Hai Umat, Dengarlah! adalah tema kotbah yang diambil pada Kebaktian di minggu pertama bulan Nopember ini. Dengan mengambil bacaan dari kitab Ulangan 6:1-9; Ibrani 9:11-14; Markus 12:28-34, kita diajak untuk mampu mendengar perintah Tuhan yang meminta kita untuk Mendengarlah, melalui perkataan ‘Hai Umat, Dengarlah ! Mendengar adalah suatu kegiatan menangkap suara-suara melalui telinga, tetapi mendengarkan lebih dari itu, mendengarkan adalah menangkap sesuatu di balik sebuah suara, yang bahkan tanpa suara dan tak dapat ditangkap secara sempurna melalui telinga, namun dapat diterima dengan hati. Itulah kegiatan ‘mendengarkan’, yang jika menjadi kalimat perintah merubah menjadi “dengar (kan) lah!”

Lalu mengapa Tuhan memerintahkan umat NYA untuk mendengarlah, hal ini dikarenakan pada masa sekarang, banyak orang tidak mampu mendengar dengan baik, sekalipun suara itu dapat disuarakan dengan sempurna dan diterima dengan baik dengan telinga. Mengapa bisa terjadi demikian ? Karena respon dari apa yang didengar hampir sama sekali tidak seperti yang diharapkan, sehingga seolah-olah umat tidak mendengar apalagi mendengarkan.

Dalam Ulangan 6: 1-9 kata-kata pembuka sebelum Allah menyampaikan firman-Nya kepada umat Israel ialah “Syema Israel” … “Dengarlah, hai orang Israel”. Dari perintah ini Allah meminta agar umat mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan menyikapinya sesuai dengan yang Allah harapkan. Ayat ini menitikberatkan pada pengertian bahwa Kasih kepada Allah adalah perintah yang utama.

Sedangkan dalam Ibrani 9:11-14 dibawah perikop….menjelaskan bahwa darah Kristus sajalah satu-satunya yang telah menyelamatkan manusia. Darah Kristus merupakan pusat dari konsep penebusan dalam Perjanjian Baru. Di atas salib, Kristus mencurahkan darah-Nya yang tidak berdosa agar dapat menghapus dosa-dosa kita serta mendamaikan kita dengan Allah .

Dan didalam bacaan ketiga yang terdapat dalam Markus 12:28-34 dibawah perikop….firman Tuhan menegaskan bahwa “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu, 12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Allah memerintah umat Nya untuk mendengarkan perintah Nya untuk melakukan Kedua Hukum nya dalam kehidupan kita sehari-hari untuk mengasihi Tuhan dan sesama seperti yang diteladankan oleh Ibu Teresa dalam kehidupan nyata, turun ke jalan untuk menolong orang yang tidak berdaya, yang lemah, yang sakit dan menjijikkan, agar yang mati rohani dan mati jiwanya dapat memperoleh kehidupan yang layak, dan seandainya mereka harus mati, mereka mati dalam kelayakan seorang manusia.

Bunda Teresa (Agnes Gonxha Bojaxhiu;lahir di Üsküb, Kerajaan Ottoman, 26 Agustus 1910, meninggal di Kalkuta, India, 5 September 1997 pada umur 87 tahun) adalah seorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania dan berkewarganegaraan India yang mendirikan Misionaris Cinta Kasih (bahasa Inggris: Missionaries of Charity) di Kalkuta, India, pada tahun 1950. Selama lebih dari 45 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat, sementara membimbing ekspansi Misionaris Cinta Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya di negara lain. Setelah kematiannya, ia diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II dan diberi gelar Beata Teresa dari Kalkuta.

Pada 1970-an, ia menjadi terkenal di dunia internasional untuk pekerjaan kemanusiaan dan advokasi bagi hak-hak orang miskin dan tak berdaya. Misionaris Cinta Kasih terus berkembang sepanjang hidupnya dan pada saat kematiannya, ia telah menjalankan 610 misi di 123 negara, termasuk penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, lepra dan TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan, dan sekolah. Pemerintah, organisasi sosial dan tokoh terkemuka telah terinspirasi dari karyanya, namun tak sedikit filosofi dan implementasi Bunda Teresa yang menghadapi banyak kritik. Ia menerima berbagai penghargaan, termasuk penghargaan pemerintah India, Bharat Ratna (1980) dan Penghargaan Perdamaian Nobel pada tahun 1979.

Ia merupakan salah satu tokoh yang paling dikagumi dalam sejarah. Saat peringatan kelahirannya yang ke-100 pada tahun 2010, seluruh dunia menghormatinya dan karyanya dipuji oleh Presiden India, Pratibha Patil

sumber : pribadi, Alkitab dan Wikipedia