About D Laraswati H

I am a mother of 3 children, wife, government officer, travel writer and of course a blogger.

“Seandainya Bukan Dia”

Hujan rintik turun

Membasahi jalan yg teterpa panas sejak pagi

Daun kering berguguran di sepanjang jalan

Pertanda musim kemarau datang menjelang

 

Masyarakat ramai berada di alun kota

Orang berduyun-duyun menuju kesana

Sambil berteriak-teriak

Penjarakan !!

Matikan !!

Hancurkan !!

 

Ya Tuhan, dosa apa yang sesungguhnya dilakukan

Semua orang pernah berbuat salah

Semua orang pernah terselip kata

Apakah ia sengaja melakukan itu

Hanya Tuhan yang maha tahu

 

Bahagiakah Allah melihat pembelaanmu manusia

Pembelaan yang membinasakan manusia lain?

 

Seandainya bukan dia

Seandainya bukan dia yang salah kata

Seandainya bukan dia yang berpidato

Seandainya bukan dia yang “sengaja” mengutip

Sebesar itukah keinginan kalian mematikan dan memenjarakannya

Hanya Tuhan yang maha tahu

 

Manusia berduyun-duyun menuntut ia dipenjarakan

Seandainya bukan dia, sedemikian besarkah keinginanmu?

Keinginanmu yang begitu besar membuat dia menjadi begitu besar dan hebat

Itu karena ada Allah yang membelanya

 

Hai, kalian yang tak tahu malu, seperti aku

Sudahkah kalian melihat diri kalian sendiri

Bersihkan cerminmu sebelum kamu berkaca

Tilik hati nuranimu, untuk tidak ikut campur

karena Allah pun tak suka pada caramu

Langit mulai gelap, ketok palu sudah dibunyikan

Saatnya melihat dunia baru, akankah kebangkitan itu ada, ataukah dunia akan makin kelabu

 

(adj, 9 Mei 2017)


Pilkada DKI dan Hari Kartini

Pilkada DKI dan Hari Kartini, apa hubungannya ? Hubungannya adalah karena tulisan Pilkada DKI ini aku tuliskan tepat di Hari Kartini, itu saja dan bahwa ada sebuah pepatah yang aku kutip dari RA Kartini menjadi penyambung yang pas buat keduanya. Selamat membaca.

DKI baru saja merampungkan Pilkada (putaran ke-2) nya, aku mengucapkan Selamat kepada Gubernur terpilih periode 2017 – 2022. Saat ini aku memang bukan warga DKI, tapi aku menjadi warga DKI sejak aku lahir sampai dengan tahun 2007 (39 tahun), setelah masa pemerintahan Pak Fauzi Bowo (Foke), aku pindah menjadi warga Banten. Namun keterikatanku dengan DKI tidak berhenti saat itu karena suamiku masih menjadi pegawai di salah satu BUMD di Jakarta.

mon

Mungkin hari ini sudah saatnya untuk menghentikan semua keramaian pilkada, yang mana karena sesuatu lain hal memberi dampak bukan hanya kepada warga DKI tapi juga pada Indonesia.

Secara pribadi, tulisanku kali ini adalah tulisan bentuk terima kasihku kepada pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Petahana (Basuki Jarot), seperti yang aku sampaikan di atas bahwa aku sudah bukan warga DKI tapi apa yang sudah dilakukan beliau juga memberi dampak berupa kemudahan dalam pengurusan proses administrasi, saat aku mengurus kepindahan domisili Ibu, proses pemakamam Ibuku di TPU Joglo dan pemakaman adikku di TPU Tanah Kusir. Saat ini semua proses ini tidak mengalami hal yang berbelit-belit dan terkait pungli lagi karena biaya pemakaman ditransfer langsung ke Bank DKI. Itu salah satu contoh yang berdampak langsung buat aku dan keluarga.

Hal lain yang sudah dilakukan Gubernur Petahana dan jajarannya pada masa kerja 2014 sampai dengan saat ini cukup terlihat seperti RPTA Kali Jodo, KJP, KJS, Jembatan Semanggi, Smart City, Museum Balai Kota, Qlue, Banjir Kanal Timur, MRT, Busway Perempuan, Bus Pariwisata dan Rusun Marunda.

Program-program rencana selanjutnya jika terpilih di periode berikut yang dicanangkan Gubernur Petahana adalah Anggaran Jaminan Kesehatan 900 milyar, 1 dokter keluarga bagi setiap 5.000 warga, 100% jaminan kesehatan bagi warga Jakarta, Program KPLDH (ketuk Pintu Layani dengan hati), Gratis Ongkos bus Trans Jakarta, 1.347 unit bus Trans Jakarta, 3 RSUD bertaraf Internasional, 200 M Bantuan Modal UMKM dan 50 ribu unit rusunawa dibangun.Tapi bukan itu saja, Gubernur Petahana juga memiliki program membangun manusia Jakarta untuk memiliki Otak Penuh, dengan pendidikan gratis dan tidak ada lagi putus sekolah, juga program Perut Penuh dengan harga sembako murah serta Dompet Penuh dengan Jaminan Kesehatan dan Kartu Jakarta Pintar.

Namun, hari ini Pilkada DKI Jakarta telah usai, dan sudah terpilih Calon Gubernur dan Calon Wakil Gubernur yang baru yaitu pasangan Anis Baswedan dan Sandiaga Uno, aku ucapkan Selamat kepada calon pemimpin yang baru, apakah mereka akan tetap ngotot dengan program Oke Oce nya itu ataukah melanjutkan program-program yang telah disusun Gubernur Petahana dan jajarannya ? Ya mari kita lihat saja, walk the talk, buktikan apa yang sudah dijanjikan buat masyarakat Indonesia umumnya dan masyarakat Jakarta khususnya karena Jakarta memang Ibu Kota Indonesia, sehingga tentulah Jakarta menjadi milik semua warga Indonesia.

Buat Gubernur Petahana, selamat melanjutkan sisa tugas Bapak, terus berkarya pak, aku walau bukan pendukung langsung Pak Basuki dalam Pilkada ini tapi aku dan keluarga serta tentu seluruh pendukung Pak Basuki percaya bahwa tangan Tuhan turut bekerja dalam setiap langkah yang Bapak lakukan karena Pak Basuki adalah sosok yang setia dan takut akan Tuhan

Peristiwa di Kepulauan Seribu menjadi pelajaran buat kita semua, untuk lebih berhati-hati dalam berbicara karena bukan hanya kejadian di sana yang menjadi pelajaran tapi betapa kita bisa melihat melalui kejadian mulai dari sebelum Pak Basuki disidangkan sampai dengan tuntutan Jaksa kemarin, bagaimana sesungguhnya wajah masyarakat Indonesia saat ini. Saling cela melalui media sosial, atribut, spanduk, bahkan perdebatan di warung, di kantor dan di tempat ibadah terjadi di mana-mana. Betulkah orang-orang yang menuntut Pak Basuki dipenjarakan adalah malaikat yang turun dari surga, sehingga tidak luput dari kesalahan ? Dan apakah betul warga DKI telah mencoblos dengan mata hati dan pikiran yang jernih sesuai nurani ? Hanya Tuhan yang tahu.

Mengakhiri tulisan ini, tepat pada hari Kartini 21 April 2017, aku mengutip tulisan dari R.A. Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia sebagai berikut

kar

Dan, tak lupa aku menitipkan pesan pada seluruh perempuan Indonesia

“seyogianya seorang perempuan berpendidikan, tapi kalau ia tak mampu memperoleh pendidikan, ia mesti cerdas agar anak-anaknya mampu berpendidikan dan meraih mimpi-mimpi mereka setinggi langit”

Semangat buat semua perempuan Indonesia, Selamat hari Kartini, setiap perempuan diciptakan untuk suatu alasan. Setiap kepala yang ada di Indonesia ini dilahirkan oleh seorang perempuan, ada tanggungjawab yang mulia bagi seorang perempuan untuk juga menghasilkan anak-anak Indonesia yang punya hati, berakhlak dan bermartabat. Banggalah menjadi seorang perempuan Indonesia.

 

 


“Disayang Itu Menyenangkan” ~ Ika Natassa (TAoL)

Jujur baru kali ini aku membaca novel Ika Natassa tuntas dari awal sampai dengan akhir. Tapi ngomong-ngomong ini bukan review atau resensi buku lho tapi lebih sekedar pendapat aku saja sebagai pembaca novel pertamanya Ika. Sesuai dengan profesionalitasnya baik sebagai pegawai bank ataupun seorang penulis yang telah menulis banyak buku, terbaca bahwa Ika memang keren, ia bisa sangat detil dalam menuliskan banyak hal untuk mendekripsikan sesuatu – terlalu detil malah, sehingga buat pembaca seperti aku yang kadang tidak membutuhkan deskripsi sedetil itu malah banyak melewati bagian tersebut.

2017-04-20 08.26.13

Awal melihat judulnya The Architecture of Love (TAoL) dan ditulis oleh seorang Ika Natassa, aku membayangkan ada kehancuran sebuah bangunan cinta yang akhirnya didesain ulang dan dibangun kembali menjadi sebuah bangunan baru yang jauh lebih indah. Sebenarnya arah ke sana “dapat” juga sih karena memang ada dua hati yang hancur sesungguhnya tapi tata ulang arsitekturnya yang kurang keliatan selain tokoh bernama River yang suka menggambar, termasuk menggambar bangunan-bangunan itu.

Secara keseluruhan novel ini bagus, apalagi buat aku yang membayangkan bagaimana proses menulis sebuah novel perlu usaha yang panjang dan waktu yang (cukup) lama. Mengambil setting lokasi di New York seolah pembaca dibawa pergi ke sana dengan penggambaran detil dari Ika. Menurut aku pribadi, masalah yang diungkap cukup sederhana, yaitu bertemunya dua orang yang pernah terluka dan kembali menemukan cinta mereka. Alurnya juga mengalir dengan baik, walau terasa maju mundur seperti biasa umumnya kisah kasih dua sejoli. Klimaksnya dimana ya ? Saat bertemu lagi di pesta pernikahan keluarga Raia ? Oh – mungkin. Sedang endingnya jadi gimana ini akhirnya cuma segitu aja, maksudnya oke “aku mau kamu” – “I can live with it” – memahami dan dipahami, that’s it !

Selain itu menurut ku, novel Ika ini memang banyak menggunakan bahasa Inggris baik dalam percakapan termasuk quote-quotenya dan juga hal-hal yang up to date atau modern, namun kemungkinan juga hal ini tidak banyak bisa dipahami oleh pembaca dalam berbagai latar belakang. Istilah kerennya high class, walau menurut beberapa ulasan, novel ini termasuk yang membumi

Buat aku yang punya “napas pendek” alias hanya mampu menulis artikel atau cerita pendek, novel setebal 300 halaman itu ya pasti oke lah, tapi sebenarnya emosi pembaca masih bisa digali tuh dari kisah Raia dan River di masa lalu, bukan hanya pada pertemuan Raia dan River yang sepertinya kok “kurang dalam” ya karena masih ada kesan “gantung” nya River belum sungguh melupakan kepergian istrinya dan Raia yang masih ragu apakah dia menjadi bagian dari tujuan hidup River ataukah hanya sebuah persinggahan.

Oh ya sebagai pecinta buku dan toko buku, aku suka banget dengan deskripsi toko buku di Episode 22 dan bertanya-tanya adakah seperti itu di Jakarta atau Tangerang, tentu akan sangat menyenangkan, apalagi jika sebuah toko buku itu mudah dijangkau oleh siapa saja, dalam arti bukan di dalam sebuah pertokoan mewah, hm mimpiku :-)

Maaf kan kalau aku hanya bisa berikan nilai 3.5 saja dari 5 untuk buku ini, satu quote yang tak bisa dielakkan dan dipungkiri oleh siapa pun yaitu

“Disayang itu menyenangkan” ~ Ika Natassa (The Architecture of Love)

Jumlah halaman 304 hal
Dipublikasi 10 Juni 2016 oleh Gramedia Pustaka Utama
The Architecture of Love
 Literary Awards :
  • Anugerah Pembaca Indonesia for Sampul Buku Fiksi Terfavorit Nominasi Buku dan
  • Penulis Fiksi Terfavorit – Shortlist (2016)

Selamat membaca 😉