Mencoba makanan khas suatu daerah, selama itu bukan makanan yang terlalu ekstrim (seperti tikus tanah atau ubur-ubur) pasti akan aku coba setiap mendatangi tempat baru. Demikian pula dalam perjalanan kami ke Kendari kali ini, ada makanan khas di daerah ini, yang disebut dengan Sinonggi, sejenis dengan makanan di wilayah Timur lainnya, Sinonggi juga terbuat dari sagu, hanya cara penyiapan penyajian dan lauk yang menemaninya mungkin berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Seperti Papeda atau bubur sagu, merupakan makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua. Makanan ini terdapat di hampir semua daerah di Maluku dan Papua.

Hari kedua kami datang di Kendari, bu Magda, PIC yang mengurusi akomodasi kontingen Banten selama kami berada disana, menyediakan Sinonggi lengkap dengan lauk pauknya. Namun menurut beliau, sagu yang digunakan kali ini kurang begitu bagus, warnanya tidak putih seperti seharusnya dan pada saat disajikan seharusnya sagu tersebut sangat lengket dan dapat dipotong dengan 2 (dua) buah sumpit bambu panjang.

Sinonggi terbuat dari sagu yang disiram air mendidih, cara makannya dicampur dengan kuah sayur, sayurannya bisa berupa sayur bayam, kangkung, terong kecil, dan disiram lagi dengan ikan yang dimasak. Sinonggi, si sagu ditempatkan khusus, dan ketika disantap, baru dibulatkan atau dipotong dan dimasukkan dalam piring makan yang telah diisi dengan kuah ikan agar sagu tidak lengket.

Mari kita simak bagaimana bu Magda memperagakan cara memotong Sinonggi

Sinonggi dan lauk pauknya, ikan yang biasa digunakan berdampingan dengan Sinonggi adalah ikan palu mara, kadang juga ikan asin yang digoreng kering, sambal merah tumis ataupun mentah, kemangi dan jeruk nipis untuk menambah rasa segar dan menghilangkan bau ikan….slurp

Sinonggi dalam wadah dan dalam piring disiram kuah ikan, walau bu Magda cukup kecewa dengan kualitas sagunya tapi kami cukup menikmati makanan ini

Beberapa sumber mengatakan bahwa Sinonggi itu makanan khas suku Mekongga, yang merupakan suku asli orang Kolaka. Namun ada pula yang mengatakan Sinonggi pada hakekatnya merupakan makanan sehari-hari suku Tolaki yang sebagian besar mendiami wilayah Kabupaten Kendari dan Konawe. Kata Sinonggi diambil dari bahasa suku tersebut yakni posonggi. Posonggi adalah sebuah alat yang menyerupai sumpit dan terbuat dari bambu dengan ukuran panjang sekitar 20 cm. Alat ini digunakan untuk menyantap Sinonggi dengan cara menggulung tepung sagu yang sudah matang.

Beruntung kami dapat menikmati Sinonggi di Penginapan karena konon kabarnya tidak banyak rumah makan yang menyediakan masakan khas Kendari ini dan seandainya pun ada, akan diberi harga sekitar Rp 18.000,- sampai dengan Rp 20.000,- per porsi tergantung jenis ikan dan sayurnya. Terimakasih bu Magda….. :-D