Lirik Payung Teduh ~ Sebuah Lagu

Sebuah Lagu
Duduk bersama tak melakukan apa pun
Keluh-kesah ‘kan perjuangan dan masa sulit
Seduhan teh dan persahabatan melunturkan lelah
Jam dinding tak berjarum
Sudah larut, kaki enggan melangkah
Duduk bersama tak melakukan apa pun
Menuang secangkir cerita tangis dan tawa
Tak berjanji tapi selalu ada dalam masa kelam
Terima kasih, teman
Untukmu kunyanyikan sebuah lagu
Sebuah lagu tentang cinta tentang luka
Tentang hidup tentang segalanya
Sebuah lagu tentang jarak tentang rindu
Tentang harap tentang segalanya
beautiful-night-sky
Taburan bintang melukis semua
Kisahku yang kau tampung
Tepukan di pundak meredam asa yang
Yang hampir menghilang
Sebuah lagu tentang cinta tentang luka
Tentang hidup tentang segalanya
Sebuah lagu tentang kita tentang waktu
Kebersamaan abadi

(Untuk teman, terima kasih sudah bersedia mendengarkan dan menjawab semua pertanyaan, 10 Juli 2019)


Capucino Rasa Rindu

Aroma kopi memang selalu semerbak memenuhi rumah kami di sore hari. Aku suka kopi hitam dan dia suka capucino.

“Sayang, di mana kopiku?”


“Di atas partitur dekat piano…”

cap

Dia berjalan mencari cangkir kopinya, dan bertanya dengan lembut, seperti biasa,

“Lho…. kenapa kamu letakkan di sini? Kalau tumpah ke partiturku bagaimana?”

 

“Supaya aroma dan sedap rasa kopi ini, bisa langsung bertransformasi di atas tuts piano, untuk menginterpretasikan rasa rinduku yang njelimet ini….”

 

“Hm kamu ini…. sini duduk yang anteng, akan kumainkan lagu untukmu,”

ia menarik kursi piano, duduk di atasnya, dan membuka penutup piano, jari-jarinya mulai menari di atas tuts piano setelah dalam sekejap menyeruput setengah cangkir capucino rasa rindu, yang masih hangat itu

Aku duduk manis di sebelahnya, menikmati Lagu Cinta yang ia mainkan untukku, sambil menikmati kopi hitamku. Kurang apa lagi? Sempurna, bersamamu.

 


#delarasngopi


Life Is Like Climbing A Mountain

Quote

Life Is Like Climbing a Mountain. Just as if we have to quench to climb the top of a mountain, we always have a strong desire somewhere in our heart to reach the height of success.

 

Each stopping point serves as a goal we have set for ourselves in our lives and each climb is like a journey to achieve the high point.

 

Life may be challenging and frustrating at first. Nevertheless, there is a feeling of achievement after each successful climb.

 

In the end, we are awarded a panoramic and tranquil view of the world. It is your ultimate achievement

 

~ Unknown

climbQuote yang selalu memberikan semangat untuk hidup dan terus merayap ke atas. Hidup tak mungkin tanpa masalah, pasti ada hal baru yang akan kita hadapi di depan kita, yang tak pernah kita tahu itu apa. Sama seperti mendaki gunung, walau kita tahu puncak itu yang kita tuju. Kita sudah tahu arah tujuan kita apa dalam hidup ini tapi kita ga tahu apa saja yang akan kita hadapi di depan. Prediksi tentu ada. Sama seperti naik gunung, kita tahu jalan akan berbatu, terjal, licin, ada tebing di kiri kanan, akan turun kabut, ada lintah, nyamuk, belum lagi kejadian dari dalam diri, seperti kram otot, kebelet (ups….), lapar, dingin dan banyak hal lagi, karena itu melangkah dalam hidup (~ naik gunung) perlu persiapan matang. Kalau naik gunung, ya mesti pemanasan, yang aman jogging minimal dua minggu sebelum naik, selama 30 menit setiap hari. Bawa persiapan ini itu. Demikian juga untuk hidup ini. Matang atau ga matang pun, kita harus melangkah, selangkah sekali pun ya harus mulai naik.

Hm jadi panjang ya ceritanya. Kalau naik gunung, yang pasti aku kangenin ya lihat edelweis yang kalau disentuh, lembut-lembut gimana gitu, gabes-gabes kata orang Jawa, soft banget kayak spon, tapi dia luar biasa tangguh, tahan badai dan tahan uji, ingat ya kalau kamu cinta lingkungan, jangan sekali-kali kamu petik, cukup difoto aja dan foto bareng bunga edelweis, petik sekuntum buat tanda cinta kasihmu boleh juga kok, hehe…..eits jangaan….kalau ribuan pendaki masing-masing ambil sekuntum, wah ya bahaya. Oh ya aku suka sedih kalau lihat bunga edelweis dijualin di bawah, lalu dicat warna warni, kayak gimana gitu rasanya.

Edelweis pertamaku adalah dari Gunung Gede (tahun 1986), masih ada sampai sekarang. Kapan-kapan aku ceritakan di postingan yang lain ya. Naik gunung pertama tanpa persiapan matang, Puji Tuhan aku selamat dan ga tepar.

Nah kalau hidup, apa yang ingin kita raih, ya target-target yang sudah dibuat di awal. Ga mudah. Tapi kita pasti bisa. Mungkin ada sedikit penyesuaian-penyesuaian, misalnya target semula A, jadi target A minus. Atau tetap mencapai target A tapi lewat jalan Y, bukan jalan X.

Yuk semangat ya, apa pun yang kita akan hadapi, tetap kuat, serahkan semuanya pada Allah semata. Usaha dan Berdoa. :-)