Dia

Dia – Sammy Simorangkir (OST Love in Paris)

Dia hanya dia di duniaku
Dia hanya dia di mataku
Dunia terasa telah menghilang
Tanpa ada dia di hidupku

Sungguh sebuah tanya yang terindah
Bagaimana dia merengkuh sadarku
Tak perlu ku bermimpi yang indah
Karena ada dia di hidupku

Ku ingin dia yang sempurna (yang sempurna)
Untuk diriku yang biasa (yang biasa)
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya

Ku hanya manusia biasa (yang biasa)
Tuhan bantu ku tuk berubah (untuk berubah)
Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia

Ku ingin dia yang sempurna (yang sempurna)
Untuk diriku yang biasa
Ku ingin hatinya, ku ingin cintanya
Ku ingin semua yang ada pada dirinya

Ku hanya manusia biasa (yang biasa)
Tuhan bantu ku tuk berubah (tuk berubah)
Tuk miliki dia, tuk bahagiakannya
Tuk menjadi seorang yang sempurna untuk dia


Arthur Christmas

Bagi seorang anak, hari Natal identik dengan kado. Bagi mereka, tidak ada hari Natal tanpa kado, apapun itu. Kadang seorang anak, tidak peduli dengan harganya, mereka memang mengharapkan apa yang mereka inginkan dapat mereka peroleh di hari Natal, karena itu mereka menuliskannya pada sang Sinterklas, tapi seandainya pun itu tidak mereka peroleh, mereka tetap akan bahagia jika ada kado Natal yang lain.

Ini pula yang menjadi kepedulian Arthur, sang Sinterklas sejati, yang begitu peduli, kala pengiriman dengan teknologi canggih yang dilakukan oleh sang kakak, Steve dan ayahnya, Malcolm, Sinterklas itu sendiri, melewatkan pengiriman 1 buah kado untuk seorang anak bernama Gwen.

Arthur, yang sehari-harinya bertugas menerima dan membalas surat dari anak-anak di seluruh dunia, menyadari betul keinginan hati setiap anak dan menyakinkan mereka bahwa Sinterklas itu ada dan akan menjawab keinginan setiap anak.

Arthur bersama sang kakek, seorang kurcaci, 8 ekor rusa dan kereta tua, terbang untuk memenuhi janji mereka kepada Gwen. Cerita yang dikemas begitu menarik, mampu menghibur hati, mengenai arti peduli walau hanya pada seorang anak kecil saja.

Film ini diperankan oleh Grandsanta (Bill Nighy), Mrs. Santa (Imelda Staunton), Steve (Hugh Laurie), Bryony (Ashley Jensen)dan Arthur (James McAvoy) dan disajikan secara menarik melalui teknik animasi dan diproduksi oleh Sony Pictures Animation dan Aardman Animations.

Selamat menonton.

 

 


Queen of Reversal

Dua minggu terakhir ini, aku sedang menikmati drama komedi romantis Korea, yang ditayangkan mulai dari pukul 16.30 di Indosiar, walau beberapa kali terlambat untuk menonton tapi cukup terhibur dengan drama ini karena ringan, mengalir, haru dan lucu serta menampilkan konflik dan intrik yang muncul di tempat kerja sehari-hari. Drama ini ditayangkan dalam 31 episode dan beruntungnya aku baru menikmati di episode ke- 25 …. 🙁

Drama seri ini berjudul Queen of Reversal, dengan detil

  • Judul : Yeokjeonui Yeowang
  • Judul Lain : Queen of Reversals
  • Sebelumnya dikenal : ??? ?? / Queen of Tears
  • Genre: Romance, comedy
  • Episodes: 31
  • Stasiun TV: MBC
  • Periode Tayang : 18 oct 2010 – 01 Feb 2011 [Korea] /
  • Waktu : Senin & Selasa, Pkl:  21:55 waktu korea
  • Producer: Choi Yi Sup, Kim Seung Mo
  • Sutradara : Kim Nam Won, Jung Dae Yoon
  • Penulis Naskah : Park Ji Eun

 

Sinopsis ceritanya mengenai seorang wanita bernama Hwang Tae Hee, yang kuliah, bekerja dan menikah seperti kebanyakan wanita. Menjadi ibu rumahtangga dan wanita karir adalah dambaan setiap wanita, apalagi dapat menikah dengan pria yang didambakan dan dikenal sejak masa kuliah. Namun bukan begitu akhir cerita yang terjadi dalam hidup Hwang Tae Hee.

Hwang Tae Hee adalah putri seorang chaebol dan pemimpin tim di tempat kerjanya. Dia menikah dengan Bong Joon Soo yang bekerja di perusahaan yang sama. Ketika mantan pacar Bong Joon Soo, Baek Yeo Jin, yang kebetulan saingan Hwang Tae Hee  juga, mulai bekerja dalam timnya, masalah mulai muncul ke permukaan. Tae Hee menyulap tantangan cinta dengan mereka yang bekerja, membantu membentuk tim dalam departemen bersama direktur sekaligus bosnya, Goo Yong Shik. Keberhasilan tae Hee tampak dalam masalah cinta, bagaimanapun, dia menghadirkan masalah lain saat ia mulai menyadari kenyataan pernikahan, dan melibatkan banyak hambatan untuk diatasi,

Drama ini diperankan oleh Kim Nam Joo sebagai Hwang Tae Hee, Jung Joon Ho sebagai Bong Joon Soo, Chae Jung Ahn sebagai Baek Yeo Jin, Park Shi Hoo sebagai Goo Yong Shik.

Dan ini salah satu original sound track nya yang amat aku sukai

Selamat menikmati tayangan ini.

Sumber : You Tube dan Google


The Mirror Never Lies

Hari Senin, 16 Mei 2011, ada libur Cuti Bersama yang mendadak diumumkan oleh Pemerintah pada hari Jumat sebelumnya, jadi kami memanfaatkan sore ini khusus bermacet ria ke PIM untuk menikmati film cerita yang resensinya dan infonya aku dapat dari teman, mbak Krismariana di blognya.

Film Cerita ini, sengaja aku tulis tebal karena sebelumnya kami sempat kecewa, mengapa keindahan dasar laut dan lumba-lumba tidak dieksplor lebih dalam. Film ini disutradarai oleh seorang sutradara muda, Kamila Andini, yang adalah puteri dari Garin Nugroho, produser film The Mirror Never Lies, yang mengambil setting di Kepulauan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Garin dalam Kompas mengungkapkan bahwa film ini bukanlah film dokumenter tetapi film drama keluarga yang dikemas dalam sebuah pendekatan metafora untuk menciptakan kecintaan publik terhadap laut Indonesia.

Drama keluarga dengan setting yang indah ini, menceritakan mengenai seorang anak perempuan dari suku Bajo, yang bernama Pakis (Gita Lovalista). Suku Bajo, adalah suku yang bertahan hidup di laut dengan kesederhanaan. Pakis tidak percaya ketika semua orang mengatakan bapaknya yang tidak juga pulang dari laut telah meninggal. Ia selalu mengatakan bahwa bapaknya hilang. Bersama kawannya, Lumo (EKo), ia kerap mendatangi dukun untuk melakukan ritual Bajo dengan menggunakan cermin, Pakis berusaha mencari jawaban akan keberadaan bapaknya dari cermin itu.

Karena berharap bapaknya pulang, setiap tengah malam Pakis terjaga. Ia bangun hingga subuh, dan langsung menuju dukun. Hal ini mengakibatkan di sekolah Pakis sering tertidur. Sebagai janda, Ibu Pakis, Payung (Atiqah Hasiholan) lebih realistis. Hidup berdua bersama dengan Pakis tidaklah mudah, ia berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan pendapatan seadanya. Ia juga harus mengatasi konflik batinnya, mengatasi kesedihan karena ditinggal suaminya tanpa pesan. Sementara, Pakis hidup bersama filosofi ayahnya yang sebelumnya disampaikan melalui dongeng-dongeng setiap malam. Sama-sama merasa tertekan dengan keadaan, Pakis dan ibunya sering bertengkar.

Konflik semakin sering terjadi ketika seorang peneliti lumba-lumba bernama Tudo (Reza Rahadian) datang di tengah mereka. Tudo menempati rumah Bapak Pakis yang kosong. Pakis yang merasa bapaknya belum meninggal, tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Seiring waktu, Pakis justru merasakan perubahan pada tubuh dan pikirannya.
Konflik keluarga ini berlangsung sangat singkat. Dengan keluguan anak-anak Wakatobi, film ini terasa segar. Sehingga tanpa disadari kita diajak berbincang tentang filosofi hidup Suku Bajo yang dikenal sebagai pelaut andal.

Film ini menjadi debut sutradara muda Kamila Andini. Film yang banyak menyajikan pemandangan indah bawah laut ini merupakan hasil kerja sama antara SET Karya Film, World Wide Fund for Nature Indonesia, dan Pemerintah Kabupaten Wakatobi. Proses pembuatan film yang menyabet penghargaan Honorable Mention dari The Global Film Initiative, San Francisco, Amerika Serikat, pada 14 April lalu ini juga lumayan panjang, yakni tiga tahun. “Selain butuh riset yang cukup panjang, kami harus berkompromi dengan kondisi alam,” ujar Dini.

Sekali lagi, Ini film cerita, bukan film dokumenter yang mengangkat tema kelautan. Namun, sebagai sebuah film cerita pun, pesan yang diharapkan munculpun serba tanggung selain akhirnya bahwa Pakis menerima kenyataan bahwa ayahnya telah tiada, setelah bongkahan kapal bapaknya ditemukan nelayan.  Dialog yang menguras emosi penonton pun kurang terasa, seperti pada saat Pakis bertengkar dengan Ibunya, ataupun ketika cermin kesayangan Pakis dipecahkan oleh sang Ibu.

Pesan untuk mencintai indahnya laut kita juga jelas tampak dalam cerita ini. Sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan, film ini mencoba mengajak kita belajar lebih bijaksana memperlakukan alam, termasuk laut dan segala isinya. Mari ajak anak-anak dan generasi muda untuk mengetahui sisi lain dari Indonesia dengan menikmati film ini.

Terimakasih mb Krismariana atas sharingnya.

…..Laut adalah cermin besar yang tak pernah berdusta yang menyampaikan kabar dengan caranya sendiri. Laut memberikan kenikmatan. Namun kadang laut menjadi ganas, dan mengambil milik kita…..