Tegar Melangkah, Haruskah Studi Di (Luar) Negeri

Aku adalah seorang Ibu yang mempunyai dua orang anak perempuan dan seorang anak laki. Dua anak perempuanku sudah duduk di kelas menengah atas bahkan si sulung sudah tamat tahun lalu (2014) Sementara si bungsu terpaut lima tahun dengan kedua kakaknya sehingga saat ini masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Sejak kurang lebih tiga tahun yang lalu, perutku sudah mulai tergelitik karena adanya keinginan dari si sulung untuk melanjutkan studi ke luar negeri, ke Jerman tepatnya. Rasanya bercampur aduk antara senang, ragu dan bangga. Sebagai orangtua yang suka travelling dan berjalan tanpa batas, aku sangat mendukung keinginan si sulung. Berbeda dengan suami yang banyak keraguan dan berbagai pertimbangan. Aku dan si sulung mulai mempelajari seluk beluk cara belajar kesana dan mempersiapkan segala sesuatunya, khususnya Bahasa Jerman.

Sejak duduk di bangku kelas 2 SMA (2012), sulung mulai mengikuti kursus seminggu dua kali di tempat kursus “Optima Studio” yang bertempat di Gedung German Center BSD dari jenjang A1. Setelah itu, ia mengambil kursus di Goethe Institut Jakarta setiap hari Sabtu atau Minggu sejak pagi sudah berangkat dengan kereta menuju tempat kursus di Jalan Sam Ratulangi, Jakarta. Sulung berjuang betul untuk menyelesaikan tingkat B1 nya dengan mengorbankan banyak hal termasuk waktunya bermain dengan teman-temannya. Dua kali gagal mencapai nilai minimal untuk modul “HÖren” tidak membuat sulung berhenti berjuang dan ia tetap mati-matian belajar, hingga akhirnya lulus 4 modul level B1 di Juni 2015

Sertifikat Tingkat B1 memang bukan syarat mutlak, tapi menjadi kunci pembuka sulung untuk mulai mengajukan aplikasi ke universitas dan pembukaan rekening di Deutsch Bank. Mengapa mesti membuka rekening, nanti aku jelaskan di postingan berikut ya. Kali ini di sini aku mau menceritakan bagaimana banyak orang, khususnya teman-teman sesama Ibu bertanya-tanya, anaknya mau kuliah dimana, kok diijinkan kuliah jauh ke luar negeri, mengapa mesti keluar negeri, ke Jerman Timur lagi, emang mau ambil jurusan apa, akuntansi, bisnis, bukannya di sini juga banyak perguruan yang bagus, kalau mau ke luar negeri ada Singapore, Malaysia, Australia yang lebih deket, ga serem apa ngelepas anak perempuan ke negara yang pernah konflik, tahu ga sih di sana kehidupan bebas (gay, lesbi bahkan atheis), nanti kalo anaknya sakit gimana, bener tuh nanti ga nangis ditinggal anak sulung, perempuan lagi, biayanya kan mahal, banyak duit ya, biayanya darimana dst dst. Demikianlah pertanyaan-pertanyaan yang sebagian diajukan, mulai dari yang dengan berwajah was-was penuh perhatian sampai yang nyinyir habis, harus dihadapi.

Lalu bagaimana aku harus menjawab. Betulkah aku yang hanya PNS dan suami karyawan di sebuah BPD punya banyak uang untuk menyekolahkan anak di Luar Negeri ? Kalau boleh dibilang ya inilah perjuangan kami agar apa yang menjadi impian si sulung dapat terwujud. Betulkah ini hanya sebuah prestise orangtua mengirim anak kesana? Tentu tidak. Kami berdua mempelajari sekolah apa yang ingin dituju anak kami. Kami juga memberi pengertian yang juga sudah dia sadari, mengapa kami mengijinkan dan setuju ia berangkat. Anakku ingin melanjutkan ke Uni Mannheim.

Uni Mannheim adalah salah satu universitas termuda di Jerman. Baru di tahun 1967 Uni Mannheim diangkat statusnya menjadi sebuah Universitas. Sebelumnya Uni Mannheim adalah sekolah tinggi perdagangan. Dikarenakan sejarahnya yang berkaitan dengan disiplin ilmu ekonomi, Uni Mannheim berhasil menunjukan kompetensinya di disiplin ilmu ekonomi. Dari hasil penilaian CHE, Uni Mannheim menempati posisi pertama di disiplin ilmu Akuntansi dan Ekonomi. Selain itu Uni Mannheim juga berhasil meraih posisi 10 besar terbaik di Jerman untuk disiplin ilmu Informatik (10) dan Ekonomi Informatik (3).

Studi di luar negeri membuat seorang pelajar menjadi lebih mandiri dan bertanggungjawab. Sebelum masuk kuliah, setiap siswa dari luar Jerman wajib mengikuti masa transisi di Studienkolleg, karena perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dengan Jerman, yang mana Indonesia menerapkan pendidikan dasar 12 tahun (6 tahun SD, 3 tahun SMP dan 3 tahun SMA) sementara di Jerman menerapkan 13 tahun, sehingga setiap siswa wajib mengikuti Studienkolleg (Pre University) selama 2 semester sebelum kuliah di Universitas.

Banyak sekolah di Jerman yang tidak memberlakukan sistem absensi, tidak ada persyaratan minimum kehadiran untuk mengikuti ujian, hal ini pula yang otomatis menuntut setiap siswa untuk bertanggungjawab hadir di perkuliahan tanpa paksaan. Studi di luar negeri, jauh dari orang tua dan keluarga, tentunya akan membuat sulung lebih berhemat, mengatur uang saku yang sudah dijaminkan orangtua sebagai biaya hidup setiap bulannya dengan sebaik-baiknya. Selain mempersiapkan “peluru-peluru jitu” untuk menghadapi ujian masuk ke Studienkolleg yang akan dihadapi sulung pada akhir Agustus nanti (25 Agustus 2015 di Koethen), aku terus mempersiapkan mental anak sulungku ini, dari segi agama agar ia semakin menjadi anak yang tangguh, kehidupan dunia luar yang tentu tidak mudah akan dia hadapi, culture schok, kehidupan bebas dan atheis bahkan rasis akan menjadi kesehariannya nanti.

Menurut Rhenald Kasali, yang banyak mendorong pemuda Indonesia untuk melanjutkan studi ke luar negeri….

Ada dua situasi kebatinan yang akan mereka hadapi (di perantauan): terasing sekaligus tertantang. Dalam keterasingan, mereka hanya berbicara dengan diri sendiri, bukan bergantung pada orang lain. Di tengah kesibukan banyak berdialog dengan orang lain dan media sosial, dalam keterasingan, bagus bagi anak muda untuk membangun diri. Dialog diri ini akan menimbulkan self awareness (kesadaran diri) untuk membentuk karakter yang kuat.

 

Saat ini anakku sedang mempersiapkan diri keberangkatannya dengan mengikuti Vorbereitung Kurs di Gema Sprachenzentrum di BSD setiap hari dari pukul 9 pagi sampai dengan selesai, tergantung materi dan diskusi pada hari itu. Program Aufnahmepruefung Vorbereitungkurs adalah program yang mempersiapkan peserta untuk menghadapi ujian persiapan menempuh ujian masuk yang akan diselenggarakan Studienkolleg.

Yang pasti, sebagai orangtua, kami berdua tidak asal-asalan mengijinkan anak kami melangkah ke depan. Aku juga berpesan agar anakku kuat dan tidak cengeng karena ini adalah pilihan hidupnya, ia harus tegar melangkah, tak guna menangisi kamar yang ditinggal pergi tapi mulai berbenah di kamar yang baru untuk meraih mimpi dan cita-cita.


28 thoughts on “Tegar Melangkah, Haruskah Studi Di (Luar) Negeri

  1. Salam kenal bu Laras. Saya mampir ke blog ibu krn ibu follow twitter saya. Semoga si sulung sukses kuliah di Jerman ya.
    Ngatel mau komentarin yg komentar ke ibu hehe. Setau saya Jerman bukan negara konflik, justru warga dr negara konflik pada minta suaka ke Jerman, disini buanyak sekali pengungsi. Malah banyak bangunan dibuat utk para pengungsi.
    Kehidupan bebas iya, tp semua ngurus diri masing2, gak kepo sama org lain, yg taat beragama ya silakan ke tempt ibadah, yg ateis ya ngurus sendiri.
    Klo sakit ya ke dokter, ke rumah sakit klo dirawat, ga pusing mikir biaya krn tiap org hrs punya asuransi.
    Klo nangis paling 2-3 bulan, kan teknologi sdh canggih, bisa video skype tiap hari.
    Sorry kepanjangan komennya 😀 .

  2. Iya bu…trimksh sdh mampir dan menambah informasi buat saya dan keluarga. Semakin menguatkan ya. Salam kenal. Mngkn mksudnya ‘negara konflik” krn prnah pecah barat n timur, skrg kan sdh menyatu ya. Amin. Puji Tuhan. Nanti klo sdh settle, anak sy boleh main ke Mannheim ya…:-)

  3. sukse buat anaknya ya mba…terimakasih untuk sharingnya. anak saya sih masih SD sama mau masuk TK, tapi sari sekarang saya sudah membayangkan anak saya mau sekolah di A atau B..

  4. Sama mak Adjeng, anakku sulung pun punya obsesi sekolah di LN. Kami support dengan doa sambil cari jalur beasiswa atau hunting negara2 yg punya program pendidikan gratis.

    Sukses untuk Sulungnya mak Adjeng 🙂

  5. Sukses buat anaknya mba Adjeng, ngga semua anak berani mengambil keputusan untuk sekolah sangat jauh dari ortu 😀

  6. Luar biasa nak Ajeng, si sulung bukan hanya ingin sekolah di luar negeri sekedar ingin, tapi sdh dibarengi tekad kuat dgn mengikuti kursus2 bhs Jerman sbg persiapan. Tidak mudah utk disiplin tanpa paksaan dtg ke kursus, krn butuh tenaga, waktu, dana, tp si sulung sdh menunjukkan kerjakerasnya utk suatu pilihan hidup. Sepatutnya org tua all out mendukung. Apkh si sulung tdk mencoba juga browsing ttg tawaran beasiswa utk meringankan beban biaya studi dan biaya hidupnya? Salam eyang Wiwiek Subur utk si sulung. Sukses ya.

  7. @bude Wiwiek…..trimksh sdh mampir blogku, di Jerman sendiri biaya studi kan sdh gratis ya dan utk S1 blm ada beasiswa. Nyuwun pangestunya semoga smua brjalan baik

  8. salut buat sisulung, semoga sukses menembus universitas di jerman yang di impikan, saya juga punya cita2 anak saya bisa kuliah di LN, meskipun otunya juga hanya PNS, cita2 boleh ya mbak…. semoga Allah mengabulkan…amin

  9. Semoga tesnya sukses ya, mbak. Jadi inget sama temanku yang pernah jadi wartawati sebuah media online besar, beliau kepingin banget melanjutkan kuliah ke Jerman.

  10. Selamat ya jeng punya anak yang kuat tekadnya sama seperti ibunya selalu punya tekad yang kuat perencanaan yang matang …..salut buat adjeng n sulungnya……..selamat ya jeng ………

  11. @mbak Anita, terimakasih ya mbak, mohon doanya, bener nih, didoakan ya supaya Dita sehat dan bisa lancar studinya seperti kakak Afi

  12. Ibu..
    kebetulan anak sulung saya yg baru naik kelas 2 SMA juga ingin kuliah di Jerman. Sekarng baru mau mulai persiapan dgn mengikuti les di Goethe. Kalau boleh tau, berapa biaya pendaftaran dan per semester di Studkol German Centre ? waktu kami ke DAAD hanya dibilang Rp 20jt/semester. Apakah mmg tidak ada uang pembangunan/Uang Gedung utk awalnya ?
    Kalau ibu tidak keberatan. mungkin saya akan sering2 minta konsul nih..secara anak Ibu kan juga masih ada di Studkol Indo…siapa tau ada perubahan2an yang bisa kami update juga.

    Terima kasih.
    Retty

  13. Selamat pagi bu Retty, terimakasih sudah mampir di blog saya.

    Mengenai Studienkolleg di Indonesia mungkin Ibu bisa cek link berikut http://www.studienkolleg-indonesia.de/

    Apa yang saya tulis diatas adalah berdasarkan pengalaman anak saya pribadi, yang saya ketahui. Saat ini anak saya sedang berencana mengikuti Studienkolleg di Jerman (bukan di Indonesia). Saat ini dalam tahap persiapan menghadapi ujian masuk Studienkolleg di Jerman

    Dengan senang hati saya akan membantu berbagi info apa saja yang saya tahu tentang rencana studi di Jerman.

    Salam
    D Laraswati H

  14. Salam kenal bu, saya juga ingin melanjutkan studi di jerman. Tapi sekarang masih ada 2 hal yg saya pikirkan:
    1. Bagaimana cara meyakinkan orangtua saya agar mengizinkan saya studi ke jerman? Karena ibu saya hanya seorang PNS dan belakangan saat saya mengutarakan keinginan untuk studi ke jerman, orangtua saya menganggap saya bermimpi terlalu tinggi. Padahal saya sungguh-sungguh dan akan berusaha mengumpulkan uang sebisa saya juga.
    2. Saya juga sedang mencari2 info kursus bahasa jerman di luar Goethe karna pendftaran sudah ditutup. Apa ibu ada rekomendasi? Mungkin boleh tau pengalaman anaknya saat di gema 😀
    Mohon bantuan pencerahannya ya bu 🙂
    Maaf terlalu panjang, trimakasih 🙂

  15. Terimakasih Intan sudah mampir ke blog saya. Salam kenal kembali. Kalau boleh tahu sekarang Intan sudah kelas berapa ? Nanti kalau tidak jelas dengan penjelasan saya ini, kita bisa lanjut japri by email ya.

    Tugas Intan meyakinkan orangtua agar bisa studi ke Jerman, pertama ya mencari informasi sebanyak-banyaknya mengenai Studi di Jerman, jurusan yang akan diambil dan bahkan kota mana yang akan dituju. Sebenarnya studi di S1 di Jerman tidak terlalu mahal bahkan ada yang gratis hanya biaya hidup yang cukup tinggi, namun kalau bisa dapat beasiswa untuk S2 tentu akan mencakup biaya studi dan biaya hidup, karena itu banyak disarankan tamat S1 dulu di Indonesia baru mengambil S2 di Jerman.

    Kursus Bahasa Jerman memang sebaiknya dilakukan sejak dini, biasanya mulai di kelas 1 atau kelas 2 SMA. Kalau di Goethe terlewat pendaftaran, mungkin bisa dimana saja yang menyelenggarakan Bahasa Jerman. Goethe membuka pendaftaran setahun dua kali. Jadi saat pembukaan pendaftaran lagi, bisa dimulai tidak dari level dasar (tergantung hasil test penempatan).

    Kursus di Gema itu kursus untuk persiapan test masuk ke Studkol, jadi bukan belajar bahasa dari level dasar – istilahnya Vorbereitung Kurs, mungkin kalau di Bahasa Inggris, ini setara dengan Kursus Toefl ya.

    ayo semangat, mimpi tidak ada yang “terlalu” tinggi karena mimpi memang harus setinggi langit, asal kaki tetap menapak di bumi 🙂

    salam selalu
    – adj

  16. Salam kenal tante, saya yehezkia. Saya baru mau meneruskan pendidikan ke Jerman. Saya juga tertarik dengan Uni Mannheim dan ingin melanjut kesana. Tapi informasi ttg uni tersebut yg saya miliki masi sangat minim. Jadi maksut saya, tante boleh membantu saya ? Bantu informasi yg tante ttg informasi uni trsbt dan cara daftarnya.
    Kalau boleh nanti balasnya di email aja.
    terimakasi sebelumnya

  17. Salam kenal bu Laras. Saya ketemu blog Ibu wkt Saya cari2 info tng perkuliahan di jerman. Boleh Saya tanya2 lebih detil bu?
    Terima Kasih

Comments are closed.