24

Chen said.

“Love and marriage are different; marriage takes work to maintain. To have a successful marriage, the couple must learn to understand each other and communicate efficiently,”

Teleflora'sUpsyDaisyPM

Chen Zhilin, a relationship counselor who got his PhD in Psychology at the University College London, said the main reason many people are getting married shortly after meeting each other is job-related stress.

Perenungan diri, pengingat diri sendiri mengenai hari pernikahan, yang hari ini memasuki angka ke-24, menuju ke-25. Pernikahan bukan hanya soal angka, tapi bagaimana dua manusia memaknai kebersamaan dalam sebuah pernikahan.

Pernikahan dan cinta itu hal yang berbeda menurut Chen. Pernikahan itu butuh sebuah usaha untuk merawat, kedua belah pihak atau pasangan harus saling belajar mengerti satu sama lain dan berkomunikasi dengan efisien, jangan mengedepankan ego masing-masing. Ga mudah. Iya, semakin ga mudah. Bagaimana kalau sudah kehabisan daya untuk berupaya?

Tanpa bunga, tanpa kue, tanpa ucapan selamat di pagi hari, mungkin belum karena memang belum bangun, namun lebih di atas segala itu, doa ucap syukur bahwa pernikahan yang dirancangkan Tuhan ini masih ada, perahu yang sedang terombang ambing di tengah badai ini masih disertai Tuhan, menuju ke satu tujuan.

Terima kasih untuk keluarga dan anak-anak yang selalu ada bersama kami.

(281095)

 

 


Dunia Majemuk yang Penuh Warna

“Views are better with your best friend by your side” ~ Peanuts (Snoopy)

peanut

Itu betul banget dan ideal banget. Bahagianya bisa menikmati semesta, diam tanpa kata, diam dalam kesunyian, ga ada perbantahan dan berbantahan (ribet amat ini maksudnya, ga ada perdebatan), menikmati langit bertabur bintang, sambil menunggu bintang yang melintas dan hanya mendengar gemericik air, sambil digigitin nyamuk 😀

Namun…pada kenyataannya tidak selalu demikian kan? Kita tidak selalu bisa merasa lebih baik karena kita berada di sisi seorang sahabat karena kita tinggal di dunia yang majemuk.

Kita mesti bisa duduk bersama dengan orang yang berbeda, orang yang tak sejalan, orang yang tak sama, orang yang tak selalu punya pendapat yang sama.
Di sinilah kita belajar, mengelola apa yang namanya tepa selira, peka, tenggang rasa dan toleransi dalam segala hal. Perdebatan (baca : diskusi) dan saling beradu argumen pasti akan selalu ada, asal disampaikan dengan santun.

Dunia yang majemuk adalah tempat kita berpijak, tempat kita dikirim untuk menjadi seseorang yang punya makna. Dunia majemuk, dunia yang penuh warna, pemandangan juga bisa dinikmati dengan orang yang berbeda dan tetap jadi sahabat.

selamat berakhir pekan…


Hari Ulang Tahun, Pesta Demokrasi dan Ambisi

Kemarin adalah hari ulang tahunku yang ke-51, sebuah awal hari baru di usia yang sudah melewati 51 tahun berada di muka bumi. Seperti biasa, pagi hari ulang tahun adalah saatnya menjalani perenungan diri. Mencari waktu di antara hiruk pikuk kegiatan untuk refleksi diri, apa yang sudah aku jalani dari tanggal 17 April 2018 sampai dengan 17 April 2019 kemarin.

Banyak berkat yang bisa aku syukuri, banyak kenikmatan hidup yang aku rasakan dan juga tentunya penyertaan dan pimpinan Tuhan yang luar biasa, walau kerap aku melakukan pelanggaran dan hal yang kurang berkenan di hadapan Tuhan dan keluargaku.

Rasa syukur untuk pekerjaan baik di kantor maupun dalam hal tulis menulis, untuk keluarga, untuk pertemanan, untuk karya dan ide yang masih bisa selalu ada dari segala hikmah yang ada, yang berasal dari Tuhan juga.

Juga tak lupa mengingat semua hal yang menyebabkan kesesakan hati, yang terjadi dalam perjalanan hidup sepanjang tahun yang telah lewat. Bukan untuk mengingat kesedihan tapi untuk memperbaiki diri, kerap keinginan diri yang berlebihan tanpa lagi memakai nalar dan hati nurani (apalagi mengabaikan peringatan Tuhan) karena emosi dan nafsu, yang berujung penyesalan di kemudian hari.

Pagi, 17 April 2019, menjemput si tengah di Stasiun Senen, dengan agak berdebar karena kami berangkat pukul 02.30 dari rumah dalam kondisi suami baru sembuh dari sakit 1 bulan yang lalu (tepat), kali ini kali pertama pergi menyetir mobil cukup jauh sampai ke Jakarta. Puji Tuhan, walau mundur 30 menit dari jadwal kedatangan, kami bisa bertemu dengan si tengah, yang datang dengan membawa karangan bunga, yang khusus ia pesan dan bawa dari Salatiga untuk hari ulang tahunku.

“I was born with a gift, the gift of awesomeness I`m not just a year older I`m also a year better and wiser, hopefully. Thank GOD”
IMG-20190417-WA0002[1]

Hari ini menjadi hari yang spesial bukan saja buat aku, tapi juga buat bangsa Indonesia, dengan pemberian hashtag untuk 17042019 karena hari ini adalah hari perayaan Pesta Demokrasi, yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali. Ya betul, hari ini kami akan berpesta, akan menuju ke tempat pemungutan suara sebagai warga negara yang baik.

Ada lima surat suara yang akan diisi atau dicoblos, yaitu untuk Pemilihan Presiden, Pemilihan anggota legislatif di tingkat DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten/Kota dan Anggota DPD.

?????????????

Menuju ke TPS 64 melakukan kewajiban untuk memilih dan mengimplementasikan hak memilih yang telah diperoleh melalui Undangan Pemilih

 

pil2

Teringat pesan Opa Robert F Kennedy yang menyatakan,

“Elections remind us not only of the rights but the responsibilities of citizenship in a democracy”

nah benar kan? Menang dan kalah itu bukan kita yang menentukan, tapi kita wajib terlibat, jangan golput. Nyoblos itu keren, begitu kata anak milenial jaman sekarang.

WhatsApp Image 2019-04-17 at 19.08.53

Nah lalu, apa hubungannya ini semua dengan “Ambisi” ? Belum juga pesta demokrasi ini usai, belum juga tinta ungu di ujung kelingking ini kering dan terhapus. Bau-bau darah haus kekuasaan itu mulai tercium pada siang menjelang sore hari, tepatnya beberapa saat setelah pukul 15.00 WIB.

Penghitungan suara dilakukan serentak, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Penghitungan suara dilakukan seperti biasa, dengan menghitung suara yang masuk tentunya, namun yang lebih seru (dan mengerikan) adalah tanggapan dari beberapa orang yang menyatakan ketidakpuasan dari hasil quick count, menyatakan adanya kecurangan di sana-sini dan komentar-komentar yang muncul deras di media sosial dan WA Group. Wih ngeri……sehingga pesta yang semestinya pesta ini, menjadi potret renungan tersendiri buat aku, mengenai apa yang namanya disebut dengan sebuah ambisi, baik ambisi pribadi atau pun golongan dan kelompok tertentu.

 

Ambisi adalah hal yang sah dan tidak salah, namun menjadi salah, ketika nalar dan hati nurani sudah diabaikan, dianggap angin, bahkan membatu dalam diri.

Perhatikan wajah orang yang penuh ambisi di sekitarmu, di dekatmu, di kantormu, ini bukan hanya terkait dengan pesta demokrasi yang sedang berlangsung, tapi juga ambisi dalam meraih sesuatu, menginginkan sesuatu, namun mengabaikan kedua hal di atas, bahkan keluarganya sekali pun, demi meraih apa yang diinginkan, dengan mengatasnamakan demi kepentingan orang banyak, demi komunitas, demi bangsa, bahkan demi isi dunia sekalipun.
 

Ini juga tidak terlepas dengan ambisi-ambisi pribadiku saat ini, aku ingin membuat buku yang bombastis, kadang aku tidak mengukur diri, aku bisa duduk mengetik di depan laptop berjam-jam selama beberapa hari, tanpa memperhatikan sekitar. Kalau pun aku memberi perhatian, itu hanya sebatas formalitas dan tidak sepenuh hati, dampak terburuk tentunya pada keluargaku, yang mungkin tidak sepenuhnya menuntut perhatianku karena mereka mampu melakukan apa-apa sendiri, tapi konsentrasi dan perhatian yang terpecah karena ambisiku, tentu sedikit banyak mengurangi intensitas komunikasi kami.
WhatsApp Image 2019-04-17 at 12.16.34
Life is really simple, but we insist on making it complicated. Don’t make things too complicated. Try to relax, enjoy every moment, get used to everything.

Lalu, apa ambisimu saat ini? Tetaplah berpijak di bumi, gunakan dua hal di atas 😉 Selamat berpesta ulang tahun (yang tertunda), lanjutkan Pesta Demokrasi 2019 dengan menunggu hasil real count dan terus berdoa untuk keluarga, teman dan Indonesia yang aman damai, siapa pun Presiden nya.

 
#selfreminderonmybday
#delaras