Buku Cerita Anak 2018 BITREAD Kids : Aya Dan Kelahiran Adik

Selamat pagi menjelang siang. Dengan mengucap syukur sekaligus promosi, ini adalah buku pertama cerita anak yang aku terbitkan melalui BITREAD. Setelah melalui proses screening sejak naskah masuk ke penerbit pada bulan Agustus 2018, akhirnya Puji Tuhan, buku cerita anak berjudul Aya Dan Kelahiran Adik, terbit pada bulan Desember 2018, sebagai hidangan penutup yang manis di akhir tahun.

covAYA

Buku berjudul Aya dan Kelahiran Adik adalah salah satu buku yang disusun Penulis untuk anak-anak di mana pun berada. Buku ini diangkat dari kisah sederhana, sehari-hari, di sekitar kita, agar anak-anak dapat mempersiapkan diri dalam menyambut kelahiran adik di tengah keluarga dan percaya akan keberlangsungan kasih orangtua pada mereka walau sudah ada adik. Aya menjadi uring-uringan semenjak ia mengetahui akan mendapat adik. Aya yang biasa egois dan manja, disadarkan oleh sahabatnya bahwa kelahiran adik adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan buat keluarga

Disajikan dengan gambar penuh warna (full colour) goresan ilustrator kondang (yang juga suka hadir di kondangan seperti aku 😉 ) mbak Tanti Amelia, yang dalam kegiatan padatnya, yang juga sedang kejar tayang, menyempatkan diri (dengan rayuan dan “pemaksaan”) menyelesaikan ilustrasi buku ini baik isi maupun covernya, kurang dari 10 hari, lu(w)ar biasa(h)….. full colour pula, manual dibuatnya, wow banget kan

Singkat cerita, buku cerita anak setebal 40 halaman buku A6 ini layak dibaca oleh anak dan para orang tua yang ingin mempersiapkan kakak untuk menghadapi kelahiran adiknya, terutama jika ada beda usia yang cukup jauh antara keduanya.

Bagaimana cara memesan ? silakan hubungi online klik ke BITREAD Pemesanan Buku. Bagaimana cara bergabung dan menulis di BITREAD juga bisa dilihat langkah-langkahnya dengan jelas di website BITREAD, semua naskah akan melalui proses screening, lengkapi data yang diperlukan dan tunggu tim dari BITREAD akan menghubungi penulis.

Selamat berkarya dan juga selamat membaca buku cerita anak Aya dan Kelahiran Adik, yang oke punya ini 😉

 

 


“Kopi” Itu (Memang) Pahit

Kopi itu pahit ? Ya, semua juga mengetahui bahwa biji kopi atau bubuk kopi itu rasanya pahit.

kopi1

Dulu, semasa orang tua masih mempunyai kebun di daerah Cipanas, Jawa Barat, kami memiliki beberapa pohon kopi. Aku tidak ketinggalan ikut serta memetik atau memunguti buah kopi yang berwarna hijau kemerahan atau berwarna merah kehitaman jika telah tua dan jatuh di tanah. Beberapa dari hasil panenan, akan dibawa Ibu ke rumah untuk diolah sendiri, selebihnya ? Jangan tanya pada aku, kemana selebihnya, karena Bapak Ibu tidak begitu peduli dengan hasil kebun kami, yang penting penjaga dan keluarganya menjaga dan merawat baik kebun kami. Hasil kebun, ya bonus buat mereka, itu prinsip Bapak Ibu. Baiklah….

Kembali mengenai kopi yang kami bawa pulang. Biasanya akan dijemur beberapa hari di rumah kami di Jakarta, lalu (lagi) aku ikut membantu mengupas kulit buah kopi yang sudah kering itu lepas dari bijinya. Mengupas kulit buah kopi itu bisa membuat jari-jarimu lecet lho, bahkan kadang aku mesti memukulnya dengan uleg an atau batu agar terpecah. Tapi Ibu selalu menginginkan agar biji kopi tidak terpecah tapi tetap bulat sempurna. Aku juga tidak mengerti mengapa Ibu ingin biji kering bersama dengan kulit buahnya, Mengapa biji tidak dikupas selagi kulit buah masih lunak. Salah satu alasan karena akan mempengaruhi rasa kopi, ntah itu benar atau tidak, tapi aku selalu percaya pada yang Ibu katakan, tepatnya aku tidak mau membantah. Setelah itu menampinya agar antara sampah kulit dengan biji terpisah, untuk memastikan biji kopi yang akan disangrai benar-benar bersih.

Selanjutnya Ibu akan menyangrai sendiri biji kopi itu, menyangrai ya, itu artinya meletakkan biji kopi di dalam wajan, di atas kompor dengan api sedang, tanpa minyak. Mungkin ini salah satu penyebab mengapa aku menyukai aroma kopi. Aroma kopi menjadi aroma keseharian kami di rumah. Wangi sekali. Ah aku jadi rindu masa-masa itu karena aku akan duduk di sebelah Ibu, di atas dingklik kayu, di dapur di rumah masa kecilku. Rindu aroma kopi. Rindu dapur Ibu. Rindu rumah masa kecil. Rindu Ibu, tentunya. Aroma kopi mengingatkan aku pada banyak hal. Rasa rindu itu terutamanya.

kopi2

Oh ya, satu rahasia Ibu saat menyangrai kopi adalah memasukkan potongan daging buah kelapa tua, yang membuat aroma dan rasa kopi semakin kuat. Namun, setelah selesai menyangrai, jangan lupa memisahkan daging kelapa tersebut dari biji kopi sangrai yang akan digiling ya, atau memarut daging kelapa tersebut agar tidak merusak mesin penggiling kopi.

Kembali pada maksud tulisan ini dibuat, sama seperti kenyataan dalam kehidupan ini, kopi yang tersedia di hadapan kita, tak bisa langsung sesuai dengan apa yang kita inginkan atau harapkan mempunyai rasa seperti yang kita inginkan, kopi (default) istilahnya adalah kopi tubruk, kopi yang diseduh air panas saja, tentu pahit. Asli pahit.

Namun, secangkir kopi panas yang ada tersedia di hadapan kita, dapat kita nikmati dengan merekayasanya dengan (sedikit) gula, susu atau creamer. Karena yang pahit itu memang mesti kita terima, kita hadapi dan jalani serta nikmati, tinggal bagaimana kita saja meramunya.

kopi3

Satu kegemaranku dalam menikmati kopi adalah biarkan kopi itu menjadi dingin dan ampas kopi itu mengendap dengan sempurna (tentunya setelah berbagai rekayasa seperti gula, rempah-rempah atau susu dan creamer kita campurkan sesuai selera), dan buatku yang sudah mengendap dan meresap itu terasa lebih nikmat, persis sama dengan filosofi hidup ini, “biarkan gelombang hidup itu menjadi tenang dan meresap, maka hidup yang sesungguhnya baru bisa kita nikmati” eaaaa…. nyambung tak ? 😉

Yuk mari menikmati secangkir kopi panas di awal tahun baru yang dingin ini (hujan turun sejak semalam, mengguyur BSD dan sekitarnya)

#delaras
#kopiitupahit