“Akhir Sang Pengelana”

Sang pengelana menuntun kudanya yang sudah letih berjalan, apalagi jalan mulai berbatu dan menanjak.

Dari kejauhan, ia melihat seorang berpakaian lusuh, duduk di tepi jalan sambil memegangi tongkat kayu, di sebelahnya ada sebuah buntalan yang cukup berat kelihatannya.

Setelah berjalan makin dekat, sang pengelana bertanya, “bapak mau kemana, mengapa duduk disitu ? Disini tidak akan ada kendaraan yang lewat”

Ia mengamati lelaki lusuh itu dengan seksama, ia membatin dalam hatinya, “hm masih muda sesungguhnya, tapi kenapa kumal sekali wajahnya dan berpakaian compang camping ?”

Lelaki lusuh itu menjawab, “sudah 3 hari aku berjalan dan tidak makan, lihat kakiku bengkak dan mulai melepuh”

Sang pengelana menyahut, “mari kita berjalan bersama, karena kudaku juga letih tapi aku naikkan dulu buntalan itu keatas kudaku”

Sementara sang pengelana menaikkan buntalan keatas punggung kuda, lelaki lusuh itu bangkit pura-pura dengan susah payah dan menghantamkan tongkat kayunya kuat-kuat ke punggung sang pengelana dan seketika lelaki berhati mulia itu pun jatuh tersungkur.

Gambar dari : http://www.clipartguide.com/_pages/0511-1008-0623-1612.html


Masjid Agung Di Kota Seribu Kelenteng

Dalam tiap kunjungan seperti di Singkawang, aku menyempatkan berjalan kaki pagi hari. Apalagi aku hanya menginap semalam di kota Seribu Kelenteng.

Di tengah kota terdapat Masjid di Jalan Merdeka No 21, Tengah, Pasiran, Singkawang. Mesjid berdiri tahun 1885 ini direnovasi karena kebakaran 1927 dan sanggup menampung jamaah sebanyak 1.000 orang.

Sebagai Masjid tertua, masjid ini juga sebagai saksi bisu kerukunan umat beragama di Singkawang yang menjunjung tinggi keragaman agama dan budaya dari tiga akar suku budaya yaitu Tionghoa, Dayak dan Melayu.

Masjid terletak diantara Kantor Walikota dan Taman Gayung Bersambut. Uniknya Masjid terletak dekat Vihara Tri Dharma Bumi Raya Singkawang.

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”


Sate dan Gulai Kambing HM Harris, Asia Afrika

Seperti biasa, sebelum mendatangi suatu tempat, walau cuma ke Bandung saja, aku selalu searching dan browsing dulu kuliner apa yang wajib dikunjungi dalam perjalanan kali ini. Kebetulan kali ini aku menginap di Jalan Braga, maka setelah searching aku mendapat informasi tempat kuliner yang wajib dicoba yaitu Sate dan Gule Kambing HM Harris di Jalan Asia Afrika No 151 (Simpang Lima) Bandung

Jadilah Sabtu malam, kami menuju kesana. Lokasinya tidak jauh dari tempat kami menginap tapi karena berlaku sistem arus lalu lintas satu jalur, maka kami mesti memutar jalan melalui Jalan Dalem Kaum. Jika sudah tiba di Simpang Lima, perlambatlah kendaraan dan ambil jalur kanan karena Rumah Makan ini ada di sisi kanan.

Hari sudah menunjukkan pukul 20.30, namun antrian mobil masih banyak dan terus pendatang datang bergantian, maklum Rumah Makan ini buka 24 jam. Saat kami tiba di pintu rumah makan, kami sudah berada pada posisi antrian ke-3. Rumah makannya memang tidak besar, mungkin hanya sekitar 15 meja disana, yang dibagi bagian depan dan belakang, rumah makan tidak tingkat pula, jadi memang harus antri. Sambil menunggu, kami mulai memesan makanan.

Setengah jam menunggu, akhirnya kami dapat menikmati pesanan kami. Sesuai judul rumah makannya, maka disini memang hanya menyajikan SATE dan GULAI saja, tidak ada SOP. Jadi pesanan kami dua macam yaitu sate daging dan gulai. Sebetulnya ada variasi sate yang lain seperti ginjal, lidah dan hati tapi mungkin karena malam minggu dan ramai pengunjung, variasi lain habis. Disini memang hanya tempat untuk makan, kita tidak bisa santai-santai atau ngobrol lama-lama karena selama kami makan, pengunjung yang antri juga terus bertambah.

Sebenarnya sulit dicerna dengan kata-kata karena memang enak. Gulai kambingnya hampir seperti masakan Ibu tapi kuah santannya kurang kental menurut aku, tapi untuk rasa ya okelah. Sate nya disajikan di hot plate, jadi tetap hangat, empuk, matang luar dalam. Harganya standard lah, kurang lebih antara Rp 30 ribu per mangkuk gulai.

Sampai kami pulang, pengunjung bergantian datang dan pelayan rumah makan terus sigap mengipasi daging kambing untuk sajian. Selamat mencoba


Geliat Pagi Di Cikapundung Timur

Cikapundung, Bandung sudah dikenal sejak lama sebagai Bursa Penjualan Koran. Sejak pagi buta, sopir dari bagian Sirkulasi Koran menurunkan ribuan eksemplar disana untuk didistribusikan agen koran ke loper yang selanjutnya diteruskan kepada pelanggan.

Kegiatan yang hidup dan berjalan sepanjang pagi, terasa dikejar waktu karena koran pagi selalu dinanti pelanggan. Jika terlambat tiba pasti ditinggal pelanggan, apalagi era sekarang dimana berita terkini sudah ada didalam genggaman, tak banyak orang yang masih menantikan kehadiran koran pembawa berita baru.

Agen membagi koran untuk para loper sesuai wilayahnya

Menghitung

Menerima dan menghitung koran yang baru tiba

Sibuk

Melayani pembeli yang lewat

Geliat kegiatan pagi hari di Cikapundung nyaris identik dengan koran, ntah sampai kapan


RASA Bakery and Cafe, Tamblong

Hari kedua kami berada di Bandung, kami isi dengan banyak berjalan kaki sejak pagi, mulai dari bangun pagi berjalan di sekitar hotel, melewati Jalan Asia Afrika, Jalan Cikapundung Timur dimana loper koran banyak berkumpul disana, lanjut ke Jalan Naripan, Jalan Braga., Jalan Merdeka, Jalan Lembong, Jalan Telpon dan kembali ke hotel melalui Jalan Lengkong Besar.

Setelah sarapan di Hotel, kami berjalan-jalan di sekitar Jalan Riau, tempat beberapa Factory Outlet disana dan makan siang di Bandung Indah Plasa. Dalam perjalanan kembali ke Hotel, karena Bandung banyak menggunakan sistem satu arah kendaraan, kami melewati Jalan Tamblong dimana sebuah toko kue, rumah makan dan cafe yang menyajikan kuliner tempo dulu berada.

Nama tempat itu adalah RASA Bakery & Café yang berdiri pada tahun 1936, semula bernama Hazes, Pada tahun 1963, Hazes dibeli oleh Ny. Kamarga yang kemudian mengganti nama menjadi Rasa Bakery & Café dengan salah satu produk unggulannya yaitu ice cream buatan sendiri atau home made

Walau sudah berdiri puluhan tahun, Bakery dan Cafe yang serupa dengan Ragusa Italia di Jakarta dan Zangradi di Surabaya ini, tampak bersih dan modern walau kesan jadulnya tetap ada. Suasananya menyenangkan, tempatnya bersih tidak berdebu, pelayannya ramah dan siap membantu, juga makanannya enak-enak berdasarkan review dari beberapa orang yang pernah berkunjung kesana.

Karena kami baru saja makan siang, maka kami mencari yang ringan saja, yang pasti Ice Cream. Kami juga memesan Belgium Wafel dan beberapa potong pastry, yang sangat lembut dan enak sekali. Satu cup Ice Cream diberi harga Rp 12.000,- sesuailah untuk es seenak itu.

Selain makanan ringan seperti ice cram, cake, kroket, bitterballen, pizza dan mini lasagna serta aneka kue kering lainnya, RASA juga menyediakan menu sarapan pagi seperti laksa dan makanan utama lainnya seperti Sup Buntut dan Rawon.

Oh ya jika akan menuju ke tempat ini, dari arah Jalan Merdeka, lokasinya ada di sebelah kanan jalan, jadi bersiaplah mengambil jalur di sisi kanan. Tertulis ada papan nama “RASA Celebes” yang merupakan papan nama untuk menuju ke Rasa Bakery & Cafe dan Toko Olah raga “Celebes”. Selamat mencoba.

Rasa Bakery & cafe
Jl. Tamblong No.15
Bandung , Jawa Barat – Indonesia
Buka dari jam 08.00 sd jam 22.00
022 4205330