Tekun Dan Kreatif Kain Shibori

Aku mulai belajar teknik pencelupan atau pewarnaan atau Tie Dye dari Jepang yang biasa dikenal dengan SHIBORI ini pada bulan November 2016. Berbekal dengan pengajaran Mbak Natalia dari Wewo Craft dalam workshop beberapa jam itu, aku kembangkan dengan belajar dari media lain juga seperti You Tube atau pun Pinterest.

ind1

Sama seperti pada umumnya kegiatan yang berkaitan dengan kerajinan, seni atau keterampilan, selain ketekunan tentu dibutuhkan kreativitas. Kita harus mengembangkan sendiri apa yang sudah kita pelajari dalam workshop, dengan imajinasi dan kreativitas kita sendiri, agar karya kita menjadi unik.

Beberapa hari setelah workshop, aku mencoba membuat lagi kain shibori dengan teknik yang sudah kupelajari. Dengan berbekal percaya diri saja, aku upload hasil karya tersebut di media sosial dan Puji Tuhan beberapa teman menyukai dan berminat mengadopsi, bahkan ada yang berminat untuk belajar.

Hambatan dalam menjalankan usaha ini hampir tidak ada, Shibori bisa dipelajari siapa saja tanpa perlu keahlian khusus. Jika ingin menjadikan karya lebih unik, berbeda dengan yang orang lain punya, maka perlu kreativitas sedikit, misal pada saat melipat, mewarnai (mencelup atau memberi warna) atau membuat pola jelujur.

Hal lain yang menjadi hambatan atau kesulitan saat aku ingin memberi nilai tambah pada kain shiboriku. Misal, agar kain shiboriku dapat langsung digunakan sebagai kain lilit atau kerudung, tentu pelanggan lebih menyukai jika kain sudah di-neci (dijahit pinggirannya). Jika ingin digunakan sebagai pasmina, maka ada pelanggan yang ingin diberi rumbai-rumbai atau variasi di kedua bagian ujung kain. Kain juga bisa dibuat sarung bantal, dompet atau tas bahkan blus simpel. Nah kendala baru muncul di sini karena aku tidak punya mesin jahit dan tenaga penjahit sendiri, jadi masih tergantung pada tenaga lain dan tentu ini membuat biaya produksi menjadi lebih tinggi.

Kalau aku mendapat modal tambahan, rencana ke depan aku akan menggunakannya untuk membenahi rak penyimpanan bahan material seperti kain yang belum diproses, pewarna, benang, dan alat-alat yang digunakan untuk proses shibori, gantungan untuk mendisplay kain shibori siap pakai, dan terutama untuk membeli mesin jahit, sehingga ongkos produksi kain shibori siap pakai dapat ditekan.

Buat anak muda atau siapa pun yang ingin mencoba usaha di bidang ini, pembuatan kain shibori, keterampilan dan kerajinan ini hanya butuh ketekunan dan kreativitas. Butuh modal, itu sudah pasti, tapi itu tidak besar, siapa pun bisa memulainya dengan biaya seminim mungkin. Cukup dengan selembar kain dan pewarna saja.

Jika kamu benar-benar tidak mampu dan tidak punya dana untuk mengikuti workshop, mari datang ke Rumah Tanjung, kamu bisa belajar gratis di sini. Tetap semangat karena masa depanmu ada di tanganmu.

#DBSSmartPreneur #LiveMore #DBSBank


Workshop Shibori Bersama Mbak Dayu Jiwa

Kenapa pergi pagi-pagi dengan semangat ke Jakarta ? Ini dia  alasannya yaitu mau mengikuti Workshop Shibori bersama salah seorang pakar Shibori Indonesia, mbak Dayu Jiwa dan sekaligus melihat pameran kain wastra Indonesia bertema Merah Putih, yang diselenggarakan di Museum Tekstil Indonesia sejak tanggal 12 Agustus 2017 sampai dengan tanggal 26 Agustus 2017.

Tiba di Museum Tekstil yang dipenuhi pohon rindang, membuat aku bersemangat bergegas menuju teras belakang, begitu kata bapak penjaga di pintu masuk, sekaligus penjual tiket masuk Museum Tekstil.

Workshop yang aku ikuti ini berjudul “Hinode dan Tazuna”, tapi di board workshop tertulis “Yanagi/Tazuna/Hinode” wow tiga teknik, baiklah aku langsung menuju teras yang sejuk karena angin sepoi-sepoi dan mencari wajah Mbak Dayu Jiwa yang manis di antara peserta dan pengunjung.

DSCN0643Sebelum Workshop (sebelum basah dan keringetan) berfoto dulu bersama panutanku, Mbak Dayu

DSCN0644Setiap kami duduk di bangku yang sudah disediakan, dengan celemek bertuliskan nama peserta, materi sudah siap di meja di hadapan tiap peserta

DSCN0647Setelah menunggu beberapa peserta lagi, workshop pun dimulai. Mbak Dayu memberikan penjelasan dengan gayanya yang khas, di antara penjelasan, peserta dipersilakan untuk bertanya

Hinode adalah teknik shibori yang merupakan pengembangan dari itajime dan tesuji, dimana di dalamnya ada teknik melipat, mengikat, menjelujur dan merekatkan. Dalam Shibori, beda ikatan akan menghasilkan hasil yang berbeda.

w3Pada workshop ini, aku dan peserta bukan hanya mendapat 2 atau 3 teknik, tapi 5 dan 4 di antaranya dipraktekkan, senang sekali rasanya mendapat pelajaran dan pengalaman seperti ini, yaitu Hinode, Yanagi, Koboshi, Tazuna dan Sutoraipu.

Tazuna lebih mudah dan lebih cepat dalam proses pembuatannya, tapi memerlukan kekuatan maksimal dalam menarik ikatan benang di atas kain yang sudah diwiru sebelumnya ke atas tali atau tambang.

DSCN0653Setiap tahap diajarkan satu per  satu oleh Mbak Dayu. Setelah selesai mengikat kain, kami mulai mempersiapkan air panas dan air dingin, untuk membuat pewarna naptol. Mbak Dayu menyampaikan bahwa tidak semua pewarna bisa untuk semua teknik. Ada pewarna yang hanya bisa digunakan untuk teknik tertentu saja. Beberapa hal mengenai pewarnaan juga didiskusikan dalam kelompok ini.

w1Peserta serius santai mendengarkan dan mencatat penjelasan Mbak Dayu.

Ikat Mengikat

Ikat Mengikat

IMG-20170826-WA0030

DSCN0654

Siap diceluo pewarna

DSCN0656

Kain setelah dicelup, ditiriskan

Shibori selalu menyenangkan, walau hasil masih belum maksimal, tapi hasil karya shibori selalu unik dan menarik.

Kami akhiri pertemuan workshop yang seru ini dengan foto bersama, yang dilalui selama tiga jam tanpa terasa ini dengan penuh suka cita.

21034222_10210335348800285_2290525337986286255_nSenangnya, bisa mendapat kesempatan belajar bersama Mbak Dayu Jiwa, terima kasih ilmunya, terima kasih sharingnya, semoga dapat berjumpa lagi :-)

Foto : Pribadi, Mbak Dayu dan Teman2 di grup


Pameran Kriya Wastra Indonesia, Museum Tekstil, Jakarta

Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan RI yang ke-72, Perkumpulan Wastra Indonesia menyelenggarakan Pameran Kriya Wastra yang untuk pertama kalinya diadakan di Museum Tekstil Indonesia, Jakarta Pusat, sd 26 Agustus 2017.

DSCN0633 DSCN0634 DSCN0635Selain pameran kain Indonesia bertema Merah Putih, diadakan juga berbagai workshop yang berkaitan dengan kain dan batik serta shibori bertema Merah Putih juga.

Pameran didominasi dengan karya 72 pengrajin kain perca. Luar biasa karya mereka, salut dengan kreativitas dan hasil karyanya yang begitu teliti dan rumit menurut aku.

DSCN0640Selain karya berupa kain perca terdapat juga pameran berbagai macam wastra dari berbagai pelosok di Indonesia, batiak, sulaman dan rajutan serta berbagai produk seperti kebaya dan kain shibori dengan tetap bertema merah putih.

20170826_12495220170826_124921

20170826_12481120170826_12533720170826_12545420170826_12571220170826_125503

Pameran ini berlangsung dari tanggal 12 Agustus 2017 sampai dengan tanggal 26 Agustus 2017, dengan kontribusi tiket masuk Museum Tekstil sebesar Rp 5.000,- (Lima ribu rupiah saja).