Antologi Heksagraf bersama J Maestro “SIAPA”

Terbit. Proyek sat set, ditutup di satu pintu, coba buka pintu yang lain. Dengan sedikit perubahan, format fiksi mini diubah ke heksagraf berkat informasi dari Mbak Rurisa Hartomo masih tidak sekali jadi, perlu revisi untuk bisa lolos kurasi heksagraf, akhirnya berhasil naskah berjudul Alunan Nada yang Tertinggal, diterima dalam antologi heksagraf yang diterbitkan Penerbit J Maestro.

Penulis: Ais Syah, Srikandhi Lembahwilis, Himawari, Riami, Lyn, Sunardi, Neena274, Ismi Maghfiroh M., Imma Soekoto, Endang Ary Hs, Lisnanurhilaliah, JsNoer, Lentera Patra, Iman Nurahman, Uuk Koes Na Dee, Bulanbintang, Nurul Cancerbluesky A., Nur Mohamad Basyir, Risnawati Mardiyyah, Tari Pearl, Fatimah, Rahma Malangi, Japuni, Bunga tanjung, Marfia Aphro, Listia Puspa, Nita F., Rina Arlianti, Harni Jo, RienZ, Rurisa Hartomo, Arie Tata Fidya, Hati Meidina, de Laras

Hidup selalu menyimpan pertanyaan sederhana namun penuh rahasia, *SIAPA* yang sebenarnya kita cari, siapa yang benar-benar setia, siapa yang harus kita lepaskan, dan siapa yang mampu bertahan di tengah badai takdir. Dan…siapa sebenarnya pelaku pengkhianatan, dalam PlotTwist nya kebenaran yang kita terima.


Terbit Buku Cerita Anak Nusantara : Lentera Dari Timur Ke Barat

Lolos Kurasi dalam Lomba Menulis Festival Cerita Nusantara bersama SIP Publishing. Sudah bisa dipesan ya, satu naskahku ada di buku ini berjudul “Apem Buatan Nenek : Kisah Maaf dan Nyadran”

Naskahku berjudul “Apem Buatan Nenek : Kisah Maaf dan Nyadran”, menceritakan tiga hal yang penting disampaikan pada anak-anak yaitu permintaan Maaf, pengenalan kue tradisional Apem dan tradisi Nyadran, yang masih dilakukan di Jawa dan banyak daerah di Indonesia.

Semoga cerita ini menambah kaya khazanah literasi nusantara anak

#DeLaras#delaraswriter#delaraspenulis#ceritaanaknusantara


Langkah Kecil di Jalur Setapak Papandayan

30.08.2025 Mencapai 2.185 mdpl saja, demi apa seumur aku (baca : pra lansia) naik gunung? bukan, bukan untuk mengejar puncak, tapi untuk merayakan hidup, melatih kemampuan fisik, menjaga keseimbangan kesehatan jiwa raga, kebahagiaan, kebersamaan (saling memberi semangat) dan rasa syukur saat memandang keindahan alam.

Jujur, karena sesuatu dan lain hal, kami terlambat 2 jam keberangkatan, sehingga ini yang bisa kami capai karena hari mulai gelap dan badan kami mulai letih. Bersyukur bisa melangkah sampai sejauh ini.

Apakah aman untuk mencapai ketinggian ini, bagi amatiran seperti aku? Menurut sumber yang aku baca, ketinggian antara 2.000 sampai dengan 2.500 mdpl masih aman tetapi sebaiknya dengan persiapan fisik, jalan pelan, hidrasi cukup, dan evaluasi kesehatan sebelum berangkat. Dan kuncinya adalah titk memaksakan diri saat berada di lapangan, jika sudah tidak kuat, bisa beristirahat atau kembali.

Pada keberangkatan menapaki jalan setapak Gunung Papandayan ini, aku hanya melakukan persiapan fisik rutin jalan pagi selama 30 menit atau kurang lebih 3 kilometer setiap hari. Persiapan ini tidak bisa dibilang cukup karena usiaku, mestinya ada persiapan fisik yang lain yang lebih menunjang, bahkan perlu pemeriksaan kesehatan untuk mengantisipasi agar tidak terjadi acute mountain sickness. Mendaki gunung tidak hanya bermodal nekat atau keinginan besar tapi juga mesti didukung dengan persiapan, agar menjadi pengalaman yang asik.

Ada beberapa gunung yang menjadi rekomendasi Hiking Aman untuk Lansia (< 2.000 mdpl) di daerah Jawa yaitu :

Gunung Andong (1.726 mdpl, Magelang, Jawa Tengah)
Jalur relatif singkat (1–2 jam).
Pemandangan indah, sunrise populer.
Cocok untuk pemula & lansia dengan kondisi sehat.
Gunung Telomoyo (1.894 mdpl, Jawa Tengah)
Bisa ditempuh dengan kendaraan hingga dekat puncak.
Cocok untuk lansia yang ingin menikmati pemandangan tanpa trek berat.
Bukit Panguk Kediwung (±400 mdpl, Bantul, Yogyakarta)
Spot foto dengan view lembah & kabut pagi.
Jalan singkat dan aman.
Gunung Panderman (2.045 mdpl, Batu Malang, Jawa Timur – sedikit di atas 2.000)
Jalur tidak terlalu ekstrem, tapi butuh stamina.
Aman jika dilakukan perlahan.


Puisi : Belenggu Nurani Diatas Kursi

“Demokrasi adalah panggilan hati nurani, memahami bahwa setiap suara memiliki kekuatan yang sama.” — Tan Malaka

kursi bukan singgasana emas/dipahat dari peluh rakyat/rapuh dipikul keserakahan/tegak ditopang keadilan

duduk bertelinga jadi mata air/tangkap isak hujan hari kemarau/biarlah hati jadi jendela terbuka/suara rakyat berhembus tanpa sekat

jangan jadikan takhta meninggi/kursi itu lahir dari bumi/dari tanah basah harapan dan doa/dari suara yang tak boleh sia-sia

duduk tanpa nurani diguncang/kursi bara bakar lidah khianati rakyat/duduk jiwa bening tuntun jalan/cinta rakyat bukan karena kuasa


Puisi : Larik Kebaya Lestari

Larik Kebaya Lestari

laksana rembulan renda malam/langkah halus tapaki waktu/tiada gemuruh dalam suara/bumi tunduk mendengar

di balik tirai mata bening/tersimpan rahasia lazuardi hati/sejatinya perempuan anggun/lahir dari budi, mekar dalam nurani

di beranda sunyi duduk bersimpuh/berkebaya halus, bersulam waktu/kain songket bagai alun sungai/terurai kisah leluhur dalam bisu

hanya hati bermegah/tiada gemerlap selain budi/perempuan bersahaja sejatinya/tak lekang karena setia berakar

Poem by de Laras. Picture made by AI


Review : Kimono Musim Dingin – Christin Liem

08.07.2025 Arigato Christiani Suryani @christinliem21 yang telah menerbitkan buku berjudul Kimono Musim Dingin pada Maret 2025. Buku setebal ix dan 287 halaman ini berhasil mengembalikan kenanganku tentang Jepang, yang pernah kukunjungi pada tahun 1992 dan menjadi tempatku belajar selama 2.5 bulan.

Kisah perjalanan yang dikemas apik, mengunjungi beberapa tempat yang menjadi jalur keseharianku seperti Shinjuku dan tepat dua kota tempatku field trip yaitu Osaka dan Hiroshima.

Baru tiba hari ini dengan aman setelah ekspedisi menempuh perjalanan menembus hujan dan banjir. Ini adalah buku ke-7 yang wajib diselesaikan di 2025

Kimono Musim Dingin
©2025, Christin Liem

Penyunting : Yuli Triyuliani

Penata Letak : OPM Creative

Pendesain Sampul : pamungkasragil

14 x 20 | x, 290 hal.
Softcover
Nonfiksi, Traveling


Dulu dan Sekarang

Dulu, apa ya yang mereka bicarakan? apakah tentang kelomang dan siput yang masuk kedalam pasir karena gelombang air laut? Atau mungkin tentang kedua anjing yang terpaksa dititip karena kami berlibur? Atau mungkin film di televisi yang akan mereka tonton selepas belajar? Atau guru yang terlalu banyak memberi tugas? Atau teman yang kerap ikut makan bekal mereka? Atau mama yang terlalu berisik membangunkan mereka di hari sekolah?

Sekarang, dengan berjalannya waktu yang serba cepat, pembicaraan mereka sudah melebihi apa yang bisa kupikirkan, mungkin pengaruh pesatnya teknologi, wawasan mereka mendunia walau mereka menjalani dunia kerja dari nol, dari level terendah, khususnya untuk kakak yang bekerja dan studi di luar. Mereka menjadi seperti ini bukan tiba2, mereka bertumbuh dan berproses. Mereka sadar, kami, orangtuanya hanya membekali mereka dengan pendidikan dan pengetahuan juga agama. Kami bukan siapa-siapa, sehingga tidak dapat memberi hak istimewa (privileged) apa-apa.

Mereka berjuang dengan doa kami. Mereka bangun pagi, pulang malam, berdesakan dengan kaki satu menggantung di KRL demi masa depan mereka sendiri. Atau kakak mbarep yang harus menjalani 2 dari 3 shift karena ramainya resto dan kurang sdm. Atau kakak tengah yang siap dikomplain pelanggan dengan bahasa yang antah berantah 7/24. Atau si bungsu yang mestinya bebas magang (karena prestasi akademik dan keaktifannya berorganisasi di kampus) tapi tetap memilih magang untuk mengenali dunia kerja. Mereka mesti mampu bertahan dan berjuang dalam setiap aspek di kehidupan nyata. Mereka selalu saling mendukung dan berkomunikasi untuk banyak hal dengan berbagai cara, karena berbeda lokasi.

Kalau disebut generasi mereka generasi “manja”, aku tidak setuju, ada banyak anak muda Indonesia yang berjuang untuk masa depan Indonesia, dengan mulai dari memperbaiki dirinya dan hidup mandiri. Kiranya Tuhan selalu menyertai mereka dan anak Indonesia yang sedang berjuang. Amin


Rekor MURI Menulis 10.000 Fiksi Mini

Saya siap jadi bagian dari sejarah!

Bersama Gol A Gong, Duta Baca Indonesia, dan ribuan penulis dari seluruh Indonesia, mari kita pecahkan Rekor MURI dengan menulis 10.000 Fiksi Mini!

Kamu juga bisa ikut ambil bagian dalam gerakan literasi terbesar ini. Yuk, daftarkan dirimu sekarang melalui narahubung berikut:

Mila: 0895-3846-52297
Indiana: 0896-7732-8203
Itsna: 0898-8240-712
Risma: 0895-0894-3674
Alda: 0856-4061-9661

Jangan sampai ketinggalan.

Jadilah bagian dari sejarah literasi Indonesia!

RekorMURI2025

10000FiksiMini

GerakanLiterasiNasional

MenulisBersamaGolAGong

DutaBacaIndonesia

AyoMenulis

LiterasiIndonesia