Tulisan ini adalah hasil karya anak sulungku setelah melakukan karyawisata bersama teman-teman sekolahnya dari SMPK Ora Et Labora BSD beberapa waktu yang lalu. Semoga bermanfaat dan menambah kecintaan kita kepada Bangsa ini.

 

Jakarta – Dijuluki Kota Metropolitan, namun sebenarnya Jakarta pantas pula dijuluki Kota Museum. Berbagai museum ada di sini, terutama di kawasan Kota Tua Jakarta Kota. Saat ini di Jakarta terdapat lebih dari 30 museum dengan jenis-jenis yang berbeda. Museum-museum ini dikelola oleh berbagai pihak, seperti Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, instansi pemerintah/swasta, dan kelompok/perorangan.

Pemda DKI Jakarta melalui Dinas Museum dan Pemugaran (DMP) relatif banyak mengelola museum. Museum-museum yang berada di bawah pengawasan DMP adalah Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah), Museum Wayang, Museum Seni Rupa, Museum Keramik, Museum Bahari, Museum (Taman) Prasasti, Museum Tekstil, Museum (Gedung) Juang ’45, Museum MH Thamrin, serta Balai Informasi Sejarah dan Budaya Jakarta.

Jakarta merupakan sebuah kota yang memiliki periode sejarah cukup lengkap, mulai dari periode prasejarah hingga dewasa ini. Obyek-obyek dari periode itulah yang disajikan berbagai museum tadi.

Museum Sejarah Jakarta terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat. Areal museum luasnya lebih dari 13.000 meter persegi. Bangunannya bergaya arsitektur kuno abad ke-17. Dulunya gedung ini bernama Stadhuis atau Balai Kota. Museum Sejarah Jakarta berdiri pada 30 Maret 1974. Berbagai obyek yang dapat disaksikan di museum ini antara lain perjalanan sejarah Jakarta, hasil penggalian arkeologi di Jakarta, mebel antik mulai dari abad ke-18, keramik, gerabah, dan batu prasasti. Koleksi-koleksinya terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Fatahillah, Ruang Jayakarta, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin.

Ada juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini diperkaya dengan patung Dewa Hermes yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dipandang mempunyai kekuatan magis. Jangan lupa, di Museum Sejarah Jakarta terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulunya sangat menakutkan.

Di Sekitar

Tak jauh dari sini, menyeberang ke arah kiri, terdapat Museum Wayang. Letaknya di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 27, Jakarta Barat. Semula bangunan ini bernama De oude Hollandsche Kerk. Pemakaian Museum Wayang diresmikan pada 13 Agustus 1975.

Museum Wayang memamerkan berbagai jenis dan bentuk wayang dari seluruh Indonesia, baik yang terbuat dari kayu dan kulit maupun bahan-bahan lain. Wayang-wayang dari luar negeri ada juga di sini, misalnya dari Cina dan Kamboja. Hingga kini koleksinya lebih dari 4.000 buah, terdiri atas wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang janur, topeng, boneka dan gamelan. Umumnya boneka berasal dari Eropa.

Tak jauh dari Museum Sejarah Jakarta, menyeberang ke arah kanan terdapat Museum Seni Rupa dan Museum Keramik. Kedua museum ini terdapat dalam satu gedung, yaitu Balai Seni Rupa dan Keramik di Jalan Taman Fatahillah No. 1, Jakarta Barat. Museum Seni Rupa memamerkan aneka macam karya seni lukis dari berbagai aliran, seperti naturalisme, abstrak dan surealisme. Pelukis Indonesia yang karyanya tersimpan di sini antara lain Raden Saleh, Affandi, Sudjojono, dan Basuki Abdullah.

Museum Keramik menampilkan koleksi keramik lokal dan keramik asing, baik berupa hasil penggalian arkeologis maupun sumbangan dan pembelian dari berbagai pihak. Keramik Cina terbanyak jumlahnya, menyusul keramik Jepang, Siam (Thailand), Annam (Vietnam), dan Eropa.

Koleksi keramik lokal di antaranya berasal dari Kasongan, Plered, Malang, Palembang, dan Singkawang. Selain keramik tradisional juga digelar kemarik modern atau keramik kreatif hasil karya seniman-seniman Indonesia.

Agak ke utara terdapat Museum Bahari. Lokasinya di Jalan Pasar Ikan No. 1, Jakarta Barat. Museum ini menyajikan koleksi yang berhubungan dengan kehidupan kebaharian dan kenelayanan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Koleksi-koleksi itu terdiri atas berbagai jenis perahu tradisional dengan aneka bentuk, gaya dan ragam hias. Disajikan pula berbagai model kapal modern dan perlengkapan penunjang kegiatan pelayaran. Di sisi lain ditampilkan koleksi biota laut dan aneka perlengkapan nelayan.

Di Tanah Abang

Ada juga tempat yang memamerkan prasasti makam tokoh-tokoh sejarah bangsa Indonesia. Tempat ini bernama Museum (Taman) Prasasti. Museum yang berlokasi di Jalan Tanah Abang I, Jakarta Pusat ini menyimpan pula prasasti-prasasti makam bangsa Belanda.

Tokoh bangsa Indonesia yang prasastinya ada di sini antara lain Miss Riboet (tokoh sandiwara) dan Soe Hok Gie (tokoh mahasiswa). Sementara prasasti tokoh bangsa Belanda adalah Dr. WF Stutterheim (ahli arkeologi), Dr. HF Roll (pendiri Stovia), dan JHR Kohler (tokoh Perang Aceh).
Masih di kawasan Tanah Abang, di Jalan KS Tubun No. 4, Jakarta Pusat, kita dapat berkunjung ke Museum Tekstil. Museum ini memamerkan pola, ragam hias batik, dan aneka tekstil yang didapat dari segenap penjuru Nusantara. Alat tenun tradisional ikut memperkaya khasanah koleksi museum ini. Banyak jenis tekstil tidak dipamerkan museum ini karena sudah terlalu tua umurnya.

Di kawasan Menteng terdapat Museum (Gedung) Juang ’45. Museum yang lokasinya di Jalan Menteng Raya No. 31, Jakarta Pusat, ini memamerkan foto-foto dokumentasi sejarah perjuangan bangsa kurun waktu 1945-1950. Terdapat juga sejumlah lukisan perjuangan, patung tokoh pejuang dan panji. Koleksi lainnya berupa mobil REP1 dan REP2, mobil dinas resmi Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta.

Dua museum lain yang dikelola DMP adalah Museum MH Thamrin serta Balai Informasi Sejarah dan Budaya Jakarta. Museum MH Thamrin yang terletak di Jalan Kenari, Jakarta Pusat, ini memamerkan foto-foto dokumentasi perjuangan MH Thamrin dalam mencapai kemerdekaan. MH Thamrin sendiri adalah nama pejuang Jakarta yang namanya antara lain diabadikan untuk proyek pembuatan jalan kampung dan nama jalan protokol.

Sementara itu Balai Informasi sejarah dan Budaya Jakarta berlokasi di Jalan Silang Monas Utara, Jakarta Pusat. Koleksinya meliputi foto-foto dan miniatur benda-benda tentang sejarah, rencana pengembangan kota serta budaya Jakarta.

Karena ditangani instansi pemerintah (daerah), museum-museum ini tampak kurang menggigit. Minimnya dana perawatan dan tenaga pengelola sangat terasa. Banyak koleksi museum kurang terpelihara dan tersaji dengan apik. Debu, misalnya, masih terbalut di banyak koleksi. Minimnya penerangan masih dijumpai di banyak ruangan. Informasi tentang koleksi yang seadanya kerap kali membingungkan pengunjung.

Sebagai Kota Budaya tentu pihak berwenang harus meningkatkan kualitas museum. Dengan demikian wisata museum di Jakarta akan berkembang karena mengundang pesona para wisatawan. Apalagi museum adalah etalase ilmu pengetahuan sekaligus obyek wisata pendidikan dan budaya.

Gambar : (dari ki-ka) > Museum Wayang, Museum Bahari, Museum Bank Indonesia, Museum Fatahillah dan Museum Seni Rupa dan Keramik, dari berbagai sumber di Google

 

1.MUSEUM WAYANG

Selayang Pandang Museum Wayang merupakan sebuah museum yang menyimpan, merawat, dan memamerkan berbagai hal yang berhubungan dengan wayang dari daerah-daerah di Indonesia dan luar negeri. Museum ini bertempat di sebuah bangunan tua yang berusia ratusan tahun dan hingga sekarang tetap berdiri kokoh dan anggun. Gedung museum yang berlantai dua ini berdiri di atas tanah seluas 935.25 meter persegi dan merupakan bangunan tua yang masih terpelihara keasliannya. Gedung bersejarah ini bahkan oleh Persatuan Bangsa-Bangsa (United Nations) dinyatakan termasuk dalam daftar 136 cagar budaya yang harus dilindungi.

Dalam sejarahnya, gedung yang digunakan sebagai museum ini telah mengalami beberapa kali perubahan dan renovasi, tetapi masih tetap mempertahankan struktur keaslian arsitekturnya. Dahulu, pada awalnya gedung ini bernama Gereja Lama Belanda (De Oude Hollandsche Kerk) yang dibangun pada tahun 1640 M. Pada tahun 1732 M, gedung ini diperbaiki dan berganti nama menjadi Gereja Belanda Baru (De Nieuwe Hollandsche Kerk). Namun, sejak terjadi gempa bumi pada tahun 1808 M, sebagian bangunan gedung bersejarah ini hancur dan kemudian dibangun lagi pada tahun 1912. Setelah bangunan berdiri kembali, gedung bekas gereja ini oleh Pemerintah Hindia Belanda dijual kepada sebuah perusahaan yang bernama Geo Wehry & Co dan dijadikan kantor hingga tahun 1934.

Pada tahun 1936, kepemilikan gedung tua tersebut berpindah lagi setelah dibeli oleh sebuah Lembaga Ilmu Pengetahuan, Seni, dan Budaya di Batavia milik Pemerintah Belanda (Bataviaasch Genootschap van Kusten en Wetenschappen). Lembaga ini kemudian menyerahkan pengelolaannya kepada Pemerintah Belanda dan dijadikan sebagai Museum Batavia Lama (De Oude Bataviaasche Museum). Di masa penjajahan Jepang, gedung ini tidak mengalami perawatan yang maksimal dan terkesan ditelantarkan. Baru pada tahun 1957 gedung ini diserahkan pada Lembaga Kebudayaan Indonesia.
Pada tanggal 17 September 1962, Museum Batavia Lama ini sepenuhnya dikelola oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dan ditetapkan sebagai Museum Jakarta, sebelum diserahkan pada Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Pada tanggal 23 Juni 1968, Pemda DKI kemudian menyerahkan pengelolaan gedung ini kepada Dinas Museum dan Sejarah. Semenjak dikelola oleh Dinas Museum dan Sejarah, gedung ini akhirnya dipugar dan secara resmi dijadikan Museum Wayang pada tanggal 13 Agustus 1975.

Keistimewaan Museum Wayang merupakan museum yang menyimpan koleksi berbagai jenis perlengkapan yang berhubungan dengan pembuatan dan pertunjukan wayang dari daerah-daerah di Indonesia dan beberapa negara lain. Pengunjung museum ini dapat melihat berbagai koleksi wayang asli Indonesia, seperti wayang kulit, wayang golek, wayang kardus, wayang rumput, wayang kaca, dan juga wayang-wayang langka, seperti wayang suket, wayang beber, dan wayang intan. Wayang intan yang terdapat di museum ini dahulu dibuat pada tahun 1870 M oleh Ki Guna Kerti Wanda dan merupakan salah satu koleksi tertua.

Selain memamerkan koleksi wayang dari daerah-daerah di Indonesia, di Museum Wayang ini juga terdapat koleksi boneka (wayang) yang berasal dari luar negeri, seperti dari Malaysia, Kamboja, India, Cina, Pakistan, Suriname, Kanada, Amerika, Thailand, dan Inggris. Pengunjung juga dapat menyaksikan jenis koleksi lainnya, seperti topeng, patung wayang, dokumen, peta, foto-foto lama, dan alat musik wayang (gamelan).
Koleksi wayang yang terdapat di Museum Wayang, baik dari dalam maupun luar negeri, hingga April 2001 telah mencapai sekitar 5.147 buah. Pada bulan Juni 2006 jumlah koleksi museum terus bertambah hingga mencapai 5.500 buah.

Wisatawan yang berkunjung ke Museum Wayang juga dapat mengunjungi obyek wisata sejarah lainnya yang terletak cukup dekat dengan lokasi museum ini, seperti Museum Fatahillah, Museum Keramik, dan Balai Seni Rupa. Lokasi Lokasi museum ini terletak di Jalan Pintu Besar Utara No.27, Jakarta Barat, Propinsi DKI Jakarta, Indonesia.

Akses Mengunjungi Museum Wayang cukup mudah, karena letaknya yang mudah dijangkau baik dari jalur laut, darat, maupun udara. Museum ini berjarak sekitar 7 kilometer dari Bandara Udara Sukarno-Hatta dan berjarak 1 kilometer dari Pelabuhan Tanjung Priok serta berjarak 100 meter dari Stasiun Kereta Api Jakarta Barat. Untuk menuju lokasi museum, wisatawan dapat menggunakan Bus Transjakarta dari arah Blok M menuju Kota, dan dapat menggunakan Mikrolet M-12 dari Stasiun Senen menunju Kota, juga dapat menggunakan Mikrolet 08 dari arah Tanah Abang menuju Kota, serta dapat juga menggunakan Mikrolet M-15 dari Pelabuhan Tanjung Priok menuju Kota.

Museum Wayang biasanya dibuka pada hari Selasa hingga Minggu, sedangkan pada hari Senin dan Hari Besar tutup. Pada hari Selasa hingga Kamis, museum ini buka pada pukul 09.00—15.00 WIB. Untuk hari Jum‘at, museum buka dari pukul 09.00—14.30 WIB dan pada hari Sabtu dari pukul 09.00—12.30 WIB. Sedangkan untuk hari Minggu museum ini buka pada pukul 09.00 hingga pukul 15.00 WIB.

Harga Tiket Wisatawan yang mengunjungi museum ini dikenai biaya yang bervariasi berdasarkan perseorangan atau rombongan. Bagi pengunjung rombongan dewasa dikenai biaya sebesar Rp 1.500, untuk rombongan mahasiswa sebesar Rp 750, sedangkan untuk rombongan anak-anak hanya dikenai sebesar Rp 500. Sementara itu bagi pengunjung perorangan dikenai biaya masuk tersendiri. Untuk pengunjung perorangan dewasa dikenai biaya masuk sebesar Rp 3.000, untuk perorangan mahasiswa sebesar Rp 1.000, sedangkan untuk perorangan anak-anak/pelajar hanya sebesar Rp 650 (Mei 2008).

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya Di museum ini telah tersedia fasilitas-fasilitas penunjang, seperti perpustakaan, ruang gudang koleksi, ruang administrasi, kamera pengawas di setiap ruangan (CCTV), dan alat pemadam kebakaran. Selain itu, di museum ini juga sering diadakan pameran khusus, ceramah, diskusi, dan presentasi penelitian, serta sering diadakan pagelaran wayang dan atraksi pembuatan wayang.

2. MUSEUM BANK INDONESIA

Bank Indonesia (BI) sebagai bank sentral merupakan lembaga yang sangat vital dalam kehidupan perekonomian nasional karena kebijakan-kebijakan yang ditempuh oleh BI akan memiliki dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat. BI, yang didirikan pada tanggal 1 Juli 1953, telah lebih dari setengah abad melayani kepentingan bangsa. Namun, masih banyak masyarakat yang tidak mengenal BI, apalagi memahami kebijakan-kebijakan yang pernah diambilnya, sehingga seringkali terjadi salah persepsi masyarakat terhadap BI. Masyarakat sering memberikan penilaian negatif terhadap BI karena tidak cukup tersedianya data atau informasi yang lengkap dan akurat yang dapat diakses dan dipahami dengan mudah oleh masyarakat.

Usia setengah abad lebih ini akan semakin panjang lagi apabila diperhitungkan juga peran dari pendahulunya, yaitu De Javasche Bank (DJB) yang didirikan pada tahun 1828 atau 177 tahun yang lalu. Sementara itu, gedung BI Kota yang dulu dibangun dan digunakan oleh DJB, kemudian dilanjutkan pemakaiannya oleh BI dan saat ini praktis kosong tidak digunakan lagi, merupakan gedung yang mempunyai nilai sejarah tinggi yang terancam kerusakan apabila tidak dimanfaatkan dan dilestarikan. Pemerintah telah menetapkan bangunan tersebut sebagai bangunan cagar budaya. Di samping itu, BI juga memiliki benda-benda dan dokumen-dokumen bersejarah yang perlu dirawat dan diolah untuk dapat memberikan informasi yang sangat berguna bagi masyarakat.

Dilandasi oleh keinginan untuk dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai peran BI dalam perjalanan sejarah bangsa, termasuk memberikan pemahaman tentang latar belakang serta dampak dari kebijakan-kebijakan BI yang diambil dari waktu ke waktu secara objektif, Dewan Gubernur BI telah memutuskan untuk membangun Museum Bank Indonesia dengan memanfaatkan gedung BI Kota yang perlu dilestarikan. Pelestarian gedung BI Kota tersebut sejalan dengan kebijakan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang telah mencanangkan daerah Kota sebagai daerah pengembangan kota lama Jakarta. Bahkan, BI diharapkan menjadi pelopor dari pemugaran/revitalisasi gedung-gedung bersejarah di daerah Kota.

Hal inilah yang antara lain menjadi pertimbangan munculnya gagasan akan pentingnya keberadaan Museum Bank Indonesia, yang diharapkan menjadi suatu lembaga tempat mengumpulkan, menyimpan, merawat, mengamankan, dan memanfaatkan aneka benda yang berkaitan dengan perjalanan panjang BI. Saat ini memang telah ada beberapa museum yang keberadaannya mempunyai kaitan dengan sejarah BI, namun museum-museum tersebut masih belum dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Selain itu, gagasan untuk mewujudkan Museum Bank Indonesia juga diilhami oleh adanya beberapa museum bank sentral di negara lain, sebagai sebuah lembaga yang menyertai keberadaan bank sentral itu sendiri.

Tujuan Pendirian Museum Bank Indonesia
Guna menunjang pengembangan kawasan kota lama sebagai tujuan wisata di DKI Jakarta, maka sangat tepat apabila gedung BI Kota yang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh pemerintah, dimanfaatkan menjadi Museum Bank Indonesia. Keberadaan museum ini nantinya diharapkan dapat seiring dan sejalan dalam mendorong perkembangan sektor pariwisata bersama museum-museum lain yang saat ini sudah ada di sekitarnya, seperti Museum Fatahillah, Museum Wayang, Museum Keramik, dan Museum Bahari di daerah Pasar Ikan. BI mengharapkan bahwa keberadaan Museum Bank Indonesia akan berarti terwujudnya suatu museum bank sentral di Indonesia, yang mempunyai misi untuk mencari, mengumpulkan, menyimpan, dan merawat benda-benda maupun dokumen bersejarah yang saat ini dimiliki, sehingga menjadi suatu sosok yang mempunyai nilai dan arti penting bagi masyarakat. Hal ini hanya akan dapat terwujud apabila kita dapat menyajikan semuanya dalam bentuk yang mampu memberikan informasi yang lengkap dan runtut, sehingga mudah dimengerti dan dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.

Museum yang direncanakan ini juga diharapkan dapat menjadi wahana pendidikan dan penelitian bagi masyarakat Indonesia maupun internasional tentang fungsi dan tugas BI, di samping merupakan wahana rekreasi. Dengan pencapaian tujuan-tujuan tadi, diharapkan fungsi humas dalam rangka membangun citra (image building) BI sebagai bank sentral akan dapat berjalan dengan lebih baik. Sesuai dengan fungsi BI, sosok museum yang direncanakan diharapkan dapat menunjukkan karateristik BI secara menyeluruh, dilihat dari aspek-aspek kelembagaan, moneter, perbankan, dan sistem pembayaran yang disusun secara historikal perspektif. Sepenuhnya disadari bahwa rencana pembangunan museum ini bukanlah suatu gagasan yang sederhana, melainkan suatu gagasan yang bersasaran ganda. Dengan segala keterbatasan dan kendala yang ada, antara lain berkaitan dengan tingkat apresiasi masyarakat Indonesia terhadap museum yang relatif belum setinggi di negara-negara maju, proses perwujudan Museum Bank Indonesia jelas membutuhkan keuletan dan ketelitian. Mengingat keterbatasan kemampuan dan pengetahuan BI mengenai permuseuman, maka kerjasama dengan para ahli dari berbagai bidang diperlukan untuk bersama-sama mewujudkan gagasan ini secara menyeluruh dari tahapan konsep sampai dengan pelaksanaan fisik nantinya.

Sementara persiapan pembangunan museum secara fisik terus dilakukan, Museum Bank Indonesia disajikan dalam bentuk cyber museum. Dalam Cyber Museum Bank Indonesia ini diceritakan mengenai perjalanan panjang BI dalam bidang kelembagaan, moneter, perbankan, dan sistem pembayaran yang dapat diikuti dari waktu ke waktu, sejak periode DJB hingga periode BI semasa berlakunya Undang-Undang No.11 tahun 1953, Undang-Undang No.13 tahun 1968, Undang-Undang No.23 tahun 1999, dan Undang-Undang No.3 tahun 2004 saat ini.

3. Museum Fatahillah

Selamat datang di Museum Sejarah Jakarta, atau Museum Fatahillah. Dibangun tahun 1620, dengan menempati areal seluas 13 ribu meter persegi, Bangunannya bergaya arsitektur kuno abad ke-17 yang terdiri atas bangunan utama dengan dua sayap di bagian timur dan barat serta bangunan sanding yang digunakan sebagai kantor, ruang pengadilan, dan ruang-ruang bawah tanah yang dipakai sebagai penjara.

Dulu, pada jaman VOC, gedung ini bernama Stadhuis atau Stadhuisplein yang digunakan oleh pemerintahan Belanda sebagai gedung Balaikota, pusat pemerintahan Belanda saat masih berkuasa di Indonesia hingga akhirnya pada tanggal 30 Maret 1974, oleh pemerintah Indonesia, gedung ini kemudian diresmikan sebagai Museum Fatahillah.

Terletak di Jalan Taman Fatahillah No. 2, Jakarta Barat, museum ini menyimpan banyak hal yang bisa diceritakan dari masa lalu. Mulai dari perjalanan sejarah Jakarta, hasil penggalian arkeologi di kawasan Jakarta, mebel antik dari abad ke-18, keramik, gerabah, hingga batu prasasti. Koleksi-koleksi ini terdapat di berbagai ruang, seperti Ruang Prasejarah Jakarta, Ruang Tarumanegara, Ruang Jayakarta, Ruang Fatahillah, Ruang Sultan Agung, dan Ruang MH Thamrin. Terdapat juga berbagai koleksi tentang kebudayaan Betawi, numismatik, dan becak. Bahkan kini juga diletakkan patung Dewa Hermes(menurut mitologi Yunani, merupakan dewa keberuntungan dan perlindungan bagi kaum pedagang) yang tadinya terletak di perempatan Harmoni dan meriam Si Jagur yang dianggap mempunyai kekuatan magis.

Di masa lalu, selain berfungsi sebagai Balaikota, bangunan ini juga dijadikan sebagai penjara. Terdapat bekas penjara bawah tanah yang dulunya digunakan untuk menjebloskan orang-orang yang melanggar aturan hukum pemerintah Hindia Belanda. Konon, pejuang-pejuang Indonesia seperti Pangeran Diponegoro, pernah menghuni penjara ini. Tanah lapang di depan bangunan Museum Sejarah Jakarta, dikenal dengan nama Taman Fatahillah, merupakan saksi bisu tempat dilaksanakannya eksekusi hukuman gantung bagi ribuan orang Cina yang terlibat dalam pemberontakan melawan Belanda tahun 1740.

Museum Fatahillah hanyalah salah satu di antara makin langkanya bangunan tua dan bersejarah di Ibu Kota, yang menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia terhadap pemerintah Belanda saat itu. Bangunan Museum Fatahillah ini, menorehkan banyak kenangan bagi mereka yang pernah tinggal, maupun yang hanya singgah di Jakarta tempo doeloe. Hingga kini museum ini masih dikunjungi. Tak hanya oleh wisatawan lokal, namun juga oleh wisatawan mancanegara, khususnya wisatawan Eropa.

Museum ini dibuka setiap hari Selasa hingga Minggu, mulai pukul 09.00-15.00 wib. Sedangkan museum ini ditutup untuk umum setiap hari Senin dan hari besar.

Cara Mencapai Daerah Ini Museum ini dapat dicapai dengan menggunakan busway (Blok M ” Kota), kendaraan pribadi, taksi, dan angkutan umum.

Tempat Menginap Di Jakarta banyak hotel yang dapat dijadikan pilihan sebagai tempat menginap Anda. Jika ingin lebih dekat dengan kawasan Kota Lama Jakarta, Anda dapat menjadikan hotel-hotel di sekitar daerah Kota sebagai bahan pertimbangan Anda, seperti misalnya Hotel Omni Batavia, Le Grandeur Hotel (Dusit Mangga Dua), Novotel Mangga Dua, Sheraton dan lain-lain.

Berkeliling Anda dapat mengeliligi Museum Fatahillah dengan berjalan kaki melihat koleksi museum.

Tempat Bersantap Di sebelah timur pintu utama museum Fatahillah, terdapat sebuah kafe yang bernama Kafe Museum. Kafe ini merupakan sarana pelengkap dari Museum Fatahillah dengan memanfaatkan gedung tua yang berarsitektur kolonial, sehingga penataan interiornya pun disesuaikan yang dilengkapi dengan pernak-pernik yang mengingatkan kita pada masa kolonial. Yang menarik dari kafe ini adalah daftar menu makanan yang bernuansa Betawi tempo doeloe yang dipengaruhi beberapa budaya, seperti Cina, Arab dan Belanda. Mulai dari portuguese steak, ong tjai ing, kwee tiaw, tuna sandwich “van zeulen”, “east indies” chef’s, soup “Ali Martak”, sampai ikan bawal “si pitung” dan pisang goreng ” Nyai Dasima” tersedia di kafe ini.

Buah Tangan Anda dapat membeli T-shirt dan kaus, kartu pos, serta gantungan kunci sebagai cinderamata.

Yang Dapat Anda Lihat Atau Lakukan Banyak sekali hal yang dapat dilihat dan dilakukan disini, seperti:
• Berfoto-foto di sekitar museum dan Taman Fatahillah yang antik.
• Mengunjungi museum-museum yang ada di sekitar Museum Fatahillah.
• Mengikuti acara yang diadakan museum-museum–misalnya, dengan menonton pagelaran drama tentang cerita-cerita di masa lalu.

Tips
• Patuhilah segala petunjuk dan larangan yang ada di Museum
• Gunakan pakaian yang nyaman untuk digunakan, mengingat udara Jakarta yang cukup panas dan terik.
• Lebih baik apabila Anda melengkapi diri dengan kacamata hitam, topi dan payung.
• Jangan lupa membawa kamera untuk berfoto
• Jika ingin merasakan bagaimana suasana interaksi sosial pada jaman Belanda, tidak ada salahnya untuk mampir dan menghabiskan waktu di Kafe Museum. Kafe ini pada saat-saat tertentu akan menyajikan traditional live music , seperti tanjidor, orkes keroncong, gambang keromong, dan aneka tarian betawi, terlebih jika ada event-event khusus
• Jika Anda tertarik, Anda dapat mengelilingi Museum Fatahillah bersama Sahabat Museum (Anda harus bergabung dulu dengan mailing list ini, sahabatmuseum@yahoogroups.com Gratis!

4. MUSEUM SENI RUPA DAN KERAMIK

Selayang Pandang Museum Seni Rupa dan Keramik merupakan sebuah museum yang menyimpan koleksi-koleksi seni rupa, patung, dan keramik dari daerah-daerah di Indonesia. Meseum ini bertempat di sebuah bangunan tua peninggalan zaman Belanda yang dibangun antara tahun 1866—1870 M di Kota Batavia (Jakarta). Pada awalnya, bangunan tua tersebut difungsikan oleh Pemerintah Belanda sebagai kantor peradilan atau kehakiman yang bernama Ordinaris Raad van Justitie Binnen Het Casteel Batavia (Dewan Kehakiman Benteng Batavia).

Sebelum resmi menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik, gedung antik bertiang tinggi bulat bergaya Romawi ini dalam sejarahnya pernah dipakai sebagai kantor beberapa instansi. Pada masa penjajahan Jepang, misalnya, gedung tua ini digunakan oleh Pemerintah Dai Nippon sebagai asrama/barak militer dan gudang perbekalan tentara. Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1967, gedung ini beralih fungsi menjadi Kantor Walikota Jakarta Barat dan kemudian berganti menjadi Kantor Dinas Museum dan Sejarah Propinsi DKI Jakarta sejak tahun 1974 hingga 1975. Namun, pada tanggal 20 Agustus 1976, gedung ini ditetapkan oleh Presiden Soeharto sebagai Gedung Balai Seni Rupa Jakarta dan kemudian secara resmi berganti nama menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik pada tahun 1990. Saat ini, Museum Seni Rupa dan Keramik ditetapkan oleh pemerintah Indonesia sebagai salah satu cagar budaya yang harus dilindungi.

Keistimewaan Museum Seni Rupa dan Keramik memiliki sekitar 400 koleksi karya seni rupa di antaranya patung, totem dari kayu, sketsa, dan batik lukis. Wisatawan yang berkunjung ke museum ini dapat melihat koleksi andalan yang sangat penting bagi sejarah seni rupa Indonesia, antara lain lukisan berjudul “Bupati Cianjur”, karya Raden Saleh, lukisan “Ibu Menyusui” karya Dullah, lukisan “Laskar Tritura” Karya S. Sudjojono, lukisan berjudul “Pengantin Cianjur” karya Hendra Gunawan, dan lukisan “Potret Diri” karya Affandi.

Jenis karya seni rupa lain yang dapat disaksikan oleh wisatawan di museum ini adalah totem dari kayu yang berkesan magis karya Tjokot, dan patung berciri khas ukiran Bali, serta totem dari kayu karya seniman modern, seperti G. Sidharta dan Oesman Effendi. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan lukisan-lukisan karya seniman-seniman lulusan perguruan tinggi, seperti Achmad Sadali, Srihadi S, Fajkar Sidik, Popo Iskandar Kusnadi, Rusli, Nashar, Zaini, Amang Rahman, Amri Yahya, AS Budiman, Barli, Sudjana Kerton, Suprapto, Irsan, Mulyadi W, Abas Alibasyah, dan banyak seniman lain dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain memamerkan lukisan dan patung, Museum Seni Rupa dan Keramik juga mempunyai koleksi keramik yang beragam. Koleksi keramik yang dipamerkan di museum ini terdiri dari keramik lokal dan asing. Keramik lokal yang bisa disaksikan oleh pengunjung, antara lain berasal dari Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Bandung, Purwakarta, Yogyakarta, Malang, Lombok, dan Bali. Sedangkan koleksi keramik asing di museum ini mempunyai bentuk, ciri, fungsi, karakteristik, dan gaya yang berasal dari berbagai negara, seperti Vietnam, Thailand, Belanda, Jerman, Timur Tengah, dan Cina. Khusus untuk keramik yang berasal dari Cina, koleksinya kebanyakan merupakan warisan sejarah dari masa Dinasti Ming atau Ching.

Wisatawan yang berkunjung ke Museum Seni Rupa dan Keramik juga dapat mengunjungi museum-museum lain yang juga berada di Jakarta Barat, di antaranya Museum Sejarah Jakarta dan Museum Wayang.

Lokasi Museum Seni Rupa dan Keramik berlokasi di Jalan Pos Kota No. 2, Jakarta Barat, Propinsi DKI Jakarta, Indonesia.

Akses Museum ini mudah dijangkau oleh wisatawan, karena banyak kendaraan umum, seperti bus Transjakarta atau Mikrolet, yang sering melintas di sekitarnya. Pengunjung dapat menggunakan bus Transjakarta jurusan Blok M menuju Kota, atau menggunakan Mikrolet M-12 jurusan Senen menuju Kota, atau juga dapat menggunakan Mikrolet M-08 jurusan Tanah Abang menuju Kota. Selain menggunakan Mikrolet dan Bus Transjakarta, pengunjung juga dapat menggunakan bus Patas AC dalam kota No. 79 jurusan Kampung Rambutan menuju Kota.

Harga Tiket. Tarif masuk untuk wisatawan yang berkunjung ke museum ini berbeda-beda berdasarkan rombongan (minimal 20 orang) atau perorangan. Untuk pengunjung rombongan dewasa dikenai biaya masuk sebesar Rp 1.500, rombongan mahasiswa sebesar Rp 750, sedangkan rombongan anak-anak (pelajar) hanya dikenai biaya sebesar Rp 500.

Berbeda dengan tarif masuk rombongan, pengunjung perorangan dewasa dikenai tarif masuk sebesar Rp 2.000, pengunjung perorangan mahasiswa sebesar Rp 1.000, sedangkan untuk anak-anak (pelajar) hanya dikenai sebesar Rp 600.

Museum Seni Rupa dan Keramik dibuka untuk umum pada hari Selasa hingga Minggu, sedangkan hari Senin dan hari besar tutup. Pada hari Selasa hingga Kamis, museum ini buka pada pukul 09.00—15.00 WIB. Pada hari Jumat dan Minggu, museum ini buka dari pukul 09.00 hingga 14.00 WIB, sedangkan untuk hari Sabtu dari pukul 09.00 hingga pukul 12.30 WIB.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya Hingga saat ini, Museum Seni Rupa dan Keramik telah dilengkapi perpustakaan yang memiliki koleksi buku tentang seni rupa, patung, dan lain sebagainya. Selain itu, di museum ini juga terdapat beragam toko suvenir yang menjajakan aneka cenderamata, seperti kartu pos, buku seni rupa, kerajinan, sketsa, kipas, patung, dan lain-lain.

5. MUSEUM BAHARI

Selayang Pandang Museum Bahari adalah sebuah museum yang menyimpan dan memamerkan koleksi benda-benda bersejarah yang berhubungan dengan kelautan bangsa Indonesia. Museum ini didirikan secara bertahap sejak tahun 1652 hingga 1774 M. Oleh banyak kalangan, museum ini dianggap sebagai saksi sejarah awal-mula berdirinya Kota Batavia (sekarang Jakarta).

Menurut sejarahnya, Museum Bahari merupakan salah satu bangunan tua peninggalan VOC yang didirikan pada tahun 1652 M. Pada masa penjajahan Belanda (VOC), bangunan ini berfungsi sebagai gudang untuk menyimpan, memilih, dan mengemas hasil bumi komoditas utama VOC (rempah-rempah dan pakaian) yang sangat laris di pasaran Eropa. Bangunan tua bersejarah ini berdiri persis di samping muara Sungai Ciliwung dan terdiri dari dua bangunan yang terletak di sisi barat dan timur. Bangunan yang terdapat di sisi barat sering dikenal dengan sebutan “gudang barat” (Westzijdsche Pakhuizen), sedangkan bangunan di sisi timur sering disebut “gudang timur” (Oostzijdsche Pakhuizen). Menurut ceritanya, bangunan ini didirikan bersamaan dengan selesainya pembangunan Kota Batavia (Jakarta) oleh Kongsi Dagang Belanda (VOC). Dulu, di kompleks bangunan ini terdapat tembok/benteng yang melingkarinya. Benteng ini dipercayai sebagai pembatas Kota Jakarta (city wall) pertama dengan daerah-daerah lama pada zaman Belanda.

Semenjak Belanda hengkang dari Indonesia dan diganti oleh Jepang, tepatnya pada tahun 1942, bangunan tersebut dialihfungsikan menjadi tempat menyimpan peralatan militer tentara Jepang. Setelah Indonesia merdeka, bangunan ini kemudian dikelola oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan dijadikan sebagai gudang. Pada tahun 1976, oleh Ali Sadikin (Gubernur Jakarta pada saat itu), bangunan bersejarah ini akhirnya dipugar, dan tepat pada tanggal 7 Juli 1977 diresmikan sebagai Museum Bahari.

Hingga saat ini, bangunan Museum Bahari memang telah mengalami banyak perubahan dan renovasi. Masa-masa perubahan tersebut tercatat dalam setiap pintu-pintu masuknya, yakni pada tahun 1718, 1719, dan 1771 M.

Keistimewaan Museum Bahari mempunyai koleksi yang terbilang banyak dan beragam. Wisatawan yang berkunjung ke museum ini dapat menyaksikan berbagai jenis perahu dari seluruh daerah di Indonesia yang dilengkapi dengan gambar dan foto-foto pelabuhan pada masa lalu. Koleksi-koleksi perahu tersebut di antaranya, Perahu Pinisi dari Bugis Makasar, Perahu Kora-kora dari Maluku, Perahu Mayang dari pantai utara Pulau Jawa, Perahu Lancang Kuning dari Riau, dan Perahu Jukung dari Kalimantan.

Koleksi-koleksi lain yang bisa disaksikan oleh pengunjung museum ini adalah aneka biota laut, data-data jenis dan sebaran ikan di perairan Indonesia, aneka perlengkapan nelayan dan pelayaran tradisional (seperti alat navigasi, jangkar, teropong, model mercusuar, dan aneka meriam), teknologi pembuatan perahu tradisional, peta pelayaran, foto-foto mengenai kegiatan kebaharian sejak masa kolonial Belanda, folklor, dan adat istiadat masyarakat nelayan Nusantara. Selain itu, untuk melengkapi koleksi-koleksi kebaharian Indonesia, di museum ini sekarang telah dilengkapi dengan koleksi-koleksi tambahan, seperti matra TNI AL, koleksi kartografi, tokoh-tokoh maritim Nusantara, dan perjalanan kapal KMP Batavia—Amsterdam, serta maket Pulau Onrust.

Semua koleksi kebaharian tersebut dipamerkan dalam delapan ruangan, yakni Ruang Masyarakat Nelayan Indonesia, Ruang Teknologi Menangkap Ikan, Ruang Teknologi Pembuatan Kapal Tradisional, Ruang Biota Laut, Ruang Pelabuhan Jakarta 1800—2000, Ruang Navigasi, Ruang Pelayaran Kapal Uap Indonesia—Eropa, dan terakhir Ruang Angkatan Laut Indonesia.
Selain dapat menikmati koleksi-koleksi kebaharian, pengujung juga dapat menyaksikan Menara Syahbandar yang masih berdiri kokoh di sekitar kompleks museum. Konon, menara yang dibangun pada tahun 1839 M ini dulu digunakan VOC untuk mengawasi hilir-mudiknya kapal dagang di Pelabuhan Sunda Kelapa yang lokasinya tidak terlalu jauh dari bangunan museum tersebut. Selain itu, wisatawan juga dapat mengunjungi peninggalan bersejarah Belanda lainnya, yaitu Pelabuhan Sunda Kelapa, yang berlokasi cukup dekat dengan museum.

Lokasi Museum ini berlokasi di Jalan Pasar Ikan No. 1 Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Propinsi DKI Jakarta, Indonesia.

Akses Untuk mengunjungi Museum Bahari, wisatawan dapat dengan mudah menuju lokasi karena letaknya yang tidak terlalu sulit dijangkau. Dari Stasiun Jakarta Kota, pengunjung dapat menggunakan kendaraan umum Mikrolet 015 jurusan Kota menuju Tanjung Priok, lalu turun di Pelabuhan Sunda Kelapa. Dari pelabuhan ini wisatawan dapat berjalan kaki menuju lokasi museum, karena jaraknya hanya beberapa puluh meter saja. Sepanjang jalan, wisatawan dapat menyaksikan ataupun berbelanja aneka kerang dan barang-barang laut yang dijual di depan museum.

Selain menggunakan mikrolet, pengunjung juga dapat menggunakan kendaraan umum lainnya, seperti Metromini 30 dari arah Muara Angke menuju Kota, Metromini 29 dari arah Muara Baru menuju Kota, angkutan Kopaja 86 dari arah Terminal Lebak Bulus menuju Kota, serta angkutan Kopami 02 dari arah Terminal Senen menuju daerah Pluit.

Harga Tiket Wisatawan yang berkunjung ke museum ini dikenai biaya yang bervariasi berdasarkan perorangan atau rombongan. Bagi pengunjung perorangan, pengunjung dewasa (umum) dikenai biaya sebesar Rp 2.000, untuk mahasiswa sebesar Rp 1.000, sedangkan untuk anak-anak hanya dikenai biaya sebesar Rp 600. Sementara itu, biaya masuk untuk pengunjung rombongan (minimal 20 orang) juga bervariasi. Untuk rombongan dewasa dikenai biaya masuk sebesar Rp 1.500, untuk rombongan mahasiswa dikenai Rp 750, sedangkan untuk rombongan pelajar/anak-anak hanya dikenai biaya sebesar Rp 500 (Mei 2008).

Museum ini dibuka untuk umum pada hari Senin hingga Sabtu, sedangkan untuk hari Minggu dan Hari Besar tutup. Untuk hari Senin hingga Kamis, museum ini dibuka mulai pukul 08.00—14.00 WIB, sedangkan pada hari Jumat museum ini tutup pukul 11.00 WIB dan pada hari Sabtu hanya buka hingga pukul 13.00 WIB.

Akomodasi dan Fasilitas Lainnya Museum ini mempunyai fasilitas pendukung, seperti ruang pertemuan yang dapat digunakan untuk seminar dan lokakarya, ruang untuk kegiatan bazar dan resepsi, lahan parkir yang luas, toilet, dan mushola.