Jelajah Wisata Indonesia Moda Transportasi Kereta melalui Traveloka

Naik kereta api … tut … tut … tut

Siapa hendak turut

Ke Bandung … Surabaya

Bolehlah naik dengan percuma

Ayo temanku lekas naik

Keretaku tak berhenti lama

Bepergian dengan kereta api membangkitkan kenangan masa kecilku. Selalu menyenangkan karena kereta bergerak terus maju tanpa diganggu dengan kemacetan. Kereta api masa dulu sangat berbeda dengan masa sekarang, terutama dari sisi kenyamanannya. Dulu, kereta sering tak tentu jadwal kedatangannya. Belum ada kereta eksekutif, hanya ada kereta bisnis dan ekonomi. Masa itu kami sering was-was karena saat kereta berhenti di salah satu stasiun, banyak pedagang asongan masuk dalam gerbong untuk menjajakan dagangannya. Sirkulasi udara hanya mengandalkan kipas angin yang membuat sakit kepala. Pembagian kursi duduk juga masih tiga dan dua tempat duduk, sehingga bagian tengah yang digunakan untuk jalan cukup sempit. Kualitas makanan yang disediakan restorasi belum sebaik dan sebanyak sekarang pilihannya.

Sekarang, berwisata dengan naik kereta sudah sangat nyaman sekali, baik di kereta kelas eksekutif maupun kelas ekonomi. Gerbong kereta diatur dengan susunan kursi dua-dua, sehingga bagian tengah untuk jalan keluar masuk lebih lega. Kursi penumpang lebih empuk. Ruang untuk kaki lebih luas, jarak antara kursi lebih lega. Jadwal keberangkatan dan kedatangan kereta sangat tepat sekali, kecuali jika memang terjadi bencana seperti tanah longsor atau banjir. Dengan adanya air conditioning maka sirkulasi udara dalam gerbong kereta menjadi sangat nyaman, penumpang juga dilengkapi dengan selimut dalam perjalanan malam hari dengan bantal kecil untuk kenyamanan punggung. Selain itu didukung pula dengan kebersihan toilet yang selalu terjaga dengan tisu dan sabun yang selalu terisi sehingga terbebas dari bau-bau tak sedap. Colokan listrik tersedia 24 jam sehingga buat wisatawan yang melakukan perjalanan bisnis ke kota lain, dapat terus mencharge baterai laptop atau gawainya, tanpa kuatir mengalami low battery.

Kereta api saat ini kembali booming terutama karena melambungnya harga tiket pesawat beberapa bulan terakhir ini. Selain harga tiket kereta api yang terjangkau, ada beberapa alasan memilih moda transportasi ini, di antaranya dapat menikmati pemandangan yang tidak biasa. Jika dengan mobil, maka akan terganggu dengan kemacetan walau sama asyiknya bepergian dengan mobil. Seperti masa kecilku juga, ayah membawa sendiri kendaraan dari Jakarta sampai ke Ngawi, Madiun dan Malang. Di setiap kota yang kami lalui pada jam makan, kami akan berhenti untuk menikmati kuliner khas daerah. Kereta api menjadi pilihan antara berkendara dengan mobil atau terbang dengan pesawat. Pemandangan indah terutamanya dapat dinikmati jika mengambil jam keberangkatan di pagi hari, hamparan sawah hijau yang baru tanam sampai iringan angon bebek di pematang sawah dapat aku nikmati.

Selain beberapa alasan di atas, beberapa waktu yang lalu aku memilih moda transportasi ini karena memang kereta menjadi salah satu moda transportasi yang paling nyaman untuk menuju kota Klaten, Jawa Tengah, dari Gambir, Jakarta. Bandara terdekat adalah bandara Yogyakarta, tapi masih menyambung lagi untuk menuju lokasi acara yang akan aku tuju, di kantor desa Kraguman. Sedangkan jika dengan kereta api, aku bisa langsung turun di Stasiun Klaten dan menuju lokasi hanya dalam waktu 15 menit dengan motor ojek yang tersedia di depan stasiun. Setelah mulai alternatif ini, maka mulailah aku mencari informasi untuk membeli tiket kereta secara online, yang tentu lebih cepat dan lebih praktis karena pembayaran juga mudah, bisa menggunakan sms banking dan baik booking ticket maupun konfirmasi pembayaran langsung dikirim melalui email. Dengan Traveloka, kenyamanan dan kemudahan itu bisa kuperoleh.

Cara beli tiket kereta online nya sangat mudah sekali, yaitu

  • Buka situs traveloka.com

  • Pilih Stasiun keberangkatan (Gambir, Jakarta) dan Stasiun tujuan (Klaten, Jawa Tengah)

  • Pilih tanggal keberangkatan dan tanggal kembali

  • Ketikkan jumlah orang yang akan dipesankan tiket, lalu klik tombol Cari Tiket

  • Selanjutnya akan muncul beberapa pilihan kereta, seperti berikut ini :

  • Setelah menetapkan pilihan jadwal jam keberangkatan, maka akan muncul pilihan untuk jadwal jam pulang atau kembali ke Gambir, Jakarta dari Stasiun Klaten, seperti berikut :

  • Nah mudah sekali kan? Berikut rekap pemesanan, yang jika kita sudah yakin dengan pilihan PESANAN ini, maka klik tombol PESAN

  • Lanjutkan dengan pengisian data pemesanan dan proses pembayaran

Semua bisa dilakukan dengan mudah dan dalam proses yang singkat, perjalanan dapat direncanakan dengan baik. Berdasarkan pengalaman perjalanan kemarin, jadwal singgah di setiap stasiun dari Gambir sampai dengan Klaten, benar-benar tepat sesuai jadwal,

Di dalam kereta, aku juga menikmati satu paket Nasi Rames Nusantara seharga Rp 38.000,- dan segelas the manis hangat seharga Rp 10.000,- kurang apa lagi? Mau mencoba perjalanan bisnis ataupun wisata bersama keluarga dengan kereta melalui Traveloka kan, dijamin tidak akan kecewa.

Stasiun Klaten

Selamat berwisata, salam semesta jelajah Indonesia.


Berbagi Dan Menginspirasi

Anak adalah penerus bangsa. Memenuhi hak hidup dan menjamin tumbuh kembang anak merupakan tanggung jawab kita bersama.

Berbagi pada mereka, bukan karena kami lebih pandai, tapi karena kami lahir lebih dahulu dari mereka, sehingga kami mendapat kesempatan mengetahui lebih dulu.

Sehari menginspirasi, berharap memberi manfaat dan kenangan indah buat mereka.

Selamat Hari Anak Nasional 23 Juli 2019

DSCN1390_1

(Kelas Inspirasi Klaten di SDN2 Katekan, Klaten, Jawa Tengah, 20 Juli 2019)


4 I.C. Reunion

Aku memiliki beberapa sahabat dekat, baik di SD, SMP maupun SMA, bahkan sampai kuliah di Akademi dan Universitas. Yang kumaksud dengan sahabat dekat, mungkin sama dengan istilah anak angkatan milenial dengan istilah “genk”. Ha ha iya, boleh dikata demikianlah, aku juga punya genk.

4ic

Di SD, aku “menganggap” genk ku yang lagi, selalu terdiri dari empat orang termasuk aku adalah Marisol F Raket, Ramona Panggabean dan Yohana Siahaan. Sedangkan di SMP adalah Soraya Ratna, Rafaella Rumantir dan Yosephine Tobing. Sedangkan di SMA, yang mau aku ceritakan kali ini terdiri dari Natalia Kirana, Benedicta Zenny AT dan Agnes Retno Sukengsih. Di Akademi dan Universitas juga demikian.

Kami berteman sejak duduk di kelas II IPA -2 SMA Tarakanita, tepatnya setelah penjurusan IPA-IPS-Bahasa (Angkatan lulus tahun 1986). Kami bertemu tanpa sengaja, selain karena kami duduk berdekatan, ternyata oh ternyata kami juga sama-sama penggemar grup musik The Beatles dan pada masa itu kami juga sama-sama menyukai sosok perwira (maklum kami berada di sekolah yang semuanya perempuan), jadi sosok pria idaman selalu menjadi bahan pembicaraan kami 😀

Mengapa genk kami bernama 4 IC ? 4 I C adalah singkatan dari Four Innocent Children, atau kalau kami baca, bisa menjadi “For I See” yaa…. kami adalah empat anak tanpa dosa di masa itu, empat anak remaja menjelang pemudi, yang sedang mencari jati diri namun tak sempat gaul karena berkutat dengan materi pelajaran Fisika, Kimia, Biologi, Aritmatika, Calculus, Aljabar, Trigonometri, di antara jadwal padat praktek di laboratorium dan kewajiban mengikuti ekstrakurikuler, belum lagi terengah-engah mengikuti kegiatan belajar, ntah karena standar sekolah kami yang sangat tinggi, sebagai salah satu sekolah terbaik di kawasan elite Jakarta Selatan, atau kemampuan otak kami yang pas-pasan 😀 (ngakak guling-guling)

Materi SMA yang ekstrim berat, berseling juga dengan pelajaran PKK yang ga kalah sulit, yaitu menjahit, dengan bu guru senior, bu Yus plus pelajaran Gambar yang mengajarkan gambar ruang bersama pak guru muda yang waktu itu masuk dalam kategori ganteng, ntah karena tidak ada lagi yang muda di masa itu atau kami yang kelewat usil, namun cukuplah kehadiran pak Gofar mencerahkan hari-hari kami, walau tugas gambar dari beliau juga bisa membuat kami tidak tidur.

Pertemanan kami di SMA juga bukan tanpa masalah, ntah karena masalah kami di rumah, tugas atau nilai-nilai kami yang amburadul atau pun masalah kami dengan diri kami sendiri, membuat kami kadang bisa saling manyun satu sama lain. Biasanya kami secara berurutan menuliskan itu dalam buku curhat kami berempat. Namun ya walau maksud mengisi buku itu untuk curhat, kerap buku itu tidak beredar-edar juga di antara kami, ya boro-boro mau curhat, wong kami sendiri juga sedang sibuk. Tapi pada saatnya, buku itu akan menjadi saksi tumpahan ke-bete-an kami, sampai berlembar-lembar halaman, pada banyak hal :-(

Demikianlah kami waktu itu, yang berjuang mati-matian untuk bisa lulus dari SMA favorit idaman (orang tua) kami 😀 haha bukan, bukan, buat aku yang lulusan (perempuan) dari SMP Pangudi Luhur, memang sebagian besar akan melanjutkan ke SMA Tarakanita karena SMA Pangudi Luhur hanya untuk anak laki-laki.

Setelah sekian lama tak berjumpa (terakhir kami bertemu, awal 2016), akhirnya kami merencanakan bertemu pagi hari ini, 9 Februari 2019, untuk tujuan yang berbeda. Aku juga lebih menyukai reuni dalam kelompok-kelompok kecil seperti ini karena kebutuhan jiwa raga untuk saling mengisi, selalu lebih mengena. Seperti yang kami lakukan hari ini. Tujuan yang berbeda karena kami akan berada di tempat reuni yang berbeda, yaitu di TPU Kampung Kandang. Betul, salah satu dari kami, sudah menyelesaikan tugasnya di dunia dan dipanggil pulang oleh Bapa Sang Pencipta, walau ia selalu berada di hati kami, Agnes, sahabat kami, teman sebelah mejaku, sudah tiada sejak 10 Desember 2016.

f3f2a f1

Terima kasih teman sahabatku, untuk pertemuan hari ini, selain mengenang kebersamaan kami bersama Agnes, kami juga banyak saling bercerita mengenai kehidupan yang kami jalani, anak-anak, suami, pekerjaan, orang tua dan kehidupan pribadi kami sendiri. Tak cukup rasanya pertemuan selama empat jam hari ini, namun setidaknya tali silaturahmi ini tersambung lagi dan dapat mengobati rindu, kami bisa saling menguatkan dengan apa yang kami jalani.

Dilanjutkan dengan mie special di Bakmi GM PIM dan diakhiri dengan obrolan di warung kopi Starbucks, pertemuan ini berakhir namun bukan untuk yang terakhir, kami akan jumpa lagi, Pasti.