Legitnya Cake Cimplung Kelapa dari Purwokerto

Aku suka kelapa muda. Hm..pada dasarnya sih apa aja aku suka. Ngragas? Ya enggalah, justru aku itu orangnya ikhlas, apa saja diterima. Ga rewel gitu. Ga milih-milih. Halah.

20201111_103346

Kembali lagi ke kelapa muda. Apa saja olahan dari kelapa, aku suka. Tuh kan. Salah satunya roti isi parutan kelapa, biasanya ada di bakery “Mestik” atau Majestic ya. Catat ya…

Nah belum lama ini, aku bergabung dalam komunitas Elfa Mediatama Writers dan berkenalan dengan Kak Vonny Indrawaty. Kak Vonny, yang ternyata memiliki toko roti di Purwokerto, mengolah kelapa muda menjadi Cake Cimplung Kelapa Muda.

Cimplung Kelapa Muda adalah kelapa muda yang dimasak bersama nira, dengan proses pembuatan yang memakan waktu cukup lama, supaya kedua bahan ini benar menyatu.

20201113_075950

Menjadi cake? Wah kebayang kan rasanya? Semula aku pikir kelapanya akan diparut dan menyatu (blend) dengan cake seperti tepung kelapa. Namun, ternyata kelapa nya masih terasa. Kelapa berupa potongan itu terasa krenyes-krenyes saat dikunyah. Perpaduan rasa gurih kelapa dan legit nira, benar-benar enak dan nagih deh.

Karena ukuran cake nya cukup besar untuk aku berdua di rumah, maka aku simpan di lemari es. Esok hari, tanpa dipanaskan, aku menikmati potongan cake cimplung ini dengan secangkir kopi tanpa gula. Hm… sedapnya.

20201113_081401

Terima kasih kak Vonny untuk kirimannya. Tuhan memberkati. Semoga usaha yang mulia ini, untuk membantu para pembuat cimplung, menjadi berkat. Amin.


Tulisan Tak Sempurna

Apakah ada yang sempurna di dunia ini? Tak ada. Jadi mengapa harus ragu dengan merasa “tulisanku tak sempurna, tulisanku jelek, aku ga bisa nulis”

New_66

Semua orang bisa menulis karena semua orang punya cerita (prinsip 1)

Mengenai urutan menulis dan teknik penulisan, itu semua bisa dipelajari.

Maju terus walau ribuan kritik menderamu, selama diri selalu mengingat bahwa aku menulis mengenai hal baik yang aku ketahui untuk kubagikan pada orang lain (prinsip 2)

Tak ada tulisan yang sempurna, ambil penamu atau ketikkan jemarimu di atas keyboard, dan mulailah menulis…..


Kala Buntu dalam Menulis

Setiap penulis pasti pernah mengalami mentok atau buntu saat melakukan penulisan. Baik tulisan pendek maupun tulisan panjang. Penulis, seperti aku juga kerap menyepelekan hal ini. Padahal kebuntuan ini bisa mendadak datangnya. Namanya juga buntu, mentok atau mandek. Mana ada buntu yang direncanakan. Walau sudah sering mengalami, tapi hal yang sama selalu diulang kembali. Terutama untuk tulisan-tulisan pendek. Tulisan dalam antologi yang biasanya meminta tulisan sepanjang empat sampai dengan lima halaman.

2020-04-26 22.53.53

Apa yang mesti dilakukan saat mengalami kebuntuan ini, ini beberapa tips ala aku ya :

  • Mengendapkan dulu, jangan paksakan untuk berada terus di depan laptop. Kalau perlu matikan dulu laptop. Segarkan pikiran, lemaskan tubuh, bisa dengan menonton acara di televisi, mendengarkan lagi, menenangkan pikiran, membaca buku atau mungkin tidur. Asal jangan kebablasan tidurnya
  • Pindah lokasi kerja. Ini kerap berhasil. Misal biasa bekerja di kamar. Cobalah mencari suasana dengan bekerja di ruang tamu atau ruang makan atau ruang terbuka yang lain. Beberapa orang malah bisa bekerja di keramaian, misal di cafe atau kedai kopi. Kalau aku pribadi, aku tidak bisa bekerja di keramaian saat menulis. Aku bisa menulis di alam terbuka. Kebetulan aku biasa bekerja di meja makan. Ruang makanku semi outdoor. Di depan ruang makan, ada kolam ikan koi, jadi aku bisa bekerja dengan udara yang mengalir, memandang tanaman hijau dan suara gemericik air. Kalau beruntung, di malam hari, aku bisa ditemani suara jangkrik atau suara kodok.
  • Menyusun outline ulang. Ini jarang terjadi padaku. Tapi kalau pun terjadi pada teman-teman. Ini mungkin bisa mengurai kebuntuan. Mungkin urutannya perlu diubah supaya cerita bisa mengalir

Nah tips di atas adalah sedikit tips ala aku. Namun sebaiknya sebelum terjadi kebuntuan, banyaklah mencari informasi mengenai tema yang akan ditulis. Tapi ini kan tidak bisa dilakukan kalau sudah menjelang deadline. Boro-boro mau cari informasi, waktunya sudah ga ngejar. Oleh sebab itu, lakukan jauh hari ya. Jangan mepet deadline, seberapa pun canggihnya kita sebagai penulis. Karena buntu itu datangnya tiba-tiba, seperti serangan jantung. Nge-block pikiran, sehingga kerap istilahnya menjadi writer’s block.

Menulis atau mengedit tulisan sendiri (Self Editing) juga bisa mengalami hal seperti ini. Self Editing tentu dilakukan sebelum kita mengirimkan tulisan baik pada editor atau pun pada Penanggung Jawab (PJ) Buku. Jadi, coba lakukan beberapa tips di atas, endapkan dan cari informasi, pindah lokasi kerja atau re-outline.

Salam literasi, Semangat berbagi