Selamat Hari Buku Nasional

Tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Semoga dengan peringatan ini, semakin banyak kesempatan pada tiap orang khususnya anak-anak mengenal dunia melalui buku bacaan.

buk3

Dari buku, kita dapat belajar banyak hal, belajar membaca dari huruf, kata sampai dengan kalimat. Dari buku, kita dapat belajar memahami dasar hidup seseorang, pengalaman berharga bahkan memotivasi hidup orang lain. Apakah buku hardcopy akan terganti dengan e-book di era digital ini ? Tidak menjadi masalah selama ada buku yang bisa menambah pengetahuan.

Mari berbagi buku agar semakin banyak orang memahami isi dunia, menyeberangi kota, pulau, samudera dan benua.

Selamat Hari Buku, Selamat Membaca

buk2


Ai Ho Do Tuhan Pargogo Di Ahu

Minggu, 19 Maret 2017 adalah hari bersejarah buat keluarga besar kami, Pomparan Ompung Luhut Sidabariba karena pada hari ini kami merayakan peringatan Hari Ulang Tahun Inang Ny JB Sidabariba Gurta boru Sidauruk (Ompung Luhut Boru) yang ke-91.

Peringatan yang berupa Ibadah Syukur ini diadakan di Auditorium Gedung LIPI Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan, dipimpin oleh Pendeta Hotma Pasaribu dan liturgos Justiman Sidabariba, mulai pukul 10.00 hingga 16.00, dengan acara Kebaktian, Makan Siang, Ramah Tamah yang berisi kata sambutan, pemutaran video biografi beliau, sumbangan lagu pujian dan video ucapan Selamat Hari Ulang Tahun serta pembagian door prize.

DSC_4336

Terselenggaranya acara ini dilandasi rasa syukur dari keluarga dan bentuk penghormatan serta penghargaan kepada orangtua kami yang telah hidup sekian lama dengan segala pasang surut kehidupan yang telah dilalui beliau dalam membesarkan 11 orang anaknya (7 orang anak laki-laki dan 4 orang anak perempuan) seperti cuplikan lagu yang dinyanyikan Pomparan kami untuk beliau,

Dang Alani Hagogoanki
Boi Ahu Mardalan di ngolungku
aut unang Ho na dilambungki
tung so boi ahu songonon

Hodo hagogoon manungkoli ahu

hubereng bohim laos martangiang ahu
mangido pangurupion diahu
sai tiop tangan hu sai togu ma ahu
ai Ho do Tuhan pargogo di ahu

=======================================

Bukan dengan kekuatanku
ku dapat jalani hidupku
tanpa Tuhan yang di sampingku
ku tak mampu sendiri…

Engkaulah kuatku yang menopang ku

Kupandang wajahmu dan berseru
pertolonganku datang dari-Mu
peganglah tanganku jangan lepaskan
KAU lah harapan dalam hidupku

Pendeta Hotma Pasaribu menyampaikan renungan mengenai bagaimana seorang anak mesti bersikap kepada orang tuanya, bagaimana memperlakukan orang tua yang telah membesarkan kita sejak dari dalam kandungan dan bagaimana Tuhan bertindak terhadap orang-orang yang hidupnya berkenan kepada NYA, seperti dalam kutipan ayat renungan dari Yesaya 46:3-4 berikut :

Yesaya 46:3 “Dengarkanlah Aku, hai kaum keturunan Yakub, hai semua orang yang masih tinggal dari keturunan Israel, hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung  sejak dari rahim

Yesaya 46:4 Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu  Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu

Serta dari

Mazmur 37:22 Sesungguhnya, orang-orang yang diberkati-Nya akan mewarisi negeri, tetapi orang-orang yang dikutuki-Nya akan dilenyapkan.

Mazmur 37:23 TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya;

Mazmur 37:24 apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya.

Mazmur 37:25 Dahulu aku muda, sekarang telah menjadi tua, tetapi tidak pernah kulihat orang benar ditinggalkan, atau anak cucunya meminta-minta roti;

Mazmur 37:26 tiap hari ia menaruh belas kasihan dan memberi pinjaman, dan anak cucunya menjadi berkat.

cucu

Foto dalam Ibadah Syukur HUT Omp Luhut Boru ke-91 bersama 21 cucu dan 7 cicit (dari 45 cucu dan 21 cicit)

asop

Masalah dan persoalan bukan tidak ada dalam kehidupan Inang dan keturunannya, namun kebaikan hati yang dilihat Tuhan ini membuat kehidupan orang benar akan terus dipimpin dan diberkati. Persoalan ada, tapi orang benar akan diberi hikmat untuk mengatasi persoalannya.

Kiranya Tuhan selalu menyatukan dan melembutkan hati satu sama lain, saudara ber saudara, keluarga demi keluarga di tengah segala persoalan yang kita hadapi, agar umur panjang penuh berkat dari Inang Ompung Luhut Boru ini akan diwarisi semua anak cucu dan keturunannya. Amin

 

Foto dari Adinda, Eda Op Chloe Loui dan Pribadi


Mendorong Anak Untuk Menulis

Aku memang suka menulis, walau masih asal menulis tapi aku merasakan banyak manfaat dari menulis, mulai dari catatan kecil sejak aku di sekolah dasar, buku harian (diary) di masa remaja dan akhirnya blog di masa sekarang. Harapanku, tentu mereka dapat setidaknya mempunyai minat yang sama, sehingga mereka juga dapat merasakan manfaat yang sama seperti yang aku rasakan.

Namun itu semua tidaklah mudah, apalagi di era sekarang, dimana anak-anak lebih menyukai mengirim pesan-pesan pendek dengan gadget melalui social media, update status dalam kalimat terbatas, bahkan disingkat-singkat sehingga sering terjadi salah interpretasi bagi orang lain.

Aku hanya mencoba mendorong mereka untuk menulis, dengan cara banyak membaca. Minimal dengan membaca, kita akan kaya pengalaman. Aku tidak memaksakan mereka untuk memiliki blog walau mereka tahu bahwa melalui blog, akan mudah bagi kita untuk sharing apa yang kita alami pada orang lain. Sulung sudah mulai membuat catatan-catatan singkat sejak ia duduk di SMP dalam buku notes, sedangkan Tengah lebih suka menulis melalui gadgetnya, yang menjadi masalah jika gadgetnya mengalami kerusakan, maka hilanglah semua data yang ada di sana tanpa bisa ditelusuri, kecuali jika sudah sempat di posting di media sosial.

20170208_072941

Tulisan Bungsu mengenai Sahabatnya. Foto adalah foto sahabat yang diceritakan dalam tulisan di atas

Semalam, aku terkejut dan terharu ketika si bungsu menunjukkan Tugas Pelajaran Agama, di mana dalam pelajaran tersebut, ia diminta untuk menuliskan mengenai Sahabat. Yang pertama, bukan hanya karena nilai 100 yang muncul dalam lembar kertas tersebut, namun juga isi tulisan yang dibuatnya, sungguh membuat terharu, bagaimana Bungsu menyampaikan bahwa sahabat yang saat ini melanjutkan sekolah di SMP yang berbeda dengan Bungsu, sama-sama merasakan kesedihan di hari perpisahan SD yang merupakan hari terakhir mereka berada di SD waktu itu. Kedua, kronologis tulisan itu begitu lembut mengalir, dari awal sampai dengan akhir. Ketiga, tugas itu dikerjakan sendiri pada hari Minggu malam, bukan di sekolah dan aku pun tidak tahu karena biasanya tugas sekolah sudah harus selesai di hari Sabtu. Mungkin tugas ini dikerjakan mendadak saat aku tertidur :-( yang berarti ia mengerjakan sendiri tanpa bantuan.

Aku tidak pernah memaksa anak-anakku untuk bisa menulis, tapi dengan dorongan yang tepat bisa membuat seorang anak mengungkapkan apa yang dirasakan, mengulang kembali ingatan masa lalu, melepaskan kesedihan dan kerinduan pada orang lain. Sejak di SD, Bungsu memang sering mendapat tugas menulis buku harian yang kadang dilakukannya dengan enggan, sebagai orang tua, aku selalu memeriksa hasil tugasnya setiap hari dan biasanya aku akan meminta Bungsu untuk memperjelas apa yang menjadi pendapatnya atau apa yang ia tuliskan. Rupanya dorongan seperti itu bisa membuat anak meningkatkan perbendaharaan kata, mengeksplorasi lingkungan dan daya pikirnya.

Itu saja yang ingin aku tuliskan hari ini, bahwa bukan nilai 100 yang membuat aku bangga, tapi dorongan orang tua setiap hari mampu membuat anak-anak menjadi “kaya”, ia mampu membuat tulisan yang sangat menyentuh perasaan (aku sebagai Ibu nya, tentunya) :-)

Beberapa pesan untuk orang tua yaitu jangan paksa anak untuk (belajar) menulis, belajarlah bersama mereka  menulis untuk meningkatkan perbendaharaan katanya, jangan mengintip tulisan anak sampai ia minta untuk diperiksa dan pujilah selalu apa yang ia tuliskan.

Love you Bungsu