Faber Castell : Journalist dan Blogger Berbagi Cerita 2020

Dalam event Journalist dan Blogger Berbagi Cerita, yang diadakan Faber Castell Indonesia, dalam rangka perayaan Ballpoint Day, aku mengirimkan tiga karya dan satu video.

Tiga karya itu berupa hand lettering doodle “June”, puisi Kopi Rindu Sabtu dan karya doodle mengenai kegiatan dan upaya yang dilakukan selama pandemi Covid 19 datang.

IMG_20200609_115006_594

IMG_20200609_115006_651

IMG_20200609_115006_657

Seru dan asik karena kegiatan dilakukan selama wfh dan menggunakan bolpen. Bukan hanya karena dalam rangka ballpoint day ya tapi ternyata bolpen dari Faber Castell, yang pasti selalu ada di tas aku ini, nyaman juga dipakai nge doodle dan lettering. Ga percaya? Cobain deh..

Disubmit 10 Juni 2020 dan diumumkan pada 22 Juni 2020. Kabar gembiranya, aku lolos dan terpilih untuk mendapat bingkisan dari Faber Castell. Puji Tuhan.

Btw … sejak aku mulai kembali menekuni kegiatan coret-coret ini, aku banyak menggunakan produk Faber Castell, bahkan salah satu buku cernakku “Aku dan Alam Semesta” 95% ilustrasinya menggunakan Faber Castell.

Selamat #ballpointday buat Faber Castell. Terus berkarya di Indonesia.


Memahami Sejarah Melalui Panggung Spektakuler MUD

Siang itu, Sabtu, 28 Mei 2016, kami, para peserta Eat Travel Doodle 2016 dan Gaya Travel menyusuri jalan sepanjang Daratan Merdeka untuk menuju Panggung Bandaraya di Jalan Raja, Kuala Lumpur, untuk menyaksikan drama musikal sejarah Kuala Lumpur.

d1

2016-09-13-08-36-04

MUD yang berarti lumpur (berasal dari kata Kuala Lumpur) adalah sebuah drama musikal yang ditampilkan sejak tahun 2014 hingga saat ini di Panggung Bandaraya yang dibangun tahun 1902, salah satu bangunan yang dibangun dari lumpur pasca banjir bandang dahulu,” demikian penjelasan dari pihak MUDm1 m2 m3

Awal dimulai, penyelenggara MUD mengumumkan agar pengunjung mengabadikan kemeriahan drama musikal ini dan menyebarkannya ke media sosial, dengan persyaratan tidak boleh menggunakan lampu blitz, sehingga tidak mengganggu pemain.

Berlatar Kuala Lumpur tahun 1857, dengan kemunculan tiga tokoh utama yakni Mamat berdarah Melayu, Meng berdarah China, dan Muthiah berdarah India. Tiga orang bersahabat dengan perbedaan latar belakang agama dan suku bangsa namun persahabatan mereka tak lekang oleh waktu. Kisah persahabatan ini dibagi dalam empat babak berlatar belakang kondisi Kuala Lumpur dari tahun 1857 sampai dengan 1881. Mereka berjuang hidup di tengah bencana seperti banjir dan kebakaran.

img_20160528_152145

img_20160528_160945

Pertunjukan MUD yang berlangsung selama satu jam ini dimainkan para pemain drama musikal dengan menyanyi langsung alias tidak lip sync. Sebagian besar para pemain adalah orang muda, hal ini sangat bagus diterapkan agar semua orang muda memahami sejarah bangsanya. Disajikan dengan rapi dan apik, pemain yang terlatih, musik dan tari, tata suara dan tata panggung yang keren, membuat rasanya enggan untuk berakhir menyaksikan.

Pertunjukan ini juga diabadikan dalam gambar yang super keren dengan rekan Doodler dalam Eat Travel Doodle 2016 :-)

img-20160528-wa0103

img-20160528-wa0066Ada interaksi antara penonton dengan pemain, sehingga penonton juga merasa menjadi bagian dari panggung spektakuler ini. Dalam satu hari pertunjukan MUD diselenggarakan dua kali, yakni pada pukul 15.00 dan 20.30. MUD juga dilaksanakan setiap hari tanpa libur. Tiket dapat dibeli online di www.mudKL.com, atau langsung membeli di loket tiket Panggung Bandaraya yang dibuka dari pukul 10.00-20.30. Harga tiket seharga RM 80 (80 ringgit Malaysia, atau saat ini sekitar Rp 240.000,-)

img-20160528-wa0115

Sedangkan untuk menuju Panggung Bendaraya yang terletak di Dataran Merdeka, Jalan Raja, Kuala Lumpur, Malaysia, dapat menggunakan jasa monorail sampai di Stasiun Medan Tuanku. Kemudian lanjut berjalan sepanjang lapangan Dataran Merdeka menuju ke Panggung Bandaraya.

Untuk mencapai Dataran Merdeka ini ada beberapa cara sebagai berikut :

  • Dari Stasiun KL Sentral, dengan RapidKL LRT  menggunakan rute Kelana Jaya Line dan turun di Masjid Jamek Stasiun. Beli single tiket di mesin tiket seharga 1,3 RM.
  • Bisa menaiki Putra LRT, Taksi, atau Bus turun di stasiun Masjid Jamek atau stasiun Pasar Seni. Lalu tanyakan arah ke tempat ini.

Selamat berkunjung dan memahami sejarah Kuala Lumpur melalui drama musikal sehingga mudah dipahami baik oleh orang tua maupun anak-anak. :-)

Sumber : Pribadi, MudKL, Gaya Travel, Rekan Doodler ETD 2016


The Regency Hotel Di Chow Kit, Kuala Lumpur – ETD 2016 (10)

The Regency Hotel yang terletak di wilayah Pasar Chowkit, tepatnya di Jalan Raja Alang, Kuala Lumpur, merupakan hotel berbintang 3. Aku menginap bersama teman-teman partisipan Eat Travel Doodle 2016 selama 2 (dua) malam, dari tanggal 27 Mei 2016 sampai dengan 29 Mei 2016.

r5

Tak sempat mengeksplor wilayah sekitar yang terkenal dengan buah lezat macam durian, karena mengerjakan tugas yang harus disubmit ke Panitia setiap pagi :-( Walau demikian, aku menikmati keberadaanku selama berada di hotel ini.

r1

r10

Kamar dengan dua tempat tidur (superior twin room) dalam kamar seluas 30 (tiga puluh) meter persegi

r2

Lokasi yang berdekatan dengan Pasar Bazaar baru, Tatt Khalsa Diwan Gurdwara dan Quill City Mall. Berikut pemandangan yang bisa dinikmati dari kamar hotel.

r3 r4

Dan ini foto saat kesempatan berjalan sebentar di sekitar hotel. Ada pasar Chowkit macam pasar basah, yang menjual ikan, ayam dan buah-buahan. Kabarnya banyak pedagang dari Indonesia berjualan di tempat ini.

r6 r7 r8 r9

Menu sarapannya yang cukup bervariasi, dengan ruang makan yang luas, sayangnya dengan pemandangan menghadap ke pasar, walau kadang ada hal menarik dapat dinikmati dari ruang makan.

Selamat berlibur, hotel yang nyaman dan lokasi yang strategis, sayang tak sempat berenang di sana dan juga menikmati durian yang lezat. Nak lain kali berkunjung :-)