Tralala – Rainbow Cake for Her 16th

Trend Rainbow Cake sebenarnya sudah dimulai dari sejak pertengahan 2012 ini di Indonesia, tapi mengamati warnamya (belum rasanya) walau aku juga suka pelangi, kok agak ngeri melihatnya, apalagi jika yang dipajang dengan warna-warna pelangi terlalu nge-jreng, tambah curiga, ini pakai pewarna apa yaa, walau pasti ini pewarna makanan, apalagi jika dijual di Toko Kue atau Bakery kan ?

Rainbow Cake sendiri adalah cake yang disusun beberapa lapis bolu dengan warna yang berbeda-beda. Setiap lapisnya diberi butter cream atau whipped cream. Untuk finishing touch, seluruh cake dilapisi lagi dan kemudian diberi taburan sesuai selera. Sejarah munculnya Rainbow cake ini berawal dari seorang mahasiswi di salah satu perguruan tinggi di Amerika Serikat bernama Kaitlin Flannery, yang ingin memberi kejutan cake untuk temannya, yang menyukai warna-warna pelangi. Cake perdana ini disukai teman dan kerabatnya. Rainbow cake semakin dikenal saat Martha Stewart membagikan resep Rainbow Cake yang terkenal itu di TV Show miliknya.

Tanggal 14 Oktober adalah hari ulang tahun putri sulungku yang ke-16. Adik-adiknya sangat ingin memberi kejutan berupa Rainbow Cake buat kakaknya, karena kedua anakku juga menggemari kue ini, walau aku belum pernah membelikan sendiri buat mereka 🙁 Si tengah pernah mendapat hadiah Rainbow Cake dari teman-temannya saat dia berulangtahun bulan Agustus yang lalu. Si bungsu pernah mendapat juga saat temannya berulang tahun di sekolah. Jadi aku pikir, sekali-kali, okelah kita setujui permintaan ini, toh ini hari spesial buat si sulung. Jadi hari Sabtunya, saat si kakak sedang pergi latihan di gereja, kami pergi membeli Rainbow Cake di Olive’s Cake and Bakery, yang ada di Sektor XII Ruko Golden Vienna BSD. Semula ingin membeli yang berdiameter kecil saja, tapi karena perbedaan harganya hanya berselisih Rp 25 ribu, kami akhirnya membeli yang besar.

Kurang lebih pukul 00.00 lewat (agak lewat beberapa belas menit karena ketiduran), aku, si tengah dan si bungsu bangun, menyiapkan kamera, HP, kue dan menyalakan lilin. Belum pernah kami melakukan ini sebelumnya, sehingga agak tegang juga rasanya ….. dan kami masuk ke kamar si sulung yang terkejut dengan kehadiran kami – surpriseeee !!!! 😀

Rainbow Cake utuh tanpa lilin
DSCN7415

Dipaksa bangun untuk tiup lilin
DSCN7416

Potongan pertama untuk adik sayang, yang udah ga sabaran mau makan cake
DSCN7420

Lanjut ke meja makan
DSCN7431

dan terima cium dari adik-adik
DSCN7433

Selamat Hari Ulang Tahun kakak, banyak doa dan harapan untukmu sepanjang hari ini, begitu banyak orang yang begitu mengasihi kamu, doa, ucapan selamat, kiriman kue, jabat erat, hadiah dan begitu banyak perhatian diberikan untukmu, yang semuanya mendoakan agar kamu dapat bertumbuh menjadi anak yang sehat jasmani rohani, kamu dapat tegar menjalani hari-harimu kedepan untuk meraih impian, harapan dan cita-citamu dengan penyertaan Tuhan saja.

Terimakasih juga aku ucapkan buat teman-teman kakak, teman-temanku, saudara dan kerabat yang telah memberikan perhatian dan doa untuk anakku terkasih baik melalui SMS, FB ataupun BBM 🙂

Bagi teman-teman yang ingin mencoba membuat, bisa saksikan video dari You Tube berikut ini


Dalam Lelap Malam

Suatu malam di awal Nopember


Kabut tipis masih menyisakan dingin di malam itu

Titik hujan turun meleburkan dirinya ke bumi

Kau tidur di sisiku, berselimut bersama

Dengan kantuk kita berdua yang teramat sangat

 

Aku tidak pernah berharap ini segera berakhir

Walau kuingin kau segera beranjak remaja

Kutatap kelam matamu

Damai di wajahmu

Kau peluk leherku erat

 

Dalam kantukmu, kau buka kelopak matamu

Mama….aku ga mau nakal lagi

Jangan tinggalkan aku ya…

 

love you Mam




The Sunday 13 th

Hari Minggu, 7 Agustus 2011, adalah ulang tahun anakku yang kedua, Leona Aditia Arum Silalahi, yang biasa dipanggil dengan Arum, yang menginjak usia ke-13.

Sambil mengenang bagaimana proses ia dilahirkan karena posisinya yang sungsang, kepala diatas dan sudah berusia 10 bulan dalam kandungan, sehingga aku harus dirangsang agar dapat berkontraksi melalui obat dan induksi, membuat aku mensyukuri berkat Tuhan yang tak putus-putusnya memelihara Arum dari waktu ke waktu, kupersiapkan Makan Siang di hari Minggu itu untuk keluarga kami.

Nasi Kuning adalah menu wajib dan harus ada dalam setiap syukuran ulang tahun dalam tradisi keluarga kami, apapun lauknya, walau hanya dengan bawang goreng saja, tetap harus ada nasi kuning.

Seperti biasa, acara diawali dengan doa dan tiup lilin pada kue ulang tahun, juga Arum mengucapkan Make a Wish (yang hanya ia sendiri yang tahu, apa isi doa dan harapannya).

Setelah makan dan tiup lilin, waktunya foto bersama (tapi ternyata hanya sebagian ya, yang cowok-cowok pada main basket)

nah yang cowok-cowok nih pada main basket di taman

setelah itu …buka kado doong….

Foto bersama bude dan tante

 

dan….dicium mama….selamat ulang tahun ya Arum, kiranya Tuhan selalu menyertai setiap langkah hidupmu dan tercapai apa yang kau citakan, utk menjadi anak yang berbakti kepada Tuhan.

Selamat ulang tahun Arum

 


Yuuk Main Air….Brrrr

Anak siapa yang tidak suka main air ? Anak-anak pasti suka main air, dingin sekalipun, mereka makin betah main di air. Lihat betapa puasnya mereka bermain air di kolam renang di Citere Resort Hotel, Pangalengan, walaupun dinginnya air menusuk tulang….brrrr….

 


Dapur Bungalow No 10

Dapur adalah tempat kita berkumpul. Dapur juga tempat melakukan berbagai aktivitas bersama. Dan dapur di bungalow ini asik banget, suka banget, sayangnya bahan perbekalan untuk masak memasak tidak banyak kami bawa. Sebenarnya sudah tahu kalau ada dapur, tapi ga nyangka kalau sudah lengkap sama tabung gas full dan peralatannya.

Nah ini dia dapurnya, dapur di bungalow no 10 Citere Resort Hotel….buat ngumpul pas lagi kedinginan dan kelaparan, juga bercanda-canda…heee

 


Bungalow No 10

Kami mencari informasi jauh-jauh hari merencanakan kepergian kami ke Pangalengan. Sempat browsing mencari hotel yang layak melalui internet dan bertanya-tanya kepada teman. Karena aku tidak mau keluarga dan terutama anak-anak terlantar tidak dapat penginapan. Dan pilihan kami jatuh kepada Hotel Citere Resort, yang ternyata benar merupakan pilihan yang tepat.

Menuju lokasi, memerlukan waktu sekitar 2 jam dari Bandung, mungkin karena hari itu hari Senin maka ada beberapa titik kemacetan kami temui, mulai dari Kopo, Soreang, Banjaran dan akhirnya Pangalengan. Kami bersyukur sekali kelelahan dan rasa penasaran kami terbayarkan dengan hotel yang cukup baik dan sesuai untuk anak-anak. Karena tidak terlalu ramai, ada beberapa pilihan bungalow yang bisa kami pilih, dan pilihan kami jatuh pada Bungalow No 10, yaitu bungalow dengan 2 kamar, ruang tamu, dapur dan ruang makan serta perapian dan 1 kamar mandi didalam.

Letaknya strategis, kami bisa parkir mobil di depan bungalow, dekat dengan kolam renang dan yang terpenting, kami dapat view yang bagus, pandangan mata kami tidak terhalang oleh apapun, demikian pula asupan oksigen yang baru dan segar bebas leluasa memenuhi paru-paru kami yang kotor, oleh polusi udara sebelumnya.

Oh ya karena dilengkapi dengan dapur dengan tabung gas terisi penuh, juga galon air yang penuh, dan peralatan dapur, maka kita sebenarnya bisa memasak, asal membawa perbekalan. Kami sempat membeli beberapa bahan makanan untuk dimasak esok harinya.

Singkat cerita, Resort Hotel ini nyaman, man, ada fasilitas untuk memancing, taman bermain untuk anak-anak dan kolam renang, juga restoran yang makanannya enak dan disajikan dengan porsi yang pas.

Yuk coba menginap di Citere Resort Hotel, Pangalengan.


Pabrik Teh Malabar

Liburan di Pangalengan kali ini, kami berkesempatan untuk masuk kedalam Pabrik Teh di Perkebunan Malabar. Setelah masuk melalui pos satpam untuk pendaftaran, kami diantar  seorang ibu karyawati pabrik tersebut.

Kami melihat proses produksi, mulai dari teh yang baru dipetik, masuk kedalam proses pelayuan, pengeringan, pemotongan, sortir dan pengepakan. Sebuah pengalaman yang baru buat aku dan anak-anak.

Masuk kedalam Pabrik ini, kami memberi sedikit tip untuk Kepala Pabrik dan karyawati yang menemani kami berkeliling. Produk dari Pabrik ini adalah Teh merk Walini, yang sudah ada di supermarket di Indonesia.

Mengapa Bosscha bisa melakukan CSR (corporate social responsibility) ? Jawabnya ada di pabrik teh ini – komoditi teh hijau dan teh hitam yang diekspor itu ternyata mahal, sedangkan teh yang dikonsumsi di dalam negeri itu sebenarnya hanya ampas teh saja. Belum lagi hasil dari perkebunan kina saat malaria masih merajalela di seluruh dunia dan juga hasil dari tambang emas di Cibaliung (kompleks Malabar)

Sejak dulu, pabrik teh ini memproduksi teh hijau dan teh hitam.
Disamping teh hijau, juga terdapat 2 jenis pengolahan teh hitam yaitu Orthodox dan CTC. Adapun jenis teh Orthodox dan CTC yang diproduksi saat ini oleh PTPN VIII dikemas sebagai TEH WALINI.

Proses pengolahan teh ini masih menggunakan cara-cara tradisional yang sudah dipraktekkan oleh Bosscha sejak satu abad yang lalu. Misalnya pelayuan daun teh hanya menggunakan blower udara kering (agar kandungan tehnya tidak rusak), lalu proses pengeringannya masih menggunakan tungku kayu (agar harum bau teh tidak berubah. Wangi aroma teh akan berubah bila digunakan tungku BBM), dll

Proses pembuatan teh :
– Pucuk daun dipetik saat pagi hari dan sore hari, untuk memperoleh daun segar
– Pucuk daun kemudian dilayukan dengan hembusan udara kering menggunakan blower (bandingkan dengan pakaian basah yang dikipasi, pasti cepat kering) – bila pengeringan dengan panas atau suhu tinggi, maka aroma teh akan berubah
– Pucuk daun yang sudah layu ini kemudian dikeringkan dengan menggunakan tungku kayu, agar baru dan cita rasa teh tidak berubah
– Pucuk daun kering ini kemudian diayak (tanpa ditumbuk untuk menghindari kerusakan komposisi teh) – proses pengayakan menggunakan sistim mekanis dengan memanfaatkan gaya sentrifugal sehingga pucuk daun kering itu akan hancur secara alami
– Ayakan (alat pengayak) itu mempunyai saringan dengan ukuran 1,2,3 dan 4 yang selanjutnya diproses menjadi 18 jenis teh kualitas ekspor

– Ampasnya dipakai untuk produk lokal

– Kemudian pucuk daun kering yang sudah diayak ini kemudian difermentasi (dibiarkan selama kurang lebih 1 jam tanpa boleh kena sinar matahari). Oleh sebab itu, atap pabrik itu menggunakan seng, untuk memperoleh panas bagi fermentasi tanpa menggunakan sinar matahari. Sinar matahari akan merusak tekstur dari teh.

– Setelah difermentasi, pucuk daun kering yang sudah diayak ini kemudian dikeringkan dalam ketel bersuhu 100 *C dengan tungku kayu selama 23 menit. Kenapa pakai kayu bakar? Karena aroma dan cita rasa teh harus dijaga dan tidak boleh berubah

– Proses terakhir, teh ini dipisahkan dengan menggunakan blower ; teh yang berasal dari daun tua (lebih ringan) akan jatuh lebih dulu, lalu dipisahkan dan teh yang berasal dari daun muda (lebih berat) akan jatuh belakangan – jadi pemisahan kualitasnya dilakukan secara mekanis (bukan dengan zat kimia)

JADI BELAJAR TENTANG TEH AKAN MENGANTAR KITA MENGHAYATI MAKNA DAN ARTI DARI PERKEBUNAN TEH.

Ternyata proses pembuatan teh ini hanya mengandalkan proses fisika (proses mekanis saja), disamping hemat energi, juga menghindarkan pemakaian bahan-bahan kimia yang akan merusak aroma dan cita rasa teh, sungguh hebat penguasaan sains Bosscha.

 

sumber dari Wikimu


Ikhlas dan Lakukan Tugas Ini

Tidak ada seorangpun mengharapkan akan mempunyai giliran untuk menunggu atau merawat orang sakit. Jangankan menunggu atau merawat orang sakit di rumah sakit, di rumahpun tak ada yang mengharapkan. Namun jika kenyataan itu ada di depan mata dan mau tak mau harus kita lakukan, tentu mesti diterima dengan rasa syukur dan ikhlas.

Ini bukan kali pertama aku menunggu seseorang di rumah sakit. Sekitar pertengahan tahun 1980, aku pernah menemani Ibu menunggu Bapak di Rumah Sakit, walau tidak sampai aku menginap di malam hari karena waktu itu aku masih duduk di kelas VI SD, tapi aku bisa merasakan betapa lelahnya Ibu menunggu Bapak disana. Kamar Bapak berbagi dengan 1 orang yang lain. Walau kamar Bapak cukup luas dengan kamar mandi didalam, tapi buat penunggu, tetap saja tidak terasa nyaman, Ibu tidak mau tidur di lantai, menghampar tikar seperti kebanyakan penunggu. Ibu selalu tidur di kursi, disamping pasien, sama seperti aku ternyata.

Sekitar tahun 1995, aku juga menunggu Bapak di Rumah Sakit, walau aku tidak menginap di Rumah Sakit (Bapak memang hanya mau ditemani Ibu), aku bersyukur bahwa dengan posisi Bapak saat itu bisa mendapatkan fasilitas VIP dengan pelayanan yang sangat baik di sebuah RS Pemerintah. Fasilitas VIP itu tentu juga berdampak pada Ibu, yang ikut menunggu Bapak, karena ada tempat untuk berbaring seperti kursi tidur dan sofa untuk menerima tamu, juga tidak bercampur fasilitas dengan pasien lain.

Aku sendiri mulai merasakan menunggu dan menemani pasien di rumah sakit, sejak sulungku berusia 8 bulan, waktu itu dia ada masalah dengan pernapasannya, batuk pilek mengakibatkan lendir tidak bisa keluar sehingga harus di-inhalasi (uap) dan kemudian dikeluarkan lendirnya dari hidung dengan selang yang tipis dan sangat kecil diameternya.

Menunggu di rumah sakit, yang pertama membutuhkan kesiapan mental dari penunggu atau pendamping. Dalam posisi aku, sebagai Ibu, ketenangan batin setiap Ibu akan sangat mempengaruhi batin anak selaku si sakit. Kalau si Ibu stress, istilah Jawa nya kemrungsung, tentu batin si anak juga tidak tenang. Selain kesiapan mental, tentu juga ketahanan fisik, karena orang yang lelah fisik pasti akan menyebabkan kondisi badan melemah dan tentu mempengaruhi pikirannya. Bagaimana bisa yang semacam ini, menunggu orang sakit?

Siap mental, siap fisik, nah apa lagi? cari kesibukan supaya waktu tidak terasa lama di rumah sakit. Kadang hal yang membosankan adalah pada saat si pasien tidur karena pengaruh obat dan kelemahan fisiknya, jadi sebaiknya penunggu menyibukkan diri dengan hal lain yang positif. Dulu, yang biasa aku lakukan adalah membaca buku atau koran, sampai kelelahan dan tertidur, tapi sekarang setelah ada handphone, penunggu masih bisa berkomunikasi dengan pihak luar melalui jejaring sosial, Facebook dan Twitter. Lebih-lebih lagi saat ini, punya laptop atau netbook, ada fasilitas Wi Fi di rumah sakit, ya bisa mengerjakan kerjaan kantor, bisa menulis seperti yang aku lakukan saat ini, bisa buka website yang bermanfaat, searching atau mendengar lagu-lagu dari You Tube ataupun kegiatan lain, yang dapat digunakan dari fasilitas ini.

Namun, satu hal yang pasti, jangan sampai pengisi kebosanan ini menjadi menyita waktu kita dan tugas apa yang menjadi tugas utama kita untuk menjaga orang sakit,ya kan? Istirahat juga penting bagi penunggu, karena selama di rumah sakit, biasanya tidur malam akan terganggu dengan pemeriksaan suhu tubuh pasien, persediaan infus yang habis (beruntung sekarang kantong infus dipasangi alarm, jadi tidak perlu dilihat berkali-kali), menemani pasien ke kamar mandi untuk buang air kecil atau pup, seperti si bungsu saat ini, yang masih belum baik kepadatan pupnya.

Jadi, lakukanlah dengan ikhlas apa yang ada di hadapan kita saat ini, berdoa untuk kesembuhan pasien, memberi motivasi dan semangat, mengurusnya dengan sabar, sehingga mendatangkan kebaikan buat pasien dan penunggu.

Sumber gambar dari Ms Goggle, belum sempat upload foto 🙂