Tetaplah Menjadi Bintang Di Langit

Kasih Tak Sampai
(Piyu, PADI)
Indah, terasa indah
Bila kita terbuai dalam alunan cinta
Sedapat mungkin terciptakan rasa
Keinginan saling memiliki
Namun bila itu semua
Dapat terwujud dalam satu ikatan cinta
Tak semudah seperti yang pernah terbayang
Menyatukan perasaan kita
Tetaplah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita berdua
Sudah, terlambat sudah
Kini semua harus berakhir
Mungkin inilah jalan yang terbaik
Dan kita mesti relakan kenyataan ini
Tetaplah menjadi bintang di langit
Agar cinta kita akan abadi
Biarlah sinarmu tetap menyinari alam ini
Agar menjadi saksi cinta kita berdua
bulan_bralin
Foto : karya mbak Bralin Dwiratna 😉

Cuisine Regionale Du Pasir Muncang

Seperti janjiku dalam postingan sebelumnya, aku bermaksud menceritakan mengenai jamuan makan siang yang aku hadiri dari undangan Prof Bambang di rumah beliau.

Sebenarnya banyak hal yang tak aku duga terjadi. Jadi semula, aku hanya akan datang sowan ke rumah Prof Bambang bersama ilustrator bukuku. Lalu Prof menyampaikan, bahwa yang akan hadir adalah rekan-rekan sesama profesornya. Sesungguhnya, aku mendadak minder akan duduk bersama dengan para profesor. Lalu Prof Bambang menyampaikan bahwa Profesor hanyalah orang yang suka berdiskusi saja sehingga tidak perlu kawatir.

Lalu pertemuan yang rencananya dimulai pukul 10.00, diundur menjadi pukul 12.00 menjadi acara Makan Siang. Kira-kira seminggu sebelum pertemuan 12 Februari 2019, Prof Bambang mengirimkan daftar menu yang akan aku temui saat makan siang. Aku terkejut lagi, wah ada daftar menu, tapi menurut Prof itu memang biasa dilakukan supaya memudahkan beliau saat menerima tamu dan tamu yang keberatan dengan menu tersebut bisa menyampaikan, agar menu masih ada waktu untuk diubah. Wah baik banget ya Prof ini, sudah mengundang makan, masih memberi kesempatan tamu untuk mengubah menu 😀

CUISINE REGIONALE DU PASIRMUNCANG

(Garantite ce repass de Porc)

February 12, 2019

Aperitive

Stoop cassava merah  (fruit de la Mer, mit  cengkeh)

Entrée

Avocado Aus Lembang mit tofu und garnallen

Bruine bonen soupe mit Gemussen und petites carrotte

Main Course

Nasi putih, murni dari pasar Dago; Cumi isi (daun singkong,petai, telur puyuh)

boeuf bourguignon, sandung lamur, mit boonces,  Gebakken paha ayam, cooked a’la rica-rica;

(Sate , tentative)

Salads legume mit tender smoked beuf

Ende

Kafee (Arabica aus Aroma du Banceuy);oder  tea Goalpara, oder Queen Annee English tea, atau

Windmolen Cocoa mit susu Mademosel.

Linzen Taart genuine genuine aus Linz, Austria;  Speculaas, Verkade, Niederlamd-Indonesia,

Fruit a’la season (most likely jeruk Pontianak)

Volles indiquermle menue de votre chois n’est plus dispomsable

 

Thanks to Neng Sunarti , chefs

Hari yang ditunggu, akhirnya tiba, setelah memasuki rumah Prof, tampak meja makan di rumah Prof sudah tertata rapi, dengan piring makan, lengkap dengan sendok garpu, mangkuk sup dengan sendok sup, gelas air putih, cangkir kopi teh sesuai dengan peralatan yang akan digunakan seperti di Daftar Menu.

Rupanya Prof memang benar orang yang detail dan terencana ya, ya namanya juga Prof. Saat aku datang, aku langsung disuguhi setup jambu yang segar untuk siang hari di Bandung saat itu. Semua dibuat sendiri, kata Prof, dengan kayu manis yang ditanam di kebun sendiri. Prof menunjuk pohon kayu manis di ujung halaman, sambil kami berdiskusi mengenai naskah yang aku buat dan mengoreksi ilustrasi yang sudah dibuat (setup jambu tidak terdokumentasi, maaf, karena langsung dinikmati).

Hidangan pembuka yang pertama adalah Avocado Aus Lembang mit tofu und garnallen, alpukat dibelah dua dan bagian tengahnya diisi dengan tahu cincang yang dimasak bersama udang kecil dan ditaburi bawang goreng. Perpaduan yang oke ya, ringan sebagai pembuka dan sehat juga, ada rasa asin dari tahu, rasa manis dari udang dan gurih dari bawang goreng yang renyah.

?????????????

Hidangan pembuka kedua adalah Bruine bonen soupe mit Gemussen und petites carrotte, Prof Bambang sendiri melayani kami, dengan menyendokkan sup kacang merah ke mangkuk-mangkuk kami. Sup yang pas dalam penyajian dan juga rasanya, ditambah dengan beberapa butir telur puyuh yang tinggi protein.

Setelah kedua hidangan pembuka itu, Prof mempersilakan kami untuk memilih sendiri hidangan utama yang terdiri dari Nasi putih, murni dari pasar Dago; Cumi isi (daun singkong,petai, telur puyuh), boeuf bourguignon, sandung lamur, mit boonces,  Gebakken paha ayam, cooked a’la rica-rica; Sate ayam, salads legume mit tender smoked beuf

?????????????

Semua enak dan sangat enak, tapi yang unik buatku adalah cumi isi telur puyuh, daun singkong (dan ada petai katanya, tapi ga terasa), penampakannya bisa terlihat di antara sate ayam dan ayam rica-rica.

Salad nya juga menyegarkan, semua buah dan sayur dipotong rapi kecil, diberi potongan keju dan kismis, lupa menanyakan menggunakan saus apa, tapi rasanya seperti saus thousand island.

Selanjutnya, sebagai penutup, selain buah jeruk mandarin (bukan jeruk pontianak seperti yang Prof sampaikan) ga masalah buatku karena rasanya juga sangat manis, mungkin masih suasana imlek (5 Februari 2019 adalah hari Raya Imlek), pertemuan hari itu ditutup dengan Linzen Taart, yang dipesan khusus di Lembang dengan menggunakan resep asli dari Austria, dideskripsikan demikian oleh Prof Bambang, Linzen Taart genuine genuine aus Linz, Austria. Rasanya sangat manis, dari buah nanas yang digunakan, dengan aroma kayu manis, cengkeh dan rasa rhum yang kuat.Menurut aku, ini seperti pie buah, karena itu aku bermaksud untuk membuatnya sendiri di rumah, setelah pulang nanti. Karena rasanya sangat manis, kue penutup ini sangat cocok jika dipadu dengan kopi atau teh tawar. Aku memilih kopi arabika dari Aroma Banceuy.

?????????????

Last but not the least, aku mesti mohon pamit, walau sempat terhalang dengan hujan petir yang mendadak datang, akhirnya aku mohon diri, berpamitan dengan para Profesor terutama Prof Bambang yang baik hati beserta teman-temannya, juga chef handal di kediaman beliau, Neng (aku lebih suka memanggilnya dengan Mbak) Sunarti.

Prof Bambang mengantar aku sampai ke pintu mobil, padahal hari hujan dan aku sudah menolak untuk diantar tapi thoh Prof tetap turun ke garasi dan menyampaikan juga bahwa “agak” kecewa karena banyak yang tidak hadir tapi tidak memberitahukan, semoga lain kali akan lebih banyak lagi yang hadir ya Prof.

Dalam deras hujan, aku kembali ke Serpong, dengan berbagai rasa yang bercampur aduk, juga dengan harapan agar proyek tulisan ini dapat selesai pada waktunya, agar aku tidak mengecewakan Prof Bambang yang sudah membantuku, untuk mencerdaskan dan memintarkan anak bangsa. Luar biasa….. :-)

Sekali lagi, terima kasih Prof Bambang Hidayat

 

Berikut catatan tambahan yang dikirimkan Prof Bambang padaku melalui email,

mBak Laraswati, banyak terima kasih untuk tulisannya. “kesalahan2 besar”, dalam artikel itu ialah;
  1. Tentang menu, nama masakan yang “ngawur” bahasanya: bukan Inggris, bukan Jerman, bukan Belanda, bukan Indonesia.
  2. Kawan2 saya itu memang GB ITB, on their own rights(dengan sumbangan ilmiahnya) dan berbeda umur dengan saya beberapa tahun (banyak).  Saya pernah mengajar pak Iwan. Karena autograph dalam sebuah buku yang dikirim dari India (dia pernah menjadi atase Kebudayaan) tertulis   “untuk guru saya”. Kami bertemu, kerumpul, dalam kapasitas manusia biasa, yang bertukar pikiran.
  3. Salam hormat, dan terima kasih. Tak ada komentar lain. Bambang Hidayat

 

 

 

 


Pertemuan 12 Februari 2019, Pasir Muncang

Malam, 12 Februari 2019, tiba dari perjalanan Bandung ke Serpong, pulang pergi dan berada di Bandung, yang hampir 15 jam, ga sabar rasanya untuk segera mengupload foto ini di akun media sosial Facebook. Ntah kenapa hatiku begitu gembira. Mungkin karena sehari sebelumnya dan sampai pagi itu, badan mendadak terserang flu sehingga rasanya ingin membatalkan pertemuan, namun rasanya tidak enak pada Prof Bambang Hidayat, seorang astronom Indonesia, yang sudah jauh hari mempersiapkan undangan makan siang ini.

Screenshot_2019-02-12-19-42-23

Lalu yang kedua, karena aku bertemu dengan orang-orang luar biasa, yang baik hati dan rendah hati. Walau obrolan yang dibicarakan beragam, mulai dari tujuan awal kedatangan, membahas naskah proyek tulisan awal 2019  (tepatnya gambar ilustrasi karena tulisannya sudah disetujui Prof Bambang melalui komunikasi e-mail) sambil menikmati stoop cassava (setup jambu yang seger banget) di teras samping, lalu Prof mengajak berkeliling melihat buku-buku, baik  yang berisi tulisan Prof Bambang, maupun yang berkaitan dengan planet dan alam semesta,  di perpustakaan beliau.

DG1

Ini pertemuan pertamaku langsung dengan Prof Bambang, setelah awalnya berkomunikasi melalui email pada 21 Desember 2018. Alamat email Prof Bambang, aku peroleh dari rekan sesama blogger, yang juga seorang wartawan Tempo, pak Baskoro. Sayang pak Baskoro tidak bisa hadir pada hari ini..

Profesor menerima kami dalam busana kemeja lengan pendek warna putih dengan celana panjang biru tua. Dalam usianya yang sudah 84 tahun ini, beliau nampak sehat dan tidak pikun seperti kebanyakan orang di usia itu, mungkin karena beliau aktif membaca dan berkomunikasi dengan banyak orang. Pertama aku tiba di rumahnya, beliau sendiri yang langsung turun membukakan pintu, menuruni trap-trap tangga teras dengan cepat. Rumah beliau asri dengan banyaknya tanaman dan bunga, wanita mana yang tidak menyukai pemandangan seperti ini, pasti betah duduk berlama-lama kan ? 😉

BeautifulGarden_1

Obrolan makin bervariasi, setelah Prof Iwan dan Prof Hendra datang. Kami saling bertukar buku. Obrolan mulai dari kalender,  kalender islam, perayaan imlek, atheis, tanaman, penerbitan buku, hari raya dewali di india, Tuhan tidak tidur, global warming, wine, transportasi online, di antara kuliner yang disiapkan oleh Chef andalan di kediaman Prof Bambang, Neng Sunarti (yang akan kuceritakan di postingan berikut). Dan makin seru obrolan dengan kehadiran prof Harijono, yang hadir setelah pukul 13.00, sayangnya aku sudah mohon diri pada pukul 14.00, setelah hujan petir reda.

Prof BHT n HG Prof BHT n IP Prof H n HG

Dari pertemuan ini, apa yang bisa aku simpulkan ? menurutku, betul kata pepatah tentang padi yang selama ini aku dengar, semakin berisi, semakin merunduk, demikianlah dengan para profesor ini. Yang semula (sebelum berangkat tapi sudah diberitahu prof Bambang) bahwa yang akan hadir adalah rekan-rekan sesama profesor, kubayangkan akan menyeramkan dan tidak nyambung dalam pembicaraan dengan pikiranku yang simpel dan terbatas ini, ternyata tidak terjadi. Mereka semua baik dan rendah hati, bahkan ada yang akan membantu jika aku bermaksud menerbitkan bukuku  di Percetakan ITB, wow….

Yang kedua, adalah, banyak-banyaklah membaca, agar mempunyai banyak pengetahuan dan bisa bicara mengenai apa saja.

20190213_060021

Oh ya selain berkeliling di ruang kerja beliau, beliau juga menunjukkan di mana spot beliau duduk memandang dan memotret bulan dan semesta, juga berkeliling ke halaman yang penuh dengan tanaman.

Bulan dan Venus 20119 0459 kabut tipis masih menyelimuti Dewai malam

?????????????

Pertemuan ini akan dilanjutkan dengan pertemuan berikutnya, untuk merampungkan naskah dengan ilustrasi yang dibutuhkan untuk proyek tulisanku dengan mbak Tanti ini. Selain itu Prof Bambang juga bermaksud mengundang rekan-rekan sesama penulisnya untuk hadir kembali. Sekali lagi, terima kasih ya Prof Bambang untuk undangan jamuan makan siangnya, yang luar biasa, ditemani diskusi hangat dengan teman-teman baru.

Semoga semua diberi kesehatan untuk terus berkarya. Salam semesta.

 

 

Berikut catatan tambahan yang dikirimkan Prof Bambang padaku melalui email, pada 17 Februari 2019

mBak Laraswati, banyak terima kasih untuk tulisannya. “kesalahan2 besar”, dalam artikel itu ialah;
  1. Tentang menu, nama masakan yang “ngawur” bahasanya: bukan Inggris, bukan Jerman, bukan Belanda, bukan Indonesia.
  2. Kawan2 saya itu memang GB ITB, on their own rights(dengan sumbangan ilmiahnya) dan berbeda umur dengan saya beberapa tahun (banyak).  Saya pernah mengajar pak Iwan. Karena autograph dalam sebuah buku yang dikirim dari India (dia pernah menjadi atase Kebudayaan) tertulis   “untuk guru saya”. Kami bertemu, kerumpul, dalam kapasitas manusia biasa, yang bertukar pikiran.
  3. Salam hormat, dan terima kasih. Tak ada komentar lain. Bambang Hidayat