(Mengapa) Hadir Di Sepetang Bersama Blogger 2015

Blogging atau istilahnya Ngeblog adalah kegiatan tulis menulis melalui media blog. Kegiatan ini telah aku ikuti sejak bulan Maret 2009, bermula dari ketertarikanku mengikuti postingan dari rekan SMAku Imelda Coutrier yang sudah lama menetap di Jepang. Biasanya menulis dalam buku harian membuat aku pada awalnya agak kesulitan menulis dalam blog, yang terbuka untuk siapa saja. Namun berjalannya waktu aku mulai terbiasa menulis dalam blog. Malah kegiatan ini lama-lama menjadi semakin asyik karena sejak bergabung dengan Komunitas Emak Blogger aku mempunyai banyak teman, yang sharing dan postingannya bisa membuat aku merasa saling menguatkan satu sama lain. Aku sendiri jarang terlibat dalam kegiatan off line dengan para Emak ini, tapi sekali waktu blogwalking membuat hati ini terasa semakin dekat dengan para Emak. Puncaknya adalah ketika aku terpilih sebagai salah satu Finalis Srikandi Blogger 2013 dimana aku menjadi kenal (sedikit) lebih dekat dengan mak yang luar biasa, baik, rendah hati dan tidak sombong, yaitu mak Anazkia.

Mak Anazkia lama bermukim di Malaysia. Dan kali ini mak Anazkia menggelar Give Away, yang hadiahnya tiket pp ke Malaysia dan akomodasi menginap selama menghadiri kegiatan Sepetang Bersama Blogger 2015 (SBB 2015) untuk 4 (empat) orang. Kegiatan ini adalah perhelatan kopdar blogger terbesar di Malaysia, yang diikuti blogger manca negara, yang tentu akan menjadi ajang yang wajib dihadiri karena disini para blogger bisa berjumpa dengan blogger kondang, yang akan sharing banyak pengalaman yang tentunya bermanfaat dan bisa menjadi sumber inspirasi bagi blogger yang hadir disana. SBB 2015 menggunakan konsep yang berbeda dengan tahun sebelumnya, bertempat di Taman Cabaran, Presint 5 Putrajaya, diadakan dalam dua sesi. Sesi pagi melibatkan acara blogger Treasure Hunt dan pada petang pula akan ada sesi sharing blogger. Untuk sesi sharing blogger sendiri, Mak Anazkia diberi kehormatan oleh Encik Amir untuk menjadi salah satu panel mengisi sesi tersebut, waah ga sabar ingin mendengar langsung kisah Mak Anazkia di dunia blogging ini. Tak ketinggalan acara yang diadakan berkat kerjasama denaihati.com dan Yeo’s ini juga memberi hadiah bagi yang beruntung (lucky draw) yang ga kalah serunya.

Alasan saya ingin ikut hadir dalam kegiatan SBB 2015 adalah yang pertama, saya adalah pengagum mak Anazkia sejak lama, tepatnya sejak saya mengenal tulisan-tulisan mak Anazkia selama kami para finalis Srikandi Blogger 2013 intens diberi tugas menulis sebelum Para Juri dan Makmin ketok palu memilih Pemenang SB 2013.

Yang kedua dan ketiga adalah lokasi dan acara, kadang kita (saya aja kale) tidak dapat memisahkan mana yang jadi prioritas karena buat saya keduanya penting. Lokasi acara ini sangat menarik buat saya, saya belum pernah ke Malaysia. Sejak Malaysia beribukota Kuala Lumpur, sampai sekarang pusat pemerintahan berpindah ke Putrajaya sejak tahun 1995 belum pernah saya berkunjung kesana. Saya pernah ke Penang tahun 2008 untuk mengantar Ibu berobat di Penang Adventist Hospital dan itu penuh terpusat perhatian hanya untuk Ibu saja. Di Putrajaya banyak sekali bangunan dan tempat menarik untuk dikunjungi (minimal dilihat dan digunakan sebagai tempat berfoto untuk kenangan), diantaranya Wetland Park, Souq Bazaar, Putrajaya International Convention Center, Mesiid Putra berwarna merah muda, Putra Cruise, Perdana Putra, Palace of Justice, Tuanku Mizan Zainal Abidin Mosque dan Jembatan Putra. Waah keren-keren sekali membayangkan berada disana, karena bangunan disana dipengaruhi arsitektur Islam, Malaysia dan Eropa.

Berikutnya tentu acara SBB 2015 itu sendiri, seperti yang saya sebut diatas, selain bertemu dengan teman blogger untuk memperluas pertemanan, seandainya berangkat, aku akan berangkat berlima bersama Anazkia dan teman terpilih yang lain dan itu tentu sangat sangat menyenangkan pergi bersama teman-teman dari Indonesia.

Yang keempat, acara ini terselenggarakan berkat kerjasama dari Yeo’s. Yeo’s adalah sebuah perusahaan yang telah berdiri sejak tahun 1900-an, Yeo Hiap Seng (Yeo’s) kini telah menjadi industri makanan & minuman yang besar baik pasar lokal maupun internasional. Produk minuman Yeo’s yang paling saya sukai adalah minuman sari kedelai, yang enak banget kalau diminum dingin karena terbuat dari 100% Kacang Kedelai Non-GMO (Non Genetically Modified Organisms) dari Kanada (import), kurang gula (maklum saya ada turunan penderita diabetes), tidak pakai bahan pengawet, rendah lemak (saya termasuk emak yang takut gemuk), bebas kolesterol dan tidak mengandung laktosa. Jadi ya berharap akan ketemu banyak produk ini disana.

Yang kelima, SBB 2015 diinspirasi oleh Denaihati.com, yang inspiratif banget, saya sempat mampir ke blognya beberapa kali, tengok saja websitenya yang selalu update dengan berita segar dan terbaru setiap saat. Dan kabarnya Encik Amir sang blogger adalah salah satu sosok blogger inspiratif dari Malaysia, ga salah lagi kalau blog nya masuk dalam deretan Top 10 blog di Malaysia. Wajib hukumnya belajar dari ahlinya, yang selalu bisa berbagi melalui blog.

Last but not least, salah satu juga alas an mengapa saya mesti hadir di SBB 2015 adalah lucky draw nya banjir hadiah dari sponsor yang bikin meleleh, yaitu diantaranya Samsung Note Edge, Samsung Galaxy S6 dan iPhone 6 Plus. Cuhui….ingin lebih tahu mengenai kegiatan SBB 2015 yuk simak disini ya.

Punya keinginan dan berharap pergi bersama Mak Anazkia dan teman-teman, boleh-boleh aja kan ? yuk ikut bergabung dalam Giveaway Mak Anazkia, semua berpeluang yang sama lho, buat tulisan seperti diatas ya, dengan syarat berikut :
Dan beberapa syarat untuk mengikuti give away ini adalah,

  • Tetep syarat pertama adalah memiliki passport yang masih hidup minimal untuk enam bulan ke depan.
  • Like fan page denaihati
  • Follow akun twitter @denaihati
  • Follow akun instagram @denaihati (kalau nggak punya instagram nggak apa-apa)
  • Boleh diikuti oleh blog dari paltform manapun tanpa terkecuali
  • Temanya jangan lupa, tuliskan alasan teman-teman ingin mengikuti ajang SBB 2015
  • Jangan lupa tuliskan link hidup pada kalimat denaihati dan yeo’s Malaysia (nggak usah banyak-banyak)
  • Give away ini diadakan mulai hari ini 1 Juni sampai 6 Juni 2015. Pengumuman tanggal 8 Juni 2015. Berangkat rencana tanggal 12 Juni 2015 sore

Selain hal di atas, setelah menulis jangan lupa kirimkan link url teman-teman ke email dengan format, Subjek: Sepetang Bersama Blogger 2015 dan Yeo’s. Sertakan juga nama, akun twitter juga link url tulisan. Kirim ke email, anazkia@gmail.com cc ke suma_friend@yahoo.co.id dan dhani.ramdhani.nur@gmail.com

Semoga berhasil dan bisa hadir di Sepetang Bersama Blogger 2015 di Putrajaya, Malaysia :-)

Sumber foto : www.putrajaya.gov.my


Tegar Melangkah, Haruskah Studi Di (Luar) Negeri

Aku adalah seorang Ibu yang mempunyai dua orang anak perempuan dan seorang anak laki. Dua anak perempuanku sudah duduk di kelas menengah atas bahkan si sulung sudah tamat tahun lalu (2014) Sementara si bungsu terpaut lima tahun dengan kedua kakaknya sehingga saat ini masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu, perutku sudah mulai tergelitik karena adanya keinginan dari si sulung untuk melanjutkan studi ke luar negeri, ke Jerman tepatnya. Rasanya bercampur aduk antara senang, ragu dan bangga. Sebagai orangtua yang suka travelling dan berjalan tanpa batas, aku sangat mendukung keinginan si sulung. Berbeda dengan suami yang banyak keraguan dan berbagai pertimbangan. Aku dan si sulung mulai mempelajari seluk beluk cara belajar kesana dan mempersiapkan segala sesuatunya, khususnya Bahasa Jerman.

Sejak duduk di bangku kelas 2 SMA (2012), sulung mulai mengikuti kursus seminggu dua kali di tempat kursus “Optima Studio” yang bertempat di Gedung German Center BSD dari jenjang A1. Setelah itu, ia mengambil kursus di Goethe Institut Jakarta setiap hari Sabtu atau Minggu sejak pagi sudah berangkat dengan kereta menuju tempat kursus di Jalan Sam Ratulangi, Jakarta. Sulung berjuang betul untuk menyelesaikan tingkat B1 nya dengan mengorbankan banyak hal termasuk waktunya bermain dengan teman-temannya. Dua kali gagal mencapai nilai minimal untuk modul “HÖren” tidak membuat sulung berhenti berjuang dan ia tetap mati-matian belajar, hingga akhirnya lulus 4 modul level B1 di Juni 2015

Sertifikat Tingkat B1 memang bukan syarat mutlak, tapi menjadi kunci pembuka sulung untuk mulai mengajukan aplikasi ke universitas dan pembukaan rekening di Deutsch Bank. Mengapa mesti membuka rekening, nanti aku jelaskan di postingan berikut ya. Kali ini di sini aku mau menceritakan bagaimana banyak orang, khususnya teman-teman sesama Ibu bertanya-tanya, anaknya mau kuliah dimana, kok diijinkan kuliah jauh ke luar negeri, mengapa mesti keluar negeri, ke Jerman Timur lagi, emang mau ambil jurusan apa, akuntansi, bisnis, bukannya di sini juga banyak perguruan yang bagus, kalau mau ke luar negeri ada Singapore, Malaysia, Australia yang lebih deket, ga serem apa ngelepas anak perempuan ke negara yang pernah konflik, tahu ga sih di sana kehidupan bebas (gay, lesbi bahkan atheis), nanti kalo anaknya sakit gimana, bener tuh nanti ga nangis ditinggal anak sulung, perempuan lagi, biayanya kan mahal, banyak duit ya, biayanya darimana dst dst. Demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang sebagian diajukan, mulai dari yang dengan berwajah was-was penuh perhatian sampai yang nyinyir habis, harus dihadapi.

Lalu bagaimana aku harus menjawab. Betulkah aku yang hanya PNS dan suami karyawan di sebuah BPD punya banyak uang untuk menyekolahkan anak di Luar Negeri ? Kalau boleh dibilang ya inilah perjuangan kami agar apa yang menjadi impian si sulung dapat terwujud. Betulkah ini hanya sebuah prestise orangtua mengirim anak kesana? Tentu tidak. Kami berdua mempelajari sekolah apa yang ingin dituju anak kami. Kami juga memberi pengertian yang juga sudah dia sadari, mengapa kami mengijinkan dan setuju ia berangkat. Anakku ingin melanjutkan ke Uni Mannheim.

Uni Mannheim adalah salah satu universitas termuda di Jerman. Baru di tahun 1967 Uni Mannheim diangkat statusnya menjadi sebuah Universitas. Sebelumnya Uni Mannheim adalah sekolah tinggi perdagangan. Dikarenakan sejarahnya yang berkaitan dengan disiplin ilmu ekonomi, Uni Mannheim berhasil menunjukan kompetensinya di disiplin ilmu ekonomi. Dari hasil penilaian CHE, Uni Mannheim menempati posisi pertama di disiplin ilmu Akuntansi dan Ekonomi. Selain itu Uni Mannheim juga berhasil meraih posisi 10 besar terbaik di Jerman untuk disiplin ilmu Informatik (10) dan Ekonomi Informatik (3).

Studi di luar negeri membuat seorang pelajar menjadi lebih mandiri dan bertanggungjawab. Sebelum masuk kuliah, setiap siswa dari luar Jerman wajib mengikuti masa transisi di Studienkolleg, karena perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dengan Jerman, yang mana Indonesia menerapkan pendidikan dasar 12 tahun (6 tahun SD, 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA) sementara di Jerman menerapkan 13 tahun, sehingga setiap siswa wajib mengikuti Studienkolleg (Pre University) selama 2 semester sebelum kuliah di Universitas.

Banyak sekolah di Jerman yang tidak memberlakukan sistem absensi, tidak ada persyaratan minimum kehadiran untuk mengikuti ujian, hal ini pula yang otomatis menuntut setiap siswa untuk bertanggungjawab hadir di perkuliahan tanpa paksaan. Studi di luar negeri, jauh dari orang tua dan keluarga, tentunya akan membuat sulung lebih berhemat, mengatur uang saku yang sudah dijaminkan orangtua sebagai biaya hidup setiap bulannya dengan sebaik-baiknya. Selain mempersiapkan “peluru-peluru jitu” untuk menghadapi ujian masuk ke Studienkolleg yang akan dihadapi sulung pada akhir Agustus nanti (25 Agustus 2015 di Koethen), aku terus mempersiapkan mental anak sulungku ini, dari segi agama agar ia semakin menjadi anak yang tangguh, kehidupan dunia luar yang tentu tidak mudah akan dia hadapi, culture schok, kehidupan bebas dan atheis bahkan rasis akan menjadi kesehariannya nanti.

Menurut Rhenald Kasali, yang banyak mendorong pemuda Indonesia untuk melanjutkan studi ke luar negeri….

Ada dua situasi kebatinan yang akan mereka hadapi (di perantauan): terasing sekaligus tertantang. Dalam keterasingan, mereka hanya berbicara dengan diri sendiri, bukan bergantung pada orang lain. Di tengah kesibukan banyak berdialog dengan orang lain dan media sosial, dalam keterasingan, bagus bagi anak muda untuk membangun diri. Dialog diri ini akan menimbulkan self awareness (kesadaran diri) untuk membentuk karakter yang kuat.

Saat ini anakku sedang mempersiapkan diri keberangkatannya dengan mengikuti Vorbereitung Kurs di Gema Sprachenzentrum di BSD setiap hari dari pukul 9 pagi sampai dengan selesai, tergantung materi dan diskusi pada hari itu. Program Aufnahmepruefung Vorbereitungkurs adalah program yang mempersiapkan peserta untuk menghadapi ujian persiapan menempuh ujian masuk yang akan diselenggarakan Studienkolleg.

Yang pasti, sebagai orangtua, kami berdua tidak asal-asalan mengijinkan anak kami melangkah ke depan. Aku juga berpesan agar anakku kuat dan tidak cengeng karena ini adalah pilihan hidupnya, ia harus tegar melangkah, tak guna menangisi kamar yang ditinggal pergi tapi mulai berbenah di kamar yang baru untuk meraih mimpi dan cita-cita.


Berintegritas ? Latih Sejak Dini

Sering kita mendengar istilah Integritas disebut di banyak tempat. Bahkan kantor tempat aku bekerja juga mengangkat integritas sebagai sebuah nilai yang mesti dipertahankan dalam organisasi. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan memiliki nilai integritas dan bagaimana mulai memperkenalkannya sejak dini.

Ada banyak ahli dan teori yang memberikan konsep dan definisi mengenai kata integritas, namun secara sederhana aku dapat mengartikan bahwa integritas adalah kesatuan antara kata dan perbuatan. Apa yang dikatakan ya itu yang dibuat dan apa yang dibuat itulah yang dikatakan. Lebih konkritnya juga dalam hal memegang janji dan menaati aturan. Bukan hal yang sulit sesungguhnya tapi ternyata tidak semudah itu dilakukan apalagi jika tidak dibiasakan sejak kecil.

Melatih integritas sejak dini pada anak-anak dapat membentuk karakter kepribadian seorang anak menjadi manusia yang berintegritas. Latihan ini juga dapat meningkatkan kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual pada seorang anak.

Terbiasa melakukan apa yang dikatakan, membuat seorang menjadi orang yang dapat dipercaya karena memegang janji, misalnya dalam keluarga dimana aturan dalam keluarga telah dibentuk, disepakati seluruh anggota dan disusun untuk dilaksanakan bersama, contoh sederhana adalah menepati jam belajar. Orangtua dan anak sudah sepakat bahwa jam belajar antara jam 16 sampai dengan jam 17 untuk anak usia sekolah dasar, maka jika anak tidak melaksanakan kesepakatan tersebut, ia akan mendapat hukuman, berupa larangan menonton televisi atau tidur malam lebih awal. Orangtua juga diminta untuk memberi teladan menjalankan nilai integritas ini dengan melaksanakan hal yang telah menjadi kesepakatan dalam keluarga, misal kekompakan ayah ibu untuk berbagi tugas dalam keluarga.

Mempunyai integritas banyak mendatangkan manfaat dan membuat diri sendiri menjadi kuat, katakan “ya” jika “ya” dan “tidak” jika “tidak”, selaras dan konsisten apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan. Berintegritas dapat menghindari seseorang dari masalah, karena orang yang tidak memegang janji atau ucapannya dapat membuat orang lain mengalami masalah. Misal di kantor sudah disepakati bahwa penyelesaian pekerjaan 1 minggu kedepan yang akan disampaikan dalam presentasi pukul 14.00, namun ternyata pada hari yang ditentukan, beberapa orang tidak menyelesaikan pekerjaannya dan rapat yang telah dijadwalkan pada jam dan waktu tersebut dibatalkan, nah bagaimanakah ini bagi yang lain?

Dalam agama Kristen, calon pengantin yang mengucapkan Ikrar Janji di Altar di hadapan Pendeta, Orangtua, Keluarga dan Jemaat, begini, “Aku akan mengasihi engkau baik dalam suka maupun duka, dalam keadaan sehat maupun sakit”, tidak hanya mengucap di bibir saja, pada kenyataannya pengantinpun harus berintegritas, apa yang diucapkan harus juga dilakukan, sehingga perceraian dapat dihindarkan dengan mengingat perjanjian tersebut.

Melatih integritas sejak dini, dalam lingkungan keluarga dengan taat aturan keluarga atau berjanji pada diri sendiri untuk melakukan hal baik. Dalam lingkungan sekolah taat pada aturan sekolah, melakukan hal baik di sekolah dalam berinteraksi dengan guru dan bergaul dengan teman. Dalam lingkungan kerja, taat pada aturan organisasi dan mempunyai komitmen terhadap pencapaian kinerja. Dalam komunitas dan dimana pun kita berada, karena berintegritas sudah menyatu dalam diri kita, maka akan membuat kita mudah diterima dimana saja. Sebaliknya apa yang terjadi pada orang yang tidak memiliki integritas, berkata A tapi berbuat B. Seyogyanya memang nilai integritas ini diselaraskan dengan kehidupan beragama. Orang yang menepati janji (berintegritas) pasti tidak akan berbohong atau berbuat tidak jujur karena dalam agama, hal itu dilarang dan tidak dibenarkan (dosa).

Dulu orang tua sering berpesan dalam Bahasa Jawa, “dadi wong kuwi ojo kerep mencla mencle, esuk dhele sore tempe : wong sing ora tetep atine” – jadi orang itu jangan sering berubah-ubah dan tidak tetap hatinya

Melatih integritas sejak dini, membuat anak kita menjadi anak yang tangguh, menepati janji dan dapat dipercaya. Sulitnya melatih integritas sejak dini, dimana orangtua mesti selalu bermain tarik ulur dengan anak agar anak terbiasa taat aturan dan norma, akan dipetik hasilnya kala anak mulai memasuki usia remaja dan dewasa. Anak sudah tahu buah dari nilai integritas yang ditanamkan orangtuanya dan ini juga yang menenangkan hati orangtua, percaya pada anak-anak masuk kedalam dunia yang makin ganas dan buas hari-hari ini.

Mari latih dan biasakan anak-anak kita hidup dengan nilai-nilai integritas yang berdasar pada ajaran agama, kelak bukan hanya anak yang akan memetik buah dari kebiasaan ini tapi juga orang tua yang tekun menanamkannya pada anak-anak :-)

Gambar dari Google


Menikmati Wajah Baru Kuliner Di Pasar Santa

Maaf ini cerita yang terlambat di posting karena masalah teknis pada upload foto. Postingan ini bercerita tentang jalan-jalanku ke Pasar Santa. Pasar Santa yang berlokasi di Jalan Cipaku, Kebayoran Baru mengalami perubahan penampilan secara bertahap sejak mid 2014 yang lalu. Pasar yang sempat vakum dan sepi pengunjung sejak tahun 2007, mulai tumbuh perlahan sejak dirubahnya pengelolaan Pasar. Mereka menjemput bola dengan menghadirkan komunitas anak muda di Jabodetabek. Dengan sewa sekitar Rp 3 juta keatas per tahun, banyak anak muda bergabung disini, mulai dari komunitas penjual makanan dengan ide kreatif nya, pencinta kopi, piringan hitam dan barang antik.

Kami baru sempat pergi kesana pada hari Sabtu, 7 Maret 2015 yang lalu, hari baru selesai hujan, sehingga jalan becek dan air tergenang sejak mobil memasuki jalan Cipaku. Antrian panjang karena jalan tersebut sempit dan hanya pas saja untuk dilalui mobil di kedua arah. Lahan parkir juga agak sulit karena memang banyak pengunjung datang dengan mobil di hari Sabtu (Malam Minggu nya anak muda).

Beginilah suasana lantai 2 Pasar Santa, sangat penuh dengan anak muda yang antri pada counter makanan

Kami mulai menjelajah masuk kedalam

dan Slaizekrim

Sebagai pencinta kopi, rasanya ga afdol kalau tidak mampir dan mencoba icip-icip di salah satu kedai kopi di sini namanya La Ode’s Coffee

Kami memang datang sudah hampir magrib dan mulai kehabisan makanan berat, akhirnya kami bernostalgia ke warung sate sederhana di pojok pasar Santa, yang fenomenal, yang ngangenin dan selalu penuh

Yuk mari berkunjung, menikmati wajah baru Pasar Santa di Kebayoran Baru, tempat nongkrongnya anak muda gaul di Jabodetabek lho :-)


Kecerdasan Emosi Dalam Master Chef Junior Sesi 3

Anak sesuai usianya umumnya merupakan sosok yang polos dan apa adanya. Anak akan menunjukkan segala sesuatu sesuai dengan apa yang tertanam dalam dirinya sejak ia berada dalam kandungan dan tumbuh.

Masih tentang Nathan Odom, pemenang Master Chef Junior Sesi 3, mari kita belajar bagaimana seorang anak yang biasanya tampak polos dan tak dapat menyembunyikan keluguannya, bisa tampak begitu tenang di babak final yang tentu sangat menggetarkan hatinya. Apa yang tampak dalam diri Nathan merupakan refleksi dari setiap hal yang dilakukan orangtua dan lingkungan keluarga tempat ia bertumbuh.

Emosi adalah sebuah bentuk respon kita untuk melakukan tindakan dalam mengatasi penyebab munculnya perasaan itu. Jadi emosi adalah awal bukan hasil akhir dari kejadian atau peristiwa. Pesan dari emosi tersebut bisa positif ataupun negatif, namun itu tidaklah buruk. Hal yang penting diajarkan pada anak-anak sejak dini adalah bagaimana meningkatkan kecerdasan emosi, yang dapat dimulai dengan melakukan 5 (lima) hal yaitu kesadaran diri (self awareness), mengelola emosi (managing emotions), memotivasi diri sendiri (motivating oneself), empati (emphaty) dan menjaga hubungan (handling relationship), seperti yang disampaikan oleh Daniel Goleman dan juga Salovey dan Meyer. Anak-anak perlu dibantu untuk mengenali dirinya dan keempat hal lain diatas. Lalu, bagaimana caranya?

Kesadaran Diri adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang kita rasakan dan kita pikirkan. Setiap kali hal tersebut muncul, maka akan ada pesan dari emosi tersebut seperti rasa sedih, rasa takut, marah, kesepian dan kecewa bahkan rasa bersalah. Orangtua wajib membantu anak untuk memahami apa yang anak rasakan. Misalnya seorang anak tidak mau berada didalam kamar sendiri yang gelap, maka peran orangtua mengajak anak berdiskusi dengan menanyakan, “Apakah kamu takut?” disini anak akan belajar “sadar” bahwa yang dia rasakan adalah “takut”. “Kamu takut karena merasa sendiri atau karena kamar gelap?” Galilah dengan pertanyaan sehingga anak memahami apa yang dia rasakan untuk dapat mencari solusi terhadap emosi yang dia rasakan.

Mengelola Emosi adalah kemampuan untuk mengelola emosi yang ada untuk memberikan dampak positif. Misal dengan kejadian diatas, ajak anak untuk mencari solusi bersama, jika ia tidak suka di kamar gelap seorang diri, orangtua bisa menanyakan dan mencari solusi dengan memberi keyakinan bahwa kamar itu aman dengan penguatan yang membuat anak menjadi yakin. Contoh lain adalah saat bermain bersama dengan teman atau adik, seorang anak memukul karena ketidaksukaannya, maka orang tua wajib mengajarkan dengan memberitahu bahwa tidak boleh memukul, beritahu juga apa yang akan kita rasakan kalau itu terjadi pada diri kita. Mungkin anak akan berkata, “aku pukul dia karena dia ambil barangku.” Orangtua bisa menjelaskan bahwa keadaan itu bisa dibicarakan, tidak boleh asal memukul dan seterusnya. Pengulangan berupa nasehat atau peringatan untuk kejadian yang mungkin saja bisa berulang, membuat anak semakin paham bahwa apa yang dilakukan itu salah dan tidak dapat dilakukan berulang.

Memotivasi diri sendiri. Disamping mengenali diri dan mengelola emosi, seorang anak juga mesti memiliki kemampuan untuk memotivasi diri. Setiap orang akan menghadapi banyak hal yang bisa membuat diri menjadi lelah, tidak bersemangat, takut, mundur dan putus asa, disinilah peran kemampuan memotivasi diri sendiri sangat besar. Kunci keberhasilan seseorang itu ada pada dirinya sendiri. Orangtua mesti membantu bagaimana anak mengerti dan menyadari dirinya, mengetahui kekuatan pada dirinya agar bisa memotivasi. Kemampuan ini membuat seorang menjadi lebih produktif dan efektif dalam segala hal yang mereka kerjakan karena mereka memiliki kinerja yang baik dari dalam dirinya.

Empati adalah kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpati dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil sudut pandang orang lain. Dalam empati, anak diajar untuk mengenali emosi orang lain, misal dari gesturnya, kita bisa mengetahui apakah orang tersebut sedang marah atau sedang gembira. Selain mengenali emosi, ajarkan pada anak untuk punya kemampuan mengelola emosi orang lain, misal, kalau ada temanmu duduk diam dan tidak mau bermain bersama, tanyakan mengapa? Jangan paksakan ia untuk menjawab, tapi tunggu dan dengarkan. Kadang seseorang butuh untuk didengar, mungkin dia sedang sedih dengan keadaan dalam keluarganya, atau perutnya lapar atau mungkin sedang tidak enak badan. Hal yang ketiga adalah memotivasi orang lain, jika kita mengetahui seseorang sedang sedih, apa yang mesti dilakukan agar ia tidak terus menerus sedih, bisa dengan menghiburnya dengan cara yang ia suka.

Menjaga hubungan adalah kemampuan melakukan interaksi dengan siapa saja dan menjaga hubungan tersebut dengan baik. Hal ini sangat mudah diajarkan pada anak dengan pemberian contoh, bagaimana berkenalan dengan seseorang di tempat yang baru, misal di sekolah atau di lingkungan tertentu. Di masa anakku baru masuk sekolah, aku selalu mengajarkan pada mereka untuk selalu berusah mengingat nama temannya dan membuat pertemanan baru. Aku mengajarkan mereka untuk tidak berteman dengan orang yang sama setiap hari dan setiap saat. Karena hidup itu penuh dengan warna, mari berinteraksi dengan orang yang beraneka ragam, jangan hanya berteman dengan orang yang sama, yang hanya bisa menyenangkan hati kita. Kita perlu belajar bertemu dengan orang yang tidak pernah kita temui sebelumnya.

Kembali mengenai anak-anak Master Chef Junior Sesi 3, mari kita ingat ulang kembali, bagaimana setiap anak bereaksi terhadap apa yang dilakukan temannya dan berinteraksi satu sama lain. Bagaimana reaksi mereka saat teman mereka dieliminasi. Bagaimana saat mereka memasak di dapur restoran dalam satu tim. Perhatikan perilaku setiap anak satu per satu. Bagaimana gaya kepemimpinan Jimmy dan Andrew. Bagaimana anak-anak menghadapi stress di dapur restoran dengan melimpahnya pesanan di restoran. Semua yang kita lihat adalah bentuk dari bagian dari mereka mengelola kecerdasan emosi mereka.

Mari kita latih anak-anak kita sejak dini agar mereka tidak hanya menjadi pribadi yang memiliki kemampuan intelektual tinggi tapi juga kecerdasan emosi yang mampu membuat mereka menjadi anak yang bertumbuh dengan baik jasmani dan rohani.

Sumber Foto : Yahoo, Google, Facebook “Master Chef Junior Session 3″