Buku Baru : 101 Travel Tips and Stories Indonesia, Claudia Kaunang Dkk

Puji Tuhan, akhirnya buku ini terbit dan berada dalam deretan buku BEST SELLER di Toko Buku Gramedia. Walaupun ini bukan buku solo ku tapi tentunya aku sangat gembira karena ada tulisanku di dalam kedua buku ini.

bs1

bs2

101 Travel Tips & Stories Indonesia adalah perpaduan antara “Travel Guidebook” dan “Travelogue”, buku ini terdiri dari dua buku. Keduanya merupakan buku  antologi traveling dengan destinasi daerah-daerah di Nusantara. Awal penulisannya sejak pembukaan penawaran menjadi kontributor pada bulan Februari 2015 dan dalam proses panjang, buku yang diprakarsai penulis kondang Claudia Kaunang ini akhirnya terbit di pertengahan Agustus 2017.

ck1

Dalam buku pertama, kita  bisa menemukan tips dan cerita wisata di Banda Aceh, Bengkulu, Lampung, Cirebon, Semarang, Demak, Karimun Jawa, Sambas, Pontianak, Bali, Kupang, Makassar, dan Wakatobi.

Sedangkan dalam buku kedua, kita  bisa menemukan tips dan cerita wisata di Medan, Padang, Palembang, Belitung, Magelang, Solo, Bawean, Malang, Singkawang, Samarinda, Lombok, Kendari, dan Buton.

Ada beberapa bagian dalam setiap buku, yaitu First Timer Guide, Travel Better, Eat Cheaper, Shop Smarter dan Stories and Sharing.

  • Pemula di dunia perjalanan? Bagian “First-Timer Guide” dibuat khusus untukmu.
  • Sering jalan-jalan dan mau tahu tips dan trik traveling supaya perjalanan berikutnya lebih baik? Silakan baca bagian “Travel Better”.
  • Suka wisata kuliner dan belanja? Coba baca bagian “Eat Cheaper” dan “Shop Smarter” yang berisi banyak rekomendasi pilihan.
  • Dan entah kamu traveler pemula atau ahli, belum pernah atau sudah terlalu sering jalan-jalan, bagian “Stories & Sharing” bisa menghibur serta memberimu inspirasi bahwa selalu ada cerita di balik setiap perjalanan.

Total ada 23 traveler bergabung dengan Claudia Kaunang untuk menulis antologi ini. Dalam buku pertama, mereka ada sebelas traveler yaitu  Ferhat Muchtar (Banda Aceh), Dian Maharani (Bengkulu), Anjar Anastasia (Lampung), Donna Widjajanto (Cirebon), Mita Vacariani (Semarang), Dian Nafi (Demak), Bondny (Karimun Jawa,Wakatobi), Ana Westy (Sambas), Yeni Harmastuti (Pontianak), Mariana Ikun Pareira (Kupang), dan Diadjeng Laraswati (Makassar).

teks cover 101 Travel Tips & Stories Indonesia Buku 1_100317.indd

Sedangkan dalam buku kedua, ada dua belas traveler bergabung dengan Claudia Kaunang yaitu Maya Malahayati (Medan), Indrawati Rahardjo (Padang), Rosmayanti Mutiara (Palembang), Donna Widjajanto (Belitung), Hendra Fu (Solo), Denny Sugardo (Bawean), Dwi Astuti (Malang), Ana Westy (Singkawang), Theresia Mening (Samarinda), Herma Suhaini (Lombok), Diadjeng Laraswati (Kendari), dan Bondny (Buton).

teks cover 101 Travel Tips & Stories Indonesia Buku 1_100317.indd

Aku, mereka dan kita semua membuktikan bahwa Indonesia terlalu indah untuk dilewatkan. Jadi, tunggu apa lagi, yuk siapkan ransel dan mari kita jalan-jalan menjelajah negeri Indonesia tercinta, dengan membawa buku ini sesuai dengan destinasi yang kita tuju. Buku sudah tersedia di Toko Buku Gramedia.

  • Author Claudia Kaunang Dkk No GM  617217008 ISBN 978-602-03-3165-2 Price  Rp 78.000 Size 13.5x20cm Total Pages  288 pages Date Publsihed 14 Aug, 2017 Category Reference and Dictionary
  • Author  Claudia Kaunang Dkk No GM 617217009 ISBN 978-602-03-3159-1 Price  Rp 78.000 Size  13.5x20cm Total Pages  288 pages Date Publsihed 14 Aug,2017 Category Reference and Dictionary

Sumber : Gramedia Pustaka Utama


“Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” ~ Tere Liye

Di usia yang sudah ga remaja alias semakin menua ini, aku memang semakin selektif memilih buku. Walau kadang sudah selektif pun masih terjebak dalam kesalahan yang sama. Novel memang tergantung pada selera pembaca. Bukan pilih-pilih karena novel itu ga bagus atau aku yang udah jago nulis, engga, bukan karena itu, tapi memang lebih pada selera pembaca dan gaya bahasa penulis nya saja, yang dulu aku suka dengan gaya romantis macam Shidney Sheldon dan Danielle Steel atau yang misteri detektif macam Agatha Christie, sekarang aku lebih memilih novel yang ringan tapi maknanya dalam, sehingga sepadan antara waktu yang digunakan untuk membaca dengan inspirasi yang aku dapat setelah membaca buku.

tere2

Singkat cerita, aku sedang sengaja mencari beberapa novel pada suatu siang di Gramedia World BSD dan takjub dengan toko buku yang penuh dengan buku-buku baru dan keren-keren, tapi pilihan akhirnya jatuh pada sebuah buku berjudul asli menggunakan bahasa Indonesia yang berjudul “Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin” di antara sekian banyak buku keren pengarang Indonesia yang judulnya bercampur baur antara Bahasa Indonesia dan bahasa asing. Dari judulnya saja sudah Indonesia banget dan juga pilihan katanya yang unik. Info saja, hari itu aku memang juga memilih buku dari pengarang Ika Natassa, yang sudah aku review di postingan sebelumnya. Itu juga buku pertama Ika yang aku baca sampai tuntas, demikian juga ini buku pertama Tere Liye yang aku baca dan bersyukur banget kalau aku ga salah pilih.

Ceritanya sederhana, membumi, kejadian yang bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja. Bukan cinta yang tiba-tiba tapi cinta dari rasa kagum, yang tumbuh sejak masa kanak-kanak sampai dewasa. Cinta pada sang malaikat, yang juga manusia biasa. Daun yang jatuh memang tak pernah akan bisa membenci angin karena angin juga bertiup bukan karena keinginannya tapi karena kejadian alam, yang mana di sana tangan Sang Pencipta yang bekerja.

Buku ini keren banget menurutku, walau alur ceritanya menggunakan alur balik (flash back) tapi mudah diikuti karena tokohnya tidak banyak, kata-katanya sederhana dengan pemilihan tempat kejadian yang bisa terbayang oleh siapa saja yang membaca. Namun mampu mengaduk-aduk isi hati pembaca, dimulai dari kepedulian seorang karyawan pada anak-anak jalanan karena ia sendiri juga anak yang tumbuh sebagai anak yatim piatu.

Waktu yang aku gunakan tak berakhir sia-sia, kembali pada tulisan di awal, waktu memang terbatas untuk membaca novel, ini pun aku membaca dalam beberapa babak karena satu dan lain hal. Buku ini sarat kata dan makna yang dalam, yang bisa saja terjadi pada kita.

Hal 232 ~ Dedaunan yang kering dan jatuh dari tangkainya mengombak di rumput taman. Siluet bentuk “hati-hati” yang kecokelatan memenuhi sepanjang kakiku menjejak. Mengering. Getas. Berbunyi saat terinjak

Dilihat dari rating details dalam Goodreads.com, novel ini mendapat nilai rata-rata 3.96, sementara aku sebagai bagian dari 38% pembaca memberi nilai 5 alias sempurna.

91% of people liked it

All editions: 3.96 average rating, 9638 ratings, 846 reviews, added by 33136 people, 18525 to-reads
This edition: 3.96 average rating, 9616 ratings, 839 reviews, added by 33086 people

Beberapa quote dalam buku ini,

“Daun yang jatuh tak pernak membenci angin. Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya.”

“Orang yang memendam perasaan seringkali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.”

“Kebaikan itu memang tak selalu harus berbentuk sesuatu yang terlihat.”

“Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian disekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.”

“Sebenarnya penjelasan yang lebih baik adalah karena aku sering kali berubah pikiran. Semuanya menjadi absurd. Bukan ragu-ragu atau plintat-plintut, tetapi karena memang itulah tabiat burukku sekarang, berbagai paradoks itu. Bilang iya tetapi tidak. Bilang tidak, tetapi iya. Terkadang iya dan tidak sudah tidak jelas lagi perbedaannya.”

“Kau membunuh setiap pucuk perasaan itu. Tumbuh satu langsung kau pangkas. Bersemi satu langsung kau injak? Menyeruak satu langsung kau cabut tanpa ampun? Kau tak pernah memberi kesempatan. Karena itu tak mungkin bagimu? Kau malu mengakuinya walau sedang sendiri..Kau lupa, aku tumbuh menjadi dewasa seperti yang kau harapkan. Dan tunas-tunas perasaanmu tak bisa kaupangkas lagi. Semakin kau tikam, dia tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kau injak, helai daun barunya semakin banyak.”

“Cinta tak harus memiliki. Tak ada yang sempurna dalam kehidupan ini. Dia memang sangat sempurna. Tabiatnya, kebaikannya, semuanya. Tetapi dia tidak sempurna. Hanya cinta yang sempurna.”

“Benci? Entahlah. Tak mungkin membenci tapi masih rajin bertanya. Atau memang ada benci jenis baru?”

Dan salah satu yang terasa jleb di hati, adalah perkataan Danar sang malaikat kepada Tania,

“Tania, kehidupan harus berlanjut. Ketika kau kehilangan semangat, ingatlah kata-kataku dulu. Kehidupan ini seperti daun yang jatuh. Biarkanlah angin yang menerbangkannya.”

 

Paperback, 264 pages
Published June 21st 2016 by Gramedia Pustaka Utama (first published June 2010)
Original Title Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin
ISBN13 9786020331607
Edition Language Indonesian
Selamat membaca :-)

“Disayang Itu Menyenangkan” ~ Ika Natassa (TAoL)

Jujur baru kali ini aku membaca novel Ika Natassa tuntas dari awal sampai dengan akhir. Tapi ngomong-ngomong ini bukan review atau resensi buku lho tapi lebih sekedar pendapat aku saja sebagai pembaca novel pertamanya Ika. Sesuai dengan profesionalitasnya baik sebagai pegawai bank ataupun seorang penulis yang telah menulis banyak buku, terbaca bahwa Ika memang keren, ia bisa sangat detil dalam menuliskan banyak hal untuk mendekripsikan sesuatu – terlalu detil malah, sehingga buat pembaca seperti aku yang kadang tidak membutuhkan deskripsi sedetil itu malah banyak melewati bagian tersebut.

2017-04-20 08.26.13

Awal melihat judulnya The Architecture of Love (TAoL) dan ditulis oleh seorang Ika Natassa, aku membayangkan ada kehancuran sebuah bangunan cinta yang akhirnya didesain ulang dan dibangun kembali menjadi sebuah bangunan baru yang jauh lebih indah. Sebenarnya arah ke sana “dapat” juga sih karena memang ada dua hati yang hancur sesungguhnya tapi tata ulang arsitekturnya yang kurang keliatan selain tokoh bernama River yang suka menggambar, termasuk menggambar bangunan-bangunan itu.

Secara keseluruhan novel ini bagus, apalagi buat aku yang membayangkan bagaimana proses menulis sebuah novel perlu usaha yang panjang dan waktu yang (cukup) lama. Mengambil setting lokasi di New York seolah pembaca dibawa pergi ke sana dengan penggambaran detil dari Ika. Menurut aku pribadi, masalah yang diungkap cukup sederhana, yaitu bertemunya dua orang yang pernah terluka dan kembali menemukan cinta mereka. Alurnya juga mengalir dengan baik, walau terasa maju mundur seperti biasa umumnya kisah kasih dua sejoli. Klimaksnya dimana ya ? Saat bertemu lagi di pesta pernikahan keluarga Raia ? Oh – mungkin. Sedang endingnya jadi gimana ini akhirnya cuma segitu aja, maksudnya oke “aku mau kamu” – “I can live with it” – memahami dan dipahami, that’s it !

Selain itu menurut ku, novel Ika ini memang banyak menggunakan bahasa Inggris baik dalam percakapan termasuk quote-quotenya dan juga hal-hal yang up to date atau modern, namun kemungkinan juga hal ini tidak banyak bisa dipahami oleh pembaca dalam berbagai latar belakang. Istilah kerennya high class, walau menurut beberapa ulasan, novel ini termasuk yang membumi

Buat aku yang punya “napas pendek” alias hanya mampu menulis artikel atau cerita pendek, novel setebal 300 halaman itu ya pasti oke lah, tapi sebenarnya emosi pembaca masih bisa digali tuh dari kisah Raia dan River di masa lalu, bukan hanya pada pertemuan Raia dan River yang sepertinya kok “kurang dalam” ya karena masih ada kesan “gantung” nya River belum sungguh melupakan kepergian istrinya dan Raia yang masih ragu apakah dia menjadi bagian dari tujuan hidup River ataukah hanya sebuah persinggahan.

Oh ya sebagai pecinta buku dan toko buku, aku suka banget dengan deskripsi toko buku di Episode 22 dan bertanya-tanya adakah seperti itu di Jakarta atau Tangerang, tentu akan sangat menyenangkan, apalagi jika sebuah toko buku itu mudah dijangkau oleh siapa saja, dalam arti bukan di dalam sebuah pertokoan mewah, hm mimpiku :-)

Maaf kan kalau aku hanya bisa berikan nilai 3.5 saja dari 5 untuk buku ini, satu quote yang tak bisa dielakkan dan dipungkiri oleh siapa pun yaitu

“Disayang itu menyenangkan” ~ Ika Natassa (The Architecture of Love)

Jumlah halaman 304 hal
Dipublikasi 10 Juni 2016 oleh Gramedia Pustaka Utama
The Architecture of Love
 Literary Awards :
  • Anugerah Pembaca Indonesia for Sampul Buku Fiksi Terfavorit Nominasi Buku dan
  • Penulis Fiksi Terfavorit – Shortlist (2016)

Selamat membaca 😉