Kala Patah Hati

Setiap anak perempuan, dalam perkembangannya dari masa kanak-kanak, pra remaja, remaja, gadis sampai dewasa, pasti pernah mengalami pasang surut dalam pertemanan, baik dengan sesama teman perempuan ataupun teman pria. Baik pertemanan dengan sesama jenis ataupun lawan jenis, masa-masa bahagia dan bersama akan membuat anak perempuan tertawa bahagia, senyum-senyum sendiri menatap layar handphone, kalau masa sekarang, atau terkikik-kikik di ujung pesawat telpon. Namun bisa juga berubah menjadi aliran air mata tak terbendung kala terjadi masalah dalam hubungan itu, baik tetesan air mata dibawah bantal atau di dekapan orangtua sebagai sahabat setia abadi.

Gelak tawa, air mata ataupun curhatan adalah hal yang wajar terjadi dalam proses hidup setiap anak perempuan, untuk lebih mengenal karakter dan kepribadian teman di sekitarnya. Namun kepada siapa semua hal itu dibagikan ? Biasanya, yang banyak terjadi, hampir sebagian besar hal menyenangkan dibagikan pada teman, tapi sebagian besar hal menyedihkan dibagikan kepada keluarga, biasa kakak, adik atau orangtua. Kepada siapapun itu tidak menjadi masalah, asalkan pada orang yang tepat dan solusi yang masih di jalan Tuhan.

Seperti yang pernah aku alami, kala putus cinta, patah hati atau berpisah, atau apapun itu istilahnya, dengan seseorang yang aku anggap sebelumnya bahwa, “inilah jodohku, inilah yang terbaik dari Tuhan untukku” dan yang lebih menyesakkan hati, hal ini terjadi saat bapakku mengalami serangan stroke sehingga beliau dan Ibuku tinggal di rumah peristirahatan kami, sehingga yang biasanya aku begitu dekat dengan bapak dan dapat langsung bercerita, kapan saja dan dimana saja, harus menahan diri agar apapun kabar yang sampai pada beliau, tidak mempengaruhi kesehatannya.

Aku bertemu bapak beberapa hari setelah perpisahan terjadi. Setelah bertemu pun, aku tidak dapat langsung mengatakannya, aku mencari saat yang tepat, mencari waktu sambil melihat beliau di tempat tidur. Bapak sempat tidak dapat berjalan selama 3 bulan, namun karena tekadnya yang kuat, beliau mau belajar jalan, mulai dari kursi roda, merambat dan akhirnya berdiri sendiri dan berjalan. Akhirnya saat itu tiba, aku berduduk di tepi tempat tidurnya, belum mulai bercerita, aku sudah terisak dan meneteskan air mata dan menjadi banjir air mata saat aku mengatakan, “pak, adjeng putus” ibu berada di dekatku. Bapak tidak mengatakan apa-apa setelah mendengar, hanya tersenyum dan dari tidurnya, memeluk aku dalam dekapannya dan aku semakin menangis.

Bapak tidak menanyakan mengapa kalian putus, ada masalah apa dan bagaimana, hanya bapak berkata sambil mengusap kepalaku, “sudah….tidak apa-apa, anak Bapak pasti dapat yang lebih baik.” Memang demikian mestinya respon kita sebagai orangtua saat mendengarkan curhatan patah hati dari seorang anak, ga perlulah terlalu mau tahu secara detil mengenai kejadiannya karena itu sudah tidak terlalu penting lagi. Yang diperlukan anak-anak hanyalah ada telinga dan hati yang siap mendengarkan

Menceritakan hal tersebut pada orangtua membuat hatiku menjadi lega dan lebih kuat, ya tidak apa-apa, Tuhan punya rencana yang lebih baik dalam hidupku.

Bukan itu saja, setelah beberapa hari aku pulang ke rumah, supir mengantarkan surat yang ditulis bapak dalam kartu nama nya, melalui sakitnya, beliau berdoa dan memikirkan aku (tentunya)

Betul seperti apa yang dikatakan teman-teman, bahwa

tulisan adalah bagian dari hidup, ia tidak lekang oleh waktu karena ia tersimpan dan terbukti

Tulisan Bapak selalu menjadi kenangan, penghibur dan penguatku sejak saat itu sampai dengan sekarang aku menyimpannya, sekali waktu aku membaca dan tulisan itu terus hidup dalam diriku. Mungkin ini juga bisa kita gunakan untuk anak-anak kita kelak, tidak berharap mereka akan patah hati, tapi menguatkan mereka dalam masalah-masalah hidup yang mungkin mereka hadapi 🙂


3 thoughts on “Kala Patah Hati

  1. @ Lidya dan E Novia – terimakasih ya sudah mampir, betul, melalui tulisan bisa menguatkan dan menenangkan hati…dan terutama tulisan itu bisa disimpan dan saat dibaca ulang, maknanya masih sama dan makin menguatkan

    tulisan itu bentuk bukti otentik, apalagi kalau dibukukan 🙂

Comments are closed.