Ketika Semua Sampai di Tapal Batas

dhKetika jiwa ini terasa sakit dan batin ini lelah, juga raga yang tak sanggup menggerakkan tangan lagi. Ketika hati menjerit ingin menangis. Lelah jiwa raga, saat ingin segala sesuatunya menjadi sempurna adanya. Mama ada batasnya. Mama bukan mesin, yang harus mulai bergerak setiap pukul 03.30 pagi untuk bangun, memasak air, memasak nasi, menyiapkan sarapan pagi, menyiapkan bekal ke sekolah, menyiapkan air untuk mandi, memandikan adik, memberi makan anjing dan membersihkan kandangnya. Berangkat kerja. Bekerja. Pulang, membereskan rumah, memasak untuk makan malam, memberi makan anjing, membersihkan kandang, mengepel rumah, mandi, menyuapi adik, menemani adik belajar dan mencuci serta menjemur pakaian dan baru tertidur setelah larut malam. Apakah yang harus bisa dilakukan lagi? Selain hanya berdoa untuk memohon kekuatan dari Tuhan.

Apakah mama pernah merasa jantung mama terasa sakit ?
Pernahkah mama (ingin) berteriak begitu keras tapi tak ada yang (ingin) mendengar mama?
Pernahkah mama bersembunyi di kamar dan menangis sepanjang malam?
Apakah mama pernah dipaksa untuk tinggal di rumah karena mama seorang ibu yang harus menjalankan kewajiban mama sebagai ibu?

Apakah mama pernah merasa seperti ‘orang luar’?
Apakah mama pernah merasa seperti tidak seorangpun yang mengerti mama?
Apakah mama pernah berharap kamu adalah orang lain?
Pernahkah mama mengorbankan semua yang mama miliki, tetapi tidak mendapatkan apa-apa untuk membayar mama kembali?
Apakah mama pernah ingin membaca buku tapi tidak ada lagi tenaga tersisa?

Apakah mama pernah ingin bangun tidur lebih lama tetapi harus bangun untuk menyiapkan sarapan?

Pernahkah mama merasa suami dan anak-anak tidak peduli ?

Pernahkah mama merasa tidak punya waktu untuk diri sendiri ?

Pernahkah mama ingin menonton televisi tetapi harus mencuci baju?

Pernahkah mama ingin duduk beristirahat sepulang kerja tetapi harus memasak untuk makan malam?

Pernahkah mama merasa bahwa suami tidak mau mendengar keluhan mama ?

Pernahkah mama merasa anak-anak mengabaikan keberadaan mama ?

Apakah mama pernah merasa seperti mama terjebak?
Apakah mama pernah merasa hidup mama tidak layak dijalani?
Apakah mama pernah merasa seperti mama tidak bisa mencari tahu siapa mama sebenarnya?
Sudahkah  mama menemukan semua jawaban dari pertanyaan mama?
atau…Apakah mama ingin jiwa ini terlepas dari raga saat ini juga dan meninggalkan semuanya saat ini?

Semuanya telah dilakukan untuk suami, anak dan keluarga, namun masihkah mama menerima tumpahan kesalahan dari ketidakberhasilan, kegagalan dan kerusakan atas suatu hal? Mama lelah. Hanya kasih Tuhan yang dapat melalui segala kesulitan.

(Ditulis pada 29 September 2009)


5 thoughts on “Ketika Semua Sampai di Tapal Batas

  1. Menangis dan menuliskan uneg-uneg seperti saat diatas, menumpahkan segala sesuatu dan memohon pertolongan Tuhan, ternyata memberi dampak yang luar biasa pada hidupku (sebenarnya aku sudah menyadari hal itu beberapa kali), namun di kala kesulitan dan kesesakan itu datang, sering kita (aku) lupa bahwa aku punya TUhan Yesus yang setia menolong aku.

    Beberapa saat setelah menuliskan apa yang aku rasakan (dan tentu, belum tentu benar), aku memperoleh kekuatan dan kemampuan yang berlipat ganda dari Tuhan. Aku dimampukan untuk melihat bahwa yang kualami tidak sebesar yang kukira. Ini belum ada apa-apanya. Aku pasti sanggup menghadapi dan mengatasi ini. Banyak orang, yang mengalami hinaan, siksaan dan kekerasan didalam penjara (baik penjara yang sebenarnya) ataupun dimana ia berada.

    Oh Tuhan, terimakasih untuk segala nikmat yang boleh kurasakan hingga saat ini. Pertolongan Mu sungguh luar biasa. Percayalah, teman, dimanapun kamu berada, siapapun kamu, kamu akan mengalami kekuatan yang luar biasa, jika kita memohon pertolongan dari NYA.

    DL

  2. saya bisa merasakan apa yang anda rasakan, karena posisi kita sama, namun tiada hari yang tidak saya syukuri karena hanya dengan itu kita bisa tegak menatap mentari pagi..menyongsong hari esok..sesungguhnya Allah tidak akan pernah memberikan beban yang melebihi kemampuan pundak kita..semakin kita kuat semakin kuat pula cobaan nya semua itu hanya bertujuan untuk memperkuat iman dan kasih kita sama Dia yang maha luar biasa itu soo keepppp moving mom..chayooo chayoooo

  3. Trims b Tammy…dengan nulis kadang n hampir sering sebagian beban berkurang…kadang malu jg kalau baca lagi, tapi ya itulah yg pernah terjadi…semoga kita diparingi Gusti kekuatan dan kesehatan….

  4. kalau sudah menuliskannya rasanya sedikit lega kan jeng…
    Aku punya beberapa blog untuk tulisan-tulisan macam ini juga yang tidak aku jadikan satu dengan TE. Ada yang berbentuk puisi, dan ada yang berbentuk diary.
    Memang kadang malu untuk membacanya kembali, tapi kadang kagum sendiri kok bisa kita nulis spt itu ya? hhehehehe

    EM

  5. iya Mel betul…lega bgt setelah nulis itu…pas menulis, semua beban dan impitan terasa keluar semua…kadang nangis juga, hehe…dasar wanita! aku sengaja gabung, ya krn memang spy konsent di blog ini dulu.

    DL

Comments are closed.