Rindu Itu Abstrak

Berbeda pendapat, berdebat denganmu saja selalu kurindukan

“Rindu itu kata benda,” begitu katamu waktu itu.
“Bukan, rindu itu kata sifat,” sahutku.
“Bagaimana bisa?” tanyamu tak mau berhenti
“Kata dirindukan, nah itu kan kata sifat,” jawabku lagi.
“Nah kalau begitu, bisa juga jadi kata kerja dong,” katamu sambil menutup mata, seolah ikut memikirkan kata itu.
“Hm kok bisa? tadi katamu kata benda, kekeuh..,.”balasku tak mengerti.
“Nah iya, kan tadi ada kata dirindukan, berarti ada kata berawalan me-, merindukan, ya kan?” kamu membuka mata dan duduk di sebelahku dengan cepat, melihat ke arahku.
Aku terkejut. Tentu. “Apa?” tanyaku tanpa suara.
“Kita masih mau berdebat, meributkan jenis kata ini?” tanyamu sambil tertawa. Tawa yang khas.

 

rind
Rindu, apa pun itu, kata benda, kata sifat, kata kerja, kata keterangan, buatku tetap sesuatu yang abstrak, yang tak dapat kugenggam dalam hatiku. Rindu itu menguap, mengembang dan mengempis dalam ruang hati. Rindu itu tetap ada, di sini, menunggumu, yang selalu sibuk ke sana kemari. Menunggu untuk sekedar duduk bercerita, seperti dulu. Rindu yang adalah salahku sendiri karena hanya aku yang tahu. Rindu yang mungkin tak pernah kau mengerti kan? Rindu itu membuatku miris tanpa bisa menangis

 


Dalam Kesahajaanmu…

#potonganceritafiksi

Kami berkumpul dengan membawa setangkai bunga berwarna putih yang sudah disiapkan keluarga, sesuai permintaannya. Semua serba putih, ada bunga lili, sedap malam, mawar, krisan, carnation dan juga gerbera, bunga kesukaannya serta taburan kuntum melati, yang wanginya semerbak memenuhi ruangan. Biasanya ia menyukai bunga berwarna cerah tapi khusus untuk hari ini, ia mau yang serba putih.

Semua menahan diri untuk tidak memecahkan suara tangis seperti yang ia minta, “Supaya perjalananku lancar, bernyanyilah, setidaknya dalam hati, jangan menangis ya, karena aku hanya bepergian,” katanya pada siapapun yang datang, kala ia sakit. Termasuk padaku, yang tak mampu kujawab, selain memandangnya dan mengusap tangannya yang selalu kurasa lembut dan semakin kurus itu.

Ruangan yang tidak besar itu, yang dipenuhi sanak keluarga serta kerabat yang mengasihi dia memang terdengar dentingan lembut dari piano yang berada di salah satu sudut ruangan, berjudul Ajaib Benar Anugerah (KJ 40) atau Amazing Grace dalam versi Bahasa Inggris, yang dimainkan seorang kerabat, yang sesekali mengusap tetes air matanya dengan tisu.

Kami yang hadir pada hari tutup peti itu, juga mengenakan baju serba putih. Baju putih memang kesukaanku tapi ketika ia mengatakan bahwa aku harus mengenakan baju warna putih pada hari kematiannya, aku tak pernah menjawabnya. Rasanya aneh dengan segala persiapan mengantarkan kepergiannya.Tak pernah aku merasa siap ditinggal pergi oleh dia, yang baru kukenal beberapa tahun ini.

Satu per satu, kami yang hadir, memasukkan tangkai bunga ke dalam peti, seakan tak ingin meninggalkannya dalam peti seorang diri. Ia tersenyum, sangat cantik, dalam balutan kebaya putih dan kain songket yang didominasi warna orange kesukaannya, dengan make up yang lembut serta pulasan lipstik warna muda seperti yang selalu ia kenakan. Senyumnya menunjukkan kedamaian hatinya, terlepas dari rasa sakit yang dialaminya beberapa saat ini.

 

Setelah meletakkan tangkai bunga, kami tetap berdiri di sekitar peti.  Air mata mulai menetes dan mengalir dalam diam meski isak tangis tertahan mulai terdengar di dalam rumah duka itu. Tak ada yang rela melepaskan kepergiannya meskipun ia sudah mempersiapkan hati kami jauh-jauh hari.

 Selamat jalan kekasihku, temanku yang luar biasa, kami bukan menangisi kepergianmu karena kita pasti akan berjumpa lagi, tapi kami menangis karena kesahajaanmu…..


Capucino Rasa Rindu

Aroma kopi memang selalu semerbak memenuhi rumah kami di sore hari. Aku suka kopi hitam dan dia suka capucino.

“Sayang, di mana kopiku?”


“Di atas partitur dekat piano…”

cap

Dia berjalan mencari cangkir kopinya, dan bertanya dengan lembut, seperti biasa,

“Lho…. kenapa kamu letakkan di sini? Kalau tumpah ke partiturku bagaimana?”

 

“Supaya aroma dan sedap rasa kopi ini, bisa langsung bertransformasi di atas tuts piano, untuk menginterpretasikan rasa rinduku yang njelimet ini….”

 

“Hm kamu ini…. sini duduk yang anteng, akan kumainkan lagu untukmu,”

ia menarik kursi piano, duduk di atasnya, dan membuka penutup piano, jari-jarinya mulai menari di atas tuts piano setelah dalam sekejap menyeruput setengah cangkir capucino rasa rindu, yang masih hangat itu

Aku duduk manis di sebelahnya, menikmati Lagu Cinta yang ia mainkan untukku, sambil menikmati kopi hitamku. Kurang apa lagi? Sempurna, bersamamu.

 


#delarasngopi