Tetap Bersyukur

Repost, 20 Mei 2019, RS Harapan Kita

 

Kadang kita berpikir kalau masalah yang kita hadapi adalah masalah yang paling berat dan kita begitu takut menghadapinya, padahal itu semua belum apa-apa dibandingkan dengan masalah orang lain.

harkit1

Pagi tadi berjumpa beberapa orang ibu, yang mengantar anaknya dengan berbagai masalah penyakit jantung, ada usia 19 tahun mengalami bocor jantung sehingga tidak bisa melanjutkan kuliah, ada bayi usia 4 bulan kelainan katup jantung, ada keluarga yang terbang langsung dari Kualanamu, mendarat dan langsung menuju ke RS HK.

Ya Tuhan, beri aku hati yang bersyukur dan kuat karena apa pun yang kita hadapi sudah ada batasanNYA

Semoga anak-anak ini diberi kesembuhan dan orangtuanya diberi kekuatan lahir batin ?

harkit2

Catatan penting :

Matikan handphone, saat berada di rumah sakit, gunakan waktu untuk berbincang dan saling menguatkan satu sama lain.
Rumah Sakit salah satu tempat untuk mengungkapkan kasih tanpa batas, kami juga bisa berbagi bekal untuk sesama pasien yang sedang menunggu hasil, selain duduk mendengarkan keluhan para ibu saat dalam antrian.


Proses Penerbitan Buku “Aku dan Alam Semesta”

Kali ini aku akan berbagi mengenai proses penerbitan buku, yang sering dibicarakan banyak orang. Yang seolah-olah tampak muncul dengan tiba-tiba, tahu-tahu buku terbit.

Menerbitkan buku sama dengan menulis naskah, butuh waktu yang cukup. Definisi “Cukup” tentu relatif beragam, apalagi buat penulis seperti aku, penulis amatiran, yang menulis di sela waktu.

Singkat cerita, betul, aku sedang menanti terbitnya buku ke-25 ku atau tepatnya buku solo ke-8 di tahun ke-5 masuk dalam dunia penulisan. Naskah dari buku “Aku dan Alam Semesta” ini sendiri disusun sejak awal tahun 2019 dengan narasumber yang kompeten menguasai alam semesta, yaitu Prof Bambang Hidayat dari ITB.

cov1crop

Setelah melalui malam panjang dengan begadang di malam hari dan di akhir pekan, akhirnya rampunglah 10 cerita lengkap dengan ilustrasi dari Mbak Tanti Amelia pada awal bulan September 2019.

Ada kendala keterbatasan waktu bertemu, hampir sebagian besar komunikasi dilakukan melalui email dan beberapa kali tatap muka. Perbaiki, kembalikan, kirim lagi, naskah dan gambar berulang kali dikirim melalui pos dalam bentuk hardcopy, untuk memudahkan Prof Bambang mengkoreksi (sudah seperti mahasiswa memperoleh bimbingan skripsi). Baik dengan mbak Tanti yang super sibuk, maupun dengan Prof Bambang.

Prof Bambang juga sangat berbaik hati mengirimkan bahan-bahan untuk memperkaya wawasanku mengenai alam semesta. Bahan materi dari berbagai sumber, baik dalam Bahasa Inggris ataupun Bahasa Indonesia, beliau kirimkan. Bukan itu saja, Prof juga ingin memastikan bahwa tidak ada kesalahan konten bukuku. Sangat membuat terharu. Dan yang sangat membuat aku meleleh adalah kata pengantar dari beliau, yang sangat membuat aku tersanjung dan makin tunduk, ya ampun….aku bukan apa-apa (bukan siapa-siapa juga) dan karyaku ga ada apa-apanya, tapi demikianlah adanya yang beliau tuliskan, setelah aku konfirmasi, apakah ini tak terlalu berlebihan, tanyaku waktu itu.

Oh ya, awal perkenalanku dengan Prof Bambang Hidayat, dapat dibaca di sini ya, bertemu pertama pada 12 Februari 2019, setelah sebelumnya berkomunikasi melalui email pada 21 Desember 2018. Alamat email beliau, aku peroleh dari rekan blogger, seorang wartawan Tempo, bernama pak Baskoro. Setelah bertemu dengan Prof Bambang di rumahnya, barulah aku tahu kalau beliau adalah ayah dari teman satu kantor, pak Arief Arianto, yang kebetulan sedang berada dalam tim yang sama di BPPT.

Kembali soal proses penerbitan, 10 cerita dengan 41 ilustrasi dalam naskah buku ini selesai pada awal September 2019 dan karena sebelumnya telah berkomunikasi dengan pihak ITB Press, maka setelah Prof Bambang setuju, naskah segera aku kirimkan ke penerbit pada tanggal 8 September 2019.

Dan pada tanggal 17 September 2019, proses dummy selesai dan aku juga mengirimkan pada Prof Bambang, yang sangat disambut dengan sukacita, sama seperti dengan yang aku rasakan saat mengamati dan memeriksa buku dummy versi digital ini. Halaman sebanyak 70 halaman A4 telah menjadi 161 halaman kertas ukuran A5 landscape.

dum1 dum2

Selanjutnya menurut penerbit, akan masuk dalam proses proofreader, untuk memastikan tata letak, huruf dan ukurannya.

Jadi, demikian teman-teman, proses penerbitan buku tidak hanya secepat mengedipkan mata. Pembuatan naskahnya saja (untuk 10 cerita dan 41 gambar) membutuhkan waktu hampir sembilan bulan. Nah untuk menerbitkan bukunya, masih melibatkan banyak pihak, diantaranya editor dan layouter, yang waktunya tergantung antrian di penerbit. mohon bersabar ya.

Buat teman-teman sesama penulis, menerbitkan buku itu perlu kesabaran tingkat dewa (lebai ya). Apalagi jika naskah dikirim ke penerbit mayor, sudah menunggu sekian lama, belum tentu memperoleh jawaban yang memuaskan, bisa diterima dan bisa ditolak. Kalau diterima, ya akan masih harus menjalani jalan yang cukup panjang, proses editing, layout, proofread dan seterusnya. Kalau ditolak, ya jangan patah semangat, coba alternatif lain, mencari sponsor untuk menerbitkan secara indie dan lain-lain.

Pada intinya, jangan meletakkan telur (karya) dalam satu keranjang, terus berkarya, ikut di banyak komunitas menulis, supaya kreativitas terus tergali dan jangan menunggu atau berdiam diri saat naskah sudah disubmit di salah satu penerbit, mana tau karya berikutnya justru terbit lebih dahulu di penerbit yang lain.

Tetap semangat, menulis adalah keabadian….. 😉


Selamat Jalan Eyang BJ Habibie

Bangsa Indonesia kembali kehilangan seorang Putra Bangsa terbaiknya, Bapak (Eyang) BJ Habibie (Presiden Republik Indonesia yang ke-3).
hab

Aku tidak mengenal beliau secara pribadi. Namun sebagai salah seorang pegawai di lingkungan lembaga yang beliau bentuk, aku banyak mendengar dan mengenal beliau melalui cerita dari teman-teman dan pegawai senior.

Pernah beberapa kali mendengar pidato beliau pada acara-acara HUT BPPT. Pidato beliau selalu menginspirasi dan memberi semangat. Selalu. Kadang membuat kita, yang muda-muda, menjelang madya, ini menjadi malu dengan sang Founding Father yang terus semangat, berjalan dan berbicara di depan podium, di hadapan ribuan pegawai Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Beliau tidak pernah kenal lelah dan otaknya selalu berpikir mengenai kondisi bangsa ini.

Pak Habibie adalah sosok yang cerdas dan itu diakui oleh banyak orang. Beliau juga sosok yang pemberani, berani mengatakan ya dan bertindak tanpa rasa takut kalau hal itu memang benar adanya. Pak Habibie sangat amat peduli pada perkembangan dan kemajuan pembangunan bangsa Indonesia. Bukan hanya infrastrukturnya tapi juga manusianya. Banyak sekali kata-kata yang membangun dari beliau untuk anak bangsa ini, agar mau belajar dan tidak bermalas-malasan, salah satunya.

Kecerdasan juga tidak cukup, harus diseimbangkan dengan cinta (kasih) dalam bentuk kepedulian. Bisa jadi kita cerdas tapi kita tak melakukan apa-apa untuk bangsa ini. Tidak ada gunanya bukan. Begitu kira-kira aku menerjemahkan pernyataan beliau ini, karena demikian sudah bentuk nyata beliau sebagai bapak bangsa.

Cinta dan Kecerdasan Harus Seimbang

“Tanpa cinta, kecerdasan itu berbahaya dan tanpa kecerdasan, cinta itu tidak cukup”

Ada dua makna yang terkandung dalam tulisan di atas, yang pertama, kecerdasan akan menjadi berbahaya, bila tidak dinyatakan dalam bentuk kepedulian. Cerdas hanya untuk diri sendiri. Cerdas yang tak memberi dampak. Sedangkan yang kedua, segala sesuatu pasti ada ilmunya, bahkan cinta-pun apabila tidak ada ilmunya akan terasa hampa

Hanya Anak Bangsa Indonesia yang Berhak Membangun Indonesia

“Kalau bukan anak bangsa ini yang membangun bangsanya, siapa lagi? Jangan saudara mengharapkan orang lain yang datang membangun bangsa kita.”

Kepedulian ini beliau buktikan dengan banyaknya Program Pendidikan
Dalam dan Luar Negeri, yang beliau prakasai di masa lalu, seperti Beasiswa IPTN, Program Overseas Fellowship Program (OFP), Program Science and Technology for Industrial Development (STAID) dan masih banyak lagi.

Peluang-peluang mengenyam pendidikan untuk mencerdaskan dan memintarkan anak bangsa dilakukan beliau dalam satu karya nyata.  Anak bangsa berhak membangun bangsa. Berhak berarti memperoleh kesempatan, bukan hanya wajib. Karena suatu yang wajib, akan menyusul kemudian ketika seseorang yang telah dibiayai untuk bersekolah ke luar negeri dengan biaya Pemerintah, kembali ke tanah air atau berkarya dari mana pun, membangun untuk bangsa ini.

Beliau telah tiada di alam nyata, tapi semangatnya selalu ada memenuhi relung sanubari orang yang mengenal dan terinspirasi oleh beliau. Seorang teman, Indy Hardono,mengatakan dalam update statusnya pagi ini

“Orang besar adalah orang yang tidak mengenalmu tqpi ia mengubah hidupmu. Ia tak mengenalmu tqpi ia memgantarkammu menjemput mimpi mu. Semua memang berawal di akhir dan berakhir di awal. Seperti sering kau katakan. Selamat jalan Pak Habibie. Selamat kembali Ke Titik Awal”

Seorang teman yang lain bertanya, mengapa ia merasa begitu sedih, padahal tidak mengenal beliau, lalu aku menjawab :

Karena yang kita pelajari adalah softside beliau pak. Saya juga ga pernah ketemu langsung. Melihat juga dari jauh. Beliau di podium, saya di kursi auditorium. Kenal beliau dari teman2 lama dan pegawai senior, tapi rasanya beliau menginspirasi sekali dan selalu kena di hati. Selain itu, karena kita adalah karyawannya, kita berada di institusi yang beliau bangun, dari nol.

20190912_133628

Semoga Eyang (Bapak) Prof Habibie mendapat tempat terbaik di surga. Aamiin.. (11 September 2019)