Archive for July 17th, 2012

Mie Pangsit ‘Nyuknyang’

Kembali mengenai Kuliner di Kendari, ada sebuah rumah makan sederhana yang bisa kami datangi sampai dua kali – mengapa ? ya tentu karena makanannya yang enak. Namanya membuat aku penasaran, yaitu Mie Nyuknyang – yang ternyata oh ternyata nyuknyang berarti bakso. Warung bernama AROMA SEDAP ini terletak di Jalan Ir. Soekarno, Kendari.

Rumah makan sederhana ini berukuran sekitar 3 x 6 meter, dengan beberapa meja kecil dan kursi di sekelilingnya. Menurut kabar, banyak orang akan kehabisan di hari menjelang sore, namun kami beruntung sore itu, kami masih kebagian.

Suasana didalam rumah makan. Sepertinya selain menu Mie, pemilik juga menjual obat atau produk lain.

Ada beberapa pilihan menu disini. Satu porsi Nyuknyang seharga Rp 12.000,- itu artinya semangkuk bakso dengan kuah saja. Satu porsi Mie Nyuknyang berarti Mie dan bakso saja tanpa daging ayam. Sedangkan Pangsit Mie itu berarti Mie dengan daging ayam plus pangsit goreng dan pangsit kuah. Mie – nya sendiri bukan mie yang halus seperti Mie yang terkenal di Bakmi G*M* tapi lebih seperti Mie yang terkenal di Sumatera Utara, yaitu mie gomak, yang besar-besar, seperti spagethi.

Aku memesan 1 mangkuk Mie Pangsit porsi kecil dan teman memesan juga satu porsi Nyuknyang. Baik bakso (nyuknyang) dan mie nya dibuat sendiri, tanpa bahan pengawet dan tanpa penyedap rasa. Yang nikmat adalah kuah yang disajikan panas dengan tambahan irisan jeruk nipis, seperti kebanyakan rumah makan bakso gepeng khas Pontianak yang disajikan dengan jeruk khas dari sana. Selain porsi kecil dan porsi besar, tersedia juga porsi jumbo :-&

Kedatangan kami yang pertama ke tempat ini, memang setelah kami menikmati makan siang di Penginapan, sehingga perut terasa sesak. Namun kali ke-2 kami datang, porsi kecil ini benar-benar terasa pas dan nikmat buat kami. Boleh singgah jika anda mampir ke Kendari, selamat menikmati.


Sinonggi bu Magda

Mencoba makanan khas suatu daerah, selama itu bukan makanan yang terlalu ekstrim (seperti tikus tanah atau ubur-ubur) pasti akan aku coba setiap mendatangi tempat baru. Demikian pula dalam perjalanan kami ke Kendari kali ini, ada makanan khas di daerah ini, yang disebut dengan Sinonggi, sejenis dengan makanan di wilayah Timur lainnya, Sinonggi juga terbuat dari sagu, hanya cara penyiapan penyajian dan lauk yang menemaninya mungkin berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Seperti Papeda atau bubur sagu, merupakan makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua. Makanan ini terdapat di hampir semua daerah di Maluku dan Papua.

Hari kedua kami datang di Kendari, bu Magda, PIC yang mengurusi akomodasi kontingen Banten selama kami berada disana, menyediakan Sinonggi lengkap dengan lauk pauknya. Namun menurut beliau, sagu yang digunakan kali ini kurang begitu bagus, warnanya tidak putih seperti seharusnya dan pada saat disajikan seharusnya sagu tersebut sangat lengket dan dapat dipotong dengan 2 (dua) buah sumpit bambu panjang.

Sinonggi terbuat dari sagu yang disiram air mendidih, cara makannya dicampur dengan kuah sayur, sayurannya bisa berupa sayur bayam, kangkung, terong kecil, dan disiram lagi dengan ikan yang dimasak. Sinonggi, si sagu ditempatkan khusus, dan ketika disantap, baru dibulatkan atau dipotong dan dimasukkan dalam piring makan yang telah diisi dengan kuah ikan agar sagu tidak lengket.

Mari kita simak bagaimana bu Magda memperagakan cara memotong Sinonggi

Sinonggi dan lauk pauknya, ikan yang biasa digunakan berdampingan dengan Sinonggi adalah ikan palu mara, kadang juga ikan asin yang digoreng kering, sambal merah tumis ataupun mentah, kemangi dan jeruk nipis untuk menambah rasa segar dan menghilangkan bau ikan….slurp

Sinonggi dalam wadah dan dalam piring disiram kuah ikan, walau bu Magda cukup kecewa dengan kualitas sagunya tapi kami cukup menikmati makanan ini

Beberapa sumber mengatakan bahwa Sinonggi itu makanan khas suku Mekongga, yang merupakan suku asli orang Kolaka. Namun ada pula yang mengatakan Sinonggi pada hakekatnya merupakan makanan sehari-hari suku Tolaki yang sebagian besar mendiami wilayah Kabupaten Kendari dan Konawe. Kata Sinonggi diambil dari bahasa suku tersebut yakni posonggi. Posonggi adalah sebuah alat yang menyerupai sumpit dan terbuat dari bambu dengan ukuran panjang sekitar 20 cm. Alat ini digunakan untuk menyantap Sinonggi dengan cara menggulung tepung sagu yang sudah matang.

Beruntung kami dapat menikmati Sinonggi di Penginapan karena konon kabarnya tidak banyak rumah makan yang menyediakan masakan khas Kendari ini dan seandainya pun ada, akan diberi harga sekitar Rp 18.000,- sampai dengan Rp 20.000,- per porsi tergantung jenis ikan dan sayurnya. Terimakasih bu Magda….. :-D