Orasi Pengukuhan Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional

Rabu, 17.07.2024, BRIN telah menyelenggarakan Sidang Terbuka Majelis Profesor Riset “Pengukuhan Profesor Riset” kepada empat periset di BRIN.

Keempat periset ini adalah Dr. Heny Herawati, S.TP., M.T., Dr. Muhammad Rifai, S.Si., M.Eng., Dr. A’an Johan Wahyudi, S.Si. dan Dr. Didi Rosiyadi, M.Kom.

Dr. Heny Herawati, STP, MT dalam naskah orasinya yang berjudul Teknologi Formulasi-Ekstrusi Produk Pangan dan Non-Pangan untuk Mendukung Nilai Tambah dan Daya Saing Agroindustri Indonesia, menyampaikan latar belakang dan permasalahan dilakukannya riset dan inovasi teknologi formulasi dan ekstrusi. Selanjutnya diuraikan mengenai perkembangan teknologi formulasi dan ekstrusi pada masa lalu hingga peluang pengembangan ke depan. Disampaikan pula berbagai riset dan inovasi terkait teknologi formulasi-ekstrusi, Implementasi inovasi teknologi formulasi-ekstrusi untuk pengembangan agroindustri dan Inovasi teknologi formulasi ekstrusi untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing agroindustri Indonesia.

Pada bab Kesimpulan, Dr. Heny menyampaikan bahwa Implementasi teknologi formulasi dan ekstrusi memungkinkan untuk mengembangkan agroindustri secara lebih luas dan kuat, karena bahan baku yang digunakan tidak lagi terbatas hanya beras dan gandum tetapi semua potensi bahan baku lokal yang jumlah dan jenisnya melimpah di Indonesia.

Dengan demikian, jenis agroindustri yang dapat memanfaatkan keanekaragaman hayati Indonesia semakin luas mulai industri mikro, kecil, menengah, hingga besar baik untuk produk pangan maupun non pangan. Besarnya potensi bahan baku dan luasnya peluang aplikasi yang dapat dimanfaatkan dalam berbagai skala industri akan semakin meningkatkan nilai tambah dan daya saing serta ketahanan agroindustri Indonesia. Hal ini diperkuat dengan adanya inovasi teknologi cold extrusion untuk mendukung industri kecil menengah dan hot extrusion untuk industri besar.

Dr. Muhammad Rifai, S.Si., M.Eng. dalam naskah Orasinya yang berjudul Teknologi Nuklir dalam Pengembangan Teknologi Proses Logam Nano Struktur, menyampaikan

Logam nanostruktur menawarkan sifat fisik dan kimia yang unggul dibandingkan dengan material konvensional, mempengaruhi industri secara signifikan. Pendekatan topdown dan bottom-up menjadi landasan dalam teknologi pembuatan logam nanostruktur. Pendekatan bottom-up, seperti pengembangan Harmonic Structure, menghasilkan bahan dengan struktur mikro heterogen, sedangkan top-down melibatkan metode SPD untuk bulk nanostructured metal.

Pemahaman dan karakterisasi material nanostruktur menjadi kunci. Teknik nuklir seperti hamburan neutron dan sinar-X synchrotron penting dalam analisis struktur dan sifat material ini, melengkapi data dari teknik non-nuklir. Penggunaan teknik nuklir memberikan pemahaman tentang struktur internal dan sifat material pada skala nano hingga atomic, mendukung inovasi teknologi logam nanostruktur masa depan. Riset logam nanostruktur di Indonesia berkembang pesat, dengan fokus pada teknologi SPD dan teknik karakterisasi nuklir. Berbagai logam nanostruktur, seperti Ti dan paduannya Ti-6Al-4V, serta baja SUS316L, menjadi fokus utama. Teknik karakterisasi nuklir membantu memahami perubahan mikrostruktur selama deformasi, penting untuk aplikasi rekayasa.

Pemanfaatan teknik nuklir dalam pengembangan logam nanostruktur di Indonesia memberikan dampak positif. Fasilitas karakterisasi berbasis teknik nuklir memperkuat pemahaman tentang sifat material nanostruktur. Kolaborasi antara peneliti dan industri akan memaksimalkan potensi material nanostruktur dalam berbagai aplikasi industri. Meskipun ada tantangan, investasi dalam infrastruktur dan pendidikan teknologi nuklir akan memperkuat posisi Indonesia dalam riset dan pengembangan material nanostruktur. Integrasi antara teknik nuklir dan riset material nanostruktur mendorong inovasi di masa depan.

Dr. A’an Johan Wahyudi, S.Si. dalam naskah orasinya yang berjudul Signifikansi Siklus Biogeokimia Karbon Laut Bagi Sistem Biosfer dan Pembangunan Ekonomi Biru Indonesia, menyampaikan

Siklus biogeokimia karbon laut perlu dipelajari secara komprehensif melalui observasi in-situ, model, dan data satelit untuk memahami dinamika karbon dan mengelola ekosistem laut. Kajian ini meliputi estimasi cadangan karbon ekosistem karbon biru di Indonesia, emisi ekosistem padang lamun, variabilitas karbon organik partikulat (POC) di laut, dan prakiraan konsentrasi karbon organik di masa depan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa asimilasi karbon padang lamun di Indonesia mencapai 8,40 Mg C/ha/tahun dengan total cadangan karbon pada biomassa mencapai 5,99 Mg C/ha. Emisi dari perubahan lahan padang lamun nasional diperkirakan sekitar 0,46 Mg CO2 ha/tahun. Proses pompa biologis karbon memindahkan sekitar 9,99 Tg C/tahun dari kolom air ke sedimen pesisir Indonesia.

Riset biogeokimia laut penting untuk mendukung mitigasi perubahan iklim dengan strategi berbasis alam, serta memantau kesehatan dan produktivitas laut melalui prakiraan deret waktu variabilitas biogeokimia. Variabilitas iklim seperti El Niño dan Indian Ocean Dipole (IOD) mempengaruhi pengayaan karbon laut, dengan puncak konsentrasi karbon organik partikulat (POC) terjadi selama musim monsun tenggara. Prakiraan variabilitas biogeokimia di masa depan membantu mitigasi risiko ekstrim seperti marak alga berbahaya dan hipoksia, serta meningkatkan pemanfaatan potensi ekonomi biru laut Indonesia.

Riset biogeokimia laut dapat mendorong kolaborasi dalam pemahaman siklus biogeokimia karbon, yang krusial untuk kesehatan ekosistem laut. Riset ini bermanfaat untuk keberlanjutan ekonomi biru Indonesia.

Dr. Didi Rosiyadi, M.Kom. dalam orasinya yang berjudul Teknologi Waternarking untuk Mendukung Keamanan Siber di Indonesia, menyampaikan

Dalam proses transmisi data dijital melalui internet seperti data e-government, data e-health dan data penting lainnya haruslah diperhatikan mengenai pengamanannya dari berbagai tindak kriminal di dunia siber (Cybercrime), diantaranya pencurian data, pengkopian ilegal, data phising, pemalsuan data, akses ilegal oleh para penyerang (attacker), peretas (cracker, hacker), penyusup (intruder) dan pelaku tindakan kriminal lainnya.

Oleh karena itu telah dilakukan penelitian perlindungan kuat (robust) otentikasi dan hak cipta untuk data e-government (Rosiyadi, et al., 2012) berbasis kombinasi metoda SVD-DCT dan GA, pada (Horng, et al., 2013) menambahkan metoda blind, dan pada (Horng, Rosiyadi, Fan, Wang, & Khan, 2014) melengkapi dengan metoda penyamaran pencahayaan (Luminance Masking) yang merupakan bagian dari model Sistem Visual Manusia (Human Visual System).

Penelitian tentang e-government tersebut ditunjang juga dengan penelitian yang sudah dilakukan lainnya (Nuryani & Rosiyadi, 2007) (Rosiyadi, Nuryani, & Waskita, 2007) (Rosiyadi, Suryana, Masthuroh, & Suhud, 2011)

Hadir sebagai Majelis Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), diantaranya adalah Prof. Dr. Ir. Lamhot Parulian Manalu, M.Si., Prof. Ir. Wimpie Agoeng Noegroho Aspar, MSCE., Ph.D. dan Dr, Ir, Arief Arianto, M.Sc. Agr. Dr. Ir. Arief Arianto, M.Sc.Agr, hadir selaku Kepala Pusat Riset Agroindustri, dimana salah satu peneliti jenjang ahli utama nya yaitu Dr. Heny Herawati, STP, MT dikukuhkan menjadi Profesor Riset pada hari ini.

Pengukuhan ini dapat disaksikan ulang  dalam tayangañ “Pengukuhan Profesor Riset BRIN” melalui Youtube BRIN Indonesia.

Selamat kepada Para Profesor Riset yang baru dikukuhkan pada hari Rabu, 17 Juli 2024, semoga ilmu dan hasil penelitian yang diperoleh, dapat memberikan manfaat pada bangsa dan negara Indonesia dan dirasakan juga manfaatnya oleh masyarakat.

Sumber foto dan tulisan : Dr. Arief Arianto, BRIN dan Bahan Paparan Orasi para Profesor Riset


Kuliner : Bergoyang Lidah ala Mie Ayam Bunda

Sabtu, 12 Juli 2024, kami dijamu Mbak Tanti Amelia untuk menikmati Mie Ayam Bunda di rumah Mbak Ignatia Yulia, yang terletak di Jalan Sinai Raya No 3, wilayah Kelapa Dua, Gading Serpong, Tangerang Selatan.

Didominasi warna hijau muda, mulai dari gerobak sampai dengan pernak pernik yang ada di garasi dan teras rumah, yang dimanfaatkan untuk makan di tempat (dine in). Selain warna hijau yang segar itu, rumah Mbak Lia, panggilan pemilik Mie Ayam Bunda ini, rumah ini juga terasa adem dengan tanaman hijau dan ornamen perabot kayu jatinya.

Kita bisa menikmati sajian mie ayam ini, di garasi yang sudah disulap menjadi tempat makan, atau di teras yang adem dengan banyak tanaman atau didalam rumah sambil mendengar suara gemericik dari kolam ikan.

Mbak Lia, yang cantik dan ramah, turut menemani kami menikmati semangkuk mie ayam spesial ini, dengan bercerita bagaimana awal mula memulai usaha kuliner mie ayam, yang sudah dimulai sejak berada di Solo, Jawa Tengah.

Dihidangkan pada kami, semangkuk mie ayam spesial, berisi mie, potongan daging ayam, pangsit, ceker ayam plus sayur sawi dan toge, ditambah semangkuk kuah segar berisi pangsit basah dan baso sapi. Porsinya, besaaar. Untuk ukuran aku, akan nyaman dan pas jika ada ukuran porsi 1/2 atau porsi kecil. Mie nya enak, teksturnya lembut dan berukuran kecil. Kebetulan aku suka jenis mie seperti ini.

Biasanya, jika aku menikmati mie ayam, yang akan aku rasakan adalah kuahnya, kuah mie ayam Bunda cenderung plain, menurut aku, tapi ini pas karena sudah berimbang dengan gurihnya mie ayam. Lalu aku mencoba mie nya tanpa menambahkan apa-apa dulu, hanya mengaduk dari paduan minyak wijen yang ada di bagian bawah mangkok, hm enak sekali mie nya. Baru aku menambah sambal dan kuah ke dalam mangkuk tersebut.

Soal harga, harganya relatif murah. Satu mangkuk mie ayam diberi harga Rp 10.000,- saja. Mie ayam plus bakso dan pangsit seharga Rp 13.000,- Sedangkan untuk porsi lengkap, ditambah dengan sepotong ceker ayam, harga menjadi Rp 15.000,-.

Selain mie ayam, di sini juga tersedia beberapa jenis minuman segar yang bisa dipesan, tentu juga dengan harga terjangkau dan menerima pembayaran melalui QRIS.

Setelah menikmati mie ayam, kami juga disuguhi puding ketan dan kue gemblong, yang juga dibuat sendiri oleh Mbak Yulia. Dibantu dengan dua asistennya, Mbak Yulia meracik kelengkapan mie ayam ini sendiri.

Berfoto bersama, dari kiri ke kanan, Mbak Tanti Amelia, Mbak Taneke, Mbak Yulia, Mbak Ari dan aku, sebelum kami melanjutkan ngopi cantik di Kebon Kita.

Harga yang ramah, rasa yang dijamin enak, porsi yang mantap dan keamanan kesehatan yang terjamin, membuat aku yakin untuk merekomendasikan kuliner ini layak untuk dicoba. Mbak Yulia juga siap menerima pesanan untuk dipesan antar. Penasaran kan? Yuk mari nikmati langsung di kediaman Mbak Yulia atau hubungi akun IG Mbak Yulia di @ignatia yulia. Selamat menikmati

Foto dari Mbak Lia, Mbak Ari dan Pribadi


Analisis Puisi “Cermin Tak Bertopeng” dari ChatGPT

Puisi “Cermin Tak Bertopeng” di postingan sebelumnya, kucoba iseng analisis melalui Chat GPT dan berikut hasil analisisnya. Just for fun ya. Puisi ini mengangkat tema kejujuran dan introspeksi diri melalui metafora cermin yang tak bertopeng. Berikut adalah analisis dari setiap bait puisi:

Bait Pertama

Tak bertopeng, sapa jujur Ungkap semua, tanpa dusta, Pantulan setia, apa adanya, Pantulkan wajah, jiwa dan rasa.

Pada bait pertama, penyair mengawali dengan menggambarkan cermin sebagai entitas yang jujur, tanpa topeng atau kepalsuan. Cermin di sini diibaratkan sebagai sesuatu yang mengungkapkan semua kebenaran tanpa menutupi apa pun. Pantulan yang diberikan cermin adalah setia dan menggambarkan apa adanya, tidak hanya fisik (wajah) tetapi juga perasaan dan jiwa seseorang.

Bait Kedua

Kulihat bayang diri, Tanpa tabir, tanpa peri, Garis lelah, tawa, dan sedih, Terpampang, terselisih.

Bait kedua menggambarkan pengalaman pribadi ketika melihat bayangan diri di cermin. Penyair menekankan bahwa tidak ada tirai atau penutup yang bisa menyembunyikan keadaan sebenarnya. Garis lelah, tawa, dan sedih semua terlihat jelas, menunjukkan bahwa cermin memaparkan segala emosi dan kondisi tanpa filter.

Bait Ketiga

Tak bertopeng, tiada pura, Tunjukkan luka, juga tawa, Kuak rahasia, dalam sorot mata, Buka tirai, belah fakta.

Bait ketiga mempertegas bahwa cermin tidak mengenal kepalsuan atau kepura-puraan. Cermin menunjukkan baik luka maupun kebahagiaan dengan jujur. Mata menjadi jendela yang mengungkapkan rahasia terdalam, membuka tirai yang menyembunyikan fakta sebenarnya dari kehidupan seseorang.

Bait Keempat

Tiada topeng, tiada kepalsuan, Bicara kejujuran, lihat hati, Pndang jiwa, sadarkan diri tentang makna. Pantulan nyata, tak palsu, tak direka, Sahabat setia, jujur pada diri.

Bait keempat menekankan lagi ketiadaan topeng dan kepalsuan pada cermin. Cermin berbicara tentang kejujuran, mengajak kita untuk melihat hati dan jiwa kita sendiri. Melalui pantulan yang nyata dan tak direkayasa, cermin menjadi sahabat setia yang mengingatkan kita untuk jujur pada diri sendiri dan menyadari makna kehidupan.

Bait Kelima (Penutup)

Hai Cermin, tak bertopengkah aku?

Bait penutup ini merupakan sebuah pertanyaan retoris yang diajukan oleh penyair kepada cermin. Pertanyaan ini mencerminkan perenungan diri dan introspeksi yang mendalam. Penyair mempertanyakan apakah dirinya juga sudah tak bertopeng seperti cermin yang dihadapinya, menunjukkan upaya untuk mencapai kejujuran dan ketulusan dalam hidupnya.

Kesimpulan

Puisi “Cermin Tak Bertopeng” menggambarkan cermin sebagai simbol kejujuran yang absolut. Melalui pantulan cermin, kita diajak untuk melihat dan menerima diri kita apa adanya, dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Pertanyaan di akhir puisi mengajak pembaca untuk merenungkan sejauh mana kita telah hidup tanpa topeng, jujur pada diri sendiri dan orang lain. Puisi ini mengandung pesan moral untuk selalu bersikap jujur dan menerima diri kita apa adanya.

4o


Cermin Tak Bertopeng

Cermin itu….
Tak bertopeng, sapa jujur
Ungkap semua, tanpa dusta,
Pantulan setia, apa adanya,
Pantulkan wajah, jiwa dan rasa.

Kulihat bayang diri,
Tanpa tabir, tanpa peri,
Garis lelah, tawa, dan sedih,
Terpampang, terselisih.

Tak bertopeng, tiada pura,
Tunjukkan luka, juga tawa,
Kuak rahasia, dalam sorot mata,
Buka tirai, belah fakta.

Tiada topeng, tiada kepalsuan,
Bicara kejujuran, lihat hati,
Pandang jiwa, sadar makna diri
Nyata, tak palsu, tak  direka,
Sahabat setia, jujur pada diri.

Hai Cermin, tak bertopengkah aku?

Puisi “Cermin Tak Bertopeng” ini kucoba iseng analisis melalui Chat GPT dan berikut hasil analisisnya. Just for fun ya. Hasilnya ada di postingan setelah ini, berjudul Analisis Puisi “Cermin Tak Bertopeng” dari ChatGPT


PSW Sola Gratia Goes To De Kuningan

Semula agak ragu untuk ikut jalan-jalan ini, ketika disebutkan kalau kami akan ke Kuningan, Jawa Barat. Mengapa ragu, karena pertama, aku sudah pernah ke sana bersama keluarga, kedua, tempat yang dikunjungi di Grage Sangkan, juga sudah pernah ke sana, bahkan menginap dan berendam air panas nya juga, ketiga, kotanya kecil, kalau mau eksplor daerah wisata, agak jauh-jauh dan jalannya sempit, lalu keempat, tujuan belanja ke Cirebon dihapus karena ada permintaan untuk pulang tidak terlalu malam. Hm, rasanya kok jadi sesuatu yang “B” aja alias biasa aja ya, tapi eh tapi, aku sudah nabung untuk jalan-jalan ini dan pasti akan jadi LUAR BIASA kalau bepergian dengan sista PSW Sola Gratia ini dan…..

…. akhirnya, dengan bis HORIZON kami sejumlah 18 orang menuju Kuningan, Jawa Barat.

Kuningan, adalah sebuah kabupaten di Jawa Barat. Menurut Wikipedia, luasnya hanya 1.178,58 km2 dengan jumlah penduduk 1.198.814 orang. Kota dengan mayoritas penduduknya beragama Islam ini, tersebar di 32 kecamatan, 15 kelurahan dan 361 desa.

Kota ini dijuluki dengan sebutan Kota Kuda. Kuda dipilih sebagai ikon, karena dianggap sebagai hewan perwujudan dari Si Windu, kuda gesit milik keluarga Arya Kamuning, seorang pemimpin wilayah ini pada zaman Kesultanan Cirebon dan Pajang

Terkenal dengan wisata alam nya, terutama beberapa tempat yang mengalirkan sumber air panas, namun juga selain itu terkenal dengan seni budayanya terutama Tari Buyung dan Kuda Lumping, yang dikenal sampai ke mancanegara.

Kuningan juga dikenal sebagai tempat ditandatanganinya Perjanjian Linggarjati, tahun 1946, pasca kemerdekaan. Perjanjian Linggarjati adalah perundingan antara Indonesia dan Belanda di Linggarjati, kuningan, Jawa Barat yang menghasilkan persetujuan mengenai status kemerdekaan Indonesia.

Kami berangkat pada hari Sabtu pagi, 6 Juli 2024, pukul 06.30 dari GKI Serpong menuju Kuningan, Jawa Barat, menikmati perjalanan dengan sarapan lontong atau arem-arem dan sosis solo karya bu Cath Dasih dan tahu kuning goreng nya bu Shakila, plus sambal kecapnya, beredar mengisi keriuhan perut kami.

Wisata Kuliner kami yang pertama di Arunika Eatery adalah sebuah tempat wisata alam dan kuliner yang mengedepankan vibes ala Jepang, mulai dari bentuk bangunan, konsep interior dan tamannya. Berada di ketinggian 1.100 mdpl, tentu terasa sejuk berada di tempat ini, apalagi saat kami datang, hujan deras sedang mengguyur.

Makanannya bervariasi dari makanan nusantara seperti rawon sampai ke masakan Asia. Aku sendiri memesan Nasi Ayam Masak Jahe dan Teh Kampul. Nasi Ayam Masak Jahe nya terasa enak dengan banyak bawang putih, namun jahe nya kurang terasa dan sayangnya kuahnya tidak hangat saat disajikan, mungkin jika menggunakan hot bowl, akan terasa lebih nikmat. Teh Kampul nya adalah teh manis dengan potongan buah jeruk, seperti lemon tea tapi lebih segar.

Selanjutnya, agenda kedua adalah menuju Grage Sangkan Hotel and Spa, tempat kami akan menikmati terapi kesehatan, yang disebut dengan Aqua Medic. Aqua Medic itu apa sih? Aqua Medic adalah fasilitas pemandian dan perawatan dengan air panas yang mengandung mineral atau terapi medis dengan air panas alami.

Elemen mineral yang terkandung didalamnya, diantaranya seperti Na, K, Ca, Mg, dan P, dan elemen renik, seperti I, Co, Fe, Zn, dan Cu. Sementara panas temperatur di kolam air panas tersebut diatur sama dengan suhu tubuh, antara 35 derajat – 38 derajat celcius. Sumber air panas berasal dari Gunung Ciremai.

Fasilitas Aqua Medic di sini, dirancang dengan teknologi canggih dari Jerman, menghasilkan 4 aspek dan 6 tahap treatment atau pengobatan, yakni, aspek Bio Chemical, apek Thermic, aspek Mechanical dan aspek Gravitasi.

Manfaat dari terapi air panas alami ini di antaranya, yaitu memperbaiki sirkulasi darah, pembongkaran timbunan bahan-bahan racun di otot, pengikisan plak kolesterol di pembuluh darah dan penghancuran lemak.

Selesai berendam, kami disuguhi air jahe dan pisang goreng, sebelum mandi dan berganti pakaian.

Selanjutnya, sebelum menuju hotel, kami menikmati makan malam di ALINDA Resto, yang letaknya pun tak jauh dari Grage Sangkan Hotel and Spa, dengan sajian ikan bakar dan ayam bakar, untuk menggantikan kalori kami yang sudah terkuras saat terapi air panas tadi, dengan nasi hangat, sambal yang katanya kurang pedas tapi pas menurut aku dan tentu saja teh tawar panas. Ah nikmat sekali bukan?

Tiba di hotel Grand Cordela, hotel bintang tiga yang terletak di Jl. Siliwangi No.91, Purwawinangun, Kec. Kuningan, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat 45511, aku memilih beristirahat, ketimbang keluar lagi, setelah masuk kamar bernomor 234, sekamar dengan bu Eva Hutabarat. Selain lelah dan butuh meluruskan punggung, kota Kuningan juga masih diguyur hujan rintik sampai malam itu. Beberapa teman masih ada yang jalan-jalan mencari minuman hangat dan ngobrol di teras kamar.

Minggu, 7 Juli 2024, kami awali dengan sarapan pagi sebelum beribadah di GKI Kuningan, yang letaknya tepat di sebelah hotel, jadi kami berjalan kami menuju gereja.

Car Free Day diberlakukan di sepanjang jalan Siliwangi, ada kegiatan senam, tidak jauh dari hotel, dengan musik jedag jedug yang bingar mengajak bergoyang tapi apa daya, kami harus ibadah pagi. Selain senam, jalan pagi, juga ada aneka kuliner dan barang kebutuhan seperti pakaian, buah, sayur, diperjualbelikan di sepanjang jalan ini.

Bertepatan dengan Perjamuan Kudus Sedunia, kami beribadah di GKI Kuningan, bertema Keteguhan Seorang Pembawa Pesan, yang disampaikan oleh Bapak Pendeta Pramudya Hidayat. Puji Tuhan, berkesempatan berfoto bersama dengan Bapak Pendeta dan calon pendeta, Bapak Kenneth.

Selesai ibadah, dengan wajah penuh berkat dan kemuliaan Tuhan (Haleluya, Amin), kami menyusuri jalan menuju Alun-Alun Kota Kuningan.

Monumen Kilometer 0 Kuningan ini terletak di sebelah utara Taman Kota, seberang Masjid Agung Syiarul Islam, tepatnya berjarak sekitar 160 meter dari Tugu Titik Nol Kota Kuningan.

Kami sempat berkeliling naik delman, dengan biaya Rp 10.000,- per orang, mengulang pengalaman masa kecil, jadi menyenangkan buat kami, aku teringat lagu Naik Delman, “… pada hari Minggu kuturut ayah ke kota, naik delman istimewa kududuk di muka, samping pak kusir” haha, bukan mengingat naik delman, tapi aku malah jadi rindu Ayah.

Kami kembali ke hotel untuk bersiap check out, ada satu destinasi lagi yang akan kami kunjungi sekaligus Makan Siang, yaitu Pondok Cai Pinus. Oh ya BPH dan Panitia sangat berbaik hati menyediakan satu paket oleh-oleh, berisi rengginang, tape ketan, sale pisang, kremes ubi dan kerupuk opak.

Dalam perjalanan menuju Pondok Cai Pinus, dilakukan Voting apakah kami akan ke Batik Trusmi Cirebon atau tidak, 11 dari 18 orang plus pengemudi setuju kami menuju Cirebon, dengan catatan waktu makan siang dan waktu belanja yang dibatasi agar tetap bisa kembali ke Serpong tidak terlalu malam. Salut bu Ketua, demokrasi pun dijalankan di sini.

Puas makan siang, berfoto dan memesan nasi boks untuk makan malam di dalam bis, kami melanjutkan perjalanan ke Batik Trusmi Cirebon, yang kurang lebih ditempuh dalam waktu 1 jam.

Tiba di Batik Trusmi Cirebon, pukul 15.30, kami diberi waktu untuk cuci mata atau berbelanja selama 1 jam, namun karena terkendala dengan toilet dan antrian kasir yang panjang, akhirnya kami baru keluar dari tempat ini pukul 17.00.

Area yang luas dan lengkap, segala sesuatu berbau Cirebon ada di sini, termasuk empal gentong dan tahu gejrot dan juga bolu Cirebon yang sedang viral. Segala produk batik dari berbagai range harga, kualitas dan motif pun banyak pilihan. Di tempat ini, aku mendapat 3 potong celana batik seharga Rp 100.000,-, ikat kepala untuk si bungsu berkegiatan, 1 lembar kain batik murah meriah seharga Rp 60.000, 1 buah blus santai dan 2 slayer batik seharga Rp 29.000,- eh banyak juga ternyata ya, padahal niatan hanya cuci mata. Selain itu icip-icip tahu gejrot nya Bu Ruth dan bolu nya Bu Dame. Ah menyenangkan sekali.

Dalam nama Tuhan Yesus, kami kembali ke Serpong, dengan perjalanan yang panjang dan melelahkan karena macet dan keterbatasan toilet di Rest Area, namun kami nikmati dengan penuh syukur dan sukacita. Tiba di GKI Serpong hampir sekitar pukul 22.30 dan masing-masing kami kembali ke rumah. Terima kasih untuk kasih setia Mu, Tuhan. Kami tiba dengan selamat.

Sedikit tambahan, selain permainan berupa Teka Teki dari Bu Ida, Tebak Rohani dari Bu Yovana juga ada menggambar Apel dan Ayam. Semula, aku mengira akan dipilih gambar yang terbaik, namun ternyata pertanyaan yang diajukan Bu Yovana adalah kemana arah daun dan tangkai serta paruh ayam yang kita gambar. Dari ilustrasi itu, Bu Yovana menghubungkan dengan firman Tuhan yang disampaikan dalam ibadah pagi hal Kebiasaan. Aku setuju, dengan memahami keterkaitan antara karakter, kebiasaan, dan sikap, seseorang dapat bekerja untuk mengembangkan diri secara holistik, memperkuat karakter positif, membangun kebiasaan baik, dan mengadopsi sikap yang konstruktif.

Kalau ditanya Pesan dan Kesan perjalanan ini (sudah ditanyakan di bis tapi aku lebih suka menuliskannya di sini), buat aku, perjalanan ke Kuningan (dan akhirnya ke Cirebon juga walau hanya kurang lebih 2 jam) adalah paket lengkap. Lengkap karena terdiri dari wisata kuliner, wisata kesehatan, wisata rohani, wisata sejarah, wisata alam, wisata belanja dan juga kesehatan mental, selain itu ada sesi semi psikologi juga didalam bis, walau semuanya ada dilakukan dalam porsi-porsi singkat, tapi lengkap, plus ditambah lagi canda tawa yang tak henti, tanpa baper (bawa perasaan) diantara kami, sebagai kuncinya.

Aku sebagai seorang yang tidak terlalu aktif (baca : pendiam… eaaa) sangat menikmati perjalanan dan terutama kebersamaan ini. Ngobrol-ngobrolnya, gelak tawa, nyanyi-nyanyi dan bahkan kesunyian pikiran kami masing-masing, sangat aku nikmati terutama dalam perjalanan pulang kami, dengan macet akhir pekan yang luar biasa itu.

Terima kasih kuucapkan pada BPH, Panitia Kecil, para Donatur Door Prize (bu Ida, bu Santi, bu Dameria dan BPH tentunya) dan para Fotografer (bu Merci, bu Airin dan bu Cath) serta teman-teman semua yang sudah ikut meramaikan suasana.

Bagi yang belum sempat bergabung, jangan berkecil hati, masih akan ada kebersamaan yang akan digelar BPH dan Panitia Kecil PSW Sola Gratia, yuk nabung dulu ya. Sehat-sehat semua ya, Tuhan memberkati. Amin.


Kumpulan Gurit Pilihan : Wiwit Saka Kemayu, Nganti Tekan Esem Wagu

Juni 2024, sudah terbit buku Kumpulan Geguritan ku yang kedua, bersama pak Didik Eros Sudarjono pengalaman yang unik, memperdalam puisi, substansi dan juga tentunya Bahasa Jawa, yang masih terus belajar. Nyuwun ngapunten, mbok bilih wonten kalepatan ????

Dalam buku ini, aku menulis bersama 17 penulis dalam 73 karya, dan ada 4 gegurit ku. Jika berminat, monggo japri, banyak karya indah di sini

#delaras senangnya kembali sebuku dengan mbak Yanita Ismail????


PKJ 136 : Pada Bintang Nyata Karya NYA

Pada bintang nyata karyaNya,
lewat angin agung SabdaNya,
darat laut di bawah kuasaNya.
Apa maknanya?

Aku merayakan NatalNya,
yang tercantum di sejarahNya,
Ia membebaskan umatNya,
Apa maknanya?

Saat aku bertemu Dia,
kurasakan agung RahmatNya,
‘ku sadari Dia Tuhan
yang mempedulikanku,
yang tak menjauhkan diri.

Kini Dia pun bersamaku
dan menjaga tiap langkahku.
Dia kawan karib bagiku;
Dia segalanya!