Hotel Pardede, Tugu-Puncak

Kami memang sudah lama sekali tidak berlibur di wilayah Gadog keatas, apalagi sampai menuju Puncak atau Cipanas, karena tidak tahan akan kemacetannya yang kami lihat dalam berita di televisi. Tapi ntah kenapa, liburan kali ini kami sangat ingin ke wilayah ini, jadi ya resikonya kami harus tahan menghadapi kemacetan ini, yang ntah kapan lagi akan kami ulangi, hehe. Seingat aku, kami pergi berlibur ke Taman Safari Cisarua sekitar tahun 2004, jadi itu berarti sekitar 6 tahun yang lalu. Pernah juga tahun yang lalu, kami menginap satu malam, di rumah seorang famili, tapi itupun tidak sampai ke Puncak. Mengenai kemacetan, akan kuceritakan kemudian ya. Yang pasti, kami berangkat dari rumah jam 8 pagi dan tiba di hotel jam 11.45.

Melalui referensi seorang teman kantor, kami memesan kamar di Hotel Pardede. Pemesanan sudah kami lakukan kurang lebih 2 minggu sebelum keberangkatan kami ke tempat ini. Hotel Pardede, terletak di jalan raya Tugu menuju Puncak.Dari arah Jakarta atau Cisarua, hotel ini terletak di sebelah kiri jalan, sesudah rumah makan Kentucky Fried Chicken, tepat di pinggir jalan.

Reservasi, aku lakukan melalui telpon ke Nomor 0251-8255042 dan 0251-8255111. Dari pembicaraan melalui telpon, disarankan untuk kamar dengan view yang bagus adalah kamar deluxe, yang dikenakan tarip Rp 360.000,- termasuk sarapan pagi dengan pilihan nasi goreng atau roti dan teh manis saja. Sedang untuk extra bed dikenakan tarip Rp 100.000,- tanpa sarapan dan tanpa handuk….hmmmh, mahal.

Kamar kami menghadap ke lembah dan memang betul pemandangan tampak indah dan bagus di pagi hari, demikian juga di malam hari, lampu rumah penduduk tampak seperti kunang-kunang bertebaran di malam hari. Di dalam kamar kami, ada fasilitas TV, tanpa AC karena memang sudah dingin sekali dan kamar mandi dengan air panas, yang macet-macet keluarnya air panas, ntah kenapa. Ada kolam renang, yang sayangnya tidak sempat kami nikmati.

Mengenai makanan, kami banyak makan di luar, tapi kami sempat memesan kopi hitam karena pada menu sarapan, tidak ada pilihan kopi, dengan harga Rp 7.000,- yang bisa menjadi 2 cangkir kopi yang cukup kental dan mantabs…khas Medan (mungkin ini Kopi Sidikalang, haha), sedangkan 3 lembar roti bakar coklat keju diberi harga Rp 15.000,- mahal juga ya?

Aku dan si tengah sempat berjalan berkeliling hotel pada pagi hari pertama kami menginap, lumayan, taman tertata rapi dan kebersihan cukup terjaga, walau aku lihat jumlah karyawan hanya beberapa orang saja. Sesungguhnya, tempat ini menyenangkan, namun karena lokasi tujuan kami ada di atas (Taman Cibodas dan Melrimba) juga ada dibawah (Taman Safari), maka rasanya tempat ini kurang strategis buat kami, apalagi ditambah dengan kemacetan yang luar biasa di jalur ini.


Taman Bunga Cibodas

Perjalanan kami lanjutkan ke kawasan yang lain, yaitu Taman Bunga Cibodas, disinipun kami masih dikenakan biaya masuk, sebesar . Kami tiba disini pukul 11.05.

Di kawasan ini ada Air Terjun, Rumah Kaca, Agro Wisata, Taman Sakura dan Guest House untuk menginap. Kami hanya berjalan-jalan santai saja sambil melihat pemandangan yang indah di kawasan ini. Sayangnya, kami tidak bisa memasuki Rumah Kaca, karena ada pohon besar yang tumbang dan menghalangi pintu masuk ke dalam Rumah Kaca. Lucunya…ehm anehnya, sejak dari awal kami masuk, kami bertanya kepada petugas, dimana Rumah Kaca berada, mereka hanya menunjuk disana, disana, tapi apakah betul mereka tidak tahu kalau Rumah Kaca kejatuhan pohon, sehingga kami tidak bisa masuk? Atau pura-pura tidak tahu?

Di luar Taman Wisata, masih di area Cibodas, banyak orang menjual tanaman, sayur mayur seperti bunga kol, alpukat dan talas, kelinci, tanaman hias seperti kaktus dan juga souvenir. Kami sungguh menikmati udara yang segar, matahari yang bersinar cerah dan hawa yang sangat sejuk di sini. Kami meninggalkan tempat ini pukul 11.35, tidak terlalu lama memang, karena perut kami sudah mulai keroncongan.


Wisata Mandalawangi, Cibodas

Melrimba Kitchen yang kami tuju, terletak di Jalan Raya Puncak Km 87. Tempat ini sudah rencana aku ingin datangi sejak kami berangkat berlibur pada libur lebaran tahun 2010 ini. Kami berangkat pagi-pagi jam 8, setelah sarapan seadanya dari hotel, biasa, nasi goreng, roti, teh, kopi dan susu, sesuai selera masing-masing. Harapannya, kami akan sarapan di Melrimba Kitchen. Perjalanan naik kearah atas, arah Puncak dan Cipanas, sangat lancar sekali, kami terus melaju, sampai akhirnya tulisan Melrimba itu terlewat oleh kami. Puncak, Ciloto, lho belum ketemu juga. Tidak ketemu juga, wah ya sudah perjalanan kami lanjutkan. Suami memutuskan ke Taman Wisata Cibodas, yang ternyata tidak kalah menariknya.

Kami tiba di Taman Wisata Cibodas, pada pukul 09.51, seperti biasa di pintu masuk kawasan, kami sudah dikenakan pajak retribusi, yang judulnya Retribusi Daerah Kawasan Wisata Cibodas, dengan harga Rp 5.000,- untuk kendaraan sedan, mikro bus, pick up dan sejenisnya, dan Rp 3.000,- untuk 1 orang.

Di kawasan ini, ada beberapa tempat yang menarik untuk didatangi, yang pertama adalah KPRI Edelweis Taman Nasional Gunung Gede Pangrango Wisata Mandalawangi, dengan karcis masuk untuk pengunjung sebesar Rp 6.000,-. Didalamnya, ada air terjun, ada danau dan ada area untuk perkemahan. Tempat yang menyenangkan untuk berlibur dan beristirahat. Kami memilih pergi ke air terjun, jalan menuju kesana, sepi, berbatu tapi tidak licin, walau mesti berhati-hati karena berbatasan dengan tebing yang penuh dengan tanaman dan pohon.

Jalan menuju ke air terjun cukup melelahkan juga, jadi kami bermain sejenak di air terjun, sebelum kembali, airnya sangat jernih, dingin dan segar. Kami berfoto-foto dan kembali melalui jalan berbatu tadi, untuk lanjut ke kawasan Danau.

Danau yang dimaksud, ternyata hanya sebuah danau kecil. Maklum, di kampung, kami punya Danau terbesar di Indonesia barangkali, yaitu Danau Toba. Makanya begitu kami melihat danau yang hanya seumprit, saking kecilnya dan ga ada apa-apanya, yah kami jadi ga semangat. Airnya keruh, ada beberapa buah perahu yang siap untuk disewakan per jam atau per hari. Kalau tidak salah, per hari Rp 250.000,- untuk apa ya menyewa sampai per hari? Oh mungkin bisa sambil memancing. Ah tapi kami tidak tertarik. Kami kembali untuk melihat yang lain.

Kawasan ini dipenuhi pohon dan tanaman, yang kemungkinan sudah berusia ratusan tahun, terlihat dari besarnya lingkar pohon tersebut. Hm luar biasa, salut buat orang-orang yang sanggup menjaga kawasan ini dan melestarikan lingkungan di sekitarnya. Kami melanjutkan ke kawasan lain dan meninggalkan taman ini pada pukul 10.39 pagi.


Still at the same place, Melrimba Garden

Ada apa saja di Melrimba ? Ternyata ada Kitchen dan Garden. Kalau Kitchen ya menyajikan makanan seperti pada tulisan sebelumnya dan di Garden, ya ada arena bermain dan aneka tanaman hias, juga sarana untuk memancing.

Tanaman hias, bukan saja ada di Garden tapi juga ada di Rumah Kaca. Aneka tanaman, media tanaman, obat-obat untuk tanaman, pot dan pajangan juga ada disana, seperti dibawah ini. Ada juga tanaman bonsai, dari harga ratusan ribu sampai jutaan rupiah, duh bagaimana kalau tanaman itu mati? bisa nangis menangislah…hehe. Didalam Rumah Kaca, ada aneka tanaman, seperti anggrek, cabe kerdil, kaktus, juga tanaman hias yang lain, dengan berbagai variasi harga dari ribuan rupiah sampai puluhan ribu rupiah. Semuanya indah.

Arena permainan, ada trampoline rp 20.000,- , ATV motor dan Flying Fox, juga arena memancing, dengan harga Rp 23.000,- sudah mendapat pancingan dan umpan, sedang ikan hasil tangkapan akan ditimbang dan dibayar sesuai harga ikan per kilogramnya.

Taman juga ditata dengan rapi. Penataan seperti ini ternyata tidak hanya muncul dalam waktu sekejap, tapi telah dilakukan hampir 10 tahun lamanya. Luar biasa, sekarang mereka bisa menikmati hasilnya dan tentu kita juga. Untuk memasuki area Melrimba Garden, tiap orang dikenakan biaya Rp 5.000,- (lima ribu rupiah) dan kita bisa puas berjalan-jalan didalamnya, menikmati keindahan ciptaan Tuhan.


Melrimba Kitchen, Puncak Km 87

Akhirnya kami tiba di Melrimba pada pukul 16:54, itupun antara yakin dan tidak, sehingga kami harus bertanya kepada petugas. Setelah kami perhatikan, memang betul ternyata board penunjuk Melrimba bisa tampak jelas, jika kita datang dari arah Cipanas dan agak menyusahkan untuk dilihat jika kita datang dari arah Puncak. Tapi sudahlah mari kita cari tempat parkir dulu….Melrimba, yang terdiri dari Melrimba Kitchen dan Melrimba Garden, tampak damai dan menyegarkan.

Kami turun dari mobil, disambut oleh hujan dan petugas yang berlari-lari membawa payung untuk kami, dan karena udara sangat dingin dan hujan sudah mulai turun, kami memilih duduk didalam Melrimba Kitchen lebih dahulu, ga mungkin kan hujan-hujanan ke Melrimba Garden? Interior didalam, sesungguhnya cukup menarik, tapi entah kenapa kok remang-remang, apakah hemat listrik atau dibuat sedemikian rupa supaya orang menjadi betah dan privacy terjaga? Ntahlah, yang mengherankan, karena di luar kan sedang hujan, kenapa lampu tidak ditambah, supaya didalam jadi terasa lebih hangat?

Kami duduk di bagian dalam, tapi menghadap keluar, karena baru makan siang yang agak terlambat, kami memesan makanan ringan saja, seperti French Fries, Pancake ala Mode, Pisang Goreng Kipas, Hot Coffee, Hot Chocolate dan Poci Tea, semuanya kami pesan dalam 1 porsi dan mengeluarkan biaya yang cukup terjangkau Rp 119.543,- termasuk pajak service dan PB 1.

French Fries nya disajikan dalam piring persegi panjang, kentangnya dipotong kotak-kotak, agak lebih besar dari korek api, renyah, garing, dinikmati bersama saus tomat dan saus sambal, sudah tentu ini menjadi pilihan si bungsu Daniel. Harga untuk FF ini seharga Rp 14.000,-

Pancake ala Mode, juga ga kalah menarik dan nikmat, disajikan dalam piring bulat, ada dua tumpukan pancake, bersama vla dan es krim, hmm…sedap, harganya hanya Rp 20.000,- kata anakku, sajian yang sama di Teras Kota, BSD, dibandrol dengan harga yang jauh lebih mahal. Jadi menurut anakku, harga segitu itu cukup murah.

Pesanan berikutnya, Pisang Goreng Kipas, dikenakan harga Rp 18.500,- pisangnya agak asam, menurut aku, ntah karena masih muda atau memang jenis pisangnya, karena selain teridiri dari dua pisang dibentuk kipas dan digoreng tepung, gorengan ini dilengkapi dengan gula palem, mentega dan susu, yang membuat ini semua menjadi manis. Aku tidak terlalu suka yang seperti ini, karena yang aku inginkan ya pisang gorengnya, bukan aksesorisnya. Tapi okelah untuk menghilangkan rasa dingin dan ditemani dengan the poci hangat dan gula batu.

Secangkir kopi hitam dengan harga Rp 17.000,- dan secangkir susu coklat hangat dengan harga Rp 19.000,- juga menemani seluruh sajian yang kami pesan bersama-sama.