Archive for November, 2012

Love to Travel

Aku tidak tahu persis kapan awalnya aku mulai suka melakukan perjalanan, tapi yang aku ingat, sejak kecil, kami memang sering melakukan perjalanan. Walau kata ibuku, waktu aku masih batita, setiap kali perjalanan dilakukan dengan mobil, aku sering muntah karena mabuk dan menangis dalam perjalanan. Namun setelah itu kami sering pergi keluar kota, minimal 1 (satu) tahun sekali, bapak akan membawa kami pulang ke rumah nenekku di Jawa Timur dan hebatnya bapak selalu menyetir sendiri mobil kami.

Perjalanan masa kecil itu terus dilakukan sampai aku menikah, sebelum bapak meninggal 3 tahun setelah itu, tepatnya tahun 1996, kami masih pergi bersama-sama dengan mobil pribadi, maklum aku lima bersaudara, tentu biaya perjalanan, ongkos tiket akan lebih besar jika menggunakan angkutan lain seperti kereta api dan pesawat terbang, yang masih tergolong mewah saat itu. Dan beruntungnya aku, sejak kecil, aku biasa mendapat tugas untuk mencatat, mulai dari pembelian bensin, pengeluaran untuk kuliner, pembayaran hotel atau tempat menginap, sampai dengan jam perjalanan, kapan berangkat, kapan tiba, sampai sedetilnya. Dan setelah pulang ke rumah, bapak akan meminta aku untuk menjumlahkan pengeluaran selama dalam perjalanan.

Kegiatan masa kecil dalam perjalanan ini, membuat aku menjadi suka mencatat dan juga menikmati perjalanan. Yang selanjutnya kesukaanku melakukan perjalanan semakin tersalurkan saat aku bekerja di Badan Pusat Statistik, dimana aku dapat melakukan perjalanan beberapa kali dalam waktu setahun dalam waktu yang cukup lama.

suka packing - Perjalanan yang sering kulakukan saat aku bekerja disana, membuat aku menjadi orang yang tidak repot mempersiapkan barang atau pakaian untuk pergi, karena terbiasa, tidak perlu waktu yang lama atau bingung membawa baju apa. Selama dinas, ada dua jenis baju yang aku gunakan, sesuai dengan perintah perjalanan tersebut, apakah aku akan tugas untuk mengajar atau untuk tugas untuk turun ke lapangan, sama dengan pakaian, sepatu tentu juga menyesuaikan bahkan kadang perlu membawa sepatu ekstra karena turun ke lapangan, aku akan turun berjalan kaki dari rumah ke rumah penduduk, kadang harus berjalan berkilometer, menyeberangi sungai dengan kapal kecil seperti yang aku lakukan saat bertugas di Sungai Mempawah, Pontianak, Kalimantan Barat tahun 1992, atau berjalan diatas jalan berbatu saat bertugas ke sebuah desa di NTT, tahun 1994.

makan apa ajah – Pengalaman datang ke pelosok daerah, membuat aku terbiasa untuk mencoba semua masakan atau makanan yang disiapkan dan disajikan oleh penduduk. Tidak ada alasan untuk menolak karena dianggap tidak menghormati tuan rumah. Dan aku selalu berpikir, kalau mereka bisa memakannya, kenapa aku tidak. Urusan makan, tidak pernah menjadi masalah buat aku, asal bukan makan makanan yang ekstrim seperti sup kera atau B1 panggang.

mudah tidur – Dari satu perjalanan ke perjalanan berikutnya, waktu tidur adalah satu-satunya yang dapat digunakan untuk memulihkan tenaga. Saat rumah penduduk tidak bisa dicapai dengan kendaraan bermotor dan terpaksa perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki diatas jalan berbatu dan atau ditambah dengan berperahu, maka saat kembali ke kendaraan, aku akan langsung tertidur dengan mudah.

era kemudahan jaman ini - Menurut aku, beruntunglah rekan-rekan generasi sekarang karena mudahnya sarana transportasi dan informasi yang dapat diperoleh untuk menjelajah melanglangbuana kemana saja. Naik pesawat terbang bukan menjadi barang mewah. Informasi mengenai daerah dan tempat tertentu mudah dipelajari dari internet. Kawan mudah dicari melalui jejaring sosial media. Hmm seandainya aku lahir di masa ini, tentu sudah berapa benua ya akan aku lalui ? :-)

kemudahanku melakukan perjalanan, memang tidak terlepas dari kebiasaanku sehari-hari, yang bisa dibaca disini , mudah tidur, suka makan dan yang pasti suka jalan-jalan.

Tapi walau aku lahir di periode tahun 1960 an, aku juga bersyukur telah mendatangi hampir seluruh propinsi di Indonesia, tiga negara di luar negeri (ini bukan sebuah prestasi) dan sekarang perjalanan yang aku lakukan lebih pada perjalanan batin, perjalanan kemanusiaan untuk mengunjungi orang-orang yang memerlukan pertolongan dan bantuan. Itu juga sangat membahagiakan jiwa dan raga dan berarti buat sesama.


Di Hari Pemakaman (Ku)

Tak seorangpun dari kita mengetahui bagaimana cara Tuhan memanggil kita kembali pulang ke rumah NYA. Siang ini, aku baru pulang dari Acara Penghiburan atas meninggalnya orang tua (ibu) dari suami ipar (eda) ku. Dalam acara tersebut, aku dan kami semua yang hadir, mendengarkan kesaksian bagaimana beliau yang meninggal ini hidup dalam kesehariannya, baik di lingkungan keluarga, anak cucu dan menantu, di lingkungan gereja dan tetangga. Beliau meninggal pada usia 96 tahun dan sampai detik terakhir beliau meninggal, beliau berada diantara 4 dari 5 anaknya, memanggil mereka satu per satu, mencium, memeluk, mengusap pipi dan kepala serta berdoa di hadapan anak-anaknya. Kematian yang penuh damai bukan ?

Hidup dan kehidupan memang berasal dari Allah saja, tapi hidup yang memberi berkat pada orang lain dan diberkati Tuhan adalah bentuk iman percaya manusia kepada Tuhan dari kehidupannya sehari-hari yang takut akan Tuhan dan hanya mengandalkan Tuhan saja. Singkatnya, hidup baik – sebuah kata yang simpel dan sederhana saja tapi tak semudah yang kita bayangkan untuk dapat kita lakukan, jika kita tidak punya cukup kerendahan hati dan keikhlasan untuk menjalankannya.

Hidup di tengah kehidupan masa ini, dimana seorang ibu harus bekerja juga di rumah dan di kantor, mempunyai fungsi ganda kadang triple atau lebih, membuat hidup ini kadang menjadi tidak mudah untuk dijalani. Badan yang lelah, membuat emosi menjadi tidak stabil, cenderung tidak sabaran dan mudah marah. Kadang ucapan dan perbuatan bisa tidak terkontrol dalam bertingkah laku, lalu dapatkah tetap ‘hidup baik’ untuk menjadi berkat bagi orang lain ? Jawabannya : harus bisa, dengan pertolongan Tuhan. Kesadaran untuk hidup baik dan berkenan di hadapan Tuhan dan sesama, membuat kita terus menyadari untuk mengendalikan apa yang akan kita buat, kita katakan dan kita pikirkan untuk kemulian hidup yang memuliakan nama NYA.

Apa yang akan diucapkan dan dikenang orang pada hari pemakaman kita nanti, semua tergantung pada bagaimana kita hidup di masa itu. Beliau, yang baru saja meninggal pada usia 96 tahun, meninggal dengan damai dan tenang, dilayat oleh kurang lebih 1.000 orang pada hari pemakamannya. Luar biasa dan semua orang begitu mengasihi beliau serta ikut merasakan duka yang mendalam dari orang-orang yang ditinggalkan, sehingga begitu banyak orang datang memberikan penghiburan pada keluarga ini.

Di hari pemakamanku, aku tidak menginginkan keluargaku berbaju hitam, namun kalau secara adat, keluarga diharuskan berbaju hitam, aku tak akan mampu menolak. Aku ingin ada banyak bunga krisan dan hanya bunga krisan saja pada hari pemakamanku, tidak masalah itu lokal ataupun import. Aku ingin buah hatiku yang menangis untuk tetap melantunkan lagu-lagu kesukaan dari bibir mereka di tepi peti matiku. Satu hal lagi, aku ingin dikremasi agar tidak merepotkan siapapun, namun suamiku tidak setuju. Hmmh. Aku ingin semua orang yang hadir melepaskan kepergianku dengan bahagia karena aku akan melanjutkan perjalananku yang terakhir menuju rumah Bapa ku di surga. Bagaimana kita mati dan seperti apa kita nanti, semua tergantung dari apa yang kita buat dalam hidup kita.

Hiduplah yang baik dan berkenan pada Tuhan, apa yang akan kita tuai sesuai dengan apa yang kita tabur. Banyak atau sedikitnya orang yang datang pada hari pemakaman kita, memang tidak dapat menggambarkan bagaimana hidup kita sebelumnya. Tapi seberapa banyak orang yang menjadi berkat dan memberi berkat karena hidup kita, itulah yang terpenting menjadi tanggungjawab kita.


Hai Umat, Dengarlah !

Hai Umat, Dengarlah! adalah tema kotbah yang diambil pada Kebaktian di minggu pertama bulan Nopember ini. Dengan mengambil bacaan dari kitab Ulangan 6:1-9; Ibrani 9:11-14; Markus 12:28-34, kita diajak untuk mampu mendengar perintah Tuhan yang meminta kita untuk Mendengarlah, melalui perkataan ‘Hai Umat, Dengarlah ! Mendengar adalah suatu kegiatan menangkap suara-suara melalui telinga, tetapi mendengarkan lebih dari itu, mendengarkan adalah menangkap sesuatu di balik sebuah suara, yang bahkan tanpa suara dan tak dapat ditangkap secara sempurna melalui telinga, namun dapat diterima dengan hati. Itulah kegiatan ‘mendengarkan’, yang jika menjadi kalimat perintah merubah menjadi “dengar (kan) lah!”

Lalu mengapa Tuhan memerintahkan umat NYA untuk mendengarlah, hal ini dikarenakan pada masa sekarang, banyak orang tidak mampu mendengar dengan baik, sekalipun suara itu dapat disuarakan dengan sempurna dan diterima dengan baik dengan telinga. Mengapa bisa terjadi demikian ? Karena respon dari apa yang didengar hampir sama sekali tidak seperti yang diharapkan, sehingga seolah-olah umat tidak mendengar apalagi mendengarkan.

Dalam Ulangan 6: 1-9 kata-kata pembuka sebelum Allah menyampaikan firman-Nya kepada umat Israel ialah “Syema Israel” … “Dengarlah, hai orang Israel”. Dari perintah ini Allah meminta agar umat mendengarkan dengan sungguh-sungguh dan menyikapinya sesuai dengan yang Allah harapkan. Ayat ini menitikberatkan pada pengertian bahwa Kasih kepada Allah adalah perintah yang utama.

Sedangkan dalam Ibrani 9:11-14 dibawah perikop….menjelaskan bahwa darah Kristus sajalah satu-satunya yang telah menyelamatkan manusia. Darah Kristus merupakan pusat dari konsep penebusan dalam Perjanjian Baru. Di atas salib, Kristus mencurahkan darah-Nya yang tidak berdosa agar dapat menghapus dosa-dosa kita serta mendamaikan kita dengan Allah .

Dan didalam bacaan ketiga yang terdapat dalam Markus 12:28-34 dibawah perikop….firman Tuhan menegaskan bahwa “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu, 12:31 Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Allah memerintah umat Nya untuk mendengarkan perintah Nya untuk melakukan Kedua Hukum nya dalam kehidupan kita sehari-hari untuk mengasihi Tuhan dan sesama seperti yang diteladankan oleh Ibu Teresa dalam kehidupan nyata, turun ke jalan untuk menolong orang yang tidak berdaya, yang lemah, yang sakit dan menjijikkan, agar yang mati rohani dan mati jiwanya dapat memperoleh kehidupan yang layak, dan seandainya mereka harus mati, mereka mati dalam kelayakan seorang manusia.

Bunda Teresa (Agnes Gonxha Bojaxhiu;lahir di Üsküb, Kerajaan Ottoman, 26 Agustus 1910, meninggal di Kalkuta, India, 5 September 1997 pada umur 87 tahun) adalah seorang biarawati Katolik Roma keturunan Albania dan berkewarganegaraan India yang mendirikan Misionaris Cinta Kasih (bahasa Inggris: Missionaries of Charity) di Kalkuta, India, pada tahun 1950. Selama lebih dari 45 tahun, ia melayani orang miskin, sakit, yatim piatu dan sekarat, sementara membimbing ekspansi Misionaris Cinta Kasih yang pertama di seluruh India dan selanjutnya di negara lain. Setelah kematiannya, ia diberkati oleh Paus Yohanes Paulus II dan diberi gelar Beata Teresa dari Kalkuta.

Pada 1970-an, ia menjadi terkenal di dunia internasional untuk pekerjaan kemanusiaan dan advokasi bagi hak-hak orang miskin dan tak berdaya. Misionaris Cinta Kasih terus berkembang sepanjang hidupnya dan pada saat kematiannya, ia telah menjalankan 610 misi di 123 negara, termasuk penampungan dan rumah bagi penderita HIV/AIDS, lepra dan TBC, program konseling untuk anak dan keluarga, panti asuhan, dan sekolah. Pemerintah, organisasi sosial dan tokoh terkemuka telah terinspirasi dari karyanya, namun tak sedikit filosofi dan implementasi Bunda Teresa yang menghadapi banyak kritik. Ia menerima berbagai penghargaan, termasuk penghargaan pemerintah India, Bharat Ratna (1980) dan Penghargaan Perdamaian Nobel pada tahun 1979.

Ia merupakan salah satu tokoh yang paling dikagumi dalam sejarah. Saat peringatan kelahirannya yang ke-100 pada tahun 2010, seluruh dunia menghormatinya dan karyanya dipuji oleh Presiden India, Pratibha Patil

sumber : pribadi, Alkitab dan Wikipedia


Legalisasi Akte Kelahiran

Setelah akte kelahiran diperbarui, yang aku tulis pada posting sebelumnya, maka tahap selanjutnya adalah melakukan legalisasi di Departemen Hukum dan HAM. Untuk proses legalisasi pada tahap ini juga segera datang ke kantor Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia yang berada di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan dan langsung menuju ke Pusat Pelayanan Jasa Hukum Terpadu, di bagian belakang Gedung

http://i1247.photobucket.com/albums/gg634/dlaraswatih/IMG01351-20121023-1109-1.jpg

Masuki lantai dasar Gedung tersebut, mengambil nomer antrian sesuai dengan keperluan. Petugas di tempat pengambilan akan menanyakan apa maksud dan tujuan kita, jika mau melakukan legalisasi akte kelahiran, akan ditanya untuk keperluan apa, dan di negara mana – mungkin tiap counter berbeda negara atau keperluannya. Ketika aku menyebutkan untuk mengurus legalisasi akte kelahiran yang akan digunakan untuk menikah adikku, maka aku diarahkan ke loket 11.

Tiba di loket tersebut (tanpa mengantri kali ini), petugas yang ramah langsung menanyakan maksud dan tujuan serta menyerahkan persyaratan yang harus aku lengkapi yaitu : membeli map di Koperasi, mengisi form permohonan, melengkapi persyaratan seperti dokumen yang akan dilegalisir, meterai yang disiapkan sesuai jumlah dokumen yang akan dilegalisir serta membayar biaya administrasi sebesar Rp 25.000,- per dokumen di counter sebelah langsung ke teller Bank BNI.

http://i1247.photobucket.com/albums/gg634/dlaraswatih/IMG01349-20121023-1057-1.jpg

Proses legalisasi dokumen akte kelahiran di Departemen Hukum dan HAM memerlukan proses selama 2 (dua) hari kerja saja.

Selanjutnya proses legalisasi di Departemen Luar Negeri, berkas yang sudah dilegalisasi di Dep Kum dan HAM, dibawa ke Direktorat Jenderal Protokol dan Konsuler, disana ada 4 (empat) loket untuk pelayanan yang berbeda. Untuk legalisasi (clearance) ada di loket ke-4.

IMG01395-20121029-1130

Tiba di loket, langsung mengisi form yang sudah disediakan, melampirkan berkas yang akan dilegalisir, menyiapkan meterai sejumlah dokumen (termasuk akte kelahiran yang asli) dan membayar biaya administrasi Rp 10.000,- per dokumen. Selanjutnya adalah menunggu proses legalisasi. Jika beruntung proses legalisir ini dapat ditunggu, tapi jika tidak, kita akan mengambil esok harinya.


Pembaruan Akte Kelahiran

Tulisan ini sekedar sharing informasi yang mungkin bermanfaat buat siapa saja, yang bermaksud memperbarui Akte Kelahiran. Salah satunya digunakan sebagai berkas persyaratan untuk menikah dengan warga negara asing, sebagaimana yang disyaratkan di beberapa negara tertentu, bahwa akte kelahiran calon mempelai tidak lebih dari 6 (enam) bulan sejak akte tersebut diterbitkan.

Caranya adalah sebagai berikut :
1. datang ke Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil yang terletak di Jalan WR Supratman, Grogol, Jakarta Barat
2. tiba disana, langsung menuju Counter Kantor Dinas yang terletak di lantai dasar, mengisi form tujuan kedatangan
3. melengkapi berkas untuk Pembaruan Akte Kelahiran, yaitu :

  • akte kelahiran asli dan copy,
  • copy ijasah SD sampai ijasah terakhir yang ditamatkan, copy pernikahan orang tua,
  • copy KTP kedua orangtua,
  • copy Kartu Keluarga,
  • surat kuasa jika yang mengurus bukan pemilik akte tersebut bermeterai,
  • materai dan
  • membayar biaya administrasi sebesar Rp 25.000,- (dua puluh lima ribu rupiah)

4. setelah berkas persyaratan diatas diserahkan, maka petugas Kantor Dinas akan memerlukan waktu untuk mengecek data yang memerlukan waktu kurang lebih 5 (lima) hari kerja dan jika ada kekurangan data pendukung, petugas akan menghubungi pemohon

Setelah Akte Kelahiran yang diperbarui siap, maka biasanya berkaitan dengan keperluan diatas, maka Akte Kelahiran dan Copy nya perlu dilegalisir oleh Kepala Kantor Dinas, dan juga specimen tandatangan dari Kepala Kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil, untuk keperluan legalisir di Departemen Hukum dan HAM, Departemen Luar Negeri dan Kedutaan.

Jadi, singkat cerita, untuk membuat pembaruan Akte Kelahiran tidak memerlukan birokrasi yang lama, mahal dan bertele-tele, cukup datang ke Kantor tersebut dan dapat diurus sendiri.

Semoga bermanfaat