Berbuka Puasa @ Thumbs Cafe

Berbuka puasa atau yang disebut dalam agenda kegiatan sebagai Ihya Iftar, yang pertama bersama Gaya Travel  dan Perak Tourism diadakan di Thumbs Cafe

DSCN0418

Cafe yang terletak di Greentown, Ipoh ini adalah salah satu kafe berkonsep di Perak. Sebelumnya cafe ini adalah asrama yatim piatu di bawah Kompleks Badan Khidmat Islam Perak. Dimiliki dan dioperasikan oleh Bapak Elias Yahaya.  Ide mencampur unsur lokal barat dan tradisional untuk konsep kafe ini didasarkan pada pengalamannya yang luas dalam industri pariwisata yang membawa beliau ke seluruh pelosok dunia.

DSCN0414DSCN0416DSCN0417DSCN0415Thumb’s Café menawarkan dekorasi menarik  dan suasana yang sangat nyaman di hampir semua sudutnya, baik di bagian dalam maupun di luar cafe.

DSCN0412DSCN0413DSCN0421Di sini hidangan makanan khas barat dan lokal disajikan. Hidangan favorit adalah bakso tanda tangan dan nasi goreng Thumb. Menu lokal seperti Nasi Goreng, Nasi Ayam dan Kwetiaw. Menu Barat seperti Fish and Chips, aneka sup, aneka salad, wedges, spageti, fetucini dan sandwich. Juga aneka minuman seperti teh, kopi, susu, coklat, float, minuman sirup. Harga makanan dan minuman direkomendasikan sangat terjangkau.

DSCN0428 DSCN0429 DSCN0430 DSCN0431Aku sendiri menikmati masakan berupa nasi ikan dori dan minuman segar es kelapa jeruk, hmm….sedap.

DSCN0424DSCN0426Selamat mencoba dan selamat berbuka puasa di tempat ini. Order makanan bisa dilakukan sebelum datang dan lakukan pemesanan tempat (reserved) 😉

 

 

Thumb’s Cafe
No 133, Jalan Sultan Abdul Jalil
Ipoh, Perak
Tel: 019-614 6618

FB: Thumb’s Cafe Ipoh
IG: thumbscafe


Misteri Kellie’s Castle Di Batu Gajah

Dalam perjalanan dari Kuala Lumpur menuju penginapanku dan rombongan di M Roof Hotel, Ipoh, kami berbelok ke sebuah kastil yang terletak di Batu Gajah, Kecamatan Kinta, Perak, Malaysia, persisnya di  samping Sungai Raya, yang merupakan anak sungai ke Sungai Kinta.

k1

k1Kastil ini dikenal dengan nama Kellie’s Castle atau kadang disebut juga dengan Kellie’s Folly. Dibangun atas ide dari seorang pemilik perkebunan berkebangsaan Skotlandia bernama William Kellie Smith. Konon menurut cerita, kastil ini dibangun sebagai hadiah dari Kellie untuk istrinya, Agnes, namun pembangunan terhenti, disinyalir karena kendala dana.

k2k2Pembangunan dimulai pada tahun 1915 dan dihentikan pada tahun 1926, setelah Kellie meninggal karena pneumonia dalam perjalanan pendeknya ke Lisbon, Portugal, dalam usia 56 tahun.

k3k3Kastil dibangun bergaya kombinasi Moorish Revival dan Indo Saracenic. Moorish Revival adalah salah satu gaya arsitektur kebangkitan eksotis yang diadopsi oleh arsitek Eropa dan Amerika, yang mencapai puncak popularitasnya setelah pertengahan abad ke-19. Sedangkan Indo Saracenic adalah salah satu gaya arsitektur Ini menarik unsur-unsur dari arsitektur Indo-Islam dan India asli, dan menggabungkannya dengan kebangkitan Gothic dan gaya Neo-Klasik yang disukai di Inggris Victoria. Dengan perpaduan dua gaya ini, Smith membawa 70 pengrajin Tamilvanan dari Chennai, Madrasah, India. Semua batu bata dan marmer juga diimpor dari India.

k4Selanjutnya kastil ini akhirnya dijual ke sebuah perusahaan Inggris bernama Harrisons dan Crosfield. Namun dibiarkan terbengkalai sehingga pada tahun 2014, diambil alih oleh Kerajaan Negeri Perak. Dan sekarang menjadi obyek wisata lokal yang populer, dengan beberapa orang percaya bahwa kastil ini berhantu seperti pada umumnya bangunan yang tidak berpenghuni, dari kesaksian para penjaga yang melihat penampakan di malam hari. Karena dipercaya berhantu, maka kastil ini juga terkenal sebagai tempat wisata dunia roh di malam hari.

k5Kastil ini juga memiliki empat terowongan dan salah satunya menuju kuil Sri Mahamariamah Ladang Kinta. Keempat terowongan itu diduga dibangun sebagai jalur evakuasi jika ada yang bermaksud membunuh William

Kastil ini juga digunakan sebagai setting dalam film tahun 1999 Anna dan King dan 2000 film Skyline Cruisers. Demikian sekilas cerita dari Kellie’s Castle yang rombongan kami kunjungi sebelum memasuki Ipoh, Perak. Sempat berada di sana, untuk berfoto-foto di lantai dasar sampai dengan lantai atas kastil.

k5

                                               Foto dari Gaya Travel

 

 

 

 


Ipoh Wall Art Mural

Ipoh, sebagai ibu kota negara bagian Perak, Malaysia, terkenal dengan pernak pernik heritage dan makanannya yang enak. Namun sekarang ada daya tarik baru dari kota Ipoh yaitu gambar atau lukisan di dinding yang terkenal dengan sebutan mural art, sehingga Ipoh selain disebut sebagai Heritage City dan Delicious Ipoh Food City, juga mendapat sebutan baru yaitu “Art of Old Town”.

Terdapat 7 (tujuh) lukisan dinding dari Ernest Zacharevic, pelukis yang juga melukis lukisan dinding di Georgetown, Penang. Kembali aku beruntung karena walau kegiatan mengunjungi Old Town ini tidak terdapat dalam agenda, namun aku bersama Dede dari MQTV Bandung diantar langsung oleh dua pegawai dari Tourism Perak, yaitu Adam dan Adnan.

Dari 7 (tujuh) lukisan karya Ernest, aku berhasil mendatangi lima di antaranya, yaitu :

1.Old Uncle With Coffee Cup, terletak Jalan Dato Maharajalela, menggambarkan seorang paman tua yang sedang memegang secangkir kopi. Konon kabarnya ini adalah simbol sebuah franchise terkenal di Ipoh, yaitu Old Town White Coffee.

m1

2. Paper Plane, terletak di Jalan Sheikh Adam, menggambarkan dua anak laki yang menikmati terbang di atas pesawat kerta mereka

DSCN04433. Humming Bird terletak di Jalan Panglima, menggambarkan burung kolibri yang sedang mencari makan di pohon

m34. Evolution, yang terletak di Jalan Bijeh Timah, menggambarkan proses evolusi kota Ipoh, Perak sebagai kota pengolahan timah di masa penjajahan

ev5. Kopi O, lukisan ini terletak di Jalan Tun Sambathan, menunjukkan lima buah kantong kopi O atau kopi hitam, sebagai awal mula adanya white coffee di Ipoh

kop

Selain lima mural art karya Ernest di atas, terdapat banyak lagi karya seni di lorong jalan di Ipoh, ini menunjukkan kreatifitas yang tinggi dari masyarakat di sana, ini di antaranya

m5

m6dan ….

m4

Ini sebagian ceritaku menikmati lukisan atau mural art di kota tua Ipoh, baca tulisan berikutnya ya 😉