FSP, Perjuangan Akhir Di Studienkolleg

Feststellungsprüfung (FSP) adalah ujian masuk perguruan tinggi di Jerman bagi pelamar pelajar dari luar Jerman. Ujian diselenggarakan di tempat pelamar menempuh studienkolleg. Karena anakku mengikuti studienkolleg di HS Anhalt Kothen di kelas W Kurs, maka materi yang diujikan pada FSP adalah sesuai dengan apa yang dipelajari pada Studienkolleg, yaitu Deutsch (Bahasa Jerman), Matematika, Ekonomi, Bahasa Inggris dan Informatika.

FSP diadakan selama 3 (tiga) hari yaitu hari Senin (20 Juni 2016), Rabu (22 Juni 2016) dan Jumat (24 Juni 2016). Pada hari Senin, 27 Juni 2016, anakku masih mengikuti Mündliche Prüfung Informatik

Puji Tuhan pada hari Jumat, 30 Juni 2016, anakku dinyatakan lulus ujian FSP dengan hasil yang cukup baik.

Sebagai catatan, nilai IPK di studienkolleg dimulai dari angka 1 sampai dengan 6, dengan angka 1 menunjukkan nilai tertinggi atau A.

Demikianlah perjuangan akhir anakku di tahap Studienkolleg ini, nilai FSP ini nanti yang akan digunakan untuk melamar ke perguruan tinggi di Jerman. Perjalanan masih panjang, namun kelulusan ini sangat kami syukuri, walau tidak sangat sulit, bisa dikata tidak mudah untuk lulus dari studienkolleg, perlu kerja keras, keseriusan dan kemampuan yang cukup.

Terimakasih Tuhan, Puji Syukur kami ucapkan, tolong anakku dalam mempersiapkan berkas-berkas untuk melamar ke perguruan tinggi, kami percaya Tuhan akan menunjukkan arah kemana ia akan melanjutkan studinya

Terimakasih untuk para pengajar, teman-teman seangkatan dan juga teman-teman PPI Kothen, yang sangat berkontribusi dalam masa penyesuaian anakku di Kothen dan selama menjalani masa studi disana.

Sertifkat Kelulusan dari Studienkolleg di HS Anhalt, Kothen

k10

Catatan lain, FSP yang dilaksanakan pada hari Senin (20 Juni 2016) sampai dengan Jumat (24 Juni 2016) telah keluar hasilnya pada hari Jumat (30 Juni 2016), sangat singkat waktu yang digunakan untuk mengkoreksi 5 mata pelajaran dari seluruh murid studienkolleg.

 

 

 


Masa Persiapan Kuliah, Studienkolleg Di HS Anhalt Kothen

Catatan awal : Mestinya lebih afdol kalau ini diceritakan langsung oleh anakku, Andita Silalahi

Menyambung postingan yang lalu, tidak terasa sudah genap satu tahun anakku berada di Kothen. Dan Puji Tuhan, ia sudah menyelesaikan masa Studienkolleg dalam 2 (dua) semester di HS Anhalt di Kothen.

Secara sederhana, yang dimaksud dengan Studienkolleg adalah masa persiapan memasuki Universitas atau bisa juga sebagai masa penyesuaian bagi calon mahasiswa dari luar Jerman karena perbedaan masa pendidikan dasar di negaranya.

Sebelum masuk kuliah di Perguruan Tinggi, setiap siswa dari luar Jerman wajib mengikuti masa transisi di Studienkolleg, karena perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dengan Jerman, yang mana Indonesia menerapkan pendidikan dasar 12 tahun (6 tahun SD, 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA) sementara di Jerman menerapkan 13 tahun, sehingga setiap siswa wajib mengikuti Studienkolleg (Pre University) selama 2 semester sebelum kuliah di Universitas.

Dalam masa persiapan di Indonesia, anakku menerima beberapa undangan untuk test masuk Studienkolleg (diantaranya Kothen, Halle dan Dresden). HS Anhalt yang pertama mengadakan test dari undangan yang ada, yaitu tanggal 25 Agustus 2015. Anakku berangkat dari Indonesia tanggal 12 Agustus 2016, melalui Bandara Berlin dan menuju Kothen dengan kereta. Postingan selengkapnya ada di postingan sebelumnya.

k1 k2

Setelah mengikuti test masuk pada tanggal 25 Agustus 2015, rencananya anakku akan mengikuti test masuk di Nordhausen pada tanggal 31 Agustus 2015, namun ternyata pada tanggal 28 Agustus 2015, anakku diumumkan lulus masuk Studienkolleg di HS Anhalt bersama beberapa orang anak Indonesia lainnya.

k3 k4

Karena anakku berasal dari Jurusan IPS, maka ia mengambil kelas W Kurs di Studienkolleg Universitas. Kelas W (W-Kurs) adalah kelas untuk jurusan Ekonomi dan Ilmu Sosial. Mata pelajaran di kelas ini adalah Matematika, Informatika (ilmu komputer), Ekonomi, Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman selama 2 (dua) semester. Jadwal kuliah setiap harinya, bisa terdiri dari 2 (dua) mata pelajaran, yang dimulai dari pagi sampai dengan siang, dengan istirahat satu kali. Masa belajar di Studienkolleg, selain pemberian materi juga ada test (kuis) atau ujian.

k5 k6 k7

Perkuliahan di Studienkolleg dimulai dari tanggal 1 September 2015 sampai dengan 17 Juni 2016.

Puji Tuhan, ia bisa menyelesaikan tepat dalam 2 (dua) semester. Untuk studi di studienkolleg, setiap siswa diberi kesempatan belajar selama 4 (empat) semester saja.

Banyak suka duka belajar di kelas studienkolleg ini, sukanya dapat belajar bersama dengan rekan dari negara lain dan kesulitan pelajaran dapat dihadapi bersama dengan belajar kelompok. Pelajaran yang diberikan masih sama dengan pelajaran di Indonesia dengan pendalaman-pendalaman, namun disampaikan dalam Bahasa Jerman. Dukanya karena tidak banyak waktu untuk bermain-main, diantara penyampaian materi pelajaran, banyak ujian yang harus dihadapi berupa test dan kuis.

Belajar di luar negeri bukan suatu yang mudah tapi bukan suatu yang sulit untuk dijalani, yang terpenting disiplin diri.

(Tulisan selanjutnya – Ujian Feststellungspruefung)


Indekost, Mengapa Tidak ?

Tak banyak orang yang beruntung bisa bersekolah dekat dengan rumah. Sekolah jauh dari rumah bisa disebabkan karena sekolah pilihan hanya ada jauh dari rumah, misal sekolah terbaik untuk menjadi pemain sepak bola ada di kota A padahal seseorang tinggal di kota B. Akhirnya mau tidak mau, demi cita-cita, kita bisa “terpaksa” meninggalkan rumah, orangtua, keluarga dan sahabat dan tinggal di tempat lain dengan cara “indekost”.

Menurut Kamus, yang dimaksud dengan Indekost adalah menyewa sebuah kamar dengan membayar dalam periode waktu tertentu. Selain alasan letak yang jauh, indekost banyak menjadi pilihan bagi siswa atau mahasiswa karena menghemat waktu dan tenaga. Memilih tinggal dekat dengan kampus atau sekolah, bisa menghindarkan diri dari kemacetan lalu lintas dan keterlambatan mengikuti perkuliahan atau kegiatan belajar.

far from homeIndekost jaman sekarang sangat jauh berbeda dengan jaman dulu. Dulu, tidak banyak pilihan dan belum banyak dibisniskan seperti sekarang. Dulu, orang memilih indekost hanya dari segi waktu dan tenaga saja. Kadang orang sudah tidak memperhatikan apakah kamar kost nya menggunakan AC atau hanya kipas angin, kamar mandi didalam atau diluar, bisa memasak atau cuci gratis dan segala bentuk kenyamanan lain. Mengingat cerita Ibu, Ibu ku pernah ikut tinggal dengan famili di luar kota karena di tempat kelahiran Ibu belum ada sekolah yang “pas” namun Ibu bukan indekost melainkan “ngenger” kata Ibu. Ngenger adalah ikut tinggal bersama orang lain namun juga ikut bekerja membantu pekerjaan rumah tangga disana. Ibu biasa mendapat tugas berbelanja ke pasar sebelum pergi sekolah. Selain jaman dulu belum ada kost, nenekku yang sudah ditinggal kakek dengan 6 orang anak, tidak punya cukup biaya untuk menyekolahkan semua anaknya seorang diri.

kamar kostSekarang, siswa yang tinggal jauh dari orangtuanya untuk studi di luar kota, betul-betul memperoleh kenyamanan dengan banyaknya pilihan fasilitas tempat kost. Kamar kost sekarang banyak sudah berupa kamar apartemen tanpa Ibu Kost seperti dulu, sehingga interaksi kekeluargaan antar penghuni sudah sangat berkurang dan tak “sehangat” dulu. Kadang kenyamanan yang senyaman-nyamannya memang sudah diciptakan didalam kamar kost itu sendiri, seperti adanya kamar sejuk ber AC, kamar mandi didalam, bisa memasak sendiri, laptop, televisi, bahkan kadang bisa berkaraoke didalam kamar sendiri.Cuci baju/laundry service bisa datang setiap pagi tanpa siswa harus repot-repot mencuci baju. Baju licin dan bersih akan selalu ada setiap hari, seperti di rumah. Interaksi dengan tetangga kamar bukan suatu yang penting lagi. Tentu kamar kost dengan fasilitas ini membutuhkan dana yang tidak sedikit per bulannya. Namun mengapa orangtua rela mengeluarkan biaya tinggi untuk anaknya yang harus indekost dengan memberikan kenyamanan dan fasilitas istimewa seperti ini, tentu harapannya adalah agar anak bisa konsentrasi belajar tanpa terganggu hal-hal lain selain belajar. Tidak itu saja, banyak orangtua membekali anaknya kendaraan bermotor roda empat untuk pulang pergi kuliah, sekalipun anaknya berada di luar kota. Luar biasa…..

Jauh dari rumah itu sebuah perjalanan mestinyaIndekost yang semestinya juga menjadi ajang belajar bagi anak atau siswa hidup mandiri, dapat dimanfaatkan orangtua sebagai kesempatan buat anak bertanggungjawab mengurus dirinya sendiri. Tahun pertama memang akan selalu menjadi masa yang cukup sulit buat setiap anak atau siswa baru. Ia harus beradaptasi dengan lingkungannya, berkenalan dengan penghuni lain di tempat kost, menyesuaikan diri dengan lingkungan di sekitar tempat kost, kemana ia harus berbelanja, kemana ia harus lapor pada kepala RT di lingkungan setempat, belum lagi dengan lingkungan kampus atau sekolah yang baru, ya dengan teman-temannya dan dengan pelajaran yang tentu lebih sulit dari pelajaran di tingkat sebelumnya.

Singkat cerita, saat ini anak sulungku sedang mengalami masa-masa itu. Berkat bantuan dari rekan-rekan di Perhimpunan Pelajar Indonesia Kothen, anakku mendapat sebuah kamar kost di gedung berlantai 3 di xxxxxxxstrase. Komunikasi melalui online dilakukan dengan mengirimkan foto kamar dan sebagainya. Sebenarnya ada banyak pilihan tempat tinggal disana, diantaranya asrama mahasiswa dan atau rumah sendiri. Namun karena sifatnya masih sementara (untuk mengikuti Ujian Masuk Studienkolleg di Hochschule Anhalt) maka kami setujulah dengan kamar yang ada. Satu unit apartemen terdiri dari dua kamar, dengan sharing lemari es (kulkas) dan sharing kamar mandi dengan tetangga sebelah. Didalam kamar berukuran 3×4 meter, terdapat sebuah tempat tidur ukuran single, meja belajar dan rak susun terbuka untuk menyimpan baju dan pernak pernik lain. Selain itu bisa memasak didalam kamar dengan kompor 1 tungku dan bak cuci piringnya. That’s it. Ya betul hanya itu, dengan sewa kamar sebesar 210 Euro per bulan, cukuplah. Oh ya, fasilitas Wifi dan heater sudah ada disana.

Apartemen Tiga Lantai di Leipzigerstr, KoethenAnakku berangkat ke Kothen melalui Berlin, karena sesuatu dan lain hal dua orang temannya belum memperoleh visa studi ke Jerman. Tanpa patah semangat, setelah melihat kamar kostnya, anakku dibantu adikku dan temannya mulai merapikan dan membereskan kamar agar menjadi senyaman mungkin. Sepeninggal teman dan adikku, anakku mulai berorientasi ke lingkungan dengan berjalan kaki, ya Tuhan, semoga ia selalu dalam lindungan MU. Ia pergi berbelanja dan memasak sesuai keinginannya.

Pernah satu hari, saat ia belum mempunyai nomer telpon, ia pamit pergi berbelanja, dua jam lebih kami menunggu, ia belum kembali ke tempat kostnya, ternyata ia kehujanan akibat hujan yang datang tiba-tiba, sementara ia belum mempunyai payung dan tidak menduga perubahan cuaca yang mendadak.

Hujan hampir setiap hariAnakku mulai belajar memasak sesimpel mungkin yang dia bisa. Saat lapar dan tidak ada siapapun yang dia panggil, ia akan membuat apa saja yang tersedia di lemari es. Ia juga harus menjaga kesehatannya karena jauh dari kami. Ia juga wajib membereskan dan mencuci pakaiannya serta membersihkan kamar termasuk menyapu dan mengepel lantainya setiap hari, sesuatu yang jarang dilakukannya di rumah.

Nyam nyam...mulai porsi besarMakan dulu sebelum belajarOh ya untuk informasi, jika siswa baru datang ke Koethen atau wilayah Jerman pada umumnya saat ini, hampir sebagian besar siswa sedang dalam suasana liburan panjang, mereka bisa saja sedang pulang kampung, keliling Eropa atau bahkan bekerja part time di masa liburan ini. Jadi praktis, saat-saat ini anakku memang harus mandiri  walau sesekali ada senior yang berbaik hati mengontak anakku.

Next DreamDi hari pertama datang, memang ada beberapa barang yang harus dibeli anakku sehingga beberapa kali ia harus ke toko terdekat dengan tempat kostnya. Ini kali pertama ia berada jauh dari kami dan harus indekost pula, semoga masa-masa ini akan menjadi masa penuh kenangan buat dia dan kami orangtuanya.

Minggu depan, anakku akan menghadapi ujian masuk Studienkolleg (Pre University) di Hochschule Anhalt Kothen, semoga udara sejuk akibat hujan yang hampir turun setiap hari di Kothen, tidak membuat anakku semakin terlelap tidur karena mengantuk untuk belajar.

Berada di tempat kost adalah masa-masa belajar, belajar banyak hal, beradaptasi, membina hubungan dengan teman baru, mengelola waktu dan tenaga juga hati dan pikiran. Sukses ya kakak !!! :-) Kami mendoakanmu selalu.

Gambar : Google dan Pribadi