K.A.R. Bosscha (Den Haag – Malabar)

Belum pergi ke Pangalengan, kalau belum pergi ke Makam Bosscha dan mengunjungi rumahnya. Hari pertama kami tiba disana, kami berniat sekali untuk ke rumah Bosscha, setelah puas menikmati pemandangan yang indah di Perkebunan Teh dan proses pembuatan teh di salah satu pabrik yang didirikan oleh Bosscha.

Makam Bosscha dijaga oleh seorang tukang kebun. Makamnya khas makam orang Belanda, terletak di tengah perkebunan dan dikelilingi bunga-bunga dalam taman yang terawat rapi dan bersih. Kami membaca jasa-jasa Bosscha untuk Indonesia, khususnya masyarakat di Jawa Barat, yang tertera dalam sebuah batu besar di depan Makam.

Setelah itu kami lanjutkan perjalanan ke rumahnya, namun kami tidak masuk kedalam rumahnya. Rumahnya juga besar dengan halaman luas yang tertata rapi, di belakang rumah Bosscha ada beberapa bungalow yang tampaknya disewakan. Juga ada kantor manajemen, yang mengatur segala sesuatu berkaitan dengan Bosscha.

Karel Albert Rudolf Bosscha (Den Haag, 15 Mei 1865Malabar Bandung, 26 November 1928) merupakan orang yang peduli terhadap kesejahteraan masyarakat pribumi pada masa itu dan juga merupakan seorang pemerhati ilmu pendidikan khususnya astronomi.

Pada bulan Agustus 1896 Bosscha mendirikan Perkebunan Teh Malabar. Dan pada tahun-tahun berikutnya, ia menjadi juragan seluruh perkebunan teh di Kecamatan Pangalengan. Selama 32 tahun masa jabatannya di perkebunan teh ini, ia telah mendirikan dua pabrik teh, yaitu Pabrik Teh Malabar yang saat ini dikenal dengan nama Gedung Olahraga Gelora Dinamika dan juga Pabrik Teh Tanara yang saat ini dikenal dengan nama Pabrik Teh Malabar.

Pada tahun 1901 Bosscha mendirikan sekolah dasar bernama Vervoloog Malabar. Sekolah ini didirikan untuk memberi kesempatan belajar secara gratis bagi kaum pribumi Indonesia, khususnya anak-anak karyawan dan buruh di perkebunan teh Malabar agar mampu belajar setingkat sekolah dasar selama empat tahun. Pada masa kemerdekaan Indonesia, nama sekolah ini berubah menjadi Sekolah Rendah, kemudian berubah lagi menjadi Sekolah Rakyat. Dan diganti lagi menjadi Sekolah Dasar Negeri Malabar II hingga saat ini.

Pada tahun 1923, Bosscha menjadi perintis dan penyandang dana pembangunan Observatorium Bosscha yang telah lama diharapkan oleh Nederlands-Indische Sterrenkundige Vereeniging (NISV). Kemudian ia bersama dengan Dr. J. Voute pergi ke Jerman untuk membeli Teleskop Refraktor Ganda Zeiss dan Teleskop Refraktor Bamberg. Pembangunan Observatorium Bosscha selesai dilaksanakan pada tahun 1928. Namun ia sendiri tidak sempat menyaksikan bintang melalui observatorium yang didirikannya karena pada tanggal 26 November 1928 ia meninggal beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama kota Bandung dalam upacara kebesaran yang dilakukan Gemente di Kota Bandung.

Selama hidupnya, Bosscha memilih untuk tidak menikah. Pada akhir hayatnya, karena kecintaannya pada Malabar, beliau meminta agar jasadnya disemayamkan di antara pepohonan teh di Perkebunan Teh Malabar.


RM Erna, Pangalengan

Pangalengan adalah sebuah kota kecil, jadi sepertinya agak sulit untuk mencari rumah makan yang ‘layak’, namun karena siang hari kami sudah makan di hotel, rencananya malam ini kami ingin makan di luar dan seperti yang sudah aku dapatkan melalui browsing di internet sebelumnya, kami mencari Rumah Makan Erna, yang terkenal dengan kelezatan dan keempukan sate nya.

Sore, setelah magrib, kami keluar hotel. Perjalanan sudah cukup jauh kami tempuh, malah hampir sampai ke Situ Cileunca, tapi mengapa jalan semakin kecil dan gelap, akhirnya kami memutuskan untuk kembali, sudah makan malam di hotel saja. Dalam perjalanan pulang, kami melewati Pasar Pangalengan, kami mampir membeli martabak manis, sambil mencari informasi, ternyata Rumah Makan Erna tidak jauh dari Pasar Pangalengan.

Rumah Makan Erna cukup besar dan luas, dan sebagai sebuah rumah makan di sebuah kota kecil, rumah makan ini cukup memadai dan bersih. Bagaimana masakannya ?

Dan ternyata benar-benar mantabs…tidak sampai Rp 100.000,- kami sudah makan kenyang 7 orang, dengan sate ayam, sate kambing, sup dan gule kambing….semua habis di malam yang dingin di Pangalengan.

 


Pabrik Teh Malabar

Liburan di Pangalengan kali ini, kami berkesempatan untuk masuk kedalam Pabrik Teh di Perkebunan Malabar. Setelah masuk melalui pos satpam untuk pendaftaran, kami diantar  seorang ibu karyawati pabrik tersebut.

Kami melihat proses produksi, mulai dari teh yang baru dipetik, masuk kedalam proses pelayuan, pengeringan, pemotongan, sortir dan pengepakan. Sebuah pengalaman yang baru buat aku dan anak-anak.

Masuk kedalam Pabrik ini, kami memberi sedikit tip untuk Kepala Pabrik dan karyawati yang menemani kami berkeliling. Produk dari Pabrik ini adalah Teh merk Walini, yang sudah ada di supermarket di Indonesia.

Mengapa Bosscha bisa melakukan CSR (corporate social responsibility) ? Jawabnya ada di pabrik teh ini – komoditi teh hijau dan teh hitam yang diekspor itu ternyata mahal, sedangkan teh yang dikonsumsi di dalam negeri itu sebenarnya hanya ampas teh saja. Belum lagi hasil dari perkebunan kina saat malaria masih merajalela di seluruh dunia dan juga hasil dari tambang emas di Cibaliung (kompleks Malabar)

Sejak dulu, pabrik teh ini memproduksi teh hijau dan teh hitam.
Disamping teh hijau, juga terdapat 2 jenis pengolahan teh hitam yaitu Orthodox dan CTC. Adapun jenis teh Orthodox dan CTC yang diproduksi saat ini oleh PTPN VIII dikemas sebagai TEH WALINI.

Proses pengolahan teh ini masih menggunakan cara-cara tradisional yang sudah dipraktekkan oleh Bosscha sejak satu abad yang lalu. Misalnya pelayuan daun teh hanya menggunakan blower udara kering (agar kandungan tehnya tidak rusak), lalu proses pengeringannya masih menggunakan tungku kayu (agar harum bau teh tidak berubah. Wangi aroma teh akan berubah bila digunakan tungku BBM), dll

Proses pembuatan teh :
– Pucuk daun dipetik saat pagi hari dan sore hari, untuk memperoleh daun segar
– Pucuk daun kemudian dilayukan dengan hembusan udara kering menggunakan blower (bandingkan dengan pakaian basah yang dikipasi, pasti cepat kering) – bila pengeringan dengan panas atau suhu tinggi, maka aroma teh akan berubah
– Pucuk daun yang sudah layu ini kemudian dikeringkan dengan menggunakan tungku kayu, agar baru dan cita rasa teh tidak berubah
– Pucuk daun kering ini kemudian diayak (tanpa ditumbuk untuk menghindari kerusakan komposisi teh) – proses pengayakan menggunakan sistim mekanis dengan memanfaatkan gaya sentrifugal sehingga pucuk daun kering itu akan hancur secara alami
– Ayakan (alat pengayak) itu mempunyai saringan dengan ukuran 1,2,3 dan 4 yang selanjutnya diproses menjadi 18 jenis teh kualitas ekspor

– Ampasnya dipakai untuk produk lokal

– Kemudian pucuk daun kering yang sudah diayak ini kemudian difermentasi (dibiarkan selama kurang lebih 1 jam tanpa boleh kena sinar matahari). Oleh sebab itu, atap pabrik itu menggunakan seng, untuk memperoleh panas bagi fermentasi tanpa menggunakan sinar matahari. Sinar matahari akan merusak tekstur dari teh.

– Setelah difermentasi, pucuk daun kering yang sudah diayak ini kemudian dikeringkan dalam ketel bersuhu 100 *C dengan tungku kayu selama 23 menit. Kenapa pakai kayu bakar? Karena aroma dan cita rasa teh harus dijaga dan tidak boleh berubah

– Proses terakhir, teh ini dipisahkan dengan menggunakan blower ; teh yang berasal dari daun tua (lebih ringan) akan jatuh lebih dulu, lalu dipisahkan dan teh yang berasal dari daun muda (lebih berat) akan jatuh belakangan – jadi pemisahan kualitasnya dilakukan secara mekanis (bukan dengan zat kimia)

JADI BELAJAR TENTANG TEH AKAN MENGANTAR KITA MENGHAYATI MAKNA DAN ARTI DARI PERKEBUNAN TEH.

Ternyata proses pembuatan teh ini hanya mengandalkan proses fisika (proses mekanis saja), disamping hemat energi, juga menghindarkan pemakaian bahan-bahan kimia yang akan merusak aroma dan cita rasa teh, sungguh hebat penguasaan sains Bosscha.

 

sumber dari Wikimu