mengapa kita tidak seperti lebah madu? yang diam, namun memberikan banyak manfaat kepada manusia dan selalu bekerja sama dengan sesamanya…yang marah, bila diganggu namun berbuah manis…yang sengatnya tajam dan mematikan namun mampu menolong yang sakit….
Reuni lintas angkatan dari angkatan 27 sd 32, ga pakai planning lama, bener2 reuni sat set nya Marlita Lita langsung pesan tiket dan bikin draft ittenary, walau tidak semua berjalan sesuai ittenary tapi ini benar2 wisata lengkap, ada wisata agro, kuliner, budaya, religi, kesehatan, cuci mata dan sharing banyak hal yang sarat makna. Tanpa Lita, mungkin ini ga terwujud, makasih ya, juga dengan foto2 cantiknya.
Setiap pagi, kami awali dengan jalan pagi di sekitar kawasan dan minum susu segar. Reuni kali ini membuat kami (aku) makin menyadari akan perputaran kehidupan dan berefleksi, kami bersama saling mengingat masa lalu, menyadari hari ini dan merencanakan masa depan.
Satu dan 2 angkatan diatasku, sebagian besar akan segera memasuki batas usia pensiun.
Berbangga hati dan berterimakasih pada dua adik kelas yang menjadi pejabat di daerah, semoga semakin diberkati Tuhan untuk Roby Darmawan dan Thomas Wunang Tjahjo terima kasih untuk kebaikannya.
Terima kasih kebersamaannya untuk sista kak Reta Mastiani Manurung, Klarawidya Puspita, Marciana Setijawati dan terutama Megaria Jaya sehat semua ya. Buat yang lain, yang belum sempat gabung, yuk mari kita atur..
Afin Yulia, buku darinya, menemani perjalananku numpak sepur
Minggu, 3 Maret 2024, postingan ini kusampaikan khususnya pada penulis pemula seperti aku, untuk terus bersamangat menulis untuk berbagi.
Aku suka menulis sejak aku masih di bangku SD, mulai dari mencatat pengeluaran selama perjalanan keluar kota bersama keluarga atau mencatat daftar belanja Ibu sampai dengan cerita perjalanan sebagai tugas sekolah saat liburan.
Aku mengawali minat menulisku pada tahun 2009 melalui blog. Lalu buku pertamaku berupa buku antologi terbit pada tahun 2012 bersama 125 penulis, buku antologi pertama dan terbanyak jumlah penulisnya.
Aku belum sungguh2 menjadikannya sebagai profesi atau mencari penghasilan melalui menulis. Keuntungan atau royalti dari menulis memang tidak bisa dikatakan besar, karena dari buku novel setebal 300 halaman, yang seharga Rp 80.000,- saja, royalti penulis hanya sebesar 10%. Bayangkan betapa jerih payah penulisnya, menulis dan melakukan observasi.
Namun aku selalu menyakini bahwa pertama, Tuhan tidak akan pernah salah memberi rejeki pada kita, mahluk ciptaanNya dan kedua, setiap penulis pasti punya penggemar atau pembaca. Beberapa teman sempat mengatakan buntu dalam menulis dan kehilangan semangat karena menganggap menulis tidak memberi benefit apa2. Selain merasa buntu menulis, juga merasa bukunya tidak ada yang membeli.
Sedikit berbagi, seperti yang aku alami, seorang pembacaku menghubungiku dan memesan beberapa buku antologi dan buku soloku, dengan total 10 buku pada “waktu yang tepat” Aku sungguh tidak mengira. Pembacaku ini juga seorang penulis dan ternyata puji syukur “ngefans berat” sama tulisanku. Ia memborong sebanyak ini. Bahkan salah satunya adalah buku soloku yang terbit tahun 2019, buku cerita anak “Aku dan Alam Semesta”
Jadi, temanku, marilah kita tetap penulis dengan sepenuh hati dan niat yang baik, bagikan tulisan yang bisa “membangun” orang lain, jangan asal menulis juga dan hanya memikirkan cuan-cuan. Buku kita pasti akan dicari pembacanya dan setidaknya bisa menjadi kenangan untuk anak cucu, teman dan sahabat atau kerabat baru kita.
Selama pandemi (Maret 2020 sampai dengan saat ini – 15 Maret 2021) Observatorium Bosscha, Lembang, Bandung, Jawa Barat, ditutup sementara. Buku Cerita Anak “Aku dan Alam Semesta” yang rencananya akan dipasarkan pada pengunjung observatorium, akhirnya aku bagikan pada anak-anak di Kampung Bosscha (dengan bantuan Bu Ely, Staf kantor observatorium).
Buku juga telah dibagikan ke beberapa SD di sekitar Lembang dan Purwakarta (SDN Pancasila, SDN Merdeka, SDN I Wangunsari, SDN 3 Lembang, SDN 11 Lembang, SDN Cikumpay Purwakarta dan Perpustakaan Desa)
Alhamdulillah…Puji Tuhan Buku sudah selesai dicetak oleh Penerbit Itb Press
pada bulan Mei 2020. Terima kasih bantuannya pak Edi Warsidi, Pak Ekki dan Pak Anggoro.
Semoga buku tersebut dapat bermanfaat, menghibur anak-anak di masa pandemi dan menambah kecintaan mereka terhadap ciptaan Tuhan dan alam semesta. Aamiin
Bahagia itu sederhana, sebahagia melihat wajah anak-anak itu….
Terima kasih Bapak Prof Bambang Hidayat (Pak Arief Arianto) yang membuat ini dapat terwujud dan dicintai anak-anak.
Thank GOD. I am flattered and happy. My book, Aku dan Alam Semesta (I and The Universe), read by Sara, at Harvard University. Thank you Ms. SaraSchechner
Aku selalu yakin dan percaya kalau jodoh itu memang di tangan Tuhan, hm maksudnya, buku pun akan punya “takdir” karena buku itu “bernyawa” sebab ia “diciptakan”.
Sebuah buku akan bertemu dengan pembacanya, walau kritik saran bisa datang, tapi yakin dan percayalah, semua berproses untuk menjadi lebih baik
Terima kasih selalu tentunya untuk Bapak Prof Bambang Hidayat, yang telah membuat Kata Pengantar dalam buku ini dan memperkenalkan aku dengan Sara Schechner di Harvard University.
Jadi…. apakah ada penerbit yang bersedia meminang naskah buku versi Bahasa Inggris nya?
Sederhana dan tak menonjol,
Tak pernah jadi pemeran utama dalam buket bunga
Namun selalu ada yang kurang jika ia tak ada
Seperti dirimu, ia selalu menjadi penggembira
Walau bukan yang utama, tapi selalu kurindukan