Martumpol dan Mar Ria Ria – Olwiyn

Dua minggu yang lalu, kami mendapat undangan dari Amang Abang tertua suamiku, Amang Bapak Luhut, yang karena bertempat tinggal di Bogor, anak-anak memanggil beliau Amang tua Bogor atau Bapak tua Bogor. Ap Bogor mengundang kami, adik-adiknya untuk hadir pada acara Partumpolon (baca : Partupolon) sebagai yang tampak dibawah ini,

GOKHON DOHOT JOU-JOU
ULAON PARTUMPOLON, SABTU 18 APRIL 2009

Mandapothon Napinarsangapan :
Kel. Ap Dita Sidabariba/br Manihuruk

Dohot Hormat,

Dibagasan posni roha na sian Tuhanta, marhite surat on ro do hami manggokhon huhut manjou hamu napinarsangapan : Raja ni Dongan Tubu, Raja ni Boru/Bere/Ibebere, Raja ni Dongan Sahuta, Pariban dohot Ale-ale, Tarlumobi ma di hamu Raja ni Hula-hula dohot Tulang nami, asa marneang ni langka hamu rap dohot inanta soripada ro mangadopi ulaon PARTUMPOLON ni boru nami :

OLWIYN MARGARETH ASTRID br SILALAHI SIDABARIBA, S.Sos

Dohot oroanna

TUMABER MANULANG, SH

Anak ni Lae nami BK Manulang, dohot Inangbao nami br Pakpahan (†)/br Sianturi, sian Jl Bintaro Permai I No 24, Bintaro – Jakarta, ima nanaeng sipatupaonta di :

Ari/Tanggal : Sabtu/18 April 2009
Tingki : Pukul 09.00 WIB sd selesai
Inganan : Gereja HKBP Petukangan, Jln Ciledug Raya No 5 Petukangan Selatan, Jak Sel, Telp 021-7354885

Sai dipatiur jala diramoti Tuhanta ma Ulaon i, dipadao nasa abat-abat sian hita saluhutna, jala disiala haradeon ni rohamuna, parjolo ma hupasahat hami godang mauliate.

Bogor, 23 Maret 2009

Hami na Manggokhon :

1. Ir. Hoemala Sidabariba/Maria Hasnah br Simarmata Bogor
2. Donny Luhut Sidabariba/Ceria br Simarmata Bogor

Sebagai wanita yang menikah dengan seseorang bersukubangsa Batak, sudah sepatutnyalah aku ikut belajar dan mencari tahu acara apakah yang akan aku hadiri ini. Sebenarnya, aku sudah menghadiri acara Partumpolon beberapa kali, Namun baru kali ini aku mencari referensi dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, untuk dapat dimasukkan kedalam blogku, yang kelak akan dapat berguna bagi anak cucuku, yang merupakan keturunan pernikahan dari seorang ibu bersukubangsa Jawa…

Martumpolon adalah sebuah tahapan dari serangkaian kegiatan dalam Tata Cara Adat Batak. Namun karena saat penulisan blog ini, aku sudah di tahap Martumpolon, maka tahap-tahap sebelumnya akan aku tuliskan kemudian hari ya.

Martumpol (baca : martuppol) adalah
• Penandatanganan persetujuan pernikahan oleh orang tua kedua belah pihak atas rencana perkawinan anak-anak mereka dihadapan pejabat gereja
• Tata cara Partumpolon dilaksanakan oleh pejabat gereja sesuai dengan ketentuan yang berlaku
• Tindak lanjut Partumpolon adalah pejabat gereja mewartakan rencana pernikahan dari kedua mempelai melalui warta jemaat, yang di HKBP disebut dengan Tingting (baca : tikting)
• Tingting ini harus dilakukan dua kali hari minggu berturut-turut
• Apabila setelah dua kali tingting tidak ada gugatan dari pihak lain baru dapat dilanjutkan dengan pemberkatan nikah (pamasu-masuon).

Dalam acara Martumpol yang kuhadiri ini, kami hadir pada pukul 09.00 lewat, kami sudah panic dalam perjalanan, karena undangan tertulis pukul 09.00. Keterlambatan ini terjadi karena anak tengahku, Arum, harus mengisi acara dalam Pembukaan Olympiade Sains Kwark di SD Stella Maris BSD. Arum dan teman-temannya tampil membawakan beberapa lagu dengan kolaborasi alat musik kolintang, suling dan angklung.

Tiba disana, ternyata pihak pengantin pria belum hadir juga. O iya, keluarga kami berada di pihak pengantin perempuan (parboru) karena yang akan menikah adalah boru ke-2 dari Ap Bogor. Untuk mengisi waktu, kami dari pihak parboru melakukan latihan paduan suara, semula rencananya akan kami nyanyikan pada saat Pemberkatan Nikah, namun karena kami sudah merasa mantap (mantap booo), kami berani menyanyikan lagu berjudul Sampai Masa Tua, dalam bahasa Indonesia dan bahasa Batak. Anak-anakku juga didaulat untuk bernyanyi dengan persiapan seadanya, Dita memainkan piano, mengiringi Arum yang menaikkan pujian You Raise me Up. Pihak Pengantin Pria (paranak) akhirnya datang pada pukul 11.00 siang, akhirnya…..untung gedung gereja HKBP memakai AC, kalau tidak, pasti semua inang dan amang bisa mendidih kepanasan, maklum dalam acara resmi seperti ini, kami, untuk menghormati pihak pengundang, abang kami dan pihak paranak, para ibu memakai pakaian resmi kebaya dan kain dan rambut disanggul dengan sasak dan memakai konde atau sanggul. Sedangkan para bapak menggenakan pakaian jas lengkap dengan dasi. Jadi bisa kebayang tho, seandainya, seandainya saja kami harus menunggu selama hampir 2 jam tanpa AC? Pyuuih…: (

Setelah mengikut Partumpolon seperti yang diatur sesuai dengan Tata Kebaktian di Gereja HKBP, kami, para tamu dipersilakan untuk menikmati hidangan berupa makanan kecil di teras gereja. Selanjutnya, kedua belah pihak, baik pihak parboru maupun pihak paranak, melaksanakan kegiatan MAR-RIA RAJA, yang undangannya dapat dilihat pada lampiran berikut,

GOKHON DOHOT JOU-JOU
ULAON MAR-RIA RAJA, SABTU 18 APRIL 2009

Mandapothon Napinarsangapan :
Kel. Ap Dita Sidabariba/br Manihuruk

Dohot Hormat,

Dibagasan posni roha na sian Tuhanta, marhite surat on ro do hami manggokhon huhut manjou hamu napinarsangapan : Raja ni Dongan Tubu, Raja ni Boru/Bere/Ibebere, Raja ni Dongan Sahuta, Pariban dohot Ale-ale, asa marneang ni langka hamu rap dohot inanta soripada ro mangadopi ulaon MAR-RIA RAJA ni boru nami :

OLWIYN MARGARETH ASTRID br SILALAHI SIDABARIBA, S.Sos

Dohot oroanna

TUMABER MANULANG, SH

Anak ni Lae nami BK Manulang, dohot Inangbao nami br Pakpahan (†)/br Sianturi, sian Jl Bintaro Permai I No 24, Bintaro – Jakarta, ima nanaeng sipatupaonta di :

Ari/Tanggal : Sabtu/18 April 2009
Tingki : Pukul 12.00 WIB sd selesai
Inganan : Gereja HKBP Petukangan, Jln Ciledug Raya No 5
Petukangan Selatan, Jak Sel, Telp 021-7354885

Sai dipatiur jala diramoti Tuhanta ma Ulaon i, dipadao nasa abat-abat sian hita saluhutna, jala disiala haradeon ni rohamuna, parjolo ma hupasahat hami godang mauliate.

Bogor, 23 Maret 2009

Hami na Manggokhon :

1. Ir. Hoemala Sidabariba/Maria Hasnah br Simarmata Bogor
2. Donny Luhut Sidabariba/Ceria br Simarmata Bogor

Naah kalo acara Mar Ria Raja yang kuhadiri saat ini, diawali dengan Makan Siang, maklum jamnya sudah siang banget, dan walaupun sudah diselipi snack yang terdiri dari lemper, risoles dan teh manis, rasanya kok ga nendang ya kalau belum makan nasi….haha bukan nyindir lho, tapi bener, aku juga laper per…apalagi seperti biasa di ulaon seperti ini, pasti ada masakan khas Batak dong… pake Sangsang ?

Acara Mar Ria Raja sendiri adalah suatu kegiatan pra pesta/acara yang bersifat seremonial yang mutlak diselenggarakan oleh penyelenggara pesta/acara yang bertujuan untuk :
o Mempersiapkan kepentingan pesta/acara yang bersifat teknis dan non teknis
o Pemberitahuan pada masyarakat bahwa pada waktu yang telah ditentukan ada pesta/acara pernikahan dan berkenaan dengan itu agar pihak lain tidak mengadakan pesta/acara dalam waktu yang bersamaan.
o Memohon izin pada masyarakat sekitar terutama dongan sahuta atau penggunaan fasilitas umum pada pesta yang telah direncanakan.

Dalam acara ini, detil persiapan pernikahan dibicarakan, siapa yang bertugas, apa yang harus disiapkan sampai ke orang-orang yang harus bertanggungjawab di setiap tahap kegiatan, Sibuah-buahi (di tempat parboru), diputuskan untuk diadakan di aula gereja HKBP Cijantung pada tanggal 8 Mei 2009 –> Pemberkatan Pernikahan di gereja —> ke gedung (tergantung jenis pesta, bisa di pihak paranak/parboru) sudah diputuskan pesta di pihak parboru dan diadakan di aula gereja —->Mangalean Dekke dari pihak Parboru —> Mangelehon Jabbar dari pihak Paranak—> Mangelohon Tuppak ke Penganten —–> Mambagi Pinggan Panganan termasuk ke teman Sahuta—->Mambagi angka Upa baik itu untuk Tulang atau berhubungan dengannya — –> Mengelohon Ulos.

Dalam Mar Ria Raja yang bisa memakan waktu antara 2 sampai dengan 3 jam, pembicaraan diselingi dengan makanan kecil, kopi, teh, soft drink, bir, lappet dan bolu ketan hitam. Yang berdiskusi, ya gigih berdiskusi, yang makan ya makan terus…hehe…beginilah kalau warga Batak mempersiapkan pesta.


6 thoughts on “Martumpol dan Mar Ria Ria – Olwiyn

  1. lebih repot ini Mel, tapi yaa disinilah keunikannya…menarik mempelajari adat istiadat suku atau bangsa yang berbeda bukan?

    mungkin karena aku juga msh belajar dikit2 bahasa batak, hehe…

    DL

  2. Apakah acara martupol itu tercantum pada agenda HKBP….?

    Apakah acara martupol itu sesuai ajaran kristiani atau ajaran pelbegu….?

  3. Terima kasih sudah mampir di blog saya. Saya hanya membagikan apa yang saya alami dalam blog saya ini. Buat saya ini sebuah pengalaman untuk pembelajaran, belajar menjadi bagian dari keluarga beradat Batak dan ini menarik buat saya.

    Apakah acara Martupol ada pada agenda HKBP ? Itu di luar kewenangan saya untuk menjawab tapi yang selama ini saya ikuti, acara Martu(m)pol selalu diadakan di Gereja HKBP. Demikian yang bs sy sampaikan. Salam. Horas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *