Mengapa Harus Buku Antologi ?

Ya…mengapa harus Antologi ? Sebelum terlanjur membahas  mengapa Antologi, tanya dulu nih, tahu ga apa artinya Antologi ? karena ga semua orang paham apa arti antologi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia,

antologi/an·to·lo·gi/n kumpulan karya tulis pilihan dari seorang atau beberapa orang pengarang

Nah sekarang kalau pertanyaannya mengapa harus Antologi ? atau mengapa harus menerbitkan buku secara bersama-sama dengan beberapa penulis, nah ini jawabannya menurut aku. Jujur, awal aku mulai menerbitkan buku ya berawal dari penerbitan buku antologi pertamaku yang berjudul Hati Ibu Seluas Samudera, dibawah komando blogger kondang Pak De Abdul Cholik.

Buku Antologi bisa berupa satu buku yang terdiri dari beberapa tulisan dari satu pengarang, atau satu buku terdiri dari satu tulisan sejenis yang ditulis oleh beberapa pengarang.

Mengapa Buku Antologi ? karena …..

  • penulisan secara bersama dengan para penulis (baik yang pemula mau pun senior) dapat saling memberi semangat
  • waktu penulisan buku Antologi biasanya singkat, ada Penanggung Jawab (PJ) yang selalu ketat dalam mengingatkan batas waktu, sampai dengan last minute pada para penulis
  • komunikasi dalam penyusunan buku Antologi ada dalam WA Group, sehingga ketidakjelasan atau masalah dalam penulisan dapat dibahas bersama. Saling mengisi satu sama lain
  • biasanya penyusunan buku Antologi dimentori seseorang yang sangat kompeten di bidangnya, beliau biasanya merangkap juga sebagai Editor, jadi sebelum mulai penulisan, ada rambu-rambu dan teknik penulisan yang disampaikan terlebih dahulu. Di sini, aku banyak sekali belajar mengenai teknik penulisan, point of view, materi penulisan yang berbeda-beda (bagaimana menulis sebuah naskah untuk artikel, cerita inspiratif, healing yourself (or myself) dan banyak lagi, semua dibimbing mentor atau PJ buku tersebut
  • Penyusunan buku Antologi melatih kesabaran kita terhadap orang lain. Lho kok bisa ? ya… tentu bisa, karena namanya juga buku Antologi, terdiri dari puluhan penulis dengan latar belakang yang berbeda, dari segi kompetensi dan jam terbang menulis saja sudah berbeda, apalagi yang lain-lain (seperti tingkat pendidikan, status keluarga, latar belakang dan banyak lagi) yang mempengaruhi cara berkomunikasi dan banyak hal. Kembali soal kesabaran, tentu ada pertanyaan yang kadang kita bisa berpikir “ya ampun masak kayak gitu aja ga ngerti ?” lalu ada pula yang bisa berbusa-busa (eh ga pakai berbusa ya), beribu huruf mengetik menjelaskan sebuah pertanyaan dengan panjang lebar (secara positif, kita ambil hikmahnya bahwa beliau memang ingin berbagi). Jadi sebagai bagian dari penulis buku Antologi, sebaiknya kita menyimak, kalau ingin berbagi, sesuai porsi saja, beri kesempatan orang lain juga untuk berbagi
  • Kesabaran (2) yang dilatih dalam penyusunan buku Antologi adalah ketika pada saat deadline, ada penulis yang mundur dari grup, minta tambah waktu dengan berbagai alasan dan sebagai teman yang baik dalam grup, kita harus ikhlas ikut menunggu (karena PJ sudah mengijinkan menambah waktu beberapa jam kadang beberapa hari) demi semua penulis terangkut dalam buku Antologi ini. Nah masak iya, kita yang sudah on time, mau keki atau nyesek ati, ya engga lah, ikhlas aja, nunggu teman kan? tugas kita ya hanya menulis, selanjutnya terserah pada PJ eh terserah yang di atas
  • Menghargai pendapat orang lain, nah ini yang paling seru dan paling hakiki dalam penulisan buku Antologi. Lho kok bisa…..ya bisa banget, apalagi kalau sudah saatnya penetapan cover buku. Ada banyak pendapat dalam memilih cover buku. PJ juga mesti bijaksana menerima masukan dari para penulis walau kadang terlalu banyak masukan dapat memusingkan PJ dan proses terbit jadi lebih lambat. Yang terpenting jangan meremehkan pendapat orang lain. Sekali lagi jadilah pengamat atau pembaca yang baik. Berilah masukan jika ada ide cemerlang, jangan pasif atau menerima saja, setidaknya beri pendapat kita, tapi karena ini buku antologi, ya keputusan terbanyak lah yang akan diambil PJ
  • Menambah jam terbang. Betul selain meningkatkan kemampuan menulis dalam berbagai buku antologi, dengan berbagai tema yang berbeda dapat meningkatkan jam terbang, juga menambah deretan buku yang kita terbitkan, ini bisa sebagai modal kita untuk menerbitkan buku solo

Nah, masih ragu bergabung dengan penulis lain dalam penerbitan buku Antologi ? Tugas kita hanya menulis setelah mengikuti petunjuk yang disampaikan PJ sesuai tema penulisan dan kita bebas bertanya dalam WA Group Buku Antologi tersebut.

Sepuluh dari 15 bukuku adalah buku antologi lho saat ini, bisa lihat di sini ya. Mari kita mulai belajar dalam grup penyusunan buku Antologi. Ini buku antologiku yang terbit di 2018

IMG-20181228-WA0045[1]

SPIRIT_KARTINI__20181212_205740[1]

IMG-20181230-WA0007[1]

48364989_10157006390202422_8071524308431667200_n[1]

Yuk selamat menulis….. 😉


Selamat Hari Guru, Guru dan Mentorku !

Kata “Guru” dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari kata – Digugu (dapat dipercaya) dan Ditiru. Sehingga kata ini dapat berarti bahwa Guru adalah sosok yang patut dipercaya karena keahliannya dan dapat ditiru.
 
Namun, di masa sekarang, sosok Guru tak hanya bertanggungjawab untuk masalah keahlian atau pengetahuan saja. Guru juga mengajarkan moral, etika, integritas dan karakter serta nilai-nilai kehidupan.
 
Ada banyak Mbak Guru yang kutemui, justru di usiaku yang tidak muda lagi, dan salah satunya adalah Mbak Deka Amalia Ridwan. Dalam prosesku bertumbuh sebagai seorang penulis, mbak Deka turut berperan di dalamnya, walau hanya melalui tutorial online dalam Komunitas Penulis, namun juga menjadi mentor dalam penerbitan buku-bukuku. Mbak Deka bersedia di japri (dihubungi secara pribadi) berkaitan dengan penulisan naskah. Mbak Deka, Guru dan Mentor, dalam urusan tulis menulis, sampai urusan penerbitan dan pemasaran buku.
 
dekaadj
Selamat Hari Guru Nasional 2018

Novel Anak : Misteri Hantu Kartika

Novel Misteri Anak
Penulis: De Laras
Editor: Deka Amalia
Penerbit: Writerpreneur Club
Ilustrasi dan Desain Cover: Suci Geulis
Harga Buku: 60K
Harga Open PO: 55K (sampai tanggal 20 Oktober 2018)

Sinopsis :

Mayang sangat menyayangi Dayang, adik satu-satunya. Namun Mayang tak pernah mengerti mengenai kelebihan Dayang. Mengapa pemilik kelebihan bisa melihat hal-hal yang menakutkan? Semua terungkap sampai suatu hari Mayang mendapati Dayang mampu memainkan tuts piano di rumah Eyang Ningrum. Siapa yang mengajari? Padahal Dayang tidak pernah belajar alat musik itu. Kita simak kelanjutan cerita Mayang di buku yang cantik ini.

misnov1silakan dipesan untuk memperoleh harga spesial 😉