#karyabersamauntuksesama

Sebagai penulis (karena bisanya hanya menulis) maka ketika mendapat ajakan mengikuti program ini, tentu aku semangat untuk ikut berkontribusi dan berpartisipasi. Berkarya dan berdonasi. Wah apalah aku ini, bagaimana lagi aku bisa ambil bagian dalam membantu orang yang terdampak wabah pandemi Covid 19. Jadi aku ikut dalam kegiatan ini, dengan mengirimkan sebanyak 4 (empat) buah naskah. Naskah yang kukirimkan, dua merupakan opini, satu merupakan puisi dan satu cerpen yang terbaru aku tuliskan dua hari yang lalu.

gmb

1 Karyamu= 1 Buku Untukmu + 1 Porsi Makan Untuk Masyarakat + 1 Warung Terberdayakan= 1 Upaya Penyelamatan
#KARYABERSAMAUNTUKSESAMA

Kegiatan ini merupakan program yang mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk berkolaborasi dalam karya, belajar bersama, dan berupaya untuk membantu masyarakat terdampak corona.

Dari setiap karya yang Anda kirimkan, Kami akan mengubahnya menjadi 1 buku terbit, 1 paket pembelajaran limited, 1 sertifikat, 1 dagangan laku di warung terdampak, 1 porsi makanan bagi mereka yang membutuhkan, dan sehimpun kebahagiaan di indahnya Ramadan.

Kegiatan yang berakhir pada Minggu, 17 Mei 2020 pukul 23.59 ini, diperpanjang sampai dengan 20 Mei 2020. Semoga apa yang aku lakukan dan dikoordinir oleh Gerakan Menulis Buku ini dapat bermanfaat dan menjadi keberkahan bagi sesama. Aamiin.


Pasrah Berserah

Ketika harus menerima keadaan, tanpa bisa protes. Tanpa argumentasi. Tanpa debat.

kun2

Sedang semangat kuliah. Mendadak kuliah dibekukan. Dianggap cuti 1 semester. Kuliah online, sekolah online. Mendadak pelajar dipaksa paham teknologi. Bersyukur bagi yang punya sarana mendukung di rumah, bagaimana yang tidak.

Tiket sudah di tangan, semangat untuk kembali, berjumpa keluarga, mendadak tidak ada penerbangan. Bukan hanya harga ratusan ribu rupiah, tapi mencapai puluhan juta karena dari luar negeri. Mengurus refund tak semudah membalik tangan. Tiket diganti voucher, padahal momen sudah berlalu.

Sedang punya proyek besar, mendadak semua berhenti, pegawai dirumahkan, roda bisnis tidak dapat berputar.

Famili sedang sakit, rindu ingin jumpa, tak ada akses menuju rumah sakit. Bahkan ibadah pemakaman pun melalui zoom meeting.

Tradisi mudik, silaturahmi keluarga, rindu orang tua, rindu kampung halaman, ditunda demi kebaikan orang di kampung.

Berbicara pun tak bisa. Apa yang bisa dilakukan selain memanjatkan doa? Pasrah berserah…..kehendak Tuhan yang jadi dengan terus berusaha, melakukan yang terbaik, yang kita bias pada keadaan ini. Percaya Tuhan ada menyertai kita. Amin.

#delaras
#delarassemesta


Mari Kita Patuh yuk…

Mari kita patuh yuuk….

Kalau menuruti ego sih, aku juga udah ingin cepat beraktivitas normal lagi. Udah ingin promo buku ke kota-kota lain (baca : jualan). Cuap-cuap di radio. Story Telling ke anak-anak. Ingin ketemuan sama illustrator bukuku, mbak Tanti Amelia untuk bikin rencana-rencana buku selanjutnya. Ketemu sama editor novelku, mbak Shinta.

IMG_20200428_114512_972

Liburan sama keluarga, walau ya yang dekat aja. Ingin nengok kakak tengah Leona Aditia Arum Silalahi Jalan sama teman seperjuangan Ari Dianing Ratri , Dwi Hartati Dwi Hartati dan Noenoeng (teman seperjuangan – senasib maksudnya). Ngopi dan ngobrol asyik santai sama teman. Ketemu teman kantor, teman gereja dan saudara. Juga ketemu mbak-mbakku untuk latihan karawitan Hetty Reksoprodjo dan mbak-mbak yang lain.

Dan terutama olah raga atau aktivitas di alam terbuka, untuk cari inspirasi.

Tapi demi buat kita semua, aku milih lebih baik bersabar dan ikutin semua prosedur yang dihimbau Pemerintah untuk situasi sekarang ini.

Memang nggak enak sih, tapi dari pada ini jadi semakin lama akhirnya kita juga yang mesti menanggung. Makin lama kembali ke aktivitas normal. Ayo dong patuh, kita bisa kok. Semangat dengan bersabar dan berdoa, jangan bandel ah….

#kamipatuh #dirumahaja #kerjadarirumah #stayathome #fightforcovid19 #indonesiabisa