Capucino Rasa Rindu

Aroma kopi memang selalu semerbak memenuhi rumah kami di sore hari. Aku suka kopi hitam dan dia suka capucino.

“Sayang, di mana kopiku?”


“Di atas partitur dekat piano…”

cap

Dia berjalan mencari cangkir kopinya, dan bertanya dengan lembut, seperti biasa,

“Lho…. kenapa kamu letakkan di sini? Kalau tumpah ke partiturku bagaimana?”

 

“Supaya aroma dan sedap rasa kopi ini, bisa langsung bertransformasi di atas tuts piano, untuk menginterpretasikan rasa rinduku yang njelimet ini….”

 

“Hm kamu ini…. sini duduk yang anteng, akan kumainkan lagu untukmu,”

ia menarik kursi piano, duduk di atasnya, dan membuka penutup piano, jari-jarinya mulai menari di atas tuts piano setelah dalam sekejap menyeruput setengah cangkir capucino rasa rindu, yang masih hangat itu

Aku duduk manis di sebelahnya, menikmati Lagu Cinta yang ia mainkan untukku, sambil menikmati kopi hitamku. Kurang apa lagi? Sempurna, bersamamu.

 


#delarasngopi


Life Is Like Climbing A Mountain

Quote

Life Is Like Climbing a Mountain. Just as if we have to quench to climb the top of a mountain, we always have a strong desire somewhere in our heart to reach the height of success.

 

Each stopping point serves as a goal we have set for ourselves in our lives and each climb is like a journey to achieve the high point.

 

Life may be challenging and frustrating at first. Nevertheless, there is a feeling of achievement after each successful climb.

 

In the end, we are awarded a panoramic and tranquil view of the world. It is your ultimate achievement

 

~ Unknown

climbQuote yang selalu memberikan semangat untuk hidup dan terus merayap ke atas. Hidup tak mungkin tanpa masalah, pasti ada hal baru yang akan kita hadapi di depan kita, yang tak pernah kita tahu itu apa. Sama seperti mendaki gunung, walau kita tahu puncak itu yang kita tuju. Kita sudah tahu arah tujuan kita apa dalam hidup ini tapi kita ga tahu apa saja yang akan kita hadapi di depan. Prediksi tentu ada. Sama seperti naik gunung, kita tahu jalan akan berbatu, terjal, licin, ada tebing di kiri kanan, akan turun kabut, ada lintah, nyamuk, belum lagi kejadian dari dalam diri, seperti kram otot, kebelet (ups….), lapar, dingin dan banyak hal lagi, karena itu melangkah dalam hidup (~ naik gunung) perlu persiapan matang. Kalau naik gunung, ya mesti pemanasan, yang aman jogging minimal dua minggu sebelum naik, selama 30 menit setiap hari. Bawa persiapan ini itu. Demikian juga untuk hidup ini. Matang atau ga matang pun, kita harus melangkah, selangkah sekali pun ya harus mulai naik.

Hm jadi panjang ya ceritanya. Kalau naik gunung, yang pasti aku kangenin ya lihat edelweis yang kalau disentuh, lembut-lembut gimana gitu, gabes-gabes kata orang Jawa, soft banget kayak spon, tapi dia luar biasa tangguh, tahan badai dan tahan uji, ingat ya kalau kamu cinta lingkungan, jangan sekali-kali kamu petik, cukup difoto aja dan foto bareng bunga edelweis, petik sekuntum buat tanda cinta kasihmu boleh juga kok, hehe…..eits jangaan….kalau ribuan pendaki masing-masing ambil sekuntum, wah ya bahaya. Oh ya aku suka sedih kalau lihat bunga edelweis dijualin di bawah, lalu dicat warna warni, kayak gimana gitu rasanya.

Edelweis pertamaku adalah dari Gunung Gede (tahun 1986), masih ada sampai sekarang. Kapan-kapan aku ceritakan di postingan yang lain ya. Naik gunung pertama tanpa persiapan matang, Puji Tuhan aku selamat dan ga tepar.

Nah kalau hidup, apa yang ingin kita raih, ya target-target yang sudah dibuat di awal. Ga mudah. Tapi kita pasti bisa. Mungkin ada sedikit penyesuaian-penyesuaian, misalnya target semula A, jadi target A minus. Atau tetap mencapai target A tapi lewat jalan Y, bukan jalan X.

Yuk semangat ya, apa pun yang kita akan hadapi, tetap kuat, serahkan semuanya pada Allah semata. Usaha dan Berdoa. :-)


Promo Buku : Bus and Love, Kumpulan Fiksi Mini

Selamat siang pembaca setia de Laras, kembali menyapa ya. Kembali promo buku ke-8 yang akan terbit di 2019 ini, masih buku Antologi bersama penulis di Komunitas Perempuan Perempuan Menulis (P2M).

Bagi teman FB yang lain, semoga tidak jengah membaca promo buku dari kami ya, karena ada sebuah kebahagiaan yang tak terkira dari para penulis jika sudah memperoleh kabar bahwa buku sedang dalam proses terbit. Nah tak seru kan kalau berita bahagia ini tidak dibagikan kepada teman-teman FB dan terutama para pembaca setia de Laras.

Nah apa uniknya buku “BUS and LOVE” ini? Buku dengan gambar yang manis ini berisi dua tema yang berpadu dan menuturkan cerita menarik dalam keseharian kita. Siapa yang tidak pernah naik bis? pasti sebagian besar pernah kan? Nah pasti banyak kisah terjadi di sana kan, mulai dari bis mogok, bis berhantu sampai ketemu pacar atau jodoh dalam bis. Iya gak. Sedangkan tentang cinta, uh yang ini sih pasti ga ada habisnya kalau diceritakan, pasti ada aja, mulai dari yang rasanya asem manis sampai pedes pasti ada kalau sudah soal cinta. Semuanya dikemas dalam fiksi mini yang hanya 250 sampai dengan 1.000 kata, yang ringan dan kena di hati. Ga berat-berat. Asik deh pokoknya.

WhatsApp Image 2019-06-29 at 14.04.58

Nah …. aku sendiri menulis apa dalam buku ini? Ada dua cerita yang aku buat. Yang pertama, untuk tema BUS, dalam 250 kata. Aku menulis cerita berjudul Partitur yang Tertinggal. Nah buat yang sudah sempat membaca potongan fiksi mini “Partitur yang Tertinggal” baca cerita lengkapnya di sini. Setting lokasinya mengambil Koln, Jerman, Mai 2019, saat cerita itu dituliskan.

Sedangkan untuk tema LOVE dalam 1.000 kata, aku menuliskan cerita berjudul Cintaku Di Taman Baca, yang ga kalah serunya karena cinta yang tidak biasa, cinta dari suara seorang relawan pembaca cerita. Hm seru kan, bagaimana getar cinta itu bisa terjadi ya?

Dua ceritaku ini berpadu dengan tulisan dari penulis piawai — with Komunitas Perempuan-Perempuan Menulis and Melly Waty tentunya. Mari selamat membaca dan memiliki koleksinya. Silakan tinggalkan pesan dalam kolom komentar, jika ingin memesan buku ini selagi persediaan masih ada 😉