Webinar Sejarah : Rakyat Jawa Timur dalam Revolusi Indonesia (1945-1949)

Pada hari Sabtu, 21 Agustus 2021, Irma Devita Learning Centre (IDLC) mengadakan Webinar Sejarah yang berjudul Rakyat Jawa Timur dalam Revolusi Indonesia (1945-1949).

Dimoderatori langsung oleh Mbak Irma Devita, webinar ini menghadirkan tiga narasumber yang sangat kompeten dan paham betul dengan situasi kondisi masa revolusi itu. Mbak Irma Devita sendiri adalah cucu dari Letnan Kolonel M.Sroedji, Komandan Brigade III Damarwulan, yang gugur pada 8 Februari 1949

Mengapa tahun 1945 sampai dengan 1949 disebut periode Revolusi? Bukankah Indonesia telah merdeka. Ternyata Kemerdekaan Indonesia di tanggal 17 Agustus 1945 belum merupakan akhir dari perjuangan. Dalam akun FB nya, mbak Irma Devita menyampaikan bahwa justru sejak tanggal 17 Agustus 1945 tersebut menjadi titik awal kesadaran bangsa Indonesia utk mempertahankan apa yang sudah di raih nya dengan penuh pengorbanan darah dan air mata.

Perang yang paling berdarah justru terjadi di era 1945 – 1949, dimana jutaan nyawa rakyat Indonesia melayang. Berbagai peristiwa penting dan sangat heroik terjadi di Jawa Timur dalam kurun 1945 – 1949. Mulai dari dahsyatnya Perang surabaya, Peristiwa Perobekan Bendera, Hijrah TNI, Agresi Militer Belanda 1 serta ratusan pertempuran berdarah lainnya. Termasuk diantaranya Pemberontakan yang terjadi di Madiun dan dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia pada tahun 1948.

FB_IMG_1629463852289

a4

Materi pertama disampaikan Mas RZ Hakim, yang menyampaikan paparan berjudul Jawa Timur di Masa Revolusi. Mengapa Jawa Timur menjadi penting di masa itu? Jawa Timur masa itu terdiri dari tujuh karesidenan yaitu Surabaya, Bojonegoro, Madiun, Kediri, Malang, Madura, dan Besuki. Surabaya sebagai Ibukota Propinsi tentu memiliki peranan yang besar sebagai simpul jaringan yang menghubungkan Jawa dengan wilayah luar Jawa seperti Indonesia Timur.

Mengapa Jawa Timur ? Karena Jawa Timur memiliki banyak potensi, salah satunya potensi ekonomi, yang berasal dari berbagai sektor, baik dari sektor pertanian, perikanan, tambang, hingga perkebunan.

Dalam paparannya, Mas RZ Hakim juga menyinggung mengenai Eks Karesidenan Besuki. Di masa lampau, Karesidenan Besuki dicitrakan sebagai tempat pembuangan tahanan, sarang pemberontak, dan daerah yang terbelakang. Ujung timur Jawa ini juga digambarkan sebagai wilayah yang tidak sehat, tanah dengan ancaman malaria. Namun di pertengahan Abad XIX seiring disulapnya wilayah ini menjadi wilayah perkebunan modern, ia segera berubah menjadi pusat produksi perkebunan kualitas ekspor, sebagai lumbung beras, dan sebagai wilayah metropolitan perkebunan tempat dimana banyak orang mengadu nasib.

a1

Paparan kedua disampaikan oleh Mas Ady Setiawan. Beliau seorang penulis buku sejarah. salah satu diantaranya adalah, SURABAYA, Dimana Kau Sembunyikan Nyali Kepahlawananmu? Dalam paparannya yang berjudul Surabaya, Kota Pahlawan, Mas Ady menyampaikan Mengapa Surabaya disebut sebagai Kota Pahlawan? Karena pada masa itu, terbunuh dua jenderal besar berkebangsaan Inggris, terjadi pertempuran berskala besar yang menimbulkan jatuhnya korban hampir mencapai 20.000 orang dan Inggris mengerahkan matra penuh (laut, darat dan udara).

Mengapa harus bertempur dan berjuang? karena adanya kolonialisme berupa penjajahan, penindasan, Tanam Paksa, Politik Segregasi, Jalan Daendles dan Peristiwa Banda. Pertempuran dimulai dari terjadinya perobekan bendera Belanda di Jalan Tunjungan, lalu insiden perebutan senjata Jepang dan kedatangan Inggris sampai terjadinya pertempuran fase I dan puncaknya pertempuran fase II pada 10 November 1945, sehingga Surabaya dijuluki Kota Pahlawan, untuk mengenang peristiwa tersebut.

a2

Materi terahkir yang tidak kalah menariknya disampaikan oleh Hendi Jo, seorang jurnalis sejarah yang juga penulis buku berjudul Zaman Perang, Orang Biasa dalam Sejarah Luar Biasa. Dalam paparannya yang berjudul Darah Tertumpah Di Timur Jawa (Kekerasan Militer 1947-1949), Mas Hendi Jo menyampaikan bagaimana Belanda yang datang ke Jawa TImur dengan 16.000 personil militer plus para penjaga Negara Jawa Timur (Laskar Tjakra). Tidak adanya Konvensi Jenewa, dengan gugurnya tentara Indonesia. Dan banyak kasus lain yang terjadi di masa itu, diantaranya kasus Gerbong Maut Bondowoso – Surabaya, kasus Pembunuhan dan Pemerkosaan di Paniwen, kasus Pembantaian Rakyat Prambonwetan. Kasus yang tak terungkap menjadi tanda tanya apakah kedatangan tentara Belanda ini merupakan bentuk Operasi Pembersihan atau Aksi Kekerasan pada rakyat Jawa Timur?

a3

Webinar ini sangat menarik sekali, buat aku, belajar sejarah adalah untuk mengetahui apa yang benar, menolak lupa dan tentunya menjaga semangat kebangsaan. Mengingat bahwa Kemerdekaan yang kita nikmati sekarang bukanlah sebuah hadiah tapi hasil dari perjuangan. Perjuangan dengan darah yang mahal. Dan, jika berbicara tentang kemerdekaan, tentunya tidak lepas dari perjuangan semesta dari Rakyat Jawa Timur dalam revolusi kemerdekaan Indonesia di kurun waktu 1945-1949.

Acara ini didukung oleh komunitas Roodebrug Soerabaia dan komunitas Historika Indonesia. Juga hadir beberapa komunitas sejarah dari Bandung, Bogor, Jakarta, Jogja, Magelang, Malang, Surabaya, Lumajang, Jember, Bondowoso, Situbondo, Banyuwangi juga turut bergabung

Terima kasih IDLC, para Nara Sumber dan teman-teman yang sudah hadir. Waktu dua jam sangat pendek rasanya untuk mendengarkan sejarah masa lalu, sebagai bekal masa depan kehidupan bangsa Indonesia. Aku salut dengan antusias narasumber dan teman-teman yang hadir.

Salam Merdeka untuk Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

Sumber tulisan : IDLC dan Paparan para Nara Sumber


Tips Menulis (1) : Ide Menulis melalui Buku Bacaan

Untuk bisa menuliskan sesuatu, kita butuh sesuatu. Iya sesuatu untuk bisa dituliskan. “Sesuatu” itu bisa berwujud dan tidak berwujud. Bagaimana mendapatkan “sesuatu”itu bisa banyak caranya. Lalu bagaimana menuangkan “sesuatu” kedalam tulisan? Bisa dimulai dari hal yang paling sederhana.

rez_baca_IMG_5386

 

Aku termasuk orang yang dapat menerima “sesuatu” mulai tulisan, diantaranya dengan membaca. Masa dulu dengan membaca buku (saat ini informasi bisa diperoleh darimana saja). Tapi sampai saat ini, aku sangat suka membaca buku (hard copy). Kuno? Konvensional? Ya memang. Salah satunya ini karena keterbatasan indera penglihatan (jika membaca terlalu lama dari layar telpon genggam/komputer).

Dengan membaca buku, aku bisa mengulang-ulang “sesuatu” yang akan aku dalami. Aku juga dapat “jeda” sejenak jika ingin meresapi atau merasa isi kepalaku terlalu penuh

Mari tanamkan hal ini sejak dini pada anak-anak dan generasi muda. Minat baca orang Indonesia saat ini masih masuk dalam kategori “rendah” sayang sekali bukan.

Membaca” di sini, bisa disesuaikan dengan generasinya, namun pada intinya dengan banyak memiliki “sesuatu” kita akan mampu membagikannya lagi pada orang lain….

Foto : Aan M Kusuma


Buku Antologi Pentigraf EUNOIA

Anak bungsuku dengan teman sekelasnya di kelas XII SMA Santa Ursula BSD, menerbitkan buku. Kali ini berupa pentigraf atau tulisan tiga paragraf. Ini buku antologi ke-3 si bungsu. Efek pandemi yang positif. Walau belum sepenuhnya memenuhi kaidah pentigraf tapi ini perlu diapresiasi karena isi tulisan tema keren. 

WhatsApp Image 2021-08-20 at 21.47.11

Bukunya setebal 171 halaman. Ada 4 genre didalamnya : horor, jenaka, romance dan slice of life. Setiap murid di kelas itu membuat minimal 3 genre. Bukunya hardcover (wow). Desain cover dan ilustrasi oleh mereka sendiri. Sayangnya mereka hanya mencetak sejumlah murid kelas. Jadi harga cetak buku menjadi cukup mahal.

@danielsilahii #pentigraf #bukuantologi