Laras Kanita dan Aku

Salah satu kesenian yang dimiliki bangsa Indonesia adalah Seni Karawitan Jawa, yang alat musiknya disebut dengan Gamelan.

lk1Tak sengaja “menemukan” komunitas alumni SMA Tarakanita ini, yang mempunyai keinginan yang sama untuk melestarikan seni karawitan, dibawah asuhan Pak Suliyanto sang pelatih.

lk2Berlatih setiap hari Selasa, seminggu sekali dan menyesuaikan, jika ada jadwal pementasan. Laras Kanita, yang baru berdiri pada 16 Juli 2019 ini, diprakarsai oleh Kirana, telah beranggotakan 49 orang.

Anggota Laras Kanita adalah alumni dari SMA Tarakanita Pulo Raya, lintas angkatan, dari lulusan tahun 1976 sampai dengan 2017.

Masih mengajak banyak alumni untuk bergabung. Aku sendiri saat ini bergabung di kelompok Gerong (atau Penyinden) dan kami biasa menyebutnya dengan Gerongers….

Senang bisa bergabung di sini, bukan hanya memperoleh teman baru dengan visi yang sama, yaitu melestarikan budaya Jawa melalui Seni Karawitan dan memliki kegiatan baru tapi juga serasa kembali menemukan akar leluhur tradisi Jawa, yang biasa dikumandangkan bapak ibu dan nenek moyangku ?
.
Terima kasih @laras.kanita

Berikut penampilan kami dari Laras Kanita pada Minggu, 24 November 2019 di The Hallf Patiunus, Jakarta Selatan.

Kami membawakan tiga buah lagu dalam Seni Karawitan Jawa, yaitu Lancaran Empat Pilar Pelog (Ciptaan Ki Manteb Sudarsono), Suwe Ora Jamu dan Kuwi Opo Kuwi. Ini penampilan perdanaku sebagai anggota Gerong.

 

lk7 lk5 lk4 lk3Mari kita cintai dan kembali lestarikan seni karawitan agar dikenal oleh anak muda generasi milenial dan dikenang oleh para orangtua dalam masanya.
Cinta bangsa melalui budayanya
Foto dari WAG Laras Kanita

Temui Hulu (Coffee) Di (Bendungan) Hilir

Good coffee is a pleasure and Good friends is a treasure. So a cup of gourmet coffee shared with a friend is happiness tasted and time well spent. Coffee and friends are perfect blend.

Gabungan quote di atas itu sangat pas menurutku. Secangkir kopi yang enak itu merupakan sebuah kenikmatan sedangkan teman-teman yang baik adalah sebuah harta karun. Menikmati kopi yang enak bersama teman adalah perpaduan yang sempurna karena menghabiskan waktu dan mencicipi kenikmatan kopi sebagai suatu kebahagiaan.

2019-11-10 18.10.42Kadang tempat tidak selalu menjadi penting, tapi bisa berada di sebuah tempat yang cozy dan asyik, tentu semakin meningkatkan kenyamanan dan kualitas waktu bertemu kan? Bagaimana kalau kita tiba di suatu tempat dan tempatnya ga nyaman, pasti ada sesuatu yang mengusik kan?

WhatsApp Image 2019-11-10 at 17.59.34(1) WhatsApp Image 2019-11-10 at 17.59.34Kemarin, Minggu, 10 November 2019, dalam waktu perencanaan yang cukup singkat, akhirnya kami berenam berjumpa di Hulu Coffee, yang berlokasi di Jalan Danau Limboto C1 No 2 di wilayah Bendungan Hilir, Jakarta Pusat. Lokasinya mudah ditemukan dengan fasilitas Maps Google.

WhatsApp Image 2019-11-09 at 21.11.35Tempatnya cozy, adem, enak buat ngobrol. Aku pulang saat menjelang magrib, yang ternyata suasana jadi berbeda, ada lampu-lampu, plus pohon berbunga kecil berwarna pink keunguan, yang membuat suasana jadi agak romantik, gimana gitu. Pelayanannya bagus, cukup cepat. Walau mereka terbatas tapi ga rese dengan pengunjung yang ga pulang-pulang seperti kami (ga berani ngusir kali ya…. :-) )

Hulu Coffee sendiri dirintis oleh dua orang muda (perempuan), yaitu Euodia dan Heni. Menu minumannya cukup bervariasi, ada kopi dan non kopi. Buat pengunjung yang datang bersama orang yang bukan penikmat kopi, ada beberapa pilihan minuman yang lain di sini, seperti teh leci, yang segar atau susu coklat.

Aku sendiri kemarin menikmati es kopi susu, yang pas racikannya dan seger adem mak nyes, maklum berada di Jakarta yang sedang panas-panasnya (plus…. baru turun dari ojol).

20191110_163305

20191110_163223Untuk makanannya, masih seputar makanan ringan, ada rujak cireng dan indomie serta beberapa yang lain tertera di daftar menu. Aku akan mengusulkan roti bakar, singkong goreng atau pisang keju. Tapi memang makanan jangan terlalu bervariasi ya, supaya tetap terfokus pada sajian kopinya.

WhatsApp Image 2019-11-10 at 18.02.13(1)Tentang harga, okelah, masih terjangkau untuk kalangan mahasiswa atau pekerja kantoran. Rasanya enak kok, pas aja dan penampilan juga oke. Masukan lagi, agar ditambah gelas-gelas yang semakin bervariasi, gelas jadul atau gelas berlogo kopi, mungkin dengan quote-quote khas Hulu Coffee, seperti misalnya,

“Jangan ke kantor dulu, sebelum ngopi di Hulu”

atau

“Ojo kesusu turu, yuk nyuruput ning Hulu”.

WhatsApp Image 2019-11-10 at 18.02.13Tempat masih bisa disulap bertahap, supaya semakin instagramable, ada spot-spot yang masih bisa dikembangkan, dengan gambar atau grafiti atau dipasang poster-poster menarik dan foto atau tandatangan pengunjung di salah satu sudutnya.

Buat teman-teman yang sudah berkumpul, terima kasih untuk luang waktunya, terima kasih untuk Klara yang sudah membawa siomay (ndak sempat terfoto karena …. you know lah), Eltri yang membawa pempek dari Jambi, Iwien dengan ilmu nutrisinya, Ririen dan bung Maxie untuk firman Tuhan yang sudah dibagikan dan Mega untuk sharingnya. Sepakat untuk jumpa lagi ya, jaga kesehatan….

20191110_164032

Yuk nikmati kopi di sini, dengan teman atau tidak, tempat ini asik kok, terutama kopinya. Sesuai dengan tagline mereka, Temui Hulu di Hilir, yang artinya temui Hulu Coffee di Bendungan Hilir.

Instagram Hulu Coffee, klik di sini ya


Kaji Rasa dan Bodo Amat

Aku termasuk orang yang sangat berhati-hati dalam berbicara maupun mengungkapkan perasaan, baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Bapak selalu mengajarkan pada kami untuk bertenggang rasa dan tidak asal bicara. Untuk itulah Bapak sangat membatasi kami dalam bergaul. Apalagi di masa Bapak menjadi pejabat tahun 1980. Lingkungan pekerjaan Bapak disebut sebagai lingkaran ring satu dari orang nomer satu di negeri ini. Kami tidak boleh asal bicara, kalau tidak, bisa-bisa Bapak kehilangan pekerjaan.

balloon

Singkat cerita, kami menjadi orang yang sangat berhati-hati dalam berbicara, berpikir dulu baik-baik, baru bicara. KAJI RASA. Aku terutamanya. Yang akhirnya malah berakibat menjadi takut berbicara dan berpendapat. Belakangan, setelah makin dewasa (baca : tua), saat berbicara atau berpendapat, kadang ada efek tidak percaya diri, apalagi jika seseorang yang kita ajak bicara, tidak memberi respon. Itu menjadi beban pikiran yang cukup mengganggu, semua bayang “jangan-jangan” bermunculan, jangan-jangan perkataan saya salah, jangan-jangan aku menyinggung perasaannya, jangan-jangan orang itu sakit hati, jangan-jangan aku sudah lancang. Nah, nah, akibatnya jadi terbawa perasaan, baper? mungkin ya, yang pasti, jadi kepikiran.

Biasanya, kalau pada saudara atau teman dekat, yang sudah kenal baik, aku akan mengkonfirmasi, aku salah ya, kenapa ga balas chat nya, dan seterusnya. Semuanya hanya bertujuan untuk menjaga perasaan orang lain. Belajar menyampaikan pendapat, tidak semudah yang kita pikir. Padahal pendapat yang merupakan bentuk dari ungkapan pemikiran atau perasaan, harus disalurkan bukan?

Berjalan dengannya waktu, dengan kaji rasa yang kerap aku lakukan, akhirnya aku sampai pada satu titik puncak kelelahan, dan dengan sangat terpaksa mengatakan dua kata ini yaitu BODO AMAT. Punya pendapat atau mengatakan dua kata ini tak pernah aku lakukan sebelumnya, sungguh. Setiap selesai melakukan sesuatu, aku selalu melakukan kaji rasa, seperti yang aku ceritakan di awal. Berulang-ulang aku memikirkan tindakanku pada orang lain atau orang lain padaku. Walau sebenarnya hanya untuk menjaga agar tindakan atau perkataanku tidak melukai orang lain. Memikirkan atau mengkaji rasa itu ternyata membuatku lelah dan sakit lahir batin. Namun apa yang terjadi, ketika bisa melepaskan perkataan itu, walaupun hanya dalam hati aku berkata “bodo amat, aku capek” wow ternyata efeknya sangat luar biasa, jiwaku menjadi sehat dan tenang.

Betul kata pepatah, jangan semua dipikirin dan dibawa dalam perasaan, sekali-kali lepaskan saja. Jiwa ini punya batas dan perlu dijaga kesehatannya, tanpa harus mengatakan “bodo amat”

Selamat berakhir pekan…..