Warna Daun (Tak) Selalu Hijau

Potongan Fiksi Mini “Warna Daun (Tak) Selalu Hijau”

Di sebuah kelas inspirasi di desa di kawasan Timur Indonesia, dipenuhi dengan wajah-wajah lugu bocah yang sangat ingin tahu dengan apa yang dibawa kakak dari Jakarta. Ntah terpukau dengan wajah cantik kakak yang mirip Raisa itu, atau memang menanti hadiah dan kejutan dari ibukota.

“Selamat pagi adik-adik….. kakak bawa kertas dan pinsil warna. Ini untuk apa adik-adik?” tanya kakak kuncir kuda itu dengan ramah.

Ada yang tunjuk tangan, ada yang masih bengong, melongo, maklum mereka berusia sekitar tiga sampai delapan tahun, ada yang masih saling mendorong mencari tempat duduk. Bahkan ada yang masih berkejar-kejaran dalam kelas.

“Ayo siapa yang bisa jawab, kakak beri hadiah, ini untuk apa?” tanya kakak sekali lagi, sambil mengangkat selembar kertas gambar ukuran A3 dan sekotak pinsil warna.

“Aku tahu kakak,” teriak seorang anak perempuan gemuk berkulit hitam berambut ikal. Ia melompat sambil mengacungkan tangannya.

“Iya kamu, ini untuk apa? sebutkan namamu ya,” kata si kakak sambil menghampiri anak tersebut.

“Namaku Grace. Buat menggambar kak, buat menulis juga bisa,” jawab Grace dengan riang.

“Betul, ini hadiah untukmu ya,” kakak inspirator memberikan kertas gambar dan sekotak pinsil warna, yang disambut riuh tepuk tangan seluruh isi kelas.

“Baik, hari ini kita akan menggambar daun ya, adik-adik. Adik-adik tahu warna daun apa?” tanya kakak sambil berjalan kembali ke depan kelas

“Hijau…..,” serempak mereka menjawab .

WhatsApp Image 2019-06-06 at 08.47.25

Kakak cantik tercenung. Terdiam. Kelas juga mendadak hening.

“Adik-adik, daun itu tidak selalu berwarna hijau. Sama seperti kehidupan. Daun itu warna warni. Ada yang hijau, hijau juga bermacam-macam, hijau muda, hijau tua, hijau lumut, kekuningan, agak putih, kemerahan, kecoklatan.

 

Ada juga yang warna hijau dengan pinggir putih. Ada daun hijau dengan bintik kuning atau putih. Ada juga yang berbercak merah.

 

Sama seperti hidup ya , ada senang, sedih, suka dan duka, ada naik, ada turun, ada tawa dan ada juga tangis. Bahkan dalam suka, kita bisa menangis. Dalam duka, kita juga bisa tertawa. Menertawakan diri sendiri.

 

Paham ya adik-adik?”

jelas kakak panjang lebar dengan semangat.

WhatsApp Image 2019-06-06 at 08.47.24 (1)

Anak-anak dalam kelas terdiam. Mungkin tidak mengerti. Mungkin juga bingung.

Seorang tiba-tiba mengacungkan jari tangannya.
“Jadi…. kita mau gambar daun atau gambar “hidup” kak?” tanyanya.

“Mari, kita gambar daun,” jawab kakak cantik tersadar, ini kelas anak-anak, tidak harus ia menggalau di sini.

WhatsApp Image 2019-06-06 at 08.47.24

:

 

#delaras
#fiksimini


Tradisi Idul Fitri Kenangan Masa Kecil

Kenangan Idul Fitri masa kecil, kami juga punya tradisi itu. Tradisi tentunya yang pertama, tidak jauh dari kuliner. Ketupat, sayur labu siam, opor ayam, sambal goreng ati dan terutama gule kambing masakan Ibu, sebagian yang selalu kami rindukan. Dan Ibu memasaknya sendiri, bumbu hasil racikan sendiri, bukan bumbu jadi, tentu dibantu kami untuk persiapan kupas kentang, potong ati sapi dan lain-lain, yang tidak berhubungan dengan bumbu.
 
Setelah sarapan pagi dan menerima kerabat yang berkunjung ke rumah, biasanya kami akan pergi nyekar dan sowan ke keluarga yang merayakan Idul Fitri di Jakarta, jika kami tidak berlebaran di rumah Eyang di Jawa. 

 

Saat berada di Jakarta, yang pertama akan kami kunjungi adalah kerabat yang dituakan dari pihak Bapak, yaitu Eyang Soebijono, SH (kami biasa memanggil beliau Mbah Bono), beliau adalah adik Eyang putri. Sedangkan bila berada di Jawa, kami akan nyekar keempat tempat di Ngawi, lalu sowan ke rumah Eyang Buyut R. Darmo Wijoyo, berlebaran di sana. Kebetulan rumah Eyang Buyut dari pihak Bapak tepat di depan rumah Eyang R. Koeshartoyo dari pihak Ibu. Jadi kami bisa berlama-lama di sana, sebelum melanjutkan perjalanan kami ke Madiun dan Malang, melewati Ponorogo, untuk nyekar ke makam Eyang Buyut dari pihak Ibu (Eyang R Koesiyar) di Taman Arum, dan mampir ke Tulung Agung ke rumah Eyang R. Suharmadi dan Eyang R. Sumedi (pakde dan paklik Ibu, kang mas dan adik dari Eyang Kung)

Tradisi kuliner Lebaran di rumah adalah salah satu tradisi yang selalu menjadi kenangan kami, karena masakan Ibu menjadi perekat kami bersama keluarga dan kerabat.

Tradisi silaturahmi, sowan atau bersalam-salaman, juga salah satu tradisi yang selalu dipertahankan dalam keluarga kami. Mungkin buat anak seusia kami saat itu, ada keengganan untuk pergi dalam kegiatan seperti itu, namun Bapak Ibu selalu mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai kekeluargaan itu dalam keluarga besar kami yang cukup majemuk. Ada berbagai suku dan agama. Dan kami, sejak kecil, sudah belajar mengenai hal itu. Jadi seandainya ada hal perpecahan atau keributan terjadi karena masalah agama dan suku, itu menjadi suatu yang agak aneh buat kami, yang sudah biasa dengan perbedaan. Namun, sekarang, kami sebagai orang tua, yang wajib mengajarkan kembali pada anak-anak kami saat ini, bahwa kita harus bisa menerima orang-orang yang tidak bersedia menerima perbedaan itu. Dan itu wajar saja juga.

Ada juga hal yang menarik saat sowan ke rumah Eyang atau kerabat Bapak yang lebih tua, ntah itu mungkin menarik bagi sebagian anak kecil, yaitu adanya amplop alias angpao :-) di awal, aku sempat bertanya pada Ibu, mengapa kalau kita datang selalu diberi uang? Waktu itu ada berbagai versi penjelasan dari Bapak dan Ibu, ada yang mengatakan sebagai bentuk hadiah setelah berpuasa sebulan penuh dan ada juga yang mengatakan bahwa itu sebagai bentuk terima kasih karena kita telah datang berkunjung dan mengingat mereka sebagai “orang tua”. Keduanya masuk akal dan dapat diterima saat itu.

Kesatuan yang sempurna sejatinya adalah penyatuan dengan orang-orang yang berbeda dan beragam. Beda dalam segala hal, pendapat, pikiran, perasaan, yang lebih hakiki dari pada hanya berbeda agama dan suku bangsa. Itu yang selalu diajarkan Bapak.

Semoga tahun ini diberi kesempatan lagi untuk sowan dan silaturahmi ke keluarga Bapak Ibu yang masih ada. Kangen pakde bude, om tante dan sepupu-sepupuku.

Kangen Bapak Ibu. Berbeda namun tetap saling menghormati dan menyayangi sebagai keluarga.

 

Foto Halal Bi Halal Lebaran Tahun 2018 (Keluarga Besar Bapak – Eyang Buyut R. Darmo Wijoyo dan Keluarga Besar Ibu – Eyang Buyut R. Koesiyar)

 
IMG-20180715-WA0128
37393354_268498193959553_9161661113522192384_n(1)Selamat menyambut Idul Fitri, Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir dan batin. Kiranya kesucian hati meringankan langkah kita dalam mendekatkan hati pada Allah dan sesama. Amin.

Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1440 H (3)


Hari Ulang Tahun, Pesta Demokrasi dan Ambisi

Kemarin adalah hari ulang tahunku yang ke-51, sebuah awal hari baru di usia yang sudah melewati 51 tahun berada di muka bumi. Seperti biasa, pagi hari ulang tahun adalah saatnya menjalani perenungan diri. Mencari waktu di antara hiruk pikuk kegiatan untuk refleksi diri, apa yang sudah aku jalani dari tanggal 17 April 2018 sampai dengan 17 April 2019 kemarin.

Banyak berkat yang bisa aku syukuri, banyak kenikmatan hidup yang aku rasakan dan juga tentunya penyertaan dan pimpinan Tuhan yang luar biasa, walau kerap aku melakukan pelanggaran dan hal yang kurang berkenan di hadapan Tuhan dan keluargaku.

Rasa syukur untuk pekerjaan baik di kantor maupun dalam hal tulis menulis, untuk keluarga, untuk pertemanan, untuk karya dan ide yang masih bisa selalu ada dari segala hikmah yang ada, yang berasal dari Tuhan juga.

Juga tak lupa mengingat semua hal yang menyebabkan kesesakan hati, yang terjadi dalam perjalanan hidup sepanjang tahun yang telah lewat. Bukan untuk mengingat kesedihan tapi untuk memperbaiki diri, kerap keinginan diri yang berlebihan tanpa lagi memakai nalar dan hati nurani (apalagi mengabaikan peringatan Tuhan) karena emosi dan nafsu, yang berujung penyesalan di kemudian hari.

Pagi, 17 April 2019, menjemput si tengah di Stasiun Senen, dengan agak berdebar karena kami berangkat pukul 02.30 dari rumah dalam kondisi suami baru sembuh dari sakit 1 bulan yang lalu (tepat), kali ini kali pertama pergi menyetir mobil cukup jauh sampai ke Jakarta. Puji Tuhan, walau mundur 30 menit dari jadwal kedatangan, kami bisa bertemu dengan si tengah, yang datang dengan membawa karangan bunga, yang khusus ia pesan dan bawa dari Salatiga untuk hari ulang tahunku.

“I was born with a gift, the gift of awesomeness I`m not just a year older I`m also a year better and wiser, hopefully. Thank GOD”
IMG-20190417-WA0002[1]

Hari ini menjadi hari yang spesial bukan saja buat aku, tapi juga buat bangsa Indonesia, dengan pemberian hashtag untuk 17042019 karena hari ini adalah hari perayaan Pesta Demokrasi, yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Ya betul, hari ini kami akan berpesta, akan menuju ke tempat pemungutan suara sebagai warga negara yang baik.

Ada lima surat suara yang akan diisi atau dicoblos, yaitu untuk Pemilihan Presiden, Pemilihan anggota legislatif di tingkat DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan Anggota DPD.

?????????????

Menuju ke TPS 64 melakukan kewajiban untuk memilih dan mengimplementasikan hak memilih yang telah diperoleh melalui Undangan Pemilih

 

pil2

Teringat pesan Opa Robert F Kennedy yang menyatakan,

“Elections remind us not only of the rights but the responsibilities of citizenship in a democracy”

nah benar kan? Menang dan kalah itu bukan kita yang menentukan, tapi kita wajib terlibat, jangan golput. Nyoblos itu keren, begitu kata anak milenial jaman sekarang.

WhatsApp Image 2019-04-17 at 19.08.53

Nah lalu, apa hubungannya ini semua dengan “Ambisi” ? Belum juga pesta demokrasi ini usai, belum juga tinta ungu di ujung kelingking ini kering dan terhapus. Bau-bau darah haus kekuasaan itu mulai tercium pada siang menjelang sore hari, tepatnya beberapa saat setelah pukul 15.00 WIB.

Penghitungan suara dilakukan serentak, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Penghitungan suara dilakukan seperti biasa, dengan menghitung suara yang masuk tentunya, namun yang lebih seru (dan mengerikan) adalah tanggapan dari beberapa orang yang menyatakan ketidakpuasan dari hasil quick count, menyatakan adanya kecurangan di sana-sini dan komentar-komentar yang muncul deras di media sosial dan WA Group. Wih ngeri……sehingga pesta yang semestinya pesta ini, menjadi potret renungan tersendiri buat aku, mengenai apa yang namanya disebut dengan sebuah ambisi, baik ambisi pribadi atau pun golongan dan kelompok tertentu.

 

Ambisi adalah hal yang sah dan tidak salah, namun menjadi salah, ketika nalar dan hati nurani sudah diabaikan, dianggap angin, bahkan membatu dalam diri.

Perhatikan wajah orang yang penuh ambisi di sekitarmu, di dekatmu, di kantormu, ini bukan hanya terkait dengan pesta demokrasi yang sedang berlangsung, tapi juga ambisi dalam meraih sesuatu, menginginkan sesuatu, namun mengabaikan kedua hal di atas, bahkan keluarganya sekali pun, demi meraih apa yang diinginkan, dengan mengatasnamakan demi kepentingan orang banyak, demi komunitas, demi bangsa, bahkan demi isi dunia sekalipun.
 

Ini juga tidak terlepas dengan ambisi-ambisi pribadiku saat ini, aku ingin membuat buku yang bombastis, kadang aku tidak mengukur diri, aku bisa duduk mengetik di depan laptop berjam-jam selama beberapa hari, tanpa memperhatikan sekitar. Kalau pun aku memberi perhatian, itu hanya sebatas formalitas dan tidak sepenuh hati, dampak terburuk tentunya pada keluargaku, yang mungkin tidak sepenuhnya menuntut perhatianku karena mereka mampu melakukan apa-apa sendiri, tapi konsentrasi dan perhatian yang terpecah karena ambisiku, tentu sedikit banyak mengurangi intensitas komunikasi kami.
WhatsApp Image 2019-04-17 at 12.16.34
Life is really simple, but we insist on making it complicated. Don’t make things too complicated. Try to relax, enjoy every moment, get used to everything.

Lalu, apa ambisimu saat ini? Tetaplah berpijak di bumi, gunakan dua hal di atas 😉 Selamat berpesta ulang tahun (yang tertunda), lanjutkan Pesta Demokrasi 2019 dengan menunggu hasil real count dan terus berdoa untuk keluarga, teman dan Indonesia yang aman damai, siapa pun Presiden nya.

 
#selfreminderonmybday
#delaras