Super Woman – Suara Perempuan Berbagi Wawasan dan Opini tentang Kesehatan

Mau jadi Kartini Sejati yang berguna di masyarakat ? Mari turut berpartisipasi bersama World Vision dengan mitranya Wahana Visi Indonesia membantu perempuan Indonesia untuk ambil bagian menjadi “SUPER WOMAN” Suara Perempuan, Berbagi Wawasan dan Opini tentang Kesehatan ,

yang tujuannya adalah :

  • Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran para perempuan akan pentingnya kesehatan anak dan ibu.
  • Mengajak keterlibatan para perempuan untuk mendukung upaya peningkatan kesehatan anak dan ibu di sekitar, lingkungannya dan Indonesia.
  • Mengajak para perempuan mendorong Pemerintah untuk memenuhi komitmennya bagi pemenuhan kesehatan anak dan ibu di Indonesia.

Ingin perempuan Indonesia sehat dan melahirkan anak-anak sehat kan ? Tentu juga menginginkan tingkat kelahiran bayi hidup meningkat dan tingkat kematian ibu melahirkan menjadi rendah bukan ?

Mari, saya bisa, anda juga bisa, turutlah berpartisipasi dalam program Super Woman dari Indonesia Child Health Now, klik di link berikut ini yaa……Jadilah Super Woman, demi perempuan Indonesia !!


Kala Berbagi itu Indah

Sebagai umat yang beragama Kristen, sudah sepatutnya kita menelandani Tuhan Yesus Kristus melalui pengajaran NYA. Tuhan mengajarkan banyak hal kepada umat NYA, salah satu diantaranya yang banyak terdapat dalam Alkitab, Tuhan menginginkan kita untuk memperhatikan orang yang ada di sekitar kita, terutama anak yatim, para janda dan orang-orang yang lemah.

Beberapa ayat yang mendasari firman Tuhan tersebut, diantaranya adalah ayat-ayat dibawah ini :

  • Mazmur 10:18 untuk memberi keadilan kepada anak yatim dan orang yang terinjak; supaya tidak ada lagi seorang manusia di bumi yang berani menakut-nakuti
  • Mazmur 10:14 Engkau memang melihatnya, sebab Engkaulah yang melihat kesusahan dan sakit hati, supaya Engkau mengambilnya ke dalam tangan-Mu sendiri. Kepada-Mulah orang lemah menyerahkan diri; untuk anak yatim Engkau menjadi penolong.
  • Mazmur 68:6 Bapa bagi anak yatim dan Pelindung bagi para janda, itulah Allah di kediaman-Nya yang kudus;
  • Mazmur 82:3 Berilah keadilan kepada orang yang lemah dan kepada anak yatim, belalah hak orang sengsara dan orang yang kekurangan!
  • Mazmur 146:9 TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.
  • Ulangan 15:11 Sebab orang-orang miskin tidak hentinya akan ada di dalam negeri itu; itulah sebabnya aku memberi perintah kepadamu, demikian: Haruslah engkau membuka tangan lebar-lebar bagi saudaramu, yang tertindas dan yang miskin di negerimu.
  • Keluaran 22:22 Seseorang janda atau anak yatim janganlah kamu tindas.

Karena itu salah satunya jalan yang dapat dilakukan untuk dapat membantu yang lemah, yang tertindas dan teraniaya adalah dengan BERBAGI. Berbagi tidak harus berupa materi, atau uang, namun dapat dilakukan dalam bentuk :

  • menyediakan hati untuk berbagi rasa, ikut merasakan kepedihan, menangis bersama, menyediakan telinga untuk mendengarkan keluhan dan duka
  • menyediakan tangan untuk menggenggam mereka, menyuapi mereka, membantu mereka yang sedang sakit dan menopang tubuh mereka
  • menyediakan kaki untuk berjalan mendatangi orang yang lemah dan tertindas, mengajak anak-anak menari dan bermain
  • menyediakan suara untuk berdoa dan bernyanyi bersama mereka serta memberi penghiburan dan menguatkan melalui pengharapan

Berbagi itu indah, berbagi itu menguatkan batin kita dan mendatangkan kebaikan buat orang yang lemah, tertindas dan tak berdaya, terutama anak-anak dan orang tua.

Jadi inilah alasan saya, memilih judul majalah WVI dalam Lomba Judul Majalah yang diselenggarakan WVI disiniBerbagi itu Indah atau Indahnya Berbagi. Tuhan berkati (Diadjeng Laraswati H No ID 16109)


Rindu Tengkuyung

Ada yang tertinggal di catatan perjalanan yang lalu dan itu sesuatu yang sederhana tapi sedap rasanya, itulah tengkuyung. Saat kami berada di Desa Polongan, bu Kades dan para ibu disana memasak banyak makanan buat kami, ada sayur rebung, bawang hutan, ikan teri, cabe besar isi dan yang baru aku temui dan aku kenal adalah tengkuyung. Ibu-ibu disini memasak satu jenis bahan menjadi satu jenis sayuran, dengan bahan bumbu yang kurang lebih sama seperti sayur lodeh, biasanya tenkuyung juga dicampurkan bersama sayuran lainnya, tapi kali ini tenkuyung disajikan buat kami secara terpisah.

Terus terang, aku belum pernah makan tengkuyung, tapi aku selalu berpendapat, selama itu bukan sesuatu yang terlalu ekstrim untuk dimakan, apa salahnya mencoba, toh orang lain tampak sangat menikmati (lirik kiri kanan, ada yang sudah mulai ‘berbunyi-bunyi’) Jadi, aku ambil beberapa buah (ekor – ga ada ekornya sih) tengkuyung.

Tengkuyung sendiri adalah sejenis siput air yang banyak terdapat di sungai di perairan Kalimantan. Rasanya, hm lebih lembut dari kerang dara, seperti sumsum sapi dan karena dimasak dengan bumbu dan rempah, maka rasanya menjadi enak – enak – enak sekali 😀 tapi sayangnya….bagaimana cara memakannya itulah yang jadi masalah, caranya ? maap bukan cara makannya tapi cara mengeluarkan si tengkuyung dari cangkangnya dan langsung meluncur ke mulut itulah yang jadi masalah dan tanpa mengurangi rasa hormat kepada ibu Kepala Desa yang sudah susah-susah menyiapkannya, cara mengeluarkan tengkuyung itu – hm engga gue banget getu lhoh, seperti kata anak-anak sekarang, lhah emang kenapa rupanya ?

lauk pauk yang disajikan untuk kami, semangkuk tengkuyung ada di urutan ke-4

lauk cabe besar isi sayuran, biji cabe sudah dikeluarkan

sepiring nasi lengkap dengan tengkuyung dan aneka sayur khas Polongan
http://i1247.photobucket.com/albums/gg634/dlaraswatih/tk3.jpg

Bayangkanlah bentuk siput, bentuknya lonjong dan berlubang di bagian bawah cangkangnya. Permukaan cangkang tengkuyung ada yang rata (licin seperti kerang hijau) ada yang kasar (seperti kerang dara). Cara mengeluarkan isinya adalah dengan meletakkan tengkuyung di ujung bibir mulut dan menyedotnya sampai berbunyi, maka isi cangkang akan meluncur kedalam mulut dan sedap terasa bercampur dengan nasi dan sayur rebung dan lauk yang lain. Mudah bukan ? Betul, mudah, tapi masalah makan dengan berbunyi inilah yang jadi masalah, namun karena rasanya enak, aku sempat menikmati beberapa buah tengkuyung untuk dimakan bersama lauk pauk yang lain. Dalam tata cara adat Jawa, makan dengan mengeluarkan bunyi atau bersuara (mengecap atau bersendawa) merupakan pantangan, apalagi jika dilakukan dalam jamuan makan bersama seperti saat itu.

Ingin nambah lagi, tapi bagaimana caranya ya mengeluarkan isi tanpa bunyi-bunyian ? 🙂


Mereka Ada Di Sini (Juga)

Aku datang agak terlambat ke kantor siang ini karena ada keperluan mengurus kepindahan domisili Ibu. Turun dari kendaraan (ojek maksudnya), aku melihat ada seorang anak berpakaian putih merah sedang duduk di tepi parkiran mobil sedang menghitung uang, sementara ada sebuah baskom di sebelahnya. Sesudah membayar ongkos ojek, aku menghampiri anak itu, karena mengenakan baju seragam sekolah, maka aku pun bertanya “kamu ga pergi sekolah ?”,
ia menjawab sambil mengangkat baskomnya “sekolah bu” , anak itu mengalihkan pandangannya
“kok belum berangkat, kamu sekolah dimana ?”
tanyaku,
“masuk siang bu, dekat, di Muncul” ia mulai melangkah pergi
aku penasaran dengan bawaannya “kamu bawa apa ?”,
“jagung rebus bu” katanya sambil berjalan pergi dan tidak menawarkan dagangannya padaku.

Kejadian ini berlangsung di pelataran parkir kantorku, yang terletak di sebuah kota yang cukup besar, tidak jauh dari Jakarta, namun ternyata masih ada (mungkin juga) masih banyak anak usia sekolah yang (terpaksa) bekerja untuk membantu perekonomian keluarganya. Masih bagus ia mempunyai kesempatan untuk bersekolah, bagaimana dengan yang tidak punya kemampuan untuk itu, bukan hanya untuk menyekolahkan tapi untuk kehidupan sehari-hari mereka masih sulit, sehingga anak-anak usia sekolah ini harus bekerja demi keluarganya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), di 2011 tercatat dapat 878,1 ribu anak usia 10-14 tahun yang bekerja dan yang mencari pekerjaan sebanyak 174,5 ribu anak. Jumlah anak usia 10-14 tahun menurut sensus penduduk di 2010 adalah sebesar 22 juta. Ini berarti jumlah anak Indonesia berusia 10-14 tahun yang bekerja dan sedang mencari pekerjaan naik hampir 5%. Jika dibandingkan 2010, terjadi peningkatan lebih dari 10%. Jumlah ini belum termasuk anak usia 5-9 tahun, sekitar 628,9 ribu yang dijumpai dalam survei pekerja anak oleh BPS di 2009.

Jadi, siapa yang peduli pada Anak Indonesia ? Saya ? Kamu ? Dia ? atau Mereka ? Lalu apa yang bisa kita lakukan buat Anak-anak ini ? Ini tidak terjadi di luar sana, tidak hanya terjadi sampai di luar pulau Jawa tapi ini terjadi tidak jauh dari lingkungan kantor ku, yang notabene berada di lingkungan yang mapan. Mari kita berbuat sesuatu untuk anak Indonesia, berikan kail, jangan ikannya.