Resensi Novel : Rumah Di Atas Kahayan

Novel berjudul Rumah Di Atas Kahayan, adalah novel karangan Lestantya R. Baskoro, yang diluncurkan di Sungai Kahayan, Palangkaraya, pada 17 Agustus 2018., lokasi yang menjadi latar belakang penulisan buku ini.

Novel setebal 309 halaman ini, terdiri dari 13 bab, dituliskan berdasarkan fakta dan imajinasi Penulis. Sebuah novel yang penyusunannya membutuhkan waktu kurang lebih selama setahun, dengan pengamatan yang teliti dari penulis. Novel ini penuh kisah, emosi pembaca bisa dibuat naik turun, ada hal lucu, menegangkan dan serius serta penuh petualangan dalam cerita ini.

Novel mengambil setting kota Palangkaraya yang masih dipenuhi orang utan di sekitarnya, tahun 1970 an, masa Penulis pernah berada di sana. Penulis mengawali ceritanya dari Hutan Karamunting.

20190227_133056Novel Rumah di Atas Sungai Kahayan bercerita tentang keberagaman, tentang disiplin sekolah katolik, tentang kepala sekolah, yang adalah seorang biarawati, Suster Remonik, yang sangat mencintai anak didik dan sangat menjunjung kedisiplinan serta menjadikan integritas menjadi hal utama, untuk kebaikan mereka.

Novel ini juga bercerita tentang aneka ragam kekayaan alam tanah Kalimantan, sejarah kota Palangkaraya dan bagaimana para insinyur Rusia membangun jalan di atas lahan gambut.

Novel ini merupakan novel pertama, yang membahas lengkap tentang sosok pahlawan Kalimantan Tengah Tjilik Riwut dan hantu paling menakutkan di Kalimantan Tengah yang disebut kuyang, yang semuanya dibungkus dalam cerita yang berlatar belakang perbedaan budaya dan agama,namun disatukan dalam keceriaan masa kanak-kanak dan remaja.

Banyak perkataan yang menyentuh dan mendalam dari buku ini. Salah satunya, ada pada halaman 75, Suster Gertadis menyatakan mengenai kebersihan, yang bukan hanya sekadar sehat tapi juga membuat segala sesuatu menjadi nyaman,

Kebersihan tanda seseorang menghargai makna hidup dan kehidupan

Novel ini bisa diperoleh langsung dengan cara menghubungi Chandra Baskoro dengan No WA +62 813-1016-0271. Harga novel untuk Jabodetabek Rp 75 ribu termasuk ongkir.

Selamat menikmati buku ini, jika anda adalah pembaca yang mencintai kehidupan.


“Rasa”

“Rasa” ibarat gas, kamu ga bisa menahannya kala ia masuk ke dalam ruang (hati) karena sifatnya yang menempati ruang, mempunyai massa dan menekan ke segala arah.

“Rasa” ibarat gas, karena juga bisa “mengembang” bila “dipanaskan”. Ia juga bisa berubah wujud, misalnya mengubah “rasa cinta” mu menjadi tangisan yang berderai-derai

~ de laras ~