Love to Travel

Aku tidak tahu persis kapan awalnya aku mulai suka melakukan perjalanan, tapi yang aku ingat, sejak kecil, kami memang sering melakukan perjalanan. Walau kata ibuku, waktu aku masih batita, setiap kali perjalanan dilakukan dengan mobil, aku sering muntah karena mabuk dan menangis dalam perjalanan. Namun setelah itu kami sering pergi keluar kota, minimal 1 (satu) tahun sekali, bapak akan membawa kami pulang ke rumah nenekku di Jawa Timur dan hebatnya bapak selalu menyetir sendiri mobil kami.

Perjalanan masa kecil itu terus dilakukan sampai aku menikah, sebelum bapak meninggal 3 tahun setelah itu, tepatnya tahun 1996, kami masih pergi bersama-sama dengan mobil pribadi, maklum aku lima bersaudara, tentu biaya perjalanan, ongkos tiket akan lebih besar jika menggunakan angkutan lain seperti kereta api dan pesawat terbang, yang masih tergolong mewah saat itu. Dan beruntungnya aku, sejak kecil, aku biasa mendapat tugas untuk mencatat, mulai dari pembelian bensin, pengeluaran untuk kuliner, pembayaran hotel atau tempat menginap, sampai dengan jam perjalanan, kapan berangkat, kapan tiba, sampai sedetilnya. Dan setelah pulang ke rumah, bapak akan meminta aku untuk menjumlahkan pengeluaran selama dalam perjalanan.

Kegiatan masa kecil dalam perjalanan ini, membuat aku menjadi suka mencatat dan juga menikmati perjalanan. Yang selanjutnya kesukaanku melakukan perjalanan semakin tersalurkan saat aku bekerja di Badan Pusat Statistik, dimana aku dapat melakukan perjalanan beberapa kali dalam waktu setahun dalam waktu yang cukup lama.

suka packing – Perjalanan yang sering kulakukan saat aku bekerja disana, membuat aku menjadi orang yang tidak repot mempersiapkan barang atau pakaian untuk pergi, karena terbiasa, tidak perlu waktu yang lama atau bingung membawa baju apa. Selama dinas, ada dua jenis baju yang aku gunakan, sesuai dengan perintah perjalanan tersebut, apakah aku akan tugas untuk mengajar atau untuk tugas untuk turun ke lapangan, sama dengan pakaian, sepatu tentu juga menyesuaikan bahkan kadang perlu membawa sepatu ekstra karena turun ke lapangan, aku akan turun berjalan kaki dari rumah ke rumah penduduk, kadang harus berjalan berkilometer, menyeberangi sungai dengan kapal kecil seperti yang aku lakukan saat bertugas di Sungai Mempawah, Pontianak, Kalimantan Barat tahun 1992, atau berjalan diatas jalan berbatu saat bertugas ke sebuah desa di NTT, tahun 1994.

makan apa ajah – Pengalaman datang ke pelosok daerah, membuat aku terbiasa untuk mencoba semua masakan atau makanan yang disiapkan dan disajikan oleh penduduk. Tidak ada alasan untuk menolak karena dianggap tidak menghormati tuan rumah. Dan aku selalu berpikir, kalau mereka bisa memakannya, kenapa aku tidak. Urusan makan, tidak pernah menjadi masalah buat aku, asal bukan makan makanan yang ekstrim seperti sup kera atau B1 panggang.

mudah tidur – Dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya, waktu tidur adalah satu-satunya yang dapat digunakan untuk memulihkan tenaga. Saat rumah penduduk tidak bisa dicapai dengan kendaraan bermotor dan terpaksa perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki diatas jalan berbatu dan atau ditambah dengan berperahu, maka saat kembali ke kendaraan, aku akan langsung tertidur dengan mudah.

era kemudahan jaman ini – Menurut aku, beruntunglah rekan-rekan generasi sekarang karena mudahnya sarana transportasi dan informasi yang dapat diperoleh untuk menjelajah melanglangbuana kemana saja. Naik pesawat terbang bukan menjadi barang mewah. Informasi mengenai daerah dan tempat tertentu mudah dipelajari dari internet. Kawan mudah dicari melalui jejaring sosial media. Hmm seandainya aku lahir di masa ini, tentu sudah berapa benua ya akan aku lalui ? :-)

kemudahanku melakukan perjalanan, memang tidak terlepas dari kebiasaanku sehari-hari, yang bisa dibaca disini , mudah tidur, suka makan dan yang pasti suka jalan-jalan.

Tapi walau aku lahir di periode tahun 1960 an, aku juga bersyukur telah mendatangi hampir seluruh propinsi di Indonesia, tiga negara di luar negeri (ini bukan sebuah prestasi) dan sekarang perjalanan yang aku lakukan lebih pada perjalanan batin, perjalanan kemanusiaan untuk mengunjungi orang-orang yang memerlukan pertolongan dan bantuan. Itu juga sangat membahagiakan jiwa dan raga dan berarti buat sesama.


One thought on “Love to Travel

  1. Pingback: My Dream Vacation : Wakatobi : Honey Bee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *