#karyabersamauntuksesama

Sebagai penulis (karena bisanya hanya menulis) maka ketika mendapat ajakan mengikuti program ini, tentu aku semangat untuk ikut berkontribusi dan berpartisipasi. Berkarya dan berdonasi. Wah apalah aku ini, bagaimana lagi aku bisa ambil bagian dalam membantu orang yang terdampak wabah pandemi Covid 19. Jadi aku ikut dalam kegiatan ini, dengan mengirimkan sebanyak 4 (empat) buah naskah. Naskah yang kukirimkan, dua merupakan opini, satu merupakan puisi dan satu cerpen yang terbaru aku tuliskan dua hari yang lalu.

gmb

1 Karyamu= 1 Buku Untukmu + 1 Porsi Makan Untuk Masyarakat + 1 Warung Terberdayakan= 1 Upaya Penyelamatan
#KARYABERSAMAUNTUKSESAMA

Kegiatan ini merupakan program yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berkolaborasi dalam karya, belajar bersama, dan berupaya untuk membantu masyarakat terdampak corona.

Dari setiap karya yang Anda kirimkan, Kami akan mengubahnya menjadi 1 buku terbit, 1 paket pembelajaran limited, 1 sertifikat, 1 dagangan laku di warung terdampak, 1 porsi makanan bagi mereka yang membutuhkan, dan sehimpun kebahagiaan di indahnya Ramadan.

Kegiatan yang berakhir pada Minggu, 17 Mei 2020 pukul 23.59 ini, diperpanjang sampai dengan 20 Mei 2020. Semoga apa yang aku lakukan dan dikoordinir oleh Gerakan Menulis Buku ini dapat bermanfaat dan menjadi keberkahan bagi sesama. Aamiin.


Didi Kempot : Bersikap Untuk Sebuah Patah Hati

Belum sampai 40 hari musisi multi talenta Glen Fredly meninggalkan penggemarnya dan kancah musik Indonesia. Kita telah kehilangan seorang lagi penyanyi fenomenal, Didi Kempot pada tanggal 5 Mei 2020. Glen Fredly meninggal pada 8 April 2020 di Jakarta. Keduanya meninggal di masa pandemi Covid 19, namun itu tidak mengurangi langkah penggemar mereka, untuk mengantar kedua penyanyi tenar ini ke peristirahatan mereka yang terakhir.

dk1

Keduanya adalah penyanyi, pemusik dan pencipta lirik lagu. Liriknya sama-sama menyentuh hati, sebagian untuk orang yang mengalami patah hati, baik karena ditinggal pacar, hubungan tak direstui orang tua, hubungan jarak jauh atau pun hal lain.

Keduanya sama-sama punya penggemar dan panggung di hati masyarakat. Namun, mengapa aku memilih menuliskan mengenai Didi Kempot dalam blogku adalah karena Didi Kempot mempunyai cara pandang yang berbeda dalam menghadapi kepedihan hati.

Didi Kempot mengajak masyarakat untuk selalu berpikir positif dan berpengharapan sekalipun hidup sudah terasa ambyar hancur berantakan. Lirik lagunya yang disampaikan dalam Bahasa Jawa dengan irama musik campur sari, sangat mudah dicerna oleh masyarakat kebanyakan, yang juga berpikir sederhana saja. Biasanya tidak perlu hiburan yang rumit, saat hati sedang sedih dan pilu bukan? Didi Kempot adalah ahlinya, mengolah rasa, terungkap dalam pernyataan atau quotenya yaitu Sobat Ambyar (demikian beliau menyapa penggemarnya) Patah Hati, Dijogetin Aja.

Mas Didi Kempot memang maestro. Ia, yang sudah menulis hampir 800 lirik lagu, dapat menulis sebuah lagu dalam satu jam saja, untuk lagu Sewu Kutho dan paling lama selama dua hari. Luar biasa kan? Dalam salah satu wawancaranya dalam #NgobamDidiKempot (Ngobrol Bareng Musisi) bersama Gofar Hilman di Solo pada tahun 2019, yang bisa disimak di link berikut ini, aku cuma bisa komentar,”Luar Biasa”. Perkiraan Bang Gofar hanya akan hadir 100 orang menjadi sekitar 1.500 orang. Wow, betapa ia dicintai.

#NgoBaMDidiKempot

Lalu bagaimana aku sendiri mulai mengenal lagu-lagunya? Betul tak disengaja, mendengarkan liriknya, saat sedang Gathering Karyawan dalam perjalanan di bis dari Stasiun Purwokerto ke Wonosobo.  Itu bulan November 2019. Dan ternyata itu memang sedang puncak karir Didi Kempot, berhasil menyentuh hati masyarakat, yang bukan hanya dari golongan menengah ke bawah, tapi sampai menengah ke atas. Kaum muda milenial baik yang mengerti Bahasa Jawa maupun tidak. Beberapa lagu yang aku sukai adalah Sewu Kutho, Banyu Langit, Layang Kangen, Suket Teki dan Kalung Emas.

Simak beberapa potongan lirik berikut ini ya, yakin membuat kita meleleh….

Sewu Kutho

Wis tak coba nglaliake
Jenengmu soko atiku
Sak tenane aku ora ngapusi
Isih tresno sliramu
Umpamane kowe uwis mulyo lilo aku lilo
Yo mung siji dadi panyuwunku aku pengin ketemu
Senajan sak kedeping moto
Kanggo tombo kangen jroning dodo

 

Banyu Langit

Sworo angin
Angin sing ngreridu ati
Ngelingake sliramu sing tak tresnani
Pengen nangis
Ngetokke eluh neng pipi
Suwe ra weruh
Senajan mung ono ngimpi

Layang Kangen

Layangmu tak tompo wingi kuwi
Wes tak woco opo karepe atimu
Trenyuh ati iki moco tulisanmu
Ora kroso netes eluh neng pipiku

Suket Teki

Wong salah ora gelem ngaku salah
Suwe-suwe sopo wonge sing betah
Mripatku uwis ngerti sak nyatane
Kowe selak golek menangmu dewe
Tak tandur pari jebul tukule malah suket teki

Kalung Emas

Kalung emas sing ono gulumu
Saiki wis malih dadi biru
Luntur koyo tresnamu
Luntur koyo atimu
Sak iki kowe lali karo aku

Sobat Ambyar telah kehilangan The God Father of Broken Heart, The Legend atau The Maestro. Berbagai tribute dibuat untuk mengenang kepergian beliau melalui karya-karyanya yang fenomenal. Didi Kempot yang telah berhasil menyentuh hati berbagai kalangan status dan lapisan masyarakat. Tugas kita selanjutnya, meneruskan semangat beliau untuk mencintai dan melestarikan budaya bangsa Indonesia, khususnya kesenian campur sari berbahasa Jawa.

Sugeng tindak Mas Didi Kempot. Dari beliau, yang selalu rendah hati, menurut orang-orang yang diwawancarai dan pernah berinteraksi dengan beliau. kita bisa memperoleh persepsi baru, bahwa kesedihan dan patah hati, tidak selalu harus disikapi dengan tangis dan air mata tak berkesudahan, ojo jeru-jeru, menurut beliau, tapi dijogeti saja.

Tuhan memberkahi Mas Didi Kempot. Meninggal pada puncak ketenaran, bahkan sempat berkegiatan amal dengan show dari rumah dan mengumpulkan donasi sebanyak 7 (tujuh) milyar rupiah. Luar biasa, donasi untuk orang-orang yang mengalami dampak pandemi wabah Covid 19 ini. Semoga menjadi berkah buat sesama. Kebaikan nyata yang dilakukan sebelum tiada.

 


Pasrah Berserah

Ketika harus menerima keadaan, tanpa bisa protes. Tanpa argumentasi. Tanpa debat.

kun2

Sedang semangat kuliah. Mendadak kuliah dibekukan. Dianggap cuti 1 semester. Kuliah online, sekolah online. Mendadak pelajar dipaksa paham teknologi. Bersyukur bagi yang punya sarana mendukung di rumah, bagaimana yang tidak.

Tiket sudah di tangan, semangat untuk kembali, berjumpa keluarga, mendadak tidak ada penerbangan. Bukan hanya harga ratusan ribu rupiah, tapi mencapai puluhan juta karena dari luar negeri. Mengurus refund tak semudah membalik tangan. Tiket diganti voucher, padahal momen sudah berlalu.

Sedang punya proyek besar, mendadak semua berhenti, pegawai dirumahkan, roda bisnis tidak dapat berputar.

Famili sedang sakit, rindu ingin jumpa, tak ada akses menuju rumah sakit. Bahkan ibadah pemakaman pun melalui zoom meeting.

Tradisi mudik, silaturahmi keluarga, rindu orang tua, rindu kampung halaman, ditunda demi kebaikan orang di kampung.

Berbicara pun tak bisa. Apa yang bisa dilakukan selain memanjatkan doa? Pasrah berserah…..kehendak Tuhan yang jadi dengan terus berusaha, melakukan yang terbaik, yang kita bias pada keadaan ini. Percaya Tuhan ada menyertai kita. Amin.

#delaras
#delarassemesta