Nikmatnya 3 H 2 M di Pulau Tidung

Pulau Tidung, sebuah pulau kecil yang menjadi satu kelurahan, merupakan bagian dari Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan, Kabupaten Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pulau ini terbagi dua wilayah, yaitu Tidung Besar dan Tidung Kecil yang terhubungkan dengan sebuah jembatan yang menjadi ikon pulau ini yaitu Jembatan Cinta berwarna merah muda atau pink. Wilayah seluas 109 hektar dengan penduduk kurang lebih 10 ribu jiwa, beberapa tahun terakhir ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat di sektor pariwisata. Lalu mengapa Pulau Tidung yang baru berkembang ini terpilih menjadi tempat penyelenggaraan Reuni Perak AIS 28 ? Begini ceritanya …..

Keputusan menetapkan Pulau Tidung sebagai tempat reuni adalah berdasarkan keputusan hasil suara terbanyak diantara teman-teman seangkatan. Lalu dengan berbagai masukan dan pertimbangan, mbak Santi Kurniawati dari Santika Travel, berusaha keras untuk mengakomodir semua keinginan teman-teman, mulai dari kamar mandi yang ada di dalam, kloset duduk, kamar ber AC, naik speedboat dan bukan kapal penumpang, makan 3 kali dan 2 kali snack sampai masalah sprei yang mesti diganti dan kamar yang harus dibersihkan terlebih dahulu dan lain-lain, sehingga akhirnya kami mendapatkan paket menginap 3 hari 2 malam, yang tidak bisa dibilang murah dengan paket-paket yang ditawarkan EO yang lain, namun dengan harga Rp 775.000,- per pax untuk rombongan yang berjumlah 50 orang, kami mendapat fasilitas memadai sesuai keinginan. Paket yang diberikan mbak Santi ini, mengantarkan rombongan alumni AIS28 ini ke Penginapan Tidung Nirwana, sebuah penginapan dua lantai dengan 12 kamar ber AC, televisi dan kamar mandi didalam.

Bagaimana cara menuju Pulau Tidung, ada 2 cara yaitu melalui Dermaga Angke dengan kapal penumpang yang menempuh waktu 3 jam dan biaya yang lebih murah, dan melalui Dermaga VI Marina Ancol dengan speed boat yang menempuh waktu 1 jam dan tentu biaya yang lebih mahal sebesar Rp 350.000,- per orang pulang pergi.

Setelah perahu bersandar di dermaga Pulau Tidung, rombongan dijemput pasukan bentor atau becak motor, yang membawa kami menuju tempat kami menginap, dengan biaya Rp 15.000,- per kendaraan, yang muat mengangkut 3 orang.

Lalu alat transportasi apa yang bisa digunakan didalam Pulau Tidung ? Ada sepeda yang siap menemani dan mengantarkan kita kemana saja dan disiapkan pihak penginapan selama kita menginap, atau bagi yang tidak bisa bersepeda macam saya, ada fasilitas bentor yang mudah ditemui di sepanjang jalan dekat penginapan, dengan biaya Rp 15.000,- sekali jalan, cukup mahal memang, tapi sekali angkut bisa 3 orang menumpang.

Satu yang menjadi catatan kami dan perlu menjadi perbaikan di masa yang akan datang adalah kurangnya variasi makanan dan kualitas makanan disana. Kami memaklumi mengingat kondisi Tidung yang berada di Pulau dan kurangnya akses transportasi serta kurangnya pengetahuan mengolah bahan makanan dengan baik. Saran bagi keluarga yang membawa anak balita agar membawa persediaan makanan tambahan kesukaan anak-anak jika ingin berkunjung kesana.

Bagi teman yang akan berkunjung ke Tidung, dapat menghubungi mbak Santi Kurniawati disini, untuk negosiasi harga, pemilihan akomodasi yang dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan kita. Selamat berlibur 🙂


Reuni Perak AIS 28 : TFWW

Reuni Alumni Akademi Ilmu Statistik Angkatan 28 baru saja selesai digelar, namun ini bukan sekedar Reuni tapi Reuni Perak, mengenang kebersamaan yang telah dilewati selama 25 tahun sejak kami tamat dari kampus tercinta di Otista 64 C, Jatinegara, Jakarta Timur.

Acara Temu Kangen yang telah dirancang sejak beberapa bulan terakhir ini, akhirnya tibalah. Melalui beberapa titik pertemuan, akhirnya berkumpullah kami sebanyak 37 orang AIS Angkatan 28 di Dermaga VI Marina Ancol pada hari Kamis, 15 Mei 2014 untuk berangkat bersama menuju Pulau Tidung, yang merupakan wilayah dari Kepulauan Seribu, DKI Jakarta dengan menggunakan speed boat.

Pada pertemuan kali ini berkumpul sebanyak 37 orang alumni, yang terdiri dari 12 orang (yang dulunya) berstatus Tugas Belajar dan 25 orang (yang dulunya) berstatus Ikatan Dinas, berasal dari beberapa propinsi di Indonesia, yaitu dari Aceh, Jambi, Bangka Belitung, Sumatera Selatan, Lampung, DKI Jakarta, Jawa Barat, DIY, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Barat, dan teman-teman yang sudah tidak bekerja di Instansi Badan Pusat Statistik lagi. Walau secara jumlah, tidak sebanyak dengan pertemuan Reuni di Batu Malang pada bulan Januari 2012, namun kemeriahan dan keriaan kami tidak kalah dengan sebelumnya, tentu kami berharap pertemuan akbar berikutnya dapat menghadirkan lebih banyak teman lagi untuk hadir.

Hari pertama kami tiba di penginapan Tidung Nirwana, lebih banyak kami isi dengan melepaskan kangen dan berbincang-bincang dengan teman-teman yang sudah lama tak jumpa.

Beberapa hal menjadi kesepakatan kami dalam Reuni Perak AIS 28 ini diantaranya kesan pesan dan harapan dari setiap yang hadir untuk menjaga kelangsungan kebersamaan atau ikatan silaturahmi antar alumni, pemilihan Ketua Pengurus Alunmi AIS 28 dan Pengurus Inti, di-launching nya Mars AIS 28 ciptaan Ketua terpilih, Ryan Kayadilangit, disepakatinya pertemuan akbar berikutnya yaitu pada tahun 2017 dan diakhiri dengan Foto Bersama diatas Jembatan Cinta Pulau Tidung.

Reuni Perak AIS 28 sesuai dengan moto AIS 28 “Together Forever Whenever Wherever” tentunya dapat berlangsung berkat dukungan dan kerjasama dari seluruh alumni, baik yang hadir maupun yang tidak dapat hadir. Untuk itu dengan penuh rasa syukur, aku dan semua teman mengucapkan banyak terimakasih kepada semua yang terlibat secara langsung ataupun tidak, yang mendukung baik dalam bentuk materil maupun moril, juga dukungan doa tentunya, sehingga kami semua dapat melaksanakan Reuni Perak AIS 28 ini dengan penuh sukacita dan perjalanan kami pergi dan pulang penuh dengan perlindungan dari Tuhan yang Maha Esa, sehingga sebagian besar teman yang hadir sudah dapat berkumpul kembali bersama keluarga tercinta.

Sesuai refrain lirik lagu yang dituliskan dalam Mars AIS 28,

Dukamu juga dukaku
Sukaku juga sukamu
Ceriaku ceriamu
Melebur menjadi satu

Kita kan slalu bersama
Dalam sgala suka duka
We are together forever
Wherever whenever

…. kita akan selalu bersama dalam segala suka duka, kita akan lebih peduli kepada sesama teman, apapun kondisi mereka saat ini 🙂 hidup AIS 28, semakin berkarya baik di instansi Badan Pusat Statistik, ataupun dimanapun kita berada saat ini, menjadi orang berguna demi menjaga nama baik almamater !!

Tak lupa mengucapkan Terimakasih untuk mbak Santi Kurniawati dan mas Rachmat Hariyanto dari Santika Travel, yang telah membantu terselenggaranya acara ini.


Rexona Do : More Women

Dalam kegiatan sehari-hari, banyak peran yang dilakukan oleh setiap orang, terutama sebagai seorang ibu, yang dapat melakukan multi peran. Melalui tulisan ini, aku mengajak para wanita untuk membagikan cerita mengenai peran apa yang telah dilakukan, yang tentunya makin percaya diri dengan menggunakan REXONA, yang selalu setia setiap saat, seperti peran ku ini, yang dapat dilihat

Sambil berbagi dan mendapat hadiah, selamat bercerita mengenai peran anda, ikuti periode berikut yang akan berakhir tanggal 21 Juli 2013 dan klik disini yaa 🙂

Dan Puji Tuhan, walau ikut di Periode terakhir alias periode ke-13 dan ternyata diikuti 4000 peserta, aku mendapat hadiah di pengumuman berikut ini disini


My Antique Kokeshi

Aku menyukai pajangan dari kayu menyerupai orang ini sejak mengamatinya pada perjalananku ke Jepang tahun 1992, bentuknya yang lucu dan unik dengan kepalanya yang menyerupai batok kelapa, membuat siapapun (aku maksudnya) yang melihatnya, ingin memilikinya. Harganya boleh dikata tidaklah murah, tapi sebagai kenang-kenangan tentu menjadi tak ternilai harganya.

Baru-baru ini, koleksi Kokeshi ku bertambah sepasang lagi (sebenarnya aku baru punya 2 pasang sebelumnya, jadi sekarang menjadi 3 pasang) dan yang kali ini benar-benar sesuai dengan yang aku inginkan, walau aku yakin sahabatku tentu cukup berat membawanya.Terimakasih banyak Imelda 🙂

Mari kita simak penjelasan yang bisa aku peroleh mengenai boneka Kokeshi ini

Kokeshi adalah boneka kayu khas Jepang yang menggambarkan sosok gadis Jepang. Boneka ini dikenal sejak zaman Edo (1603-1867). Ciri khas khusus boneka ini adalah badan yang berbentuk silinder dengan kepala yang bulat di atasnya, serta tak adanya tangan dan kaki. Asal daerah yang membuat boneka unik ini adalah daerah Tohoku, sejak abad 17-18 diproduksi sebagai buah tangan dan cendera mata bagi para pengunjung yang mandi di air panas. Seiring dengan pertumbuhan ekonomi setelah Perang Dunia II, hingga saat ini kokeshi juga masih tetap populer, digemari banyak para kolektor karena kemolekan dan kesederhanaan bentuknya, sehingga diproduksi dan dijual tidak hanya di Tohoku di samping sebagai salah satu souvenir di tempat wisata.

Yang sekarang sering dijumpai adalah shingata kokeshi (kokeshi baru), sementara kokeshi klasik dikenal sebagai dento kokeshi (kokeshi tradisional) . Kreativitas kokeshi itulah yang menjadi fenomena baru dan sesuai dengan kreativitas seniman pembuatnya, sering dijual dengan harga yang sangat mahal. Biasanya kokeshi ini terbuat dari bahan kayu keras (dogwood) dan kayu pohon Sakura. Bahan kayu tersebut ditaruh pada sumbu silinder mesin bubut (seperti pembuatan keramik), sambil berputar sedikit-sedikit kayunya terkikis. Kemudian setelah bentuknya sempurna, barulah dilukis rambut, mata, hidung pada bagian kepala dan wajah, lalu digambar baju kimono pada bagian tubuhnya dengan cat warna-warni. Teknik ini dinamakan sebagai teknik profesi seniman yang diteruskan secara turun temurun dari seorang master hingga anak didiknya.

Pembuatan kokeshi memang hanya menggunakan mesin bubut saja. Tapi jangan lupa, untuk membuat bentuk-bentuk khusus atau bentuk kontemporer butuh keahlian dan pengalaman matang. Ekspresi perupa saat membuat kokeshi terpancar dari hasil karyanya.

Penambahan cat untuk mengekspresikan wajah pun digunakan perupa dengan sangat hati-hati. Cat yang digunakan biasanya menggunakan bahan alami. Beberapa di antaranya ialah, tanah, lumpur, atau tumbuh-tumbuhan jenis tertentu yang diproses sedemikian rupa sehingga menghasilkan warna tertentu.

Warna-warna yang digunakan untuk melukis kokeshi adalah warna-warna yang khas Jepang dan jarang digunakan di daerah lain.

Sebenarnya selain bentuk kokeshi dengan bentuk orang, ada pula mainan lain anak-anak Jepang yang berbentuk bola. Jenis ini biasanya disebut temari. Asal muasal temari ternyata tidak lepas dari sejarah permainan sepakbola yang pada abad pertengahan hanya dimainkan anak laki-laki Jepang. Anak wanita yang tidak boleh mengenal apalagi bermain sepakbola, kemudian bisa membuat bola dengan menambahkan hiasan rajutan di sekeliling bola. Belakangan bola dengan hiasan itu ternyata sangat digemari anak-anak. Bola dengan hiasan unik itu seolah tengah mengungkapkan ekspresi para pembuatnya.

Sedikit yang diketahui tentang sejarah awal Kokeshi Dolls Kayu Jepang. Salah satu aliran pemikiran berpendapat bahwa boneka Kokeshi memiliki asal-usul mereka dalam praktik agama spiritualis. boneka kayu yang diduga mengandung esensi spiritual orang mati dan sering dibuat untuk mengingat kehormatan.

Sebenarnya dibalik keindahan kokeshi, selalu ada “informasi” yang ingin disampaikan oleh pembuatnya yang digambarkan melalui kerajinan tangan yang unik. Dengan mempelajari jenis2 Kokeshi yang ada , dan juga sejarahnya, boneka ini menjadi lebih menyenangkan untuk dilihat. Kokeshi ada yang bernuansa kedaerahan serta religius. Masing-masing daerah ada ciri khasnya.

Sumber: A Bilingual Handbook on Japanese Culture,

http://furugistarjapan.wordpress.com/2011/01/24/japanese-kokeshi-dolls-more-than-a-pretty-face/#more-3 dan beberapa sumber

 


Kopdar Pembaca Setia T.E.

Tanggal 30 Juli 2011, aku memperoleh Undangan Kopdar dari teman dan sahabatku, sekaligus guru blogku yang saat ini berada di Jepang dan sedang berlibur di Jakarta. Tempat yang ditentukan, adalah tempat yang strategis (aku pikir) untuk semua pihak karena terletak di wilayah Jakarta Selatan, tepatnya di Food Court Pasaraya Sarinah Blok M.

Ini bukan kali pertama aku bertemu dengan Imelda setelah dia bersekolah dan menetap di Jepang, tapi pertemuan ini terasa berbeda, karena dihadiri oleh teman-teman blogger lain, pembaca setia tulisan Imelda dalam blognya yang bernama Twilight Express.

Perkenalanku dengan Imelda sudah berlangsung lama, sejak kami sama-sama di SMA, dan sama-sama aktif di kegiatan ekstra kurikuler Science Club. Namun keakrabanku berawal sejak aku mulai belajar menulis blog dan berlanjut sampai dengan sekarang. Pertemuan pertamaku dengan Imelda sudah pernah aku tuliskan disini.

Awalnya dari sini

Pertemuan pertama setelah 23 tahun di Pacific Place, 11 Agustus 2009

Pertemuan kedua dengan blogger yang lain, Krismariana dan Retty Hakim, 15 Agustus 2010 di Food Court PIM II

Dan pertemuan ketiga adalah dengan jumlah yang lebih besar, sayang aku tidak bisa mengikuti acara sampai akhir karena masih ada kegiatan lain yang menunggu di rumah.

Terimakasih sebesar-besarnya buat Imelda dan salam kenal buat teman-teman baru sesama blogger, yaitu ibu Enny Dyah Ratnawati, bapak Hery Azwan, mbak Reti Hatimungilku, Yessy Muchtar, Erna Lindasari, Isro Machfudin.

Semoga ini menjadi awal yang baik dari pertemanan kita, awal dari pembaca setia TE yang berkembang menjadi komunitas blogger yang dapat melakukan kegiatan positif di kemudian hari.

 

 

 


Three Magic Words

Ada tiga kata yang bila disatukan akan menjadi sesuatu yang ajaib, tentu saja bila diucapkan secara tulus dari dalam hati. Apakah kata itu? Kata itu adalah kata Tolong, Maaf dan Terimakasih. Betulkah begitu? Betulkah jika ketiganya diucapkan akan menghasilkan sesuatu yang ajaib? Betul. Mari kita lihat.

Ketiga kata yang bermakna dalam dan menghasilkan sesuatu yang ajaib itu, sudah bisa kita pastikan bermakna santun dan memperhatikan perasaan dan kepedulian pada orang lain yang kita ajak bicara. Dengan demikian, tentu, sebagai orangtua dan terutama sebagai seorang Ibu, kita tentu menginginkan anak-anak kita mengerti, memahami dan dapat mempraktekkannya dalam bertuturkata dan bergaul dengan orang lain. Anak-anak dapat mengucapkan kata “tolong”, bila mereka memerlukan bantuan orang lain, misal kepada mama, papa, nenek, kakek, teman atau pembantu sekalipun. Alangkah indahnya, jika kita mendengar anak kita berbicara seperti ini “Mbak, tolong ambilkan bukuku di kamar atas dong”, pilihan kata yang diucapkan dengan intonasi dan tempo sedang. Daripada si anak berbicara dengan nada memerintah, “Mbak, ambil bukuku, bawa kesini !”, tentu kita akan sedih dan malu mendengarnya. Dan yang disuruh atau diajak berbicara pun akan merasa sedih atau terluka hatinya, sudah diperintah, dibentak pula.

Kata “maaf” ini juga lebih sukar lagi diungkapkan, apabila memang tidak pernah diajarkan atau dibiasakan. Misal, anak jelas melakukan kesalahan, bermain bola sehingga menjatuhkan gelas atau piring, seharusnya anak diberi penjelasan bahwa jatuhnya gelas akibat ia bermain bola di dalam rumah, yang sudah menyalahi aturan yang berlaku, maka ia wajib meminta maaf. Demikian pula, jika ia bermain dan mendorong teman sehingga jatuh dan menangis. Anak harus diajarkan untuk menolong temannya yang terjatuh, sambil meminta maaf atas ketidaksengajaan itu, “Maaf ya, aku ga sengaja”. Namun, apa sih sekarang yang sedang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini? Jangankan minta maaf, sudah melakukan kesalahan, malah balik memaki dan menyalahkan orang lain.

Satu kata yang terakhir, yang mesti kita ajarkan pada anak-anak sejak dini adalah kata-kata “terimakasih”. Kata “terimakasih” tidak hanya selalu diucapkan pada saat kita menerima sesuatu yang kita sukai dari sesorang. Pesan yang mau disampaikan, pertama “tidak selalu berupa sesuatu barang”, jadi bisa dalam bentuk bantuan, perhatian ataupun ucapan. Misal teman membantu membawa tas makan anak kita, maka anak sebaiknya mengucapkan “terimakasih ya, kamu sudah bantu aku”. Pesan yang kedua, kata-kata ini tidak selalu hanya diucapkan jika kita menerima “sesuatu yang kita sukai saja”, tapi apapun yang kita terima dari orang lain, wajiblah kita berterimakasih. Misal, suatu hari, keluarga kami dikirimi makanan dari kampung, anak saya bilang, “apa tuh ma, aku ga suka”, apapun itu kita wajib menghargai pemberian orang lain, karena untuk membawakan itu, pasti orang tersebut sudah membelinya, seandainya ia tidak membelinya, kita perlu menghargai usahanya dalam membuat makanan itu dan membawakannya sampai ke rumah kami.

Ketiga kata ini tidak hanya sebaiknya diajarkan sejak dini kepada anak-anak, tapi buat kita, orang dewasa yang sudah pernah belajar kata-kata ini waktu kita kecil dulu, juga mempraktekkannya dalam kehidupan kita sehari-hari saat ini, dimanapun kita berada, ntah kita sebagai ibu rumahtangga, pekerja di kantor, atasan, pesuruh, tukang sapu, komisaris, hamba Tuhan, ataupun apapun profesi kita saat ini. Kadang hal kecil yang dianggap remeh ini, sering kita lupakan, padahal memberi dampak yang sangat luar biasa. Apa sulitnya bagi kita untuk mengucapkan ketiga kata itu kepada bawahan kita, kepada satpam yang membukakan kita pintu, kepada pesuruh yang mengantarkan kita minum setiap hari, pada supir angkot yang kita tumpangi angkotnya. Cobalah, lakukanlah, ucapkan ketiga kata itu, jika itu tidak langsung berdampak pada kita, pasti berdampak pada orang lain, orang yang ada di hadapan kita, yang kita ajak bicara.

Aku, sebagai seorang ibu dari tiga anak, selalu mengajarkan kepada anakku untuk menempatkan diri sebagai orang lain. Maksudku begini, kalau mereka berkata tidak sopan pada orang lain, aku selalu bertanya, “mau ga kamu dikatain seperti itu?” atau, “mau ga kamu diperlakukan seperti itu?”. Kalau kita tidak mau, jangan berbuat semaunya kepada orang lain. Secara positif, bisa dikatakan, kalau kamu ingin orang lain berbuat baik kepada kamu, tentu kamu juga harus berbuat baik kepada orang lain. Tentu enak bukan, kalau ada yang bilang pada mu, “tolong dong ambilkan saya buku itu” daripada kalimat perintah lain, tanpa kata “tolong”.

Gambar dari Mr Google

(bersambung)


Setelah 23 Tahun yang Lalu….

Selasa, 11 Agustus 2009, akhirnya aku bertemu dengan salah seorang teman SMA ku di SMA Tarakanita I Pulo Raya, Imelda Coutrier. Sejak Imelda berencana datang, aku sudah berpikir keras, bagaimana caranya bertemu dengannya. Beberapa bulan ini aku banyak berkomunikasi dengannya via Face Book (Thanks God, kami dipertemukan lewat FB), mengenai apa saja, bermula dari keterkagetanku karena ia bekerja, menikah dan tinggal di Jepang. Terkejut karena aku sangat menyukai Jepang. Kemudian aku sering mengunjungi blognya //imelda.coutrier.com. Semakin sering aku membaca tulisan di blognya, tulisan yang sederhana, lugas dan inspiratif, membuat aku jadi tertarik untuk membuat blog. Aku mulai intens berkonsultasi dengannya mengenai bagaimana cara termudah membuat blog, yang penting apa yang ingin kuceritakan bisa tertampung dalam sebuah blog. Aku juga bisa berdiskusi tentang apa saja dengannya, aku bertanya soal kamera, soal makanan, soal anak-anak, dan lain-lain, yang banyak sekali bisa kuperoleh melalui konsultasi langsung ataupun tulisan-tulisannya. Beberapa kali aku mencoba dan akhirnya berkat bimbingannya aku berhasil membuat sebuah blog sederhana, dengan alamat //lebahmendengung.wordpress.com.

Terus terang saja, selama aku di SMA, aku tidak terlalu dekat dengan Imelda karena kami berbeda kelas walaupun sama-sama mengambil jurusan IPA. Namun kadang kami mempunyai kegiatan laboratorium dengan jadwal yang bersamaan. Selain itu, yang aku ingat, kami sama-sama aktif di kegiatan ekstrakurikuler Science Club, waktu itu dibawah koordinasi mba Yang (Dewi Arimbi Soeharto) dan pada tahun berikutnya, dibawah kak Belinda Gekael (semoga tidak salah tulis namanya). Aku juga ingat, kami, teman-teman dari Science Club bertandang ke rumah Imelda di Martimbang, rasanya waktu itu kita makan-makan, dalam rangka apa ya (hihihi…pokoknya makan enak, lupa dalam rangka apa). Yaa..itu saja kedekatan kami semasa SMA. Setelah itu, kami semua, tidak hanya aku dan Imelda, tapi aku dan teman-teman lainnya, menata hidup kami, melanjutkan studi kami masing-masing sesuai dengan keinginan dan pilihan hidup kami. Kami berpisah….

Setelah 23 tahun berpisah (kami tamat SMA tahun 1986), aku dan Imelda secara tidak sengaja bertemu melalui Face Book. Melalui update status dan tulisan di blogku, Imelda mengetahui apa yang sedang kualami dan aku rasakan. Aku mendapat banyak dukungan dan doa yang kuperoleh darinya (juga dari beberapa temanku yang lain, diantaranya seperti Nancy Sarayar, Yoga dan Sylvia Sumampow). Ntah karena Imelda yang mudah akrab dan pandai bergaul, aku merasa Imelda menjadi teman curhat yang enak buatku. Karena itu aku ingin sekali bertemu dan berterimakasih padanya. Dan pada hari ini, aku akhirnya bertemu dengan Imelda di rumah makan Kenny Rogers, yang terletak di Pacific Place Lower Ground. Aku juga bertemu dengan si bungsu Kai yang lucu dan lincah. Inilah pertemuan pertama ku dengan teman SMA, semenjak tamat 23 tahun yang lalu, aku malah belum bertemu dengan sahabat karibku, seperti Natalia, Agnes Retno, Benedicta Zeni (yang satu ini malah belum ada di FB) dan juga Maria Renato (sekarang ada di Australia). Apa yang terjadi setelah 23 tahun yang lalu? Begitu banyak terjadi perubahan, dari segi fisik, penampilan dan tentu saja bobot berubah, dari segi yang lain, tentu terjadi juga perubahan dalam banyak hal, terutama cara berpikir dan memandang suatu hal.

Sebenarnya dalam pertemuan ini, tidak banyak yang kami obrolkan, karena aku juga hanya punya waktu tidak lama, tapi ntah ya, hatiku senang bisa bertemu dengan Imelda dan Kai (sayang Riku tidak ikut bersama kami). Kami banyak berbincang mengenai keseharian dan keluarga. Hanya waktu dan tempat yang membatasi pertemuan kami tapi hati kami bisa bertemu kapan saja dan dimana saja….

Sayonara sayonara
Sampai berjumpa pulang

Sayonara sayonara
Sampai berjumpa pulang

Buat apa susah Buat apa susah
Susah itu tak ada gunanya

 

Good Friend Poems 

Sharing good times with good friends is the greatest joy. This is the stuff that makes life worthwhile. Whether sharing a meal together or a good conversation, there is nothing more fulfilling then spending time with friends. We must be thankful for the friendships that come our way for not all are blessed with the skills to form deep relationships. Those of us that do have friends must never take for granted the gift bestowed upon us. 

 © Good Friend Poems from Family Friend Poems


Pelayanan PSA Eclesia di GKI Pasir Koja, Bandung

Berangkat hari Minggu, 19 Juli 2009, menuju GKI Pasir Koja, di Jalan Terusan Pasir Koja 57, Bandung. Sebelumnya, aku sudah bangun jam 3.30, masak air, mandi, menyiapkan sarapan untuk ibuku, yang kebetulan sedang menginap di rumahku. Jam 4.30, aku membangunkan Daniel, untuk gosok gigi dan ganti baju, langsung angkut dia kedalam mobil. Kami berangkat pagi-pagi jam 5.00 untuk menghindari kemacetan yang mungkin terjadi di pintu keluar memasuki kota Bandung. Maklum long weekend, hari Senin 20 Juli 2009, tanggalan merah, ada Peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW. Sehari sebelumnya, Dita dan Arum sudah berangkat bersama rombongan Paduan Suara Anak Eclesia (PSAE) dan pengurus. Anakku menyampaikan kalau perjalanan ke Bandung mereka tempuh selama kurang lebih 4 jam, berangkat jam 9 pagi, tiba di Wisma GKI Pasir Kaliki hampir mendekati pukul 13.00. Jadi untuk mengantisipasi hal ini, aku dan suami memilih berangkat lebih pagi. Sebetulnya PSAE melayani di dua tempat, pertama di GKI Pasir Kaliki jam 6.30 dan kedua di GKI Pasir Koja jam 9.00. Namun, karena waktu tidak akan terkejar buat kami, maka kami langsung menuju ke GKI Pasir Kaliki.

Memasuki tol, tampak kendaraan mulai ramai, mungkin semua mempunyai tujuan yang sama, berlibur. Aku mengharapkan Daniel bisa melanjutkan tidurnya, tapi ternyata tidak, dia malah ‘on’ sekali, cerita kesana kemari.

Kami keluar dari pintu tol Pasir Koja, tepat pukul 07.00 pagi…waduh kami kepagian tiba di tempat tujuan, tapi tak apalah kami bisa istirahat dan sarapan pagi dulu di depan gerbang gereja. Kami hampir tidak dapat tempat parkir, karena memang tempat parkir sudah dipenuhi kendaraan jemaat yang sedang kebaktian pagi. Tapi syukurlah masih ada sedikit ruang didepan sebuah toko, namun juru parkir bilang kalau kami bisa parkir disana sampai jam 09.00 sebelum toko buka. Oke, suamiku memarkir kendaraan dan kami mulai bergerilya mencari sarapan pagi. Aku memesan somay bandung, yang pedagangnya berasal dari Gunung Kidul, Yogyakarta. Seporsi seharga Rp 7.000,- terdiri dari 4 potong, 2 somai, 1 tahu dan 1 kentang. Enak, enak, enak..sambal kacangnya pas, terasa tumbukan kacangnya ditambah lagi dengan wangi perasan jeruk limaunya, wah sedap bener..sayang aku tidak sempat memfotonya, hanya foto gerobaknya saja. Sedangkan suamiku memesan nasi campur bb panggang, yang mantep sekali rasanya, bb panggangnya garing, walau nasi hainamnya agak keras menurut aku. Sementara kami sarapan, Daniel cemal cemil makanan yang kami bawa dan juga minum susu kotak.

Lanjut ke tujuan inti, rombongan PSAE tiba bersama bis dan iringan mobil pendamping sekitar pukul 08.30. Puluhan anak berpakaian kemeja putih dan bercelana jeans turun dari bis, menyebrangi jalan karena bis diparkir di seberang gereja dan masuk kedalam gereja. Mereka langsung duduk di baris depan dan berlatih sebentar. Sebagian besar anak tampak lelah dan kurang sehat, mereka ada yang berpakaian lapis baju hangat. Diantara anak-anak, malah ada dua orang yang akhirnya tidak dapat tampil maju bernyanyi karena badannya panas. Kelelahan dan ’tumbang’ nya anak-anak ini kemungkinan disebabkan mereka kurang tidur karena tidur terlalu malam, banyak mengobrol atau main kartu. Ditambah lagi udara dingin dan mereka harus bangun pagi dan mandi air dingin di pagi hari.

Puji Tuhan, setelah penyampaian firman Tuhan oleh Pendeta Sahetapy, anak-anak PSAE dibawah pimpinan kak Nina Aipassa dan seluruh pengurus, bernyanyi dengan penuh sukacita dua buah lagu berturut-turut ”Dona Nobis Pacem” dan ”As a Little Child”. Di akhir kebaktian, anak-anak juga menyampaikan 1 buah lagu pujian lagi ”Jubilatedeo”. Penampilan mereka didukung selain suara ketukan dari piano, juga genderang bertalu dari alat pukul cabasa dan kemrincing alat barchamp, dan tok-tok baso yang belum ditemukan namanya.

Jemaat bertepuk tangan setelah mendengarkan pujian yang mereka pujikan dengan indah itu. Tepuk tangan demi kemuliaan nama Tuhan.