Selamat Hari Guru, Guru dan Mentorku !

Kata “Guru” dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari kata – Digugu (dapat dipercaya) dan Ditiru. Sehingga kata ini dapat berarti bahwa Guru adalah sosok yang patut dipercaya karena keahliannya dan dapat ditiru.
 
Namun, di masa sekarang, sosok Guru tak hanya bertanggungjawab untuk masalah keahlian atau pengetahuan saja. Guru juga mengajarkan moral, etika, integritas dan karakter serta nilai-nilai kehidupan.
 
Ada banyak Mbak Guru yang kutemui, justru di usiaku yang tidak muda lagi, dan salah satunya adalah Mbak Deka Amalia Ridwan. Dalam prosesku bertumbuh sebagai seorang penulis, mbak Deka turut berperan di dalamnya, walau hanya melalui tutorial online dalam Komunitas Penulis, namun juga menjadi mentor dalam penerbitan buku-bukuku. Mbak Deka bersedia di japri (dihubungi secara pribadi) berkaitan dengan penulisan naskah. Mbak Deka, Guru dan Mentor, dalam urusan tulis menulis, sampai urusan penerbitan dan pemasaran buku.
 
dekaadj
Selamat Hari Guru Nasional 2018

HUT ke – 22

Selamat HUT kak Dita Andita Silalahi sehat panjang umur, doa yang terbaik buatmu, boru panggoaran, cucu tertua Eyang, harapan keluarga kita dan harapan keluarga besar, baik di Silalàhi, Soegeng, mau pun Manihuruk
 
Teladan buat kedua adikmu, Arum Leona Aditia Arum Silalahi dan Daniel. Panutan bagi adik2mu di PSAE.
 
Kuat ya kak dalam menghadapi segala sesuatu di depanmu, semua adalah proses hidup, bukan akhir dr segalanya, perjalanan msh panjang, realita indah menantimu di ujung sana.
 
Tuhan tak akan membiarkan anak2NYA jatuh tergeletak. Tuhan selalu menopangmu, bukan di samping, depan atau belakangmu tapi bersamamu, Tuhan menggendongmu.
 
Kuat ya kakak, hidup bahagia adalah pilihan dan itu cuma kamu yg bisa tentukan, bukan siapa2. Syukuri yg boleh terjadi.
 
Selamat HUT dari kami semua, yang menantimu, merindukanmu dan selalu mendoakanmu dalam setiap nafas kami
tum

“SUDAH SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI “

 Selamat pagi. Renungan Copas dari seorang teman

“SUDAH SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI “

Pernahkah kita melihat atau mengenal seseorang yang tetap sabar dan tenang saat mendapat musibah ? Dan sama tenangnya saat mendapat keberuntungan ?
Tetap terkendali dan sabar saat difitnah, diejek dan dicaci, sebaliknya juga bersikap kalem saat disanjung ?

 

Tetap santun dan rendah hati saat mendapat kekuasaan atau menjadi pimpinan, dan juga saat menjadi bawahan

 

Bersikap biasa saja ketika makan di restoran mewah dan tidak menolak makan di warung sederhana di pinggir jalan

 

Tidak bangga saat naik mobil mewah dan tidak minder saat naik bajaj atau bus umum

 

Tidak rakus dan tidak menimbun saat diberi kesempatan kaya, dan tidak mengeluh saat jatuh miskin

 

Menggunakan sandang-papan dan peralatan untuk dimanfaatkan fungsinya, bukan untuk dipamerkan mereknya

 

Mata mereka sudah tidak silau, dan tidak tergoda dengan indahnya bungkus atau pernak pernik asesoris

 

MEREKA LEBIH MEMILIH ARTI HIDUP

 

Memilih teman tanpa membedakan status sosial, gelar atau posisi

 

Orang-orang seperti ini, adalah orang-orang yang sudah “SELESAI DENGAN DIRINYA SENDIRI”

 

Kakinya menapak bumi dan menjalani realitas, tetapi JIWANYA sudah berada di ‘Langit’

 

Ego atau ke ‘aku’ annya sudah ditaklukkannya. Buat mereka, kehidupan di atas bumi yang mereka jalani hanyalah sekedar peran-peran fana dari Sang Khalik yang Maha Agung.

 

Tampilan orang-orang seperti ini mungkin kurang seru atau kurang asik, dan tidak banyak orang-orang seperti ini.

 

Tapi carilah mereka…DAN JADIKAN MEREKA SAHABAT SEJATI. Bila tak kau temukan, maka jadilah mereka.

 
*terima kasih untuk kamu, yang sudah berbagi di Senin pagi, 8 Okt 2018 😉