampaikan paparan, mereview tulisan atau naskah kebijakan yang kami susun, juga membagikan buku karyanya secara gratis, yang merupakan buku cetakan ke-8.
Dalam bukunya Public Policy, Sebuah Pengantar untuk Pembelajaran ini, beliau menyampaikan bahwa Kebijakan publik adalah napas suatu bangsa. Pemerintah yang baik, berkualitas, dan bertanggung jawab tahu hal itu. Kebijakan yang buruk, jelek, korup, apalagi jahat membuat napas bangsa tersumbat, tersengal-sengal, berhenti, bahkan bisa gagal napas. Bangsa itu menjadi bangsa “mati”. Pada ulang tahun ke-80, pemerintah Indonesia sudah sepantasnya menjadi pemerintah yang berkualitas dan bertanggung jawab, yang tidak membuat rakyatnya tersengal-sengal, apalagi gagal napas.
Pemerintah Indonesia harus menjadi pemerintah yang mengerti bahwa kebijakan publik bukan lagi hak pemerintah (atau negara), bahkan bukan lagi sekadar kewenangan pemerintah, bukan lagi tugas pemerintah. Kebijakan publik yang unggul (excellence) pun bukan hadiah dari negara untuk rakyat, karena hadiah bisa sesuka pemberi, sekenanya. Kebijakan publik yang unggul adalah hak politik rakyat negara demokrasi. Bahkan, untuk Indonesia dengan demokrasi Pancasila-nya, maka kebijakan publik yang unggul adalah kehormatan utama bagi pemerintah.
Kebijakan publik bukanlah pekerjaan yang mudah, murah, apalagi murahan. Kebijakan publik adalah urusan serius, tidak dapat disambi. Kebijakan publik adalah urusan profesional, termasuk pada zaman digital dan AI; bukan pekerjaan para amatiran. Semua itu hanya dapat dicapai oleh the government by professional, bukan oleh para partisan dan amatiran.
Untuk itulah buku ini dibuat, sebagai pembelajaran dan praktik, lebih dari konsep dan teori. Ditulis dengan kecintaan pada ilmu kebijakan publik dan kebangsaan Indonesia yang dalam. Tidak untuk mengajari, apalagi menyalahkan, tapi mengajak untuk mengerti bahwa kebijakan publik adalah napas bangsa; napas rakyat.
Terima kasih atas ilmu dan sharingnya, mengawali karirnya sebagai wartawan politik, kini beliau adalah pakar sekaligus pengajar di perguruan tinggi dalam dan luar negeri. Sebagai praktisi, beliau juga berpengalaman membantu banyak kementerian dan lembaga pemerintahan.
19.09.2025 Puji syukur. Haleluya. Alhamdulillah. Tiga puisiku berjudul 1. Tiga Negeri Satu Tenunan, 2. Tiga Perempuan Serumpun, 3. Arti Serumpun, yang kukirimkan, lolos kurasi dalam Event Suara Serumpun Festival Puisi 3 Negara (Indonesia, Malaysia dan Singapura).
Catatan dari Tim Kurator : Dari total 4.054 judul puisi yang ditulis 2.106 peserta, terpilih 3.371 judul puisi karya 2.033 peserta yang berhasil lolos kurasi.
Terima kasih Panitia dan selamat kepada semua penulis yang sudah berkontribusi. Salam literasi.
30.08.2025 Mencapai 2.185 mdpl saja, demi apa seumur aku (baca : pra lansia) naik gunung? bukan, bukan untuk mengejar puncak, tapi untuk merayakan hidup, melatih kemampuan fisik, menjaga keseimbangan kesehatan jiwa raga, kebahagiaan, kebersamaan (saling memberi semangat) dan rasa syukur saat memandang keindahan alam.
Jujur, karena sesuatu dan lain hal, kami terlambat 2 jam keberangkatan, sehingga ini yang bisa kami capai karena hari mulai gelap dan badan kami mulai letih. Bersyukur bisa melangkah sampai sejauh ini.
Apakah aman untuk mencapai ketinggian ini, bagi amatiran seperti aku? Menurut sumber yang aku baca, ketinggian antara 2.000 sampai dengan 2.500 mdpl masih aman tetapi sebaiknya dengan persiapan fisik, jalan pelan, hidrasi cukup, dan evaluasi kesehatan sebelum berangkat. Dan kuncinya adalah titk memaksakan diri saat berada di lapangan, jika sudah tidak kuat, bisa beristirahat atau kembali.
Pada keberangkatan menapaki jalan setapak Gunung Papandayan ini, aku hanya melakukan persiapan fisik rutin jalan pagi selama 30 menit atau kurang lebih 3 kilometer setiap hari. Persiapan ini tidak bisa dibilang cukup karena usiaku, mestinya ada persiapan fisik yang lain yang lebih menunjang, bahkan perlu pemeriksaan kesehatan untuk mengantisipasi agar tidak terjadi acute mountain sickness. Mendaki gunung tidak hanya bermodal nekat atau keinginan besar tapi juga mesti didukung dengan persiapan, agar menjadi pengalaman yang asik.
Ada beberapa gunung yang menjadi rekomendasi Hiking Aman untuk Lansia (< 2.000 mdpl) di daerah Jawa yaitu :
Gunung Andong (1.726 mdpl, Magelang, Jawa Tengah) Jalur relatif singkat (1–2 jam). Pemandangan indah, sunrise populer. Cocok untuk pemula & lansia dengan kondisi sehat. Gunung Telomoyo (1.894 mdpl, Jawa Tengah) Bisa ditempuh dengan kendaraan hingga dekat puncak. Cocok untuk lansia yang ingin menikmati pemandangan tanpa trek berat. Bukit Panguk Kediwung (±400 mdpl, Bantul, Yogyakarta) Spot foto dengan view lembah & kabut pagi. Jalan singkat dan aman. Gunung Panderman (2.045 mdpl, Batu Malang, Jawa Timur – sedikit di atas 2.000) Jalur tidak terlalu ekstrem, tapi butuh stamina. Aman jika dilakukan perlahan.
08.07.2025 Arigato Christiani Suryani @christinliem21 yang telah menerbitkan buku berjudul Kimono Musim Dingin pada Maret 2025. Buku setebal ix dan 287 halaman ini berhasil mengembalikan kenanganku tentang Jepang, yang pernah kukunjungi pada tahun 1992 dan menjadi tempatku belajar selama 2.5 bulan.
Kisah perjalanan yang dikemas apik, mengunjungi beberapa tempat yang menjadi jalur keseharianku seperti Shinjuku dan tepat dua kota tempatku field trip yaitu Osaka dan Hiroshima.
Baru tiba hari ini dengan aman setelah ekspedisi menempuh perjalanan menembus hujan dan banjir. Ini adalah buku ke-7 yang wajib diselesaikan di 2025