Ketika Kupandang Wajahmu


Dear Kakak,

Apakah Kakak tahu betapa besar Kakak berarti untuk Mama? Ketika Kakak tumbuh menjadi dirimu sekarang, Kakak datang jauh dari dalam hati Mama, Dirimu akan tetap berada disana, walau kehidupanmu sendiri akan dimulai sekarang

Kau tumbuh sangat cepat sehingga Mama merasa berputar Dengan mata berkabut Mama bertanya, mana gadis kecil Mama?

Mama tahu terkadang, menurut Kakak, Mama tampak kasar dan tidak adil, Tetapi suatu hari Kakak akan melihat, Mama mengajar Kakak dengan baik karena Mama peduli.Beberapa tahun berikutnya akan begitu cepat berlalu Dengan tawa dan sukacita, dicampur dengan sedikit air mata untuk menangis. Kakak akan tumbuh menjadi wanita dewasa, kenyataan ini harus Kakak tahu,

Kakak akan selalu menjadi sumber kebanggaan Mama, di mana pun Kakak pergi.Kakak harus berdiri tegak dan bangga, tanpa ada rasa takut
Untuk semua impian dan tujuan Kakak, yang berada di dekatmu Dengan kasih Tuhan di hati Kakak dan dunia ini, Kakak selalu akan menjadi pemenang Mama, dan kemenangan akan Kakak raih

 

 

 

Untuk Kakak puisi ini ditulis, dengan bantuan dari Tuhan
Untuk memberitahu Kakak betapa Mama mencintaimu dengan sepenuh hati!

 

Serpong, 2011


Bersama DIA, Tak Akan Sia-sia

Judul diatas adalah bagian dari tema yang diambil pada Kebaktian Penguatan/Persiapan Ujian Nasional (UN) Murid SMPK Ora Et Labora BSD, yang mengambil judul tema “Dalam Persekutuan dengan Tuhan, Jerih Payahmu Tidak Sia-sia”

Kebaktian diadakan pada hari Sabtu, 16 April 2011, dengan mengundang para orangtua, seluruh siswa kelas IX dan para guru. Acara tepat dimulai pada pukul 08.00, dengan pengantar dari Kepala Sekolah, Bapak Drs. Yulius, yang memberikan penjelasan mengenai Hasil Ujian Akhir Sekolah (UAS), Sistem Penilaian Nilai Akhir UAS, Bobot Nilai UAS, Bobot Nilai UAN dalam penghitungan Nilai Akhir Kelulusan.

Acara dipimpin oleh MC, ibu guru Bahasa Indonesia, Marta Simamora, S.Pd, diawali dengan Pujian dari Siswa, Panggilan Beribadah, Doa Pembukaan (Drs.Lamhot A.Ompusunggu, M.Pd), Narasi 1, Narasi 2, Litani Penguatan yang diucapkan bersahutan antara Orang Tua, Guru dan Siswa, kemudian Narasi 3 dan Pelayanan Firman.

Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt Maria Tabitha Hallatu-Mejer, dengan mengambil ayat dari 1 Korintus 15 : 58, yang berisi sesuai dengan tema kebaktian pagi itu. Beliau menyampaikan bahwa segala sesuatu yang kita lakukan tidak akan sia-sia, karena semua dilakukan dengan pengorbanan, berupa waktu (perlu waktu untuk belajar), perlu tenaga untuk berpikir keras, perlu biaya karena tidak murah biaya pendidikan di negeri ini, perlu perhatian dengan mengesampingkan kesenangan karena mesti serius belajar.

Semua pengorbanan yang telah dilakukan tentu tidak ingin jadi sia-sia karena kita tidak hanya berkorban, tapi juga berjerih payah, bekerja keras, aktifitas dilakukan dengan luar biasa, kadang dengan penderitaan juga. (Contoh, misal ini menurut aku, ada orang yang tidak melakukan rekreasi atau bersenang-senang agar dapat menyekolahkan anaknya, atau memasukkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi, agar anaknya menjadi lebih baik dari orangtuanya).

Pelari dapat mencapai finish lebih dahulu, setelah berlatih setiap hari, lalu berlomba dan menang. Kemenangan 75% ada di tangan kita kalau sudah berlatih (dengan berjerih payah). Bekerja tidak cukup mengandalkan otak (kognitif) saja, perlu pakai hati atau perasaan (afektif), maka yang dikerjakan menjadi luar biasa.

Bagi para orangtua, bukan hanya uang atau materi yang diperlukan anak-anak, tapi juga kata-kata yang menguatkan, sangat dibutuhkan mereka.

Selain berjerih payah, kita semua perlu bersekutu dengan Tuhan. Sudah berjerih payah dan sudah bersama Tuhan, maka tidak perlu rasa takut lagi untuk menghadapi apapun.

Demikian firman Tuhan yang memberikan kekuatan dan pengharapan kepada anak-anak siswa, orang tua dan guru, untuk tegar menghadapi Ujian Akhir Nasional (UAN) yang akan diadakan pada tanggal 25 sampai dengan 28 April 2011 nanti.

Kebaktian diakhiri dengan Doa khusus untuk Siswa, Persembahan dan Doa Penutup oleh Ibu Pendeta.

“Kau-lah Harapanku”

Bukan dengan kekuatanku, kudapat jalani hidupku/Tanpa Tuhan yang di sampingku, ku tak mampu sendiri/Engkaulah kuatku, yang menopangku

Reff : Kupandang wajah Mu dan berseru/ Pertolonganku datang dari Mu/ Peganglah tanganku, jangan lepaskan/ Kaulah harapan dalam hidupku

 

Sumber foto : dari Bpk Yulius dan Pribadi

 


Ritual di Gerbang

Aku jarang sekali mengantar anak ke sekolah, hampir tidak pernah, karena anak-anak berangkat dan pulang sekolah dengan mobil antar jemput sekolah. Paling kalau pun aku ke sekolah, biasanya itu karena ada keperluan untuk mengurus administrasi atau bertemu dengan guru. Biasanya aku mengantar dan menemani anak di sekolah pada tiga hari pertama mereka dalam tahun ajaran yang baru. Dan karena sekolah mengajarkan anak-anak untuk tidak ditunggu dan ditemani maka anak-anakku terutama sudah mandiri dan biasa sendiri pada hari kedua, malah kadang aku yang tidak mau pulang karena masih ingin melihat aktifitas mereka, kadang terkagum-kagum melihat ‘bayi-bayi kecilku’ sudah dapat mandiri dan berani masuk kelas sendiri 🙂

Pagi ini, 1 Februari 2011, karena aku ada keperluan untuk membayar cicilan uang pangkal si sulung di SMA, aku berangkat bersama-sama dengan anak-anakku. Aku turun mengantar si bungsu di SD. Ada banyak tanda perpisahan yang diberikan oleh orang tua atau pengantar di depan pintu gerbang sekolah ataupun dari dalam kendaraan. Aku sedikit merasa bersalah 🙁 mengapa tidak setiap hari aku bisa mengantar anakku sampai di depan pintu gerbang sekolah. Mengapa aku selalu melepas mereka dari depan pintu gerbang rumah dan hanya mengantar mereka masuk kedalam mobil jemputan, walaupun tanda perpisahan kami selalu kami lakukan, seperti berdoa, peluk dan cium.

Aku mengamati, ada orang tua yang memberhentikan kendaraan dan menurunkan anaknya di drop point sambil mengusap kepalanya saja, ada yang sambil mencium dan memeluk dan ada yang tanpa cium (biasanya ini untuk anak laki-laki yang sudah mulai besar). Aku sendiri karena di rumah sudah memeluk dan mencium si bungsu (tapi masih ingin mencium dia), aku minta ijin dulu (takut dia malu karena teman-temannya sudah mulai berbaris), ‘mau cium mama ga ?” dan dia mengangguk serta mencium aku sekilas 😀 dan cepat masuk kedalam barisan.


Selain mengamati ritual antar mengantar sekolah ini, aku juga mengamati budaya antri di sekolah anakku. Di Santa Ursula, pada jam masuk kedalam lingkungan sekolah, biasanya mulai jam 6.30 (kecuali cuaca mendung atau hujan, biasanya akan dipercepat), anak-anak akan berbaris rapi antri di depan pintu gerbang, tidak boleh saling serobot atau dorong-dorongan. Setelah melewati pintu gerbang, mereka akan diperiksa lagi oleh guru jaga, yang bertugas memeriksa kerapihan seragam, rambut dan kebersihan kuku dan tangan. Dan hal ini tidak saja ada di tingkat SD, tapi juga di SMP dan SMA. Hmh semoga anak-anakku bisa tumbuh menjadi anak-anak yang mandiri dan berhati bersih dengan pendidikan yang baik yang telah mereka kenal sejak dini ini.


My Left-Hand Son

Daniel, si bungsu, sejak kecil lebih aktif menggunakan tangan kiri daripada tangan kanannya. Jika sedang dalam pengawasan kami, kami akan mengingatkan Daniel untuk menggunakan tangan sesuai dengan norma yang berlaku, memegang sendok di tangan kanan dan menggunakan tangan untuk buang air dengan tangan kiri. Namun, jika sedang bermain, ia tampak aktif menggunakan tangan kirinya untuk melempar bola atau memegang raket bulu tangkis. Saat-saat usianya masih pra sekolah, Daniel juga belajar memegang pensil dengan tangan kiri untuk mewarnai, menggambar atau menulis, kami berulang kali mengajarkan ia untuk menggunakan tangan kanannya, tapi hasil kurang maksimal dan ia tampak tidak nyaman sekali. Akhirnya setelah kami konsultasikan dengan psikolog dan guru kelasnya bahwa hal tersebut tidak menjadi masalah dan malah akan berakibat buruk jika dipaksakan untuk menggunakan tangan kanan, maka kami membiarkan ia untuk menggunakan tangan kiri atau tangan kanannya sesuka hatinya. Namun khusus untuk memegang sendok harus dengan tangan kanan.

Anak bertangan kiri bukanlah anak yang abnormal, kecenderungan anak menggunakan tangan kanan atau tangan kiri semua tergantung dari dominasi otaknya. Bahkan jika kita memaksakan kehendak mengubah kemampuan tangan kirinya menjadi tangan kanan dapat berakibat anak menjadi stress dan mengalami gangguan emosional.

Kemampuan anak menggunakan tangan kiri ini berkaitan dengan fungsi otak kanan dan otak kiri yang sudah terprogram sejak anak berada dalam kandungan, walaupun nantinya lingkungan juga dapat mempengaruhi hal ini. Otak kiri berfungsi untuk mengatur kemampuan berbahasa, kemampuan berbicara, membaca, serta menulis, dan segala sesuatu yang berkaitan dengan tata bahasa.
Otak kanan berfungsi untuk kemampuan kreativitas dan persepsi, pengenalan dimensi ruang dan situasi, kewaspadaan, serta perhatian dan konsentrasi. Atau biasa dikenal dengan kemampuan matematik.

Pada anak bertangan kiri, perkembangan otak kanannya lebih baik. Demikian juga sebaliknya, anak yang memiliki kecenderungan tangan kanan, berarti otak kirinya yang memiliki perkembangan lebih baik. bertangan kiri atau tidaknya anak biasanya mulai terlihat pada usia 2-3 tahun dan akan menjadi permanen pada usia 6 tahun. Oleh karena itu jika kita ingin mengubah kebiasaan anak bertangan kiri ini, sebaiknya lakukan sebelum dia berusia 6 tahun, dan lakukan secara bertahap dan jangan memaksa.


KO di Ronde (Minggu) ke-1, 2011

Sejak hari Jumat, 31 Desember 2010, Arum sudah diare dan muntah-muntah. Ntah apa sebabnya (belum ada yang lapor kejadian sebenarnya). Aku hanya mengira dia masuk angin. Aku beri obat, lumuri badan dan perutnya dengan minyak angin, juga masuk angin. Badannya mulai panas. Berbagai obat standar dicoba. Hari Sabtu pagi, 1 Januari 2011, kami memang tidak kemana-mana, Arum masih diare, walau tidak sering, tambah pup nya masih belum padat. Aku pikir dia sudah membaik, tapi ternyata dari siang sampai malam dan menjelang pagi, diare nya menjadi sering, tapi sudah tidak muntah. Akhirnya kuputuskan untuk membawanya ke rumah sakit pada Minggu pagi, 2 Januari 2011 (aku tidak ke gereja lagi 🙁 ).

Karena dokter praktek baru mulai pukul 10, maka aku dan suami langsung membawanya ke Unit Gawat Darurat. Pemeriksaan standar dilakukan. Pemeriksaan darah dan pemasangan infus, untuk menambah cairan dalam tubuh. Hasil laboratorium selesai 1 jam kemudian, tidak ditemukan hasil yang mengkhawatirkan, maka kami bisa pulang setelah cairan infus habis. Obat-obat untuk diminum diberikan. Sambil menunggu suami yang pulang dari gereja, kami ke cafetaria Rumah Sakit dan Arum mulai memesan makanan dan makan dengan lahap. Slurp…


Taman Bunga Cibodas

Perjalanan kami lanjutkan ke kawasan yang lain, yaitu Taman Bunga Cibodas, disinipun kami masih dikenakan biaya masuk, sebesar . Kami tiba disini pukul 11.05.

Di kawasan ini ada Air Terjun, Rumah Kaca, Agro Wisata, Taman Sakura dan Guest House untuk menginap. Kami hanya berjalan-jalan santai saja sambil melihat pemandangan yang indah di kawasan ini. Sayangnya, kami tidak bisa memasuki Rumah Kaca, karena ada pohon besar yang tumbang dan menghalangi pintu masuk ke dalam Rumah Kaca. Lucunya…ehm anehnya, sejak dari awal kami masuk, kami bertanya kepada petugas, dimana Rumah Kaca berada, mereka hanya menunjuk disana, disana, tapi apakah betul mereka tidak tahu kalau Rumah Kaca kejatuhan pohon, sehingga kami tidak bisa masuk? Atau pura-pura tidak tahu?

Di luar Taman Wisata, masih di area Cibodas, banyak orang menjual tanaman, sayur mayur seperti bunga kol, alpukat dan talas, kelinci, tanaman hias seperti kaktus dan juga souvenir. Kami sungguh menikmati udara yang segar, matahari yang bersinar cerah dan hawa yang sangat sejuk di sini. Kami meninggalkan tempat ini pukul 11.35, tidak terlalu lama memang, karena perut kami sudah mulai keroncongan.


Melrimba Kitchen, Puncak Km 87

Akhirnya kami tiba di Melrimba pada pukul 16:54, itupun antara yakin dan tidak, sehingga kami harus bertanya kepada petugas. Setelah kami perhatikan, memang betul ternyata board penunjuk Melrimba bisa tampak jelas, jika kita datang dari arah Cipanas dan agak menyusahkan untuk dilihat jika kita datang dari arah Puncak. Tapi sudahlah mari kita cari tempat parkir dulu….Melrimba, yang terdiri dari Melrimba Kitchen dan Melrimba Garden, tampak damai dan menyegarkan.

Kami turun dari mobil, disambut oleh hujan dan petugas yang berlari-lari membawa payung untuk kami, dan karena udara sangat dingin dan hujan sudah mulai turun, kami memilih duduk didalam Melrimba Kitchen lebih dahulu, ga mungkin kan hujan-hujanan ke Melrimba Garden? Interior didalam, sesungguhnya cukup menarik, tapi entah kenapa kok remang-remang, apakah hemat listrik atau dibuat sedemikian rupa supaya orang menjadi betah dan privacy terjaga? Ntahlah, yang mengherankan, karena di luar kan sedang hujan, kenapa lampu tidak ditambah, supaya didalam jadi terasa lebih hangat?

Kami duduk di bagian dalam, tapi menghadap keluar, karena baru makan siang yang agak terlambat, kami memesan makanan ringan saja, seperti French Fries, Pancake ala Mode, Pisang Goreng Kipas, Hot Coffee, Hot Chocolate dan Poci Tea, semuanya kami pesan dalam 1 porsi dan mengeluarkan biaya yang cukup terjangkau Rp 119.543,- termasuk pajak service dan PB 1.

French Fries nya disajikan dalam piring persegi panjang, kentangnya dipotong kotak-kotak, agak lebih besar dari korek api, renyah, garing, dinikmati bersama saus tomat dan saus sambal, sudah tentu ini menjadi pilihan si bungsu Daniel. Harga untuk FF ini seharga Rp 14.000,-

Pancake ala Mode, juga ga kalah menarik dan nikmat, disajikan dalam piring bulat, ada dua tumpukan pancake, bersama vla dan es krim, hmm…sedap, harganya hanya Rp 20.000,- kata anakku, sajian yang sama di Teras Kota, BSD, dibandrol dengan harga yang jauh lebih mahal. Jadi menurut anakku, harga segitu itu cukup murah.

Pesanan berikutnya, Pisang Goreng Kipas, dikenakan harga Rp 18.500,- pisangnya agak asam, menurut aku, ntah karena masih muda atau memang jenis pisangnya, karena selain teridiri dari dua pisang dibentuk kipas dan digoreng tepung, gorengan ini dilengkapi dengan gula palem, mentega dan susu, yang membuat ini semua menjadi manis. Aku tidak terlalu suka yang seperti ini, karena yang aku inginkan ya pisang gorengnya, bukan aksesorisnya. Tapi okelah untuk menghilangkan rasa dingin dan ditemani dengan the poci hangat dan gula batu.

Secangkir kopi hitam dengan harga Rp 17.000,- dan secangkir susu coklat hangat dengan harga Rp 19.000,- juga menemani seluruh sajian yang kami pesan bersama-sama.


Bandar Jakarta, Alam Sutera, Serpong

Hari Sabtu, 7 Agustus 2010, adalah hari ulang tahun anakku, Leona Aditia Arum, yang ke – 12. Anak yang dulu terlahir dalam keadaan sungsang, kaki keluar lebih dahulu ini dan satu-satunya yang membuat aku harus diinduksi beberapa jam, telah bertumbuh menjadi seorang anak remaja, yang sangat aktif dan tidak takut pada apapun dan siapapun, kecuali kepada Tuhan saja.

Biasanya, kami jarang sekali merayakan ulang tahun di luar rumah, tapi kali ini, kami berlima saja pergi makan di luar. Kami memilih hari Minggu, 8 Agustus 2010, setelah kebaktian hari Minggu siang. Kami memilih makan di Bandar Jakarta, Alam Sutera, karena letaknya tidak terlalu jauh, kami semua suka makanan laut dan yang ketiga, kami belum pernah ke Bandar Jakarta yang disini.

Siang itu, sedang terik-teriknya ketika kami tiba di BJ, dan karena jam makan siang, lahan parkir mulai penuh, sempat kami berputar 2 kali dan akhirnya Puji Tuhan, dapat parkir mobil di tempat yang lumayan sejuk, dibawah pohon. Kami menuju resto BJ yang board nya terpampang dan tampak terlihat jelas dari luar. Sampai disana, ada pelayan yang menanyakan berapa jumlah orang dalam rombongan kami dan kemudian mengarahkan kami ke tempat yang bernama Pasar Ikan. Eits jangan bayangkan Pasar Ikan yang jorok ya? Pasar Ikannya bersih dan tertata dengan rapi, ada kelompok ikan, udang, kepiting, kerang, dalam berbagai jenis.

Mulailah kami bersama-sama, berjalan dan memilih, mula-mula kami memilih Ikan Kakap Merah seberat 0.32 kg dengan harga Rp 87.000,- per kilogram, yang menurut saran pelayan, cocok dimasak dengan cara tim dengan saus Hongkong, ok kami setuju, namun akhirnya ikan ini kami bawa pulang untuk oleh-oleh Eyang di rumah. Berikutnya kami memilih Kerang Hijau seberat 0.71 kg dengan harga Rp 17.000,- per kilogram, kerang ini kami minta dimasak saus tiram. Udang Pancet ukuran sedang, dengan harga Rp 78.000,- per kilogram, sebanyak 0.58 kg, kami pesan untuk dimasak dengan goreng saus mentega. Kakak Dita juga memilih seekor kepiting jantan (kata pelayan, kepiting banci, karena bertelur sedikit) dengan berat 0,61 kg seharga Rp 68.000,- per kilogram nya, dimasak saus Padang. Terakhir, suamiku, memilih Ikan Kuwe berdaging tebal untuk dibakar, tidak pedas. Selesai memilih ikan dan kawan-kawan, aku ikut ke bagian penimbangan dan pemesanan makanan lain, seperti sayur cah kangkung. Sementara suamiku dan anak-anak mencari tempat duduk.

Maklum karena jam makan siang dan hari Minggu pula, tempat penuh dan banyak yang sudah dipesan, akhirnya kami mendapat tempat duduk yang cukup hangat seperti suasana di pantai (hahaha) karena tidak dapat tempat di saung-saung. Okelah, kami duduk dan mulai memesan minuman. Nah ternyata disinilah letak ‘keseimbangan’ resto ini, sebelumnya nampak harga bahan makanan tidaklah terlalu mahal, juga dengan cooking charga sekitar 10% dari total pembayaran, namun harga minumannya yang tidak tanggung-tanggung, muahaal nyaa…..1 gelas jus alpukat seharga Rp 22.500,-, 1 gelas jus orange yang rasanya asam (biar sudah minta ditambah gula) harganya Rp 25.000,- , es kelapa muda dengan batoknya diberi harga Rp 22.000,- dan 1 mangkuk es campur dengan nama cantik Cocktail Tazmania Float diberi harga Rp 22.000,-. Selain itu 1 porsi kangkung cah polos diberi harga Rp 12.000,- sedangkan bakul nasi pertama untuk 5 orang gratis, bakul kedua kena harga 5 x Rp 7.000,- per porsi.

Total untuk acara makan siang kami hari itu, kami mengeluarkan dana sebesar Rp 391.000,- Harga yang cukup lumayan, karena makanan dimasak dengan enak dan kami puas. Terimakasih Tuhan untuk kenikmatan di hari ulang tahun Arum dan perlindungan Mu untuk nya.