Draft Novel : Keagungan Manah, Menepis Denting Nurani

Update terbaru, September 2020 : Setelah tidak lolos dalam seleksi di GWP, re-write dan self editing ulang, aku kirimkan naskahku ke penerbit mayor yang lain, yaitu Noura Books. Semoga berhasil dan diperkenan Tuhan.

Puji Tuhan, setelah dua tahun jatuh bangun dalam penggarapan, akhirnya tamat dalam 18 bab.

Screenshot_2020-07-24-00-29-23

Saat ini draft naskah novel ini diikutsertakan dalam Event Gramedia Writing Project #gwp2020

Mohon dukungan teman-teman untuk membaca, memberi ?atau komentar, semoga naskah ini terpilih untuk diterbitkan di salah satu dari sekian penerbit keren di Indonesia

Link ada di sini ya

Terima kasih pada kakak model cover, fotografer, mbak Shinta editor, Bapak Prof yang ikut rembug judul naskah ini, teman dan sahabat yang selalu jadi sumber inspirasi serta keluargaku. Juga kalian semua yang bersedia intip-intip ceritaku ?

#delarasnovel #keagunganmanah @gwp_id


Mengenang Sapardi Djoko Damono

Indonesia kembali berduka. Setelah berpulangnya WS Rendra, hari ini sastrawan dan juga penyair legendaris, yang dikenal dengan panggilan Eyang Sapardi tiada. Terkenal dengan puisinya yang amat membumi. Mudah dicerna. Tapi tetap berkelas dan berbobot. Diksi yang tepat membuat hati pembaca langsung jleb, begitu istilah anak muda sekarang. Kena sasaran.

Wikipedia menulis, Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940 – meninggal di Tangerang Selatan, 19 Juli 2020 pada umur 80 tahun) adalah seorang pujangga berkebangsaan Indonesia terkemuka. Ia kerap dipanggil dengan singkatan namanya, SDD. SDD dikenal melalui berbagai puisinya mengenai hal-hal sederhana namun penuh makna kehidupan, sehingga beberapa di antaranya sangat populer, baik di kalangan sastrawan maupun khalayak umum.

Aku sudah menyukai karyanya sejak beberapa tahun terakhir. Pada awalnya aku tidak suka puisi karena terkesan cengeng dan tak berdaya. Namun karya beliau dan beberapa penyair kerap memberi kekuatan dalam pilihan katanya.

Dalam beberapa karya beliau, Eyang Sapardi beberapa kali mengungkapkan mengenai keabadian. seperti ungkapan ÿang fana adalah waktu, kita abadi”dan juga  kumpulan puisi duka-Mu Abadi, yang terbit tahun 1969. Serta puisi berikut ini

sap1

Bersyukur pada tahun 2019, melalui Gerakan Menulis Bersama, aku lolos berada dalam program Sebuku bersama Eyang Sapardi dalamm buku Menenun Rinai Hujan Jilid keempat. Suatu kebanggaan bisa bersama tokoh yang melegenda ini.

sap2

Selamat jalan Eyang Sapardi, beristirahatlah dalam keabadian, di tangan Allah yang maha pengasih. Kami akan melanjutkan karya-karyamu dan terus menjadikan Eyang sebagai sumber inspirasi dan semangat kami.


Buku Antologi : Kapan ke Yogya Lagi?

Yogyakarta? Menulis tentang Yogyakarta? Wah aku langsung menyetujui ketika Mbak Mutiara Hidayati melontarkan ide itu di Komunitas Menulis dengan Hati. Siapa yang menolak. Yogya selalu ngangeni. Selalu ada cerita tentang Yogya. Apa aja? Banyaaaak. Apa karena aku orang Yogya? Hehe…. hawa Yogya selalu memanggil-manggil. Makanannya, suasananya, orang-orangnya, becaknya, pasarnya, batiknya, kue-kuenya dan angkringannya, juga tempat wisatanya….hiks kangen banget sama Yogya.

Menurut Mbak Mutiara, Yogyakarta memiliki 16 julukan, antara lain disebut Kota Pelajar dan Kota Sepeda. Siapapun yang pernah berkunjung, pasti berharap suatu hari akan kembali. Yogya selalu punya kisah untuk diceritakan karena Yogya memang istimewa.

Nah buat kamu kamu yang kangen Yogya, seperti saya, dan juga punya berjuta kenangan di sana, mari baca 14 kisah para penulis dalam Buku Antologi “Kapan ke Yogya Lagi?”

Buku setebal 175 halaman, dengan ukuran 14×21 cm ini merupakan Kumpulan Cerpen atau Kisah dari 14 penulis, yang diterbitkan oleh Goresan Pena, beralamat di Kuningan, Jawa Barat. Disain sampul kerennya dibuat oleh Mutua Tsany Faisa.

IMG_20200701_093313_451

Berminat membaca kisah kami dalam buku ini? Bisa hubungi aku atau ke Tiara Book Store ya. Selamat melepaskan rindu pada Yogyakarta.