Antologi ke-18 Sastra Kuliner “Asam Garam”

Ini adalah Buku Antologi ke-18 bertema kuliner, dengan judul “Asam Garam”, Meracik Rasa, Menetas Aroma dalam Kehidupan.

Buku ini ditulis bersama 29 orang penulis yang tergabung dalam Komunitas Perempuan Penulis Indonesia, dibawah mbak Melly Wati. Kuliner memang tak dapat dielakkan lagi sebagai salah satu penyambung silaturahmi, karena rasa itu mencakup optimalisasi fungsi panca indera kita bukan?

SK_cov


Tulisanku berjudul Cinta Ibu dalam Sekuali Gulai Kambing, ada dalam buku ini. Siapa yang tidak kenal kelezatan gulai kambing masakan Ibuku? Selalu dinanti di hari Natal dan Lebaran, yuk simak kisahnya di buku antologi ini, ditulis dengan penuh cinta dan dedikasi pada Ibu tercinta. Termasuk rahasia Ibu dalam membuat sajian ini, ada dalam kisahku di buku ini.

Dan banyak lagi tulisan menarik mengenai kuliner Indonesia, yaitu, 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

1. Randang Anak Daro — Melly W
2. Semangkuk Lontong Sayur Medan — Dian Novianti
3. Rain Cake di Kota Hujan — Amalia Jalaluddin
4. Rendang Jengkol Calon Mertua — Alfiah Ariswati Sofian
5. Mie Kuah Tepi Sawah — Ilda V Siregar.
6. Healthy Food Undercover — Verawaty Kaban
7. Sardi Manis — Meitha Susanti
8. Naniura dan Luka Tiga Sahabat — Alamanda Kristi
9. Bunga — Wida Swidan
10. Soto Banjar Terakhir Mama — Nila Santi
11. Bilendango Untuk Papa — Vee Cemal
12. Kuning Kemuning — Ika Rasjid
13. Ketika Panen Tiba — Nura Ainayya
14. Candil Moniter — Siti Murwati
15. Nasi Kuning Cinta — IKania Soetopo
16. Kopi Lila — Irma Hasan
17. Ekspresi Sambal Ibu — Dini Sp
18. Cinta Ibu Dalam Sekuali Gulai Kambing — de Laras
19. Cinta Bersemi di Kedai Serabi — Suci Rahayu
20. Sepiring Kenangan Nasi Kuning — Medila Yeonggam
21. Semangkuk Mangut Kepala Ikan Manyung — Bunda Esti
22. Resep kenangan Nasi si Mbok Saitu — Nurazizah Asfahani
23. Bangkit — Neneng Tuti Yuniarti
24. Bihun Siram Ayam — Rizqha Burano
25. Lobster Terlezat — Nur Indah Yunita
26. Nasi Kebuli — Nana Nahrayla
27. Kenangan dan Kenangan — Erlina Nitasari
28. Klapetart Cinta — Maya Surono
29. Kue Tampah Mbok — Bachriah

#sastrakuliner  Perempuan Penulis Indonesia – P2I and Melly Waty.


Buku Antologi ke-19 : Sastra Hijau “Alam Diubah Ragawi”

Buku Antologi Sastra Hijau berjudul Alam Diubah Ragawi, ditulis oleh 27 penulis dari Komunitas Perempuan Penulis Indonesia Perempuan Penulis Indonesia (P2I)? tebal : 440 halaman, harga PO : Rp  90.000,-
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
MONOLOG Bunda Naning Pranoto
1. Alam Diubah Ragawi – Melly W
2. Halimun Senja – Dian Novianti
3. Lelaki Berompi Khaki – Ilda V Siregar
4 Sahabat Alam Negeri Seberang – Siska Susantri
5. Sekuntum Edelweiss di Puncak Gunung Gede – de Laras
6. Dangau di Tengah Sawah – Bunda Esti
7. Mimpi Masa Lalu – Alfiah Ariswati Sofian
8. Aras Ara Cemara – Meitha Susanti
9. Ever Green – Medila Yeonggam
10. Romantisme di Kali Ciliwung – Nila Santi
11. Di Sini Matahariku – Herlina
12. Titian Miranti – Izzie Ska
13. Negeri di Atas Awan – Siti Murwati
14. Bukit Jombang Yang Terlupakan – Nurazizah Asfahani
15. Banda Abah Ende – Bachariah
16. Man in The Mirror – Verawaty Kaban
17. Senja – Rizqha Burano
18. Mata Air, Air Mata – Efi R Suwandy
19. Cinta Yang Tertiup Angin – Alamanda Kristi
20 Sebuah Rasa di Pekebunan – Sarah Nurul Fadillah
21. Sungai Terindah – Maya Surono
22. Kutunggu di Kali Kuning – Dewi EP
23. Boti, Bota, Batu – Irma Hasan
24. Kehadiranmu – Erlina Nitasari
25. Kisah Romantis di Sepeda Motor Tua – Nur Indah Yunita
26. Asap Mengepul – Neneng Tuti Yuniarti
27. Parahyangan Terindah – Nana Nahrayla
SH_cov

Cuplikan tulisanku yang berjudul “Sekuntum Edelweiss”

Ratih   memandangi   tangannya   yang  sedang dalam genggamanku. Air mata mengalir dari ujung matanya. Aku usap tetes air mata itu, “Kalau begitu, aku yang berjanji, seperti sekuntum edelweis yang menjadi janjiku padamu sekian puluh tahun yang lalu. Aku berjanji untuk setia padamu. Beri aku kesempatan untuk membahagiakanmu. Kamu akan selalu menjadi edelweisku, yang lembut namun kuat bersamaku,” kataku.

 


Jamuan Makan Ala Carte di Pasir Muncang

Suatu kehormatan bagiku, bahwa pada hari Sabtu, 30 November ini, aku menerima undangan Jamuan Makan Malam di kediaman Prof Bambang. Niat awal kami (aku dan mbak Tanti) adalah sowan (saja) tapi malah sebaliknya. Kami diundang makan malam yang bukan ala kadarnya tapi ala carte, dari hidangan pembuka sampai hidangan penutup.

Walau tidak terkejut dengan penyajian ala Prof Bambang ini ( puji Tuhan, ini undangan yang kedua buatku) tapi aku tetap terpesona dengan segala pernak pernik persiapan yang telah dilakukan Prof Bambang dengan dibantu chef Pasir Muncang, bu Neng. Undangan pertama berupa undangan makan siang, bisa dibaca di sini ya

Ini email yang beliau kirimkan pada siang hari, saat acara peluncuran buku berlangsung

MENU MAKAN MALAM 

30 November 2019

( pukul 18:00)

Tamu 3 orang (Bu Laraswati cs + Tuan  Rumah)

Total 4 orang (Meja bundar, taplak putih, serbet putih Damask; piring putih; cangkir kopi putih).

Minuman pembuka

 Stoop jambu merah

Entre

 sop kacang merah dengan telur puyuh

Makanan utama

Nasiputih, ayam rica2 (a’la Pasirmuncang), garang asem (daging sapi),

Rolade (cincang plus telur)

Cap Cai a’la Pasirmuncang (kembang tahu, wortel, broccoli, bloemkool)

Penutup

Kopi (Gayo Arabica), atau Teh (Earl Gre Tea), atau Cocoa (Windmolen); tentu saja dengan gula dan cream.

Aku tidak sempat membaca dan baru membalas beberapa menit setelah acara selesai. Karena mbak Alaika ikut, maka balasanku adalah menambah jumlah 1 orang, tanpa menghitung supir. Rupanya hal ini membuat terjadinya perubahan (tentu saja), terutama di setting meja makan.

Ini menjadi catatan pelajaran buatku, untuk tidak melakukannya lagi terutama dengan Prof Bambang dan mungkin juga dengan Undangan yang sudah menetapkan jumlah orang.

Walau agak tegang di awal kehadiran kami, namun acara makan malam itu berlangsung santai dan menyenangkan. Yang membuat teman-temanku terkagum dan tersanjung. Semua disajikan sesuai dengan urutannya.

dg1 dg1aKami sangat menikmati, ditambah lagi dengan hujan yang mengguyur kawasan Pasir Muncang ini. Prof Bambang melayani kami, tamunya dengan sangat baik.
Setelah makan malam, kami diajak berkeliling kedalam rumah dan Prof sempat menunjukkan beberapa bunga yang sedang berbunga malam itu. Aku juga dibawakan satu pot tanaman.
dg1d dg1cSempat meminta Prof Bambang membubuhkan tanda tangan dalam buku beliau yang berjudul Derap Langkah Seorang Astronom, yang covernya adalah hasil jepretanku di bulan Februari 2019.

dg2Terima kasih aku ucapkan pada Prof Bambang yang sangat berperan dalam penulisan bukuku “Aku dan Alam Semesta” semoga pertemanan dan rasa kekeluargaan ini bisa terus langgeng.

Terima kasih juga untuk Pak Arief Arianto, teman yang kerap mengapresiasi, memberi aspirasi dan inspirasi. Sudah menyempatkan hadir dalam peluncuran buku, berkenan memberikan sambutan dan ide cemerlang untuk kelanjutan pemasaran buku Aku dan Alam Semesta.

Terima kasih untuk jamuan makan malam nya yang enak dan enak sekali, khususnya kopi Gayo (yang mahal itu, dan baru kali ini kucicip), mantabs…..ditemani pisang goreng, di malam yang dingin dan tenang, halah…. (mulai berimajinasi dan berhalusinasi 😉 )

dg1bTerima kasih juga untuk bu Neng, sang chef, yang bersedia pulang lebih larut dan tentunya sharing resep Garang Asem nya yang asem-asem segar belimbing wuluh.

IMG-20191202-WA0054Rumah Prof Bambang yang penuh dengan buku, membuat betah dan selalu ngangeni, apalagi makanan yang disajikan enak dan sehat. Kata Prof Bambang, tanpa penyedap rasa dan semua bumbu yang diuleg, bukan bumbu jadi. Rahasia hidup sehat panjang umur seperti Prof Bambang ya, amin…..

Salam kuliner 😉

 

Tulisan ini berlanjut ya, untuk beberapa foto tanaman dari kebun Prof Bambang Hidayat