Hari ini, 28 Oktober 2010 adalah hari ulang tahun pernikahanku yang ke-15, tidak ada yang spesial pada hari ini, malah terjadi sedikit keributan mengenai anak anjing yang menggonggong sepanjang malam karena kucing tetangga melahirkan. Beh pagi-pagi sudah bertengkar karena suami ingin anak anjing kesayangan ku dibuang saja :-(

Yaa kembali membahas mengenai ulang tahun pernikahanku, membuat aku menjadi berkeinginan untuk sedikit melakukan introspeksi diri dan merenung sejenak, apakah yang sesungguhnya terjadi dalam 15 tahun usia pernikahanku dengan suamiku ini.

Iseng-iseng aku membuka Google dengan kata kunci “Menikah itu Mudah”, muncullah sekitar 1.200.000 hasil posting yang menyatakan bahwa Menikah itu Mudah. Lalu aku mulai membuka satu per satu postingan tersebut, ternyata yang menyatakan bahwa Menikah itu Mudah kebanyakan adalah para event organizer wedding dan pre wedding….tentu saja mereka memberikan tawaran menarik serta mengganggap Menikah itu Mudah agar para calon pengantin menghubungi mereka. Wow tawaran yang menarik sekali. Malah mereka menambahkan dengan mengatakan Menikah itu Mudah dan Murah, hanya dengan sekian juta, anda sudah bisa menikah di hotel berbintang dan bla bla bla…

Betulkah Menikah itu Mudah? Apalagi Murah? Mungkin betul, tapi kemungkinan juga tidak. Aku sendiri merasakannya 15 tahun yang lalu. Setelah kata Cinta diucapkan dan sepakat berkomitmen unruk Menikah, justru bukan hal yang mudah, banyak tahapan yang harus kami lakukan setelah komitmen itu dibuat, yang pertama aku lakukan tentu memberitahukan orangtua dan keluarga. Selanjutnya kedua belah pihak sepakat bertemu, berkenalan, pertunangan dan persiapan pernikahan mulai dibuat. Mulai dari mengurus persyaratan pernikahan di Gereja, mencari gedung untuk acara adat dan resepsi dan terutama lagi tata cara adat pernikahan yang akan kami gunakan dan karena aku sendiri berasal dari keluarga Jawa sedangkan suami dari keluarga Batak, maka kedua adat itu kami ambil keduanya dan tentu dengan segala konsekuensinya.

Jadi, Menikah itu mungkin mudah, mungkin juga tidak. Sekarang, yang menjadi poin utama adalah bagaimana aku menjalani kehidupan pernikahanku ini. Tentu bukan suatu hal yang mudah. Memegang komitmen untuk bersedia Menikah dan mengucapkan Janji Nikah di hadapan Tuhan dan Jemaat di depan altar suci gerejaku pada pagi hari, 28 Oktober 1995, dimana aku mengucapkan..Aku akan mengasihimu, baik dalam suka maupun duka, saat kekurangan maupun kelimpahan, saat sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita….wah wah ga semudah itu memegang janji itu ternyata, aku harus bertanggungjawab kepada Tuhan jika mengingkarinya.

Perkawinan adalah sakramen yang menyatukan pria dan wanita Kristen sebagai suami dan istri. Suatu kontrak seumur hidup yang sakral, dimana dua manusia yang sudah dibaptis, laki-laki dan perempuan, mengambil keputusan untuk hidup bersama-sama dalam suka maupun duka sampai maut memisahkan mereka.

Awal pernikahan bukan dilalui tanpa masalah atau gesekan, kami berasal dari dua keluarga besar yang berbeda adat dan istiadat. Masing-masing memegang norma apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan seorang laki-laki dan perempuan. Belum lagi kebiasaan makan dan rasa makan. Aku yang biasa hidup sederhana walau keluarga kami cukup, namun karena kecukupan kami diperoleh oleh orangtuaku dari bekerja keras sejak masa mudanya, maka kami menjadi terbiasa hidup seadanya, sak madyo, kata bapakku. Kami biasa hanya makan nasi, tahu tempe dan sayur saja, namun tidak seperti ini menurut suami, bagi dia, tahu dan tempe bukanlah lauk, harus ada daging atau ikan dalam menu makan kami. Hmh..belum lagi urusan rasa sambal, aku suka sambal yang pedas manis sedangkan suami tidak suka sambal yang manis :-D

Belum lagi perbedaan antara harapan dan kenyataan terhadap pasangan, mungkin suami mengharapkan aku adalah seorang yang pandai memasak, ternyata kemampuan hanya pas-pasan saja. Lalu suami mengharapkan menikah dengan seorang wanita Jawa yang penurut tapi ternyata aku paling suka memberi argumen.

Penyesuaian dalam banyak hal terjadi, terutama dalam menghadapi masa-masa sulit seperti anak sakit, pasangan sakit, kematian anggota keluarga atau kerabat, perbedaan pendapat anak-anakku dengan kami, orangtuanya, masalah manajemen waktu di rumah kala tidak ada pembantu, pembagian kerja dalam rumahtangga, dan yang paling berat adalah saat kami tidak mempunyai uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari, seperti membeli beras dan membawakan bekal makanan untuk anak-anak ke sekolah, belum lagi kehadiran ibuku di tengah-tengah keluarga kami. Banyak masalah, kalau itu dianggap sebagai masalah, atau sesuatu yang harus dibahas dan diselesaikan dan tentu saja, tidak selalu aku memiliki kepala yang dingin dan hati yang lapang, karena kelelahan di pagi hari mengurus ini dan itu sendiri, bekerja di kantor, pulang pergi dengan kendaraan umum, belum lagi mesti membimbing anak belajar, kembali ke rumah, mesti menyiapkan makan malam dan ini itu….oh tentu saja sekali lagi, tidak mudah, tidak mudah, namun juga bukanlah suatu hal yang sulit atau tidak bisa diselesaikan.

Pernikahan bukanlah hanya semata-mata mencintai dengan menggebu-gebu, namun menjaga api cinta itu agar tidak redup dan tetap menyala di tengah-tengah hubungan bersama pasangan dan dalam keluarga, hanyalah dapat dilakukan dengan kesadaran penuh bahwa aku dan pasangan telah berjanji di hadapan Tuhan, untuk selalu bersamanya dalam keadaan apapun dan akan selalu mengasihinya di sepanjang hidupku. Dengan dasar inilah, KASIH, aku yakin Tuhan akan selalu menyertai kehidupan pernikahan kami berdua. Kuatkan kami ya Tuhan, untuk tetap saling mengasihi dan mensyukuri penyertaanmu dengan kehadiran tiga anak kami, bukti dan buah cinta kasih kami berdua. :-) :-) :-)

Perkawinan dinyatakan oleh TUHAN sendiri, dalam ayat berikut dibawah ini

“TUHAN Allah berfirman: ‘Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.’” Kejadian 2:18

“Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.” Kejadian 2:21-22

“Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. ” Kejadian 2:24

“Dan firman-Nya: Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.” Matius 19:5-6

  • Indah Fajarwati waaaah….happy anniversary ya bu, ribut2 kecil itu cma bumbu dalam rumah tangga,hehe…
    moga langgeng ya bu mpe kakek nenek, amiiin….

    October 29 at 12:30pm · · 1 personLoading…
  • Diadjeng Laraswati H ?@ Indah..trims mb, kemarin, pas Sumpah Pemuda…

    October 29 at 12:32pm ·
  • Rosida Simanihuruk congrat ya kakakku. GBU.

    October 29 at 1:28pm ·
  • Barmen Brevis Lumbantoruan wah mantap bu, renungan ini tentunya bukan sebatas renungan tetapi refleksi perjalanan sebuah keluarga. mudah2an bermanfaat bagi yang membacanya. tuhan memberkati ibu & keluarga.

    October 29 at 1:31pm · · 1 personLoading…
  • Rayndra Prasat Selamat ya….mudah2an slalu rukun

    October 29 at 1:39pm · · 1 personLoading…
  • Triyunita Pakpahan Salamat ma di hamu berdua juga utk anak2 yg Tuhan hadirkan dlm rumah tangga kalian berdua

    October 29 at 1:44pm · · 1 personElrida Suryani Harahap likes this.
  • Whita Kutsuki happy anniversary ya mba..eh iyaa salam kenal yoo.. hehehe

    October 29 at 5:25pm · · 1 personLoading…
  • Anggar Santoso Happy Anniversary ke 15 ya Ajeng, Semoga Ajeng dan keluarga dalam lindungan Allah. Amin

    October 29 at 6:08pm · · 1 personLoading…
  • Anita Yustisia Jeng selamat yah sudah menempuh pernikahan dengan bahagia…semoga bisa langgeng selamanya…amin

    October 29 at 6:16pm · · 1 personLoading…
  • IDa Butet Selamat ya Edaaaaaaa ……. Tuhan berkati, Amin

    October 29 at 6:39pm · · 1 personLoading…
  • Aswanti Hartono itulah bumbunya…ribut..rukun…ribut…rukun… u/ ngrasain manis hrs pernah ngrasain hambar dulu spy manisnya terasa nikmat.. sama-lah maknanya dengan perkawinan… selamat ya Jeng…nikmatilah segala rasa itu…bersama2..pasti indah pada waktunya!! GBU all.

    October 29 at 11:51pm · · 1 personLoading…
  • Diadjeng Laraswati H ?@ all…trimksh atas doa dan perhatiannya..trimksh jg sdh mampir ke blogku di //laraswati.com..trimksh, sekali lg trimksh…hari gini, ndak mudah ya mnjalani hidup prnikahan, begitu bnyk hal yg hrs dihadapi, dr debur air yg mnyegarkan smp ombak yg mngayun-ayun bahtera rumahtangga…namun hny dgn PERCAYA sj pd Tuhan krn Tuhan yg mempertemukan kami berdua smp di dpn altar…jadi ya, smg kami berdua trus dipimpin utk jalan sama2 smp akhir…amin

    October 30 at 7:22am ·