We are BRIN #SetahunBRINteraksi

#SetahunBRINteraksi #IamBRIN #WeareBRIN late post

28 April 2022

brin

Penggabungan beberapa organisasi, apa pun istilahnya, baik itu merger, akuisisi, konsolidasi, integrasi atau apapun, sejatinya dapat membuat organisasi menjadi lebih kuat. Namun tantangan yang dihadapi jelas sangat nyata dan dapat menjadi masalah SDM yang serius jika dibiarkan.

Salah satu langkah yang dapat diambil untuk meminimalisir masalah di kemudian hari adalah dengan mengutamakan menempatkan orang-orangnya (para pegawai yang ada didalamnya) terlebih dahulu. Put our people first adalah sebuah golden rule.

Orang-orang (baca : pegawai) adalah jantung dan jiwa dalam organisasi. Organisasi tidak akan memiliki budaya, tidak ada pelanggan, dan tidak ada masa depan tanpa mereka. Perlakukan pegawai sebagai aset organisasi yang paling berharga, dengan menjaga integrasi dalam BRIN ini berdasarkan pada nilai-nilai yang akan didukung oleh para pegawai.

Dengan demikian, implementasi penyatuan budaya organisasi dari pegawai yang sampai dengan saat ini sudah berjumlah 13 ribuan, menjadi penting dan prioritas (kabarnya…jumlah ini masih akan bertambah)

(Daftar Pustaka : Don Scales, Global CEO of digital communications firm Investis Digital and author of The M&A Solution: A Values-Based Approach to Integrate Companies)


Webinar #5 PTA “Rancang Bangun Mesin Sangrai KOPI Model FLUIDISASI”

Pada hari Rabu, 12 Januari 2022, Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) Organisasi Riset PPT BRIN menyelenggarakan Serial Webinar ke-5. Serial Webinar kali ini mengangkat topik “Riset Pascapanen Tanaman Bahan Baku Industri”

SAVE_20220115_215712

Dari ketiga materi ini, materi kedua sangat menarik.

1. Prof. Dr. Ir. Lamhot P. Manalu, MSi (Peneliti Ahli Utama – BRIN) dengan materi : “Teknologi Smart Drying Pada Pasca Panen TANAMAN OBAT“

2. Ir. Gigih Atmaji (Perekayasa Ahli Madya – BRIN) dengan materi : “Rancang Bangun Mesin Sangrai KOPI Model FLUIDISASI ”

3. Ir. Harianto, MSi. (Perekayasa Ahli Utama – BRIN) dengan materi : ”Teknologi Pasca Panen Pada Agribisnis Buah MANGGA”

Materi kedua sangat menarik perhatian, walau sudah mulai diuji dan dikembangkan cukup lama di PTA, sejak tahun 2016, yaitu mengenai mesin sangrai kopi model fluidisasi.

Secara umum terdapat dua tipe utama sangrai kopi yaitu silinder berputar dan fluidisasi. Sangrai kopi tipe fluidisasi menggunakan udara panas bertekanan untuk mengaduk dan menyangrai kopi, perpindahan panas dominan secara konveksi, sedangkan silinder berputar dominan konduksi.

Proses sangrai kopi bertujuan untuk mengembangkan aroma dan rasa kopi dengan karakteristik tertentu dan memudahkan proses grinding dan ekstraksi, tetapi dengan proses sangrai yang benar akan diperoleh kopi sangrai yang mempunyai aktivitas antioksidan.

Untuk memperoleh cita rasa kopi, seperti kita ketahui, ada banyak faktor yang mempengaruhi yaitu diantaranya jenis, lokasi tumbuh, iklim, proses panen dan pasca panen, proses sangrai, grinding dan cara seduhan.

kop1 kop2 kop3 kop4 kop5 kop6 kop7

Tampak hadir dalam Webinar #5 ini adalah dari Bappeda Klaten, Bapelitbang Lebak, Dinas Pertanian Pagar Alam, Dinas Tanaman Pangan dan Horti, Disperta dan Ketahanan Pangan, Balitbang Sumbar, DPKP Palembang, Dinkes Prov Jatim, Politani Pangkep, Dinkes Prov, Distan KH, UPTD WKJ, Unand, UPTD BPSJ Pekalongan dan banyak lagi.

Semoga sharing ini dapat memberikan manfaat bagi para petani dan pengolah biji kopi, untuk meningkatkan kualitas hasil sangrai kopi, dengan menghemat waktu dan biaya. Terbuka kerjasama PTA dengan berbagai pihak, untuk meningkatkan kualitas pasca panen baik kopi, mangga dan rempah-rempah atau tanaman bahan baku industri yang banyak terdapat di Indonesia.

 


Webinar Teknologi Agroindustri #4 Riset Diversifikasi Produk Turunan Sagu

Pada hari ini, Rabu, 5 Januari 2022, Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) yang berada dibawah Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi (OR PPT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) kembali mengadakan Webinar dengan tajuk Riset Diversifikasi Produk Turunan Sagu.

pta4

Kegiatan Webinar pada hari ini adalah kegiatan ke-4 dalam serial Webinar Teknologi Agroindustri. Sebelumnya telah dilaksanakan sharing riset diversifikasi produk Turunan Sawit (8 Desember 2021), Produk Minyak Atsiri (15 Desember 2021) dan Produk Rumput Laut (22 Desember 2021). Rangkaian kegiatan Webinar ini sebagai bentuk  sharing hasil riset, mengenai beberapa produk yang berasal dari salah satu bahan baku agroindustri yang potensial dan merupakan bagian dari kekayaan alam hayati Indonesia.

Dalam pertemuan sebelumnya, Bapak Ir. Arief Arianto, M.Agr (Kepala PTA) menyampaikan bahwa tidak semua negara diberi anugerah tanaman sagu. Lebih dari 95% tanaman sagu dunia hanya dapat ditemui di Indonesia, Papua Nugini dan Malaysia. Lebih dari 50% atau tepatnya 55% tanaman sagu dunia, terdapat tumbuh di Indonesia dengan luas sekitar 1,5 Juta Ha.

IMG_20220105_215520

Dimulai pada pukul 09.00, acara ini diawali dengan Kata Sambutan dari Kepala PTA, Bapak Ir. Arief Arianto, M.Agr. Dipandu oleh Moderator, Ir. Hengky Henanto, MSc. APU, Perakayasa Ahli Utama (BRIN), menghadirkan narasumber dari PTA, yaitu :

1. Ir. Purwo Tri Cahyana, MSi (Perekayasa Madya – BRIN) dengan materi : “Inovasi Produk Turunan Sagu”

2. Drs. Agus Triputranto MM (Perekayasa Madya – BRIN) dengan materi : “Pengolahan Pasca Panen Sagu ”

3. Alit Pangestu, STP, MSc. (Perekayasa Muda – BRIN) dengan materi : ”Hilirisasi Inovasi Mie Sagu Instant”

Dalam paparannya, Bapak Purwo menyampaikan

p1

p2

Dilanjutkan dengan pemateri kedua, Bapak Agus menyampaikan

p3 p4

Sedangkan pemateri ketiga, Bapak Alit Pangestu, seorang perekayasa muda, menyampaikan

p5 p6

Webinar yang diikuti sekitar 100 orang secara daring melalui link zoom dan juga Youtube ini, diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab yang menarik antara peserta, pemateri dan juga Ka Pusat, Bapak Arief Arianto. Tak terasa, waktu melewati dari jadwal yang ditetapkan karena antusiasme peserta yang begitu besar. Bapak Arief Arianto dan Tim, bersedia menyediakan waktu untuk diskusi lebih lanjut diluar kegiatan webinar ini, dengan mencantumkan nomer telpon yang bisa dihubungi pada kolom chat, pada akhir webinar.

Peserta kegiatan Webinar ini berasal dari kalangan periset di BRIN, industri dan periset dari Kalimantan Barat, Sumatera Barat, Sulawesi Utara, Halmahera dan Fakfak.

Bagi pembaca, yang tertarik mengenai hasil riset diversifikasi produk Agroindustri, yang dikembangkan oleh Tim PTA OR PPT, BRIN, dapat menyimak kembali tayangan kegiatan serial webinar ini melalui Youtube PTA.

Semoga inovasi yang telah dilakukan ini dapat memberi manfaat baik bagi masyarakat maupun industri, serta memberi semangat pada para periset untuk berinovasi dengan diversifikasi produk tanpa henti agar semakin mengena pada kebutuhan masyarakat.

 

 


Sago Mee, Mie Instant Hasil Inovasi PTA*)

Mie biasanya terbuat dari tepung terigu. Sago Mee adalah hasil inovasi dari Pusat Teknologi Agroindustri (PTA) OR PPT (dulu BPPT). Mie ini  berbahan baku sagu. Sago Mee memiliki aneka varian rasa seperti ayam bawang, laksa bangka, soto pedas maupun mie goreng,  dalam kemasan 70 gr.

Papan Nuansa Isabela

Menurut Bapak Ir. Arief Arianto, M.Agr (Kepala Pusat Teknologi Agroindustri OR PPT), tidak semua negara diberi anugerah tanaman sagu. Lebih dari 95% tanaman sagu dunia hanya dapat ditemui di Indonesia, Papua Nugini dan Malaysia. Lebih dari 50% atau tepatnya 55% tanaman sagu dunia, terdapat tumbuh di Indonesia dengan luas sekitar 1,5 Juta Ha.

Pemanfaatan sagu menjadi produk mie sagu, merupakan upaya inovasi teknologi yang dilaksanakan PTA – OR PPT untuk memberdayakan tanaman asli Indonesia.

Di Kabupaten Bangka tanaman sagunya disebut sagu rumbia. Ini unik karena tumbuh di lahan yang memiliki kandungan mineral. Sagu ini kemudian dadikan mie instan dengan kualitas tinggi dan terjamin, dimana warna produknya putih dan bersih

Hilirisasi dan komersialiasi teknologi produk mie sagu dilakukan melalui kolaborasi dengan industri yaitu PT Langit Bumi Lestari dan PT Bangka Asindo Agri. Perusahaan tapioka ini mengolah sagu menjadi mie yang nikmat di lidah. Sago Mee adalah produk mie pertama di dunia yang menggunakan bahan sagu.

Keunggulan Sago Mee adalah

    • Bebas Gluten, Tinggi Serat dan Non Genetic Modified Organism (Non GMO)
    • Kadar RS : 3-4 kali lebih besar daripada Mie Terigu. Kadar RS yang tinggi bermanfaat untuk Pencernaan
    • Tergolong dalam kelompok Indek Glikemik (IG) Rendah. Indek Glikemik (IG) adalah ukuran kecepatan perubahan Pati menjadi Gula dalam tubuh. IG yang rendah baik untuk Penderita Diabetes, Auto Imun, Diet Rendah Gula, dll
    • Memberikan efek kenyang tetapi tidak menggemukkan

Sago Mee sudah banyak dipasarkan secara online dengan harga yang cukup bervariasi mulai dari Rp 10.000,- per cup nya. Diantaranya ada di Tokopedia dan Shopee.

Kali ini, aku mencoba menikmati Sago Mee Rasa Soto Pedas. Cara mengolahnya cukup mudah dan hanya memerlukan waktu selama 3 menit saja. Cukup tuangkan air panas dan tunggu sampai mie lunak. Lalu masukkan bumbu soto dan sambal. Aduk rata dan siap dinikmati.

Rasanya enak. Tekstur mie nya juga lembut. Tidak terasa beda dengan mie yang terbut dari tepung terigu. Bumbu sotonya terasa pas dan wangi soto kuat Pedasnya cukup terasa buat aku yang kurang suka pedas. Jika tidak terlalu suka pedas, bisa mengatur sambal dalam sachet secukupnya kedalam cup.

Sebagai masukan, untuk ke depannya, diharapkan ada pelengkap tambahan seperti bawang goreng dan sayuran kering yang bisa dicampurkan kedalam mie ini. Tentu akan terasa lebih nikmat.

Nah buat kamu penggemar Mie tapi punya banyak kendala, seperti diabetes, kelebihan berat badan dan atau mencari produk gluten free, Sago Mee adalah salah satu solusinya. Harganya juga terjangkau. Selamat menikmati.

s4

Sumber tulisan : Pribadi dan www.sagomee.com

*) PTA adalah Pusat Teknologi Agroindustri di Organisasi Riset Pengkajian dan Penerapan Teknologi (OR PPT) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)