About D Laraswati H

Writer as "de Laras"

Novel Perdana de Laras “Keagungan Manah”

Terbit Novel – Puji Syukur (setelah berproses selama dua tahun lebih). Semoga dapat  menjadi berkah, dapat memberi manfaat pada kaum perempuan, menghibur dan meramaikan dunia sastra Indonesia

2110KMDL BASE MO 1 FINAL

Sastrawan Indonesia, Bapak Kurnia Effendi, dalam pengantar pada novel ini, yang diberi judul Manah : Palung Sebuah Hati, menuliskan, “Cinta yang tak harus saling memiliki dalam pengertian fisik dan administratif, tetapi justru memiliki nilai-nilai yang tak mudah ditemukan atau dibeli (seandainya bisa) di mana pun. Cinta yang mungkin terlambat, tetapi penyesalan atau penerimaan takdir yang telah dilalui dibayar dengan mahal dalam sisa usia dua tahun terakhir. Saya sebut mahal karena kebahagiaan itu dipertahankan dalam sebuah ironi tanpa sampai ke sebuah mahligai”

Selain Sastrawan Indonesia, Bapak Kurnia Effendi memberi kata pengantar, seorang Penulis Senior dan Editor Dwi Bahasa, Ibu Belinda Gunawan, juga menyampaikan Sekilas Kesan, tentang Novel ini,

“Inilah cinta yang tidak perlu diimbuhi gairah asmara melainkan berkembang sebagai relasi penuh kasih, kepedulian, dan kesetiaan antara dua anak manusia.  “

Diadjeng Laras telah berhasil menulis sebuah novel yang enak dibaca, plotnya mengalir lancar, namun tetap mengandung konflik-konflik yang tak jauh dari kenyataan hidup. Ia juga telah menampilkan sosok Btari selaku perempuan Timur, tepatnya Jawa, secara realistis apa adanya”

Novel perdana karangan de Laras, setebal 474 halaman, diterbitkan Ellunar Publisher, dengan harga Rp 85.000,- (belum termasuk ongkir) siap dipesan,

dengan menghubungi : WA ini 0896-8530-9651 atau Line @ellunar atau klik link berikut bit.ly/WA-Ellunar

Ellunar Publisher #delaras #keagunganmanah #novelperempuan


Bekal Kehidupan

Bersambung (Menyambung) dari tulisan dibawah ini yang berjudul Tidak Cukup Hanya Pendidikan Agama, banyak orang bertanya terutama kaum Ibu, padaku, bekal apa yang aku berikan saat melepaskan dua anak (perempuan) kami untuk bersekolah dan bekerja di luar (kota dan negeri)?

Aku hanya bisa menjawab, bekal Firman Tuhan (agama) dan Adat Budaya (Timur).

Bekal Agama mengajarkan kita untuk dekat pada Tuhan, sesama dan ketenangan diri dimanapun kita berada.

Bekal Adat Budaya (Timur) mengajarkan kita untuk berpijak, mengingat dari mana kita berasal, nama keluarga besar yang harus dipegang (Soegeng Priyodarminto, Silalahi Sidabariba dan Manihuruk) serta para leluhur dan agar tidak terjadi gegar budaya. Menjadi blend (istilah anak sekarang) dengan budaya negara (sukubangsa) lain, tidak harus membuat kita kehilangan citra diri.

Prinsip “lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya” bisa dilakukan, dengan tetap tahu siapa diri kita.

Oh ya ini hanya bekal ya, sama seperti kala kita membawa bekal buat anak-anak semasa kecil berangkat sekolah. Bekal bisa mereka makan atau tidak. Tapi saat membuat bekal tentu kita berdoa agar bekal ini dapat menguatkan mereka selama dalam perjalanan dan di sekolah.

Semoga tulisan ini menjawab pertanyaan teman-teman. Salam Jumat.

Menulis ini membuat Mamak rindu sangat pada kakak Andita dan kakak Arum. Tuhan memberkati kita semua.


Tidak Cukup Hanya Pendidikan Agama

Mendidik anak menjadi anak beragama itu tugas mulia orang tua. Tapi akan lebih mulia lagi, bila kita mampu mendidik anak dalam keragaman suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

ngawi

Walau itu pun belum tentu menjadi jaminan, karena perilaku seseorang terhadap orang lain, bisa dipengaruhi banyak hal, diantaranya : lingkungan ia dibesarkan, pendidikan dan juga teman-temannya.

Dulu, sebelum orang sungguh “beragama” atau mendalami ilmu agama, kehidupan antar manusia dipenuhi dengan kedamaian. Semua saling menghormati dan menyayangi.

Sekarang, setelah orang mengenal agama-nya, kehidupan makin terkotakkan, sekolah di sekolah tersendiri, kumpulan hanya sesuku, sepaham hanya dengan yang segolongan. Yang di luar itu, ga saling kenal.

Aku bersyukur berada dalam lingkungan keragaman SARA. Beragam, tidak memperbesar perbedaan tapi merangkai keunikan dan saling menghormati.

Bersyukur bisa mengalami masa kecil berjumpa dengan Eyang buyut (dari pihak Ayah), Eyang Darmowijoyo yang selalu terbuka memeluk kami yang berbeda agama dengan tangan tuanya di hari raya Idul Fitri. Beliau nyata mengajarkan kerukunan itu di antara anak cucu dan buyut.

Foto : Sebagian buyut bersama Eyang Buyut. Eyang Buyut Putri (Nyi Samidah bin Moh Irsad) menikah dengan Eyang Buyut Kakung (Ki Dasijun Darmowidjojo bin Atmoprawiro)


Sago Mee, Mie Instant Hasil Inovasi PTA*)

Mie biasanya terbuat dari tepung terigu. Sago Mee adalah hasil inovasi dari Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) OR PPT (dulu BPPT). Mie ini  berbahan baku sagu. Sago Mee memiliki aneka varian rasa seperti ayam bawang, laksa bangka, soto pedas maupun mie goreng,  dalam kemasan 70 gr.

Papan Nuansa Isabela

Menurut Bapak Ir. Arief Arianto, M.Agr (Kepala Pusat Teknologi Agroindustri OR PPT), tidak semua negara diberi anugerah tanaman sagu. Lebih dari 95% tanaman sagu dunia hanya dapat ditemui di Indonesia, Papua Nugini dan Malaysia. Lebih dari 50% atau tepatnya 55% tanaman sagu dunia, terdapat tumbuh di Indonesia dengan luas sekitar 1,5 Juta Ha.

Pemanfaatan sagu menjadi produk mie sagu, merupakan upaya inovasi teknologi yang dilaksanakan PTA – OR PPT untuk memberdayakan tanaman asli Indonesia.

Di Kabupaten Bangka tanaman sagunya disebut sagu rumbia. Ini unik karena tumbuh di lahan yang memiliki kandungan mineral. Sagu ini kemudian dadikan mie instan dengan kualitas tinggi dan terjamin, dimana warna produknya putih dan bersih

Hilirisasi dan komersialiasi teknologi produk mie sagu dilakukan melalui kolaborasi dengan industri yaitu PT Langit Bumi Lestari dan PT Bangka Asindo Agri. Perusahaan tapioka ini mengolah sagu menjadi mie yang nikmat di lidah. Sago Mee adalah produk mie pertama di dunia yang menggunakan bahan sagu.

Keunggulan Sago Mee adalah

    • Bebas Gluten, Tinggi Serat dan Non Genetic Modified Organism (Non GMO)
    • Kadar RS : 3-4 kali lebih besar daripada Mie Terigu. Kadar RS yang tinggi bermanfaat untuk Pencernaan
    • Tergolong dalam kelompok Indek Glikemik (IG) Rendah. Indek Glikemik (IG) adalah ukuran kecepatan perubahan Pati menjadi Gula dalam tubuh. IG yang rendah baik untuk Penderita Diabetes, Auto Imun, Diet Rendah Gula, dll
    • Memberikan efek kenyang tetapi tidak menggemukkan

Sago Mee sudah banyak dipasarkan secara online dengan harga yang cukup bervariasi mulai dari Rp 10.000,- per cup nya. Diantaranya ada di Tokopedia dan Shopee.

Kali ini, aku mencoba menikmati Sago Mee Rasa Soto Pedas. Cara mengolahnya cukup mudah dan hanya memerlukan waktu selama 3 menit saja. Cukup tuangkan air panas dan tunggu sampai mie lunak. Lalu masukkan bumbu soto dan sambal. Aduk rata dan siap dinikmati.

Rasanya enak. Tekstur mie nya juga lembut. Tidak terasa beda dengan mie yang terbut dari tepung terigu. Bumbu sotonya terasa pas dan wangi soto kuat Pedasnya cukup terasa buat aku yang kurang suka pedas. Jika tidak terlalu suka pedas, bisa mengatur sambal dalam sachet secukupnya kedalam cup.

Sebagai masukan, untuk ke depannya, diharapkan ada pelengkap tambahan seperti bawang goreng dan sayuran kering yang bisa dicampurkan kedalam mie ini. Tentu akan terasa lebih nikmat.

Nah buat kamu penggemar Mie tapi punya banyak kendala, seperti diabetes, kelebihan berat badan dan atau mencari produk gluten free, Sago Mee adalah salah satu solusinya. Harganya juga terjangkau. Selamat menikmati.

s4

Sumber tulisan : Pribadi dan www.sagomee.com

*) PTA adalah Pusat Teknologi Agroindustri di Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi (OR PPT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)