Tradisi Pesta Panjut Di Kuala Kangsar

Pesta Panjut atau Pesta Pelita adalah salah satu bentuk kegiatan yang diselenggarakan selama bulan Ramadhan setelah sholat trawih di Kuala Kangsar

Dibuat secara bergotongroyong dengan menampilkan desain sesuai dengan tema pesta pada tahun itu. Pesta Panjut ini juga dapat mengakrabkan warga masyarakat karena proses pembuatannya mulai dari mempersiapkan batang bambu untuk membuat rangka dari pelita yang akan dipasang. Pelita berupa lampu minyak tanah, di Jawa biasa disebut lampu teplok atau lampu sentir.

Dengan berbaju Raya dan mengenakan tengkolok, kami dalam rombongan Visit Perak 2017 bersama Gaya Travel beramai mengikuti Pesta Panjut. setelah berbuka puasa.

IMG-20170615-WA0100DSCN0559DSCN0563

DSCN0564Biasanya pertandingan Pesta Panjut antar kampung akan digelar beberapa hari sebelum hari Raya tiba. Dan biasanya warga yang bekerja atau melanjutkan studi di perantauan pulang ke kampungnya. Tradisi ini dapat mengakrabkan warga masyarakat kembali apalagi ada rasa bersatu untuk memenangkan pertandingan antar kampung. Tradisi yang baik untuk dipertahankan baik bagi orang tua dan muda.

 

 

 

 


Demo Tengkolok Di Raja Perak Bersama Sentuhan Prestij

Tengkolok adalah ikat kepala atau merupakan sejenis alas kepala tradisional Melayu yang dipakai oleh kaum pria.

Tengkolok terbuat dari kain songket panjang yang dilipat-lipat dan diikat dalam gaya (riasan) yang tertentu. Harganya bervariasi tergantung jenis material kain dan benangnya.

Pada zaman sekarang, hiasan kepala lebih banyak dipakai dalam acara-acara yang penuh adat istiadat, misalnya oleh kerabat kerajaan dan para hadirin dalam acara seremonial kerajaan, dan oleh pengantin pria saat upacara pernikahan.

Dalam salah satu agenda event Visit Perak 2017 bersama Gaya Travel terdapat kegiatan Demo Tengkolok bersama Sentuhan Prestij yang disampaikan oleh Raja Ahmad Akashah, sebelum Pesta Panjut di Bukit Chandan, Kuala Kangsar, Perak.

DSCN0549DSCN0551DSCN0553Selain demo membuat tengkolok, ada juga tiga buah tengkolok yang disiapkan petang hari itu, yaitu Tengkolok Alang Iskandar, Tengkolok Pucuk Pisang Patah dan Tengkolok Balung Ayam.

Tengkolok Balung Ayam dikenakan Sultan Perak pada tahun 1950 an. Sedangkan Tengkolok Pucuk Pisang Patah disebutkan demikian karena kedudukan pucuknya menjuntai seperti pucuk pisang yang layu. Untuk Tengkolok Alang Iskandar merupakan tengkolok banyak digemari dan juga dikenakan Sultan Alang Iskandar saat baginda memerintah.

Tengkolok dan destar berwarna putih bersulam benang perak yang diberi nama Ayam Patah Kepak, adalah pakaian huli khusus untuk Duli Yang Maha Mulia Sultan Perak Darul Ridzuan saat ini.

DSCN0550DSCN0552DSCN0554yang dikenakan oleh teman-teman dalam rombongan kami,

IMG-20170615-WA0161Wow sekali ya penampilan mereka dengan tengkolok dan kain samping itu. Kiranya dapatlah terus dilestarikan budaya menggunakan pakaian adat seperti ini karena kita mesti bangga kan dengan warisan budaya bangsa.

 

 

 

 


Rindu Putu Piring Di Bazar Ramadhan, Arena Square, Kuala Kangsar

Bazar Ramadhan kedua yang akan kami kunjungi berada di Arena Square, yang terletak di Kampung Penaga, 33000 Kuala Kangsar, Perak, Malaysia. Menurut informasi, lokasi bazar ini sangat strategis karena berada di pinggiran Sungai Perak yang bersejarah.

DSCN054220170615_174141Bazar di Arena Square juga berada dalam ruang tertutup sehingga tidak kuatir kehujanan atau kepanasan. Tempatnya sangat luas dan lega, sama seperti bazar di Stadium Perak sebelumnya, di sini ada aneka makanan, minuman, buah, ikan kering, bahkan juga penjual pomade untuk rambut 😀

DSCN0548Murtabak

Kue Limas, kalau di Indonesia ini disebut Kue Talam

DSCN0544

Tak ada putu piring padahal waktu di Ipoh tak sempat beli

DSCN0547 DSCN0546 DSCN0545 Nyaman sebenarnya berada di sini, seandainya aku punya waktu lebih lama, mungkin bisa lebih tenang memilih makanan, tapi aku hanya membeli jus mangga seharga RM 8 untuk 500 ml sangat menyegarkan di hari yang panas di Kuala Kangsar siang itu.

http://Butuh waktu cukup untuk bisa duduk dan makan minimal memilih makanan di dalam bazar, karena semua tampak sedap 😀 Selamat berbelanja


Mesjid Ihsaniah Iskandariah Di Kuala Kangsar

Kamis, tanggal 15 Juni 2017, Mesjid di Kuala Kangsar yang didominasi warna putih dan kuning ini, menjadi tujuan pertama grup Visit Perak 2017 Edisi Ramadhan bersama Gaya Travel Magazine dan Media.

DSCN0527DSCN0512Mesjid Ihsaniah Iskandariah atau lebih dikenal dengan nama Mesjid Kampung Kuala Dal terletak di Padang Rengas, Perak, Malaysia, sekitar 4,8 kilometer dari Bandar Diraja Kuala Kangsar

Pada 7 Mei 2011, peresmian mesjid ini disempurnakan oleh Sultan Perak, Sultan Azlan Shah yang turut menunaikan shalat Jumat di Mesjid Al-Wahidiah Kuala Dal, yang letaknya bersebelahan dengan mesjid Ihsaniah

DSCN0519Keunikan mesjid ini tampak pada desain dan keseluruhan dindingnya dibangun berbasis anyaman bambu minyak, biasanya disebut “buluh”, yang dikenal sebagai ‘Kelarai Bunga Potong Belian’

DSCN0514 DSCN0515 DSCN0516 DSCN0517Keistimewaan lain yang ada di mesjid berlantai dua ini bisa dilihat dari desain segi empat bujur atau dikenal dengan sebutan bujur sangkar burung. Ia memiliki 20 buah jendela dan setiap jendela dihiasi dengan ukiran motif insang ikan hiu dan tunas kacang.

Pada kepala jendela dihiasi dengan ukiran bulan sabit dan bintang pecah lima. Jumlah jendela yang banyak membuat bagian dalam mesjid ini selalu cerah karena menerima sinar matahari dari luar dan terasa nyaman untuk beribadat.

DSCN0520 DSCN0521 DSCN0522Setiap sendi kayu dinding tepas dihiasi dengan ukiran sekuntum bunga tikam seladang untuk mempercantik hiasan dinding. Mesjid ini merupakan salah satu arsitektur dari rumah tradisional Melayu di Perak.

Menurut catatan sejarah, konstruksi Mesjid ini didanai sepenuhnya oleh Sultan Perak ke-30 yaitu Sultan Iskandar Shah pada tahun 1936. Desain dan dekorasi mesjid ini ikut drancang beliau berdasarkan arsitektur Istana Kenangan di Bukit Chandan.

Di lantai atas ada ruang mihrab yang  menghadap arah kiblat dan digunakan sebagai ruang shalat. Sementara lantai bawah pula dijadikan ruang untuk kegiatan keagamaan masyarakat setempat seperti kelas mengaji dan juga kenduri

DSCN0524DSCN0525

Mesjid ini didukung dengan delapan tiang dari kayu kempas. Kerja-kerja menganyam dinding tepas dilakukan secara gotong-royong bersama warga desa yang dipimpin oleh Panjang Noh, Ngah Gadoh, Wan Ibrahim dan Kulop Ngah.

Di setiap penjuru masjid ini terdapat empat buah menara yang agak keluar sedikit dari dinding utama. Ruang-ruang yang keluar itu berbentuk persegi panjang yang berukuran (3 ‘x 3’).

Atap masjid ini pula berbentuk limas bungkus dengan menggunakan bahan seng yang merupakan bahan esklusif pada waktu itu.

Masjid ini telah tidak lagi digunakan sejak tahun 1976 setelah adanya masjid baru yaitu Masjid Al-Wahidiah. Masjid ini menganggur lebih 30 tahun dan hampir hancur tetapi akhirnya dapat diselamatkan serta dilestarikan oleh Jabatan Warisan Negara pada 2008.

DSCN0529Sebagai salah satu warisan religi, sepatutnya Mesjid ini dijaga kelestarian terutama keutuhan bangunan mesjid ini sehingga dapat terus berdiri.