Proses Penerbitan Buku “Aku dan Alam Semesta”

Kali ini aku akan berbagi mengenai proses penerbitan buku, yang sering dibicarakan banyak orang. Yang seolah-olah tampak muncul dengan tiba-tiba, tahu-tahu buku terbit.

Menerbitkan buku sama dengan menulis naskah, butuh waktu yang cukup. Definisi “Cukup” tentu relatif beragam, apalagi buat penulis seperti aku, penulis amatiran, yang menulis di sela waktu.

Singkat cerita, betul, aku sedang menanti terbitnya buku ke-25 ku atau tepatnya buku solo ke-8 di tahun ke-5 masuk dalam dunia penulisan. Naskah dari buku “Aku dan Alam Semesta” ini sendiri disusun sejak awal tahun 2019 dengan narasumber yang kompeten menguasai alam semesta, yaitu Prof Bambang Hidayat dari ITB.

cov1crop

Setelah melalui malam panjang dengan begadang di malam hari dan di akhir pekan, akhirnya rampunglah 10 cerita lengkap dengan ilustrasi dari Mbak Tanti Amelia pada awal bulan September 2019.

Ada kendala keterbatasan waktu bertemu, hampir sebagian besar komunikasi dilakukan melalui email dan beberapa kali tatap muka. Perbaiki, kembalikan, kirim lagi, naskah dan gambar berulang kali dikirim melalui pos dalam bentuk hardcopy, untuk memudahkan Prof Bambang mengkoreksi (sudah seperti mahasiswa memperoleh bimbingan skripsi). Baik dengan mbak Tanti yang super sibuk, maupun dengan Prof Bambang.

Prof Bambang juga sangat berbaik hati mengirimkan bahan-bahan untuk memperkaya wawasanku mengenai alam semesta. Bahan materi dari berbagai sumber, baik dalam Bahasa Inggris ataupun Bahasa Indonesia, beliau kirimkan. Bukan itu saja, Prof juga ingin memastikan bahwa tidak ada kesalahan konten bukuku. Sangat membuat terharu. Dan yang sangat membuat aku meleleh adalah kata pengantar dari beliau, yang sangat membuat aku tersanjung dan makin tunduk, ya ampun….aku bukan apa-apa (bukan siapa-siapa juga) dan karyaku ga ada apa-apanya, tapi demikianlah adanya yang beliau tuliskan, setelah aku konfirmasi, apakah ini tak terlalu berlebihan, tanyaku waktu itu.

Oh ya, awal perkenalanku dengan Prof Bambang Hidayat, dapat dibaca di sini ya, bertemu pertama pada 12 Februari 2019, setelah sebelumnya berkomunikasi melalui email pada 21 Desember 2018. Alamat email beliau, aku peroleh dari rekan blogger, seorang wartawan Tempo, bernama pak Baskoro. Setelah bertemu dengan Prof Bambang di rumahnya, barulah aku tahu kalau beliau adalah ayah dari teman satu kantor, pak Arief Arianto, yang kebetulan sedang berada dalam tim yang sama di BPPT.

Kembali soal proses penerbitan, 10 cerita dengan 41 ilustrasi dalam naskah buku ini selesai pada awal September 2019 dan karena sebelumnya telah berkomunikasi dengan pihak ITB Press, maka setelah Prof Bambang setuju, naskah segera aku kirimkan ke penerbit pada tanggal 8 September 2019.

Dan pada tanggal 17 September 2019, proses dummy selesai dan aku juga mengirimkan pada Prof Bambang, yang sangat disambut dengan sukacita, sama seperti dengan yang aku rasakan saat mengamati dan memeriksa buku dummy versi digital ini. Halaman sebanyak 70 halaman A4 telah menjadi 161 halaman kertas ukuran A5 landscape.

dum1 dum2

Selanjutnya menurut penerbit, akan masuk dalam proses proofreader, untuk memastikan tata letak, huruf dan ukurannya.

Jadi, demikian teman-teman, proses penerbitan buku tidak hanya secepat mengedipkan mata. Pembuatan naskahnya saja (untuk 10 cerita dan 41 gambar) membutuhkan waktu hampir sembilan bulan. Nah untuk menerbitkan bukunya, masih melibatkan banyak pihak, diantaranya editor dan layouter, yang waktunya tergantung antrian di penerbit. mohon bersabar ya.

Buat teman-teman sesama penulis, menerbitkan buku itu perlu kesabaran tingkat dewa (lebai ya). Apalagi jika naskah dikirim ke penerbit mayor, sudah menunggu sekian lama, belum tentu memperoleh jawaban yang memuaskan, bisa diterima dan bisa ditolak. Kalau diterima, ya akan masih harus menjalani jalan yang cukup panjang, proses editing, layout, proofread dan seterusnya. Kalau ditolak, ya jangan patah semangat, coba alternatif lain, mencari sponsor untuk menerbitkan secara indie dan lain-lain.

Pada intinya, jangan meletakkan telur (karya) dalam satu keranjang, terus berkarya, ikut di banyak komunitas menulis, supaya kreativitas terus tergali dan jangan menunggu atau berdiam diri saat naskah sudah disubmit di salah satu penerbit, mana tau karya berikutnya justru terbit lebih dahulu di penerbit yang lain.

Tetap semangat, menulis adalah keabadian….. 😉


Rindu Itu Abstrak

Berbeda pendapat, berdebat denganmu saja selalu kurindukan

“Rindu itu kata benda,” begitu katamu waktu itu.
“Bukan, rindu itu kata sifat,” sahutku.
“Bagaimana bisa?” tanyamu tak mau berhenti
“Kata dirindukan, nah itu kan kata sifat,” jawabku lagi.
“Nah kalau begitu, bisa juga jadi kata kerja dong,” katamu sambil menutup mata, seolah ikut memikirkan kata itu.
“Hm kok bisa? tadi katamu kata benda, kekeuh..,.”balasku tak mengerti.
“Nah iya, kan tadi ada kata dirindukan, berarti ada kata berawalan me-, merindukan, ya kan?” kamu membuka mata dan duduk di sebelahku dengan cepat, melihat ke arahku.
Aku terkejut. Tentu. “Apa?” tanyaku tanpa suara.
“Kita masih mau berdebat, meributkan jenis kata ini?” tanyamu sambil tertawa. Tawa yang khas.

 

rind
Rindu, apa pun itu, kata benda, kata sifat, kata kerja, kata keterangan, buatku tetap sesuatu yang abstrak, yang tak dapat kugenggam dalam hatiku. Rindu itu menguap, mengembang dan mengempis dalam ruang hati. Rindu itu tetap ada, di sini, menunggumu, yang selalu sibuk ke sana kemari. Menunggu untuk sekedar duduk bercerita, seperti dulu. Rindu yang adalah salahku sendiri karena hanya aku yang tahu. Rindu yang mungkin tak pernah kau mengerti kan? Rindu itu membuatku miris tanpa bisa menangis

 


Dalam Kesahajaanmu…

#potonganceritafiksi

Kami berkumpul dengan membawa setangkai bunga berwarna putih yang sudah disiapkan keluarga, sesuai permintaannya. Semua serba putih, ada bunga lili, sedap malam, mawar, krisan, carnation dan juga gerbera, bunga kesukaannya serta taburan kuntum melati, yang wanginya semerbak memenuhi ruangan. Biasanya ia menyukai bunga berwarna cerah tapi khusus untuk hari ini, ia mau yang serba putih.

Semua menahan diri untuk tidak memecahkan suara tangis seperti yang ia minta, “Supaya perjalananku lancar, bernyanyilah, setidaknya dalam hati, jangan menangis ya, karena aku hanya bepergian,” katanya pada siapapun yang datang, kala ia sakit. Termasuk padaku, yang tak mampu kujawab, selain memandangnya dan mengusap tangannya yang selalu kurasa lembut dan semakin kurus itu.

Ruangan yang tidak besar itu, yang dipenuhi sanak keluarga serta kerabat yang mengasihi dia memang terdengar dentingan lembut dari piano yang berada di salah satu sudut ruangan, berjudul Ajaib Benar Anugerah (KJ 40) atau Amazing Grace dalam versi Bahasa Inggris, yang dimainkan seorang kerabat, yang sesekali mengusap tetes air matanya dengan tisu.

Kami yang hadir pada hari tutup peti itu, juga mengenakan baju serba putih. Baju putih memang kesukaanku tapi ketika ia mengatakan bahwa aku harus mengenakan baju warna putih pada hari kematiannya, aku tak pernah menjawabnya. Rasanya aneh dengan segala persiapan mengantarkan kepergiannya.Tak pernah aku merasa siap ditinggal pergi oleh dia, yang baru kukenal beberapa tahun ini.

Satu per satu, kami yang hadir, memasukkan tangkai bunga ke dalam peti, seakan tak ingin meninggalkannya dalam peti seorang diri. Ia tersenyum, sangat cantik, dalam balutan kebaya putih dan kain songket yang didominasi warna orange kesukaannya, dengan make up yang lembut serta pulasan lipstik warna muda seperti yang selalu ia kenakan. Senyumnya menunjukkan kedamaian hatinya, terlepas dari rasa sakit yang dialaminya beberapa saat ini.

 

Setelah meletakkan tangkai bunga, kami tetap berdiri di sekitar peti.  Air mata mulai menetes dan mengalir dalam diam meski isak tangis tertahan mulai terdengar di dalam rumah duka itu. Tak ada yang rela melepaskan kepergiannya meskipun ia sudah mempersiapkan hati kami jauh-jauh hari.

 Selamat jalan kekasihku, temanku yang luar biasa, kami bukan menangisi kepergianmu karena kita pasti akan berjumpa lagi, tapi kami menangis karena kesahajaanmu…..